BAUK Gelar Pelatihan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK) UM menggelar pelatihan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada Selasa-Rabu (26-27 Mei 2009), bertempat di Ruang Video Konference Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) UM.

Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK) UM menggelar pelatihan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada Selasa-Rabu (26-27 Mei 2009), bertempat di Ruang Video Konference Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) UM.

Pelatihan dibuka secara resmi oleh Prof Dr. H. Ah. Rofi’uddin selaku PR II UM, M.Pd, dalam kesempatan tersebut PR II mengharapkan dengan adanya pelatihan TIK ini bisa meningkatkan kinerja di lingkungan BUK UM pada khususnya dan membuka wawasan serta ketrampilan di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sesuai dengan tutunan jaman.

Menurut ketua panitia Drs. Muhtarom selaku Kabag Umum, Hukum Tata Laksana BAUK UM, bahwa dengan berkembangnya dunia Teknologi Informasi dan Komunikasi saat ini, maka secara otomatis kita dituntut meningkatkan kemampua, agar tidak ketinggalan dan bisa menunjang tupoksi serta memperkaya khasana berfikir dalam menyikapi perubahan yang sangat cepat.

Materi pada pelatihan TIK meliputi: pengoperasian Mindjet Mindmanager, Pemanfaatan Email, Pengembangan Situs Web dan Pengembangan Blog.

Pelatihan selama 2 hari disampaikan secara bergantian oleh pemateri: Drs. Johanis S.R., M.S. , Arrizal Negara Y, S,Kom. , Heru Wahyu, ST, M. Kom. Dan didampingi segenap teknisi Pusat TIK UM.

Pelatihan diikuti oleh 29 peserta dari lingkungan BAUK UM, para peserta mengikuti dengan seksama dan aktif.

Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Punaji Setyosari

pengukuhan-prof-dr-h-punajiProses pendidikan cenderung semakin mengabaikan unsur “mendidik”, demikian dikatakan Prof. Dr. H. Punadji Setyosari, M.Pd, M.Ed saat menyampaikan Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam bidang Ilmu Teknologi Pembelajaran FIP UM, Kamis (14/5/09) di Aula Utama kampus UM.

(Malang, Warta Online) Perkenankanlah pada kesempatan ini, saya menyampaikan pidato pengukuhan dalam suasana sedikit agak galau yang berkenaan dengan kondisi pendidikan kita dewasa ini. Kegalauan ini terkait dengan situasi dan kondisi, sebagaimana kita saksikan dan cermati di lapanganselama ini, berkenaan dengan pelaksanaan proses pendidikan yang berlangsung terutama di sekolah-sekolah. Proses pendidikan cenderung semakin mengabaikan unsur “mendidik” dan pendidikan seolah digantikannya dengan aktivitas yang lebih menekankan pada aspek-aspek yang bersifat “latihan mengasah otak”. Demikian dikatakan Prof. Dr. H. Punadji Setyosari, M.Pd, M.Ed saat menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Teknologi Pembelajaran pada Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM) dalam judul pidatonya “Pembelajaran Kolaborasi: Landasan untuk Mengembangkan Keterampilan Sosial, Rasa Saling Menghargai dan Tangggung Jawab,” pada tanggal 14 Mei 2009 bertempat di Aula Utama kampus UM.

Aktivitas pendidikan, lanjutnya “Seharusnya mengintegrasikan dimensi-dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik telah diabaikan begitu saja dan ternyata sebagian praktek-praktek pendidikan kita disekolah-sekolah lebih menekankan pada aspek latihan kognitif belaka. Kondisi ini sangat memprihatinkan kita, para pendidik, orang tua dan bahkan masyarakat sendiri, karena kegiatan yang seharusnya menyatukan olah pikir yang merupakan dimensi kognitif, olah rasa merupakan dimensi afektif, dan olah raga adalah dimensi psikomotorik, tidak berjalan secara proporsional dan seimbang.”

Dengan dalih waktu yang sangat tersedia sangat sedikit, jika dibandingkan dengan saratnya materi kurikulum sehingga waktu dan energi guru dihabiskan untuk mencurahkan isi materi yang bersifat kognitif saja. Ditambah lagi, cara-cara guru membelajarkan pebelajar hanya mentransfer pengetahuan begitu saja tanpa memberikan kesempatan secara luas bagi pebelajar untu “mencerna” pengalaman belajarnya. Sangat disayangkan, bahwa dalam proses pendidikan tidak menempatkan pebelajar sebagai fokus utama, tetapi praktek pembelajaran di sekolah-sekolah masih lebih banyak menempatkan guru (pembelajar) sebagai satu-satunya sumber utama belajar. Proses pendidikan semacam ini berarti mengabaikan potensi pebelajar sebagai subjek belajar, yang sesungguhnya hakekat belajar itu tidak lain adalah belajarnya subjek didik (pebelajar), sehingga ia tidak berkembang diri secara optimal.

Lebih parah lagi, para pebelajar yang duduk di kelas-kelas tinggi sebut saja kelas enam (untuk jenjang SD/MI), kelas sembilan (untuk jenjang SMA/MA/SMK) telah “dipaksakan” mengasah otaknya untuk menghadapi ujian akhir. Pada semester akhir biasanya sebagian besar energi, tenaga dan waktu para pebelajara dan guru lebih banyak digunakan atau dicurahkan hanya untuk latihan mengerjakan soal-soal ujian dengan maksud agar mereka (para pebelajar) di kelas akhir dapat lulus ujian. Juga, tidak jarang orang tua harus mengeluarkan kebutuhan ekstra dengan cara “mengirim” putra-putrinya ke tempat-tempat bimbingan belajar demi mengejar kelulusan. Berkaitan dengan tipe aktivitas semacam ini, berarti kita telah menempatkan sekolah hanya pada harapan prestasi akademik tinggi dan penuh suasana kompetisi.

Hal itu baik, dalam konteks apabila sekolah diharapkan memacu prestasi belajar tinggi bagi peserta didiknya secara keseluruhan. Artinya, para pebelajar tumbuh dan berkembang secara wajar dengan prestasi akademik yang baik pula. Sebaliknya, dalam konteks yang lain sebagaimana dikemukakan di depan, kita telah mengabaikan hakekat pendidikan yang sesungguhnya sebagaimana dikemukakan oleh Davies.

Menyinggung tentang seharusnya yang harus dilakukan, Prof. Punadji yang lahir di Malang pada tahun 1959 ini, menjelaskan, “Pembelajaran seharusnya mengintegrasikan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pembelajaran hendaknya memfokuskan pada proses mendidik dan tidk sekedar mentransfer pengetahuan begitu saja. Proses pembelajaran perlu memperhatikan penanaman aspek-aspek soft skills, yang antara lain kerja sama, rasa saling menghargai pendapat, rasa saling memiliki (sense of belonging), rasa tanggungjawab, kejujuran dan rela berkorban dan seterusnya yang saat ini terasa diabaikan dan masih belum memperoleh perhatian besar dalam dunia pendidikan kita.

Kita sebagai anggota suatu masyarakat tergantung kepada orang lain untuk mencapai tujuan hidup bersama, dan tanpa bantuan orang lain kita tidak mampu menunaikan tugas hidup ini dengan baik. Dengan demikian, kita perlu secara bersama-sama, kolaborasi, yang menuntut rasa saling menghargai dan mau berkorban untuk tujuan bersama sekaligus mengembang tanggungjawab secara bersama-sama pula, ujar Prof. Punadji Setyosari.

Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Haris Anwar Syafrudie

pengukuhan-prof-dr-haris-anwar-syafrudieLahan sekolah umumnya menggunakan komposisi 40-60 persen ruang terbangun dan 60-40 persen ruang terbuka hijau, demikian dikatakan Prof. Dr. Haris Anwar Syafrudie, M.Pd dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar UM dalam bidang Pendidikan Lingkungan Hidup, Kamis (14/5/09) di UM.

(Malang, Warta Online) Sejumlah nasihat bijak dalam mengembangkan sekolah, pertama adalah pilihan lokasi yang tepat. Yaitu lokasi yang strategis, aman, bebas banjir, lokasi yang memiliki aksesibilitas. Lokasi yang didukung infrastruktur jalan yang menghubungkan sekolah dengan transportasi umum dilengkapi dengan drainase serta fasilitas sarana dan prasarana terpadu dan berkualitas. Nasihat kedua adalah lahan. Untuk lahan sekolah pada umumnya menggunakan komposisi 40-60 persen ruang terbangun dan 60-40 persen ruang terbuka hijau. Karenanya pengelolaan lingkungan sekolah perlu menerapkan akutansi lingkungan dengan menghitung jumlah investasi lahan yang dibutuhkan serta keuntungan nyata pemanfaatan ruang dan bangunan sekolah. Demikian diungkapkan Prof. Dr. Haris Anwar Syafrudi, M.Pd pada pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) dalam bidang Pendidikan Lingkungan Hidup pada Fakultas Teknik UM, Kamis (14/5/09) di Aula Utama kampus UM.

Efesiensi pemanfaatan lahan sekolah lanjut guru besar FT ini, “Sekolah akan menghemat sumberdaya karena bisa sebagai tempat pengolahan air bersih, limbah, sampah, dan efesiensi pemanfaatan lahan pada pemakaian jangka panjang menguntungkan warga sekolah. Pencemaran udara dapat diredam dengan adanya ruang terbuka hijau oleh pepohonan yang rindang. Ruang terbuka bagi resapan air sesuai dengan ketersediaan lahan, yang memungkinkan air menyerap kembali ke dalam tanah, yang merupakan suplai air bersih dimusim kemarau, dengan mengurangi pembuangan air langsung ke saluran dan sungai.”

Nasihat lain, ujar Prof. Haris yang lahir di Bondowoso ini “Adalah adopsi kearifan lokal dalam membangun. Kearifan lokal masyarakat dalam membangun yang sudah dipraktekkkan masyarakat selama berabad-abad, dalam hal bentuk bangunan, bentuk atap, ukuran dan proporsi ruang, pintu, jendela, ukuran dan bentuk teras, taman, sistem drainase dan aneka ruang dalam bangunan memanfaatan kearifan lokal, sekolah akan memperoleh pengayaan yang membuat unit sekolah menjadi unik dan memiliki daya tarik.”

Sekolah berbudaya lingkungan (SBL) adalah subsistem pendidikan yang menginternalisasikan materi lingkungan hidup dalam implementasi penerapan kurikulum di sekolah. SBL diterapkan melalui jalur sekolah yang menggunakan prinsip belajar sambil mengalami dengan bantuan guru dan semua komponen sekolah.

Pada kesimpulan pidato pengukuhan guru besar Prof. Haris telah memiliki dua putra ini menjelaskan, pelaksanaan SBL telah menciptakan alternatif sumber dan model belajar yang baru dengan memanfaatkan fasilitas sekolah, kegiatan sekolah berbudaya lingkungan terbukti telah menumbuhkan kesadaran untuk memelihara fasilitas sekolah baik sarana dan prasarana maupun kegiatan perawatannya.

Pencinta Musik UM Membentuk Stardust

Universitas Negeri Malang (UM) membentuk grup seni “Stardust”. Sebagai perkumpulan para pecinta tembang kenangan, Stardust memiliki kegiatan antara lain latihan menyanyi dan tari gerakan salsa.
Minggu, 17 Mei 2009 Stardust menggelar latihan ke-2 nya di ruang kaca Rektorat UM Gedung A1 Lantai 1. Anggota Stardust terdiri dari Pejabat Struktural, Dosen, Karyawan dan Mahasiswa yang berminat dan pecinta tembang kenangan. Pertemuan dan latihan anggota Stardust dijadwalkan sebulan sekali dan disepakati pada tiap minggu ketiga.
Pada kesempatan latihan ke-2 tersebut, Basofi Soedirman mantan gubernur Jawa Timur yang juga berbakat di bidang tarik suara, menyempatkan diri untuk datang di kegiatan latihan rutin tersebut.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.