UM Harus Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok

Mengapa UM harus menjadi kampus bebas asap rokok?

tubuh

  • Komentar-komentar pada Gambar Tubuh Perokok dan Penyakitnya (kolom Cara Hidup) dan pada Segarnya Udara Pagi di Dalam Kampus (kolom Berkarya) mulai menunjukkan adanya sejumlah orang yang terganggu bekerja dalam lingkungan yang penuh asap rokok.
  • Undang-undang Kesehatan memasukkan tembakau sebagai bahan adiktif. Bahan adiktif berarti bahan yang diawasi peredarannya.
  • Handrawan Nadesul (Pengasuh Rubrik Kesehatan; Penulis Buku)  pada Kompas, Senin 19 Oktober 2009, menuliskan bahwa 8 JAM DI RUANGAN BERASAP ROKOK SETARA DENGAN MENGISAP 36 BATANG ROKOK.
  • Sejak kalangan pendidikan di AS sadar berhenti merokok maka peningkatan jumlah perokok menurun drastis dan saat ini AS sudah melarang promosi rokok pada acara pentas musik dan berbagai acara publik lainnya.
  • Sudah mulai ada kampus yang sejak masuk gerbang sudah bebas asap rokok, misalnya di Universitas Machung. Kampus yang masuk universitas kelas dunia adalah kampus yang bebas asap rokok.

machung
Bagaimana caranya UM menjadi kampus bebas asap rokok?

  • Buat aturan yang melarang merokok dalam gedung dan mereka yang menjumpai pelanggaran bisa mengisi formulir pengaduan di ruang kaca Rektorat. Aturan ini dibuat untuk jangka waktu setahun.
  • Setelah satu tahun, buat aturan dilarang merokok sejak masuk gerbang kampus UM.
  • Setelah kontrak promosi dengan perusahaan rokok selesai, segera BUAT ATURAN DI UM YANG TIDAK MEMBOLEHKAN UM BERKAITAN DENGAN SPONSOR ROKOK. Termasuk penolakan beasiswa yang berasal dari perusahaan rokok.

MARI BERJUANG UNTUK MEMBEBASKAN KAMPUS UM DARI  ASAP ROKOK

Malang, 20 Oktober 2009

Johanis Rampisela

24 comments to UM Harus Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok

  • Noor Farochi

    @Anida
    Waaah… mbak… jangan dibilang “narkoba mungkin lebih baik” daripada rokok, bisa-bisa para penegak hukum mencak-mencak lho… Menurut saya, keduanya tidak baik bagi kesehatan, selayaknyalah setiap orang selalu menjaga kesehatan dirinya sebagai bentuk berbuat baik kepada dirinya sendiri dengan tidak memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya yang bisa merusak kesehatannya, gitu.
    “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri (QS. Al-Isra’: 7).

  • Apa bedanya rokok dengan narkoba? Nggak ada bedanya, sama-sama merusak. Malah, narkoba mungkin lebih baik karena tidak seperti rokok yang secara langsung bisa merusak orang yang tidak merokok karena asap dan baunya.

  • Noor Farochi

    @Johanis Rampisela
    Di RS dan PE Baakpsi bisa pak….

  • Untuk mengetahui dukungan nyata untuk membuat UM tanpa asap rokok, mulai hari ini, hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2009, saya membuat daftar berisi tulisan “KAMI MENDUKUNG UM TANPA ASAP ROKOK” untuk diisi: NAMA, PEKERJAAN, NIM/NIP, KOMENTAR, dan TANDA TANGAN.

    Hasilnya akan dijilid, dilengkapi dengan tulisan dan komentar-komentar pendukung pada tulisan ini. Juga dilengkapi dengan puisi dan komentar Pak Taufiq Ismail. Buku tersebut akan diserahkan kepada Pak Rektor.

    Daftar akan diedarkan sampai 28 November 2009. Butuh banyak orang untuk mengedarkan daftar. SIAPA YANG MAU MEMBANTU?

  • Mantap banget ni infonya… o ya pak kalau bisa UM di kasih peraturan dilarang merokok pak tanpa terkecuali …mantappp

  • Berikut ini komentar Pak Taufiq Ismail di situs ksupointer.com di mana puisi itu dimuat:

    Terima kasih kepada KSU Pointer dan Sdr Sri Astutik (4 Agustus 2009) atas pemuatan puisi “Tuhan Sembilan Senti” ini. Berikut ini cerita latar belakang kenapa saya menulis puisi ini.

    Asap rokok membunuh bangsa kita sebanyak 400.000 orang setahun, lewat 25 macam penyakit, yang terbanyak kanker paru-paru. Ongkos pengobatan penyakit akibat asap rokok ini yang dibayar rakyat yang sakit, dua kali lebih banyak ketimbang pemasukan uang cukai sigaret ini ke pemerintah.
    Mayoritas perokok berasal dari rakyat kecil yang pendapatannya paling rendah, dan berpendidikan minim. Korban asap rokok di Amerika Serikat 500.000 per tahun, terbanyak di RRC 1.000.000 per tahun.

    Saya merasa wajib menyampaikan berita bencana ini kepada sesama bangsa, dalam bentuk puisi, yang mudah-mudahan menggugah hati. Sering saya membacakannya di depan publik.

    Wassalam,
    Taufiq Ismail
    (hp 0812 962 4300)

  • Berikut adalah puisi menarik tentang rokok yang diciptakan penyair Taufik Ismail beberapa tahun lalu, yang masih sangat cocok dengan situasi saat ini di tanah air.

    Tuhan Sembilan Senti
    Oleh Taufiq Ismail

    Indonesia adalah surga luar biasa ramah bagi perokok,
    tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

    Di sawah petani merokok,
    di pabrik pekerja merokok,
    di kantor pegawai merokok,
    di kabinet menteri merokok,
    di reses parlemen anggota DPR merokok,
    di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
    di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
    di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
    di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
    di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

    Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok,
    tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

    Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
    di ruang kepala sekolah … ada guru merokok,
    di kampus mahasiswa merokok,
    di ruang kuliah dosen merokok,
    di rapat POMG orang tua murid merokok,
    di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.

    Di angkot Kijang penumpang merokok,
    di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
    di loket penjualan karcis orang merokok,
    di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
    di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
    di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.

    Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
    tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
    Rokok telah menjadi dewa, berhala, Tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

    Di pasar orang merokok,
    di warung tegal pengunjung merokok,
    di restoran, di toko buku orang merokok,
    di kafe, di diskotik para pengunjung merokok,

    Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
    bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
    ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.

    Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
    Duduk kita di sebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya.
    Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

    Indonesia adalah surga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
    dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

    Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
    di apotik yang antri obat merokok,
    di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
    di ruang tunggu dokter pasien merokok,
    dan ada juga dokter-dokter merokok.

    Istirahat main tenis orang merokok,
    di pinggir lapangan voli orang merokok,
    menyandang raket badminton orang merokok,
    pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
    panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulu tangkis, turnamen sepak bola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.

    Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
    di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
    di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

    Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok,
    tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
    Rokok telah menjadi dewa, berhala, Tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

    Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat,
    merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
    Mereka ulama ahli hisap.
    Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
    Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.
    Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
    sembilan senti panjangnya, putih warnanya,
    kemana-mana dibawa dengan setia,
    satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.

    Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
    tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
    cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
    Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang
    sedikit golongan ashabus syimaal?
    Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
    Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
    Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
    Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
    Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

    Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
    25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
    15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
    4.000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
    Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
    Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
    sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
    Jadi ini PR untuk para ulama.
    Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
    lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
    Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
    Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
    Kini mereka berfikir.
    Biarkan mereka berpikir.
    Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

    Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
    sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
    Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
    lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,
    cuma setingkat di bawah korban narkoba.

    Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
    jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
    dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
    diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

    Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
    tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
    karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

    Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

    Amin Yaa Rabbalalamin

  • @Fahmi Muchammad

    ha ha ha … komentar yang bagus sekali … seluruh UM berkumpul di satu tempat dan ngrokok bareng …

  • @NoorFarochi wah, saya lebih suka kalo di bikinin smoking area aja di UM biar keren, fasilitas lengkap dengan cafe , fan penyedot asap, air purifier, lengkap, jadi para perokok di UM bisa bersatu dan merokok bareng..
    lebih tidak mengganggu kesehatan orang lain juga, piositifnya para perokok se UM bisa semakin kuat persatuannya secara emosional dan psikologis, bagaimana tuan tuan?

  • elfin

    @asko
    Kalau anda termasuk yang stress waktu kerja tidak sambil merokok, maka mohon maaf jika saya termasuk salah satu orang yang tidak hanya stress tapi sangat tersiksa dan juga tidak bisa bekerja dengan asap rokok teman-teman saudara.
    Kalau anda tidak bisa konsentrasi bekerja tanpa merokok, sebaliknya saya tidak bisa konsentrasi dengan asap rokok.
    Mohon maaf jika saya harus mengatakan sudah terlalu lama saya mentoleransi asap rokok, kenapa Anda tidak mulai mencoba empati dengan yang lain? (minimal tidak merokok di dalam ruangan tempat teman-teman Anda butuh konsentrasi kerja)

  • Noor Farochi

    @asko
    Artinya kelak anda akan menikmati sengsara dibalik nikmatnya rokok dan juga termasuk yang “mendholimi” orang lain menjadi perokok pasif

  • asko

    kalau menurutku sih ya pake rasional aja.. bendera satu PT Rokok sudah menyuplai banyak hal di Um Buktinya UM semakin bagus… kalau kita-kita yang perokok ini tidak boleh merokok di kampus yo mending gak usah kerja sama dengan PT rokok
    dan lagi menurutku malah akan terjadi bencana besar-besarn kalau di kampus gak boleh merokok coba deh yang mau menghapuskan asap rokok di kampus menghitung beara jumlah karyawan dan mahasiswa serta dosen yang merokok dan yang tidak berapa jumlahnya n dari situ bisa di lihat berapa orang yang akan mengalami stress tanpa rokok….

    klo di ruang tertentu bagiku masih maklum tapi klo di taman or tempat makan gak boleh merokok plis deh…

    klo kita lihat di Pujasera ada tulisa besar DIRALANG MEROKOK DI AREA PUJASERA
    klo menurutku yang buat lagi nglamun gak lihat klo LOGO PT Rokok sedang nempel di meja dan di dinding area PUJASERA….

    jadi nglindur kale….

  • Memang sulit untuk membebaskan kampus bebas asap rokok,ya semua tergantung dari si perokok itu sendiri,yang penting kita harus banyak banyak berkampanye tentang bahaya merokok.

  • Untuk menghentikan kebiasaan merokok diperlukan perjuangan yang berat. Apalagi jika merokok sebagai kebutuhan “pokok”. Saya yakin selama ada komitmen semuanya bisa dilakukan. Insyaallah.

  • Noor Farochi

    @Fahmi Muchammad

    Nampaknya bukan hal mudah untuk menerapkan?

    Menurut saya masalahnya hanya pada kemauan dan ketegasan saja.

  • Wah, akan seru sekali kalau UM bebas rokok, saya rasa itu harus segera dilakukan mengingat semakin banyak perokok sembarangan di UM.
    Saya sedang melakukan penelitian mengenai Loyalitas Perokok LA Lights Di UM, melibatkan seluruh mahasiswa termasuk Pascasarjana yang merupakan konsumen rokok, termasuk wanita (mahasiswi) yang suka merokok, saya tertarik meneliti topik ini karena UM yang merupakan universitas yang semula menelurkan para tenaga pendidik malah didukung dengan kuantitas $ yang banyak untuk branding produk ini. Wow … dan untuk sementara memang sudah banyak yang memakai produk ini di UM, (berarti branding produk ini efektif). Nampaknya bukan hal mudah untuk menerapkan ini, terkait banyak perokok yang termasuk dalam jajaran atas universitas.
    Selamat mencoba …

  • Bambang Sumarsono

    Sangat setuju…UM bebas rokok, siplah jika itu terwujud.

  • Boleh merokok tapi tidak boleh keluar asap! Asapnya dihisap lagi (daur ulang asap).
    Perokok = penebar racun, sudah seharusnya UM bersih dari racun.
    Orang lain bisa bekerja dengan baik tanpa merokok, kenapa Anda (perokok) tidak bisa (tidak mau).

  • Elfin

    @anonim
    Saya sangat setuju juga dengan ide perjuangan panjenengan. Tapi kalau anda berada di situasi saya, SETIAP SAAT, HARI, … udara ruangan dipenuhi asap rokok, … batuk, mata berair, sampe sesak nafas, saya yakin anda juga akan SEGERA meminta perda larangan merokok di tempat umum segera diberlakukan di Malang (baca: Universitas Negeri Malang. Surabaya sudah mulai hari ini Pak!).
    Mungkin kita sama-sama perlu membudayakan: Mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari hal-hal yang kecil (itu kalau merokok di tempat umum dianggap kecil oleh para perokok!). Salam.

  • @NoorFarochi
    Ya nih..

    Belum lagi kalau melihat api rokok yang menyala langsung mengingatkan api neraka.. 🙂

  • Noor Farochi

    Daripada KAMPUS BEBAS ASAP ROKOK mungkin lebih pas kalau KAMPUS TANPA ASAP ROKOK, soalnya untuk menghindari kalau ada yang nyeletuk, kan bebas artinya boleh sesuka hatinya.

  • Imam Kh

    Iya di bungkus rokok itu lo sudah terpampang tulisan yang gede-gede?

  • Noor Farochi

    Merokok bagi ‘penggemar’nya memberikan kenikmatan tersendiri, sehingga terasa berat untuk ditinggalkan, padahal akan ada sengsara dibalik nikmat sesudah mereka “mendholimi” orang lain menjadi perokok pasif.
    Seperti yang tersebut pada Gambar Tubuh Perokok dan Penyakitnya (kolom Cara Hidup) kandungan nikotin akan berefek ke otak dan system syaraf, yang sebenarnya juga zat kimia beracun, bahkan sangat beracun. Dosis 60 mg pada orang dewasa dapat mematikan karena menyebabkan kegagalan pernapasan.
    Data statistik WHO yang dipublikasikan tanggal 28 Mei 2002 menyebutkan bahwa aktivitas merokok telah membunuh 1 dari 10 orang dewasa di dunia tiap tahun, dan itu setara 4 juta kematian perokok. Bahkan jika trennya tak berubah, tahun 2030 nanti ajal akan menjemput 1 dari 6 perokok. (Sumber : MediaSehat.com)

  • anonim

    Itu ide bagus pak, saya juga setuju. Akan tetapi yang perlu diperjuangkan oleh bapak sebagai civitas akademik di Univ. Negeri Malang masih banyak. Maksud saya masih banyak hal-hal lain yang lebih mencerminkan UM (tidak mencerminkan pribadi-pribadi) yang harus dibenahi, untuk mengejar ketertinggalan UM dari Universitas yg lain. Akan lebih baik kalau tenaga, pikiran dan semua kemampuan SDM dikerahkan ke hal-hal yang bisa mengangkat derajat UM sebagai lembaga penghasil tenaga pendidik, sekaligus sebagai penghasil tenaga profesional. Semoga tulisan ini tidak menyurutkan semangat bapak. Trim’s

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.