Patricia Dwi Septianti: Tidak Melupakan Kebudayaan Negeri Sendiri

Patricia Dwi Septianti, mahasiswa Semester VI Jurusan Seni Tari Fakultas Sastra UM Continue reading “Patricia Dwi Septianti: Tidak Melupakan Kebudayaan Negeri Sendiri” »

KPRI Menyelenggarakan RAT

Hari ini KPRI UM yang sudah berbadan hukum sejak tahun 1982 menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan di Gedung Aula Utama UM dengan  acara inti: Laporan Pengurus KPRI Tahun Bakti 2009, Laporan Pengawas KPRI Tahun Bakti 2009, Pemilihan dan Pelantikan Pengurus periode 2010-2013, Pemilihan dan Pelantikan satu orang Pengawas KPRI.

Dalam kata pengantar laporan pengurus tercantum pendapatan SHU sebesar Rp 2.605.885.000,-, setelah dikurangi pajak dan cadangan gedung SHU yang akan dibagikan kepada semua anggota sejumlah Rp 1.083.765.723,-.  SHU itu diperoleh dari beberapa usaha al. : unit usaha simpan pinjam, unit usaha toko, unit usaha tanah dan perumahan, unit sewa kendaraan dan unit usaha lain-lain.

Sedang modal yang dimiliki sebesar Rp 39.582.902.999,- yang terdiri dari modal sendiri Rp 9.112.388.778 dan hutang lancar Rp 26,327 milyard

Anggota KPRI pada akhir tahun 2009 sejumlah  1984 orang terdiri 1630 PNS, dan 354 anggota luar biasa (pensiunan, tenaga hononer dan karyawan KPRI)

MANAJEMEN DEMOKRATIS DAN PARTISIPATORIS BERBASIS WEB

Komunikasi antarindividu dan antarlembaga melalui web melampaui sekat waktu dan ruang: kapan saja dan dari mana saja dapat dilakukan. Media komunikasi itu dapat dimanfaatkan oleh insan manajer—pada level apa pun—untuk meningkatkan layanannya kepada pemangku kepentingan: setidaknya layanan informasi kelembagaan yang jelas, cepat, dan andal. Dengan layanan informasi yang jelas, cepat, dan andal itu, manajemen kelembagaan yang demokratis dan partisipatoris dapat diwujudkan.

1. Manajemen Demokratis
Manajemen demokratis memposisikan manajer, staf, dan pemangku kepentingan pada posisi yang “setingkat”. Manajer mengemukakan kebijakan kelembagaan secara terbuka dan transparan. Staf menjabarkan dan mengimplementasikan kebijakan manajer secara terukur. Pemangku kepentingan menerima layanan manajer dan staf secara cepat, jelas, dan terukur. Pada sisi lain, manajer, staf, dan pemangku kepentingan dapat saling melakukan refleksi, evaluasi, dan koreksi kebijakan, jabaran kebijakan, penerimaan kualitas layanan suatu lembaga.
Manajemen demokratis sebagaimana tergambar pada paparan di atas sangat mudah diwujudkan melalui komunikasi manajemen kelembagaan berbasis web—yang jika dilakukan dalam komunikasi konvensional, yakni komunikasi langsung dan bersemuka banyak menemui kendala. Sebagai contoh kasus, via web um.ac.id rubrik Suara Kita dan Berkarya, kedudukan penulis sama, apa pun kedudukan mereka: Dekan, Ketua Divisi Perangkat Lunak TIK, Kabag Kemahasiswaan, Kabag Pendidikan dan Evaluasi, Kasubbag Registrasi dan Statistik, mahasiswa, alumni, dan masyarakat umum.
Dengan enaknya, mahasiswa “mengeluhkan” layanan yang mereka peroleh selama ini; dengan cerdasnya seorang Kasubbag mengkritik kritikan seorang Dekan atas tulisan yang dimuat dua kali dengan judul yang sama; dengan cepat, jelas, dan akurat seorang Kabag Kemahasiswaan menanggapi keluhan anggota ormawa atau mahasiswa tentang keormawaan dan beasiswa; dan dengan sangat tenang seorang Ketua Divisi Perangkat Lunak menanggapi pertanyaan, komentar, dan kritikan dengan data-data faktual dan paparan yang konseptual.
“Berargumentasi yang cerdas”, kata pakar komunikasi. “Kata-kata dilawan dengan kata-kata, bukan adu jotos”, ungkap wartawan. “Fakta tunggal bisa memiliki kebenaran persepsional ganda”, kata pakar penelitian kualitatif. Biarkan kebenaran yang sebenarnya ditafsirkan, diterima, dan diinternalisasi oleh para pembaca.
Hanya sayang, belum semua unsur dan unit kelembagaan UM tercinta ini memanfaatkan web ini untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas demokrasi manajerialnya. Sejumlah pertanyaan, komentar, dan keluhan lambat ditanggapi, bahkan tidak ditanggapi sampai tulisan ini di-“posting” dalam situs ini.

2. Manajemen Partisipatoris
Keberhasilan manajemen suatu lembaga sangat ditentukan oleh partisipasi unsur pelaku lembaga itu. “Dari, oleh, dan untuk kita”, ungkapan klise—tutur guru SD saya tahun 70-an—yang tetap relevan untuk menunjukkan pentingnya manajemen partisipatoris. “Adalah suatu kebohohongan, seorang guru atau dosen tidak belajar dari para siswa atau mahasiswanya”. “Adalah suatu kesombongan, pimpinan tidak mendapatkan pelajaran dan didikan dari para stafnya”.
Melalui web ini, unsur-unsur kelembagaan UM—meskipun belum semua atau belum merata—melakukan manajemen partisipatoris: pimpinan, staf, dan pemangku kepentingan; serta dosen, karyawan, mahasiswa, dan alumni. Ungkapan ide adalah partipasi. Komentar adalah partisipasi. Keluhan adalah partisipasi. Kritikan adalah partisipasi. Seseorang yang telah mengungkapkan ide, komentar, keluhan, atau kritikan telah mengeluarkan energi positifnya untuk kebaikan lembaga ini.
Mari kita kembangkan kapasitas dan kapabilitas kelembagaan UM dengan manajemen partisipatoris berbasis situs web ini, sesuai dengan peran yang harus kita “mainkan”.

Bagaimana menurut Anda?

Malang, 22 Februari 2010
Dawud (Dekan Fakultas Sastra UM)

Inovasi Baru: UM Community

UM Community sudah berisi 29.000 tulisan. Tulisan-tulisan tersebut disajikan dalam 3 tempat yaitu di halaman depan (front page), forum, dan blog.

Beberapa hal yang dapat dilakukan di UM Community:

  1. Semua pengunjung dapat membaca berbagai macam jenis tulisan (pandangan hidup, kata bijak, tokoh, agama, kultur, tips, dll) dan bisa juga memberikan pendapatnya.
  2. Setiap warga UM dapat menjadi member dan memiliki blog dan forum yang terintegrasi dalam UM Community.
  3. Dosen dan mahasiswa dapat menggunakan forum untuk bertanya jawab seputar perkuliahan.
  4. Ormawa dapat menggunakan blog dan forum yang ada untuk menginformasikan dan mengarsipkan kegiatannya.
  5. Pengunjung dapat membaca berbagai macam jenis tulisan (pandangan hidup, kata bijak, tokoh, agama, kultur, tips, pemrograman, dunia maya, dll) dalam ratusan forum dan bisa juga memberikan pendapatnya.

KUNJUNGI UM COMMUNITY di http://community.um.ac.id

Karya Puisi Radiyta Ananta Mahasiswa UM Menjadi Bahan Ajar di Technology University (NTU) Singapura.

JAWA POST GBR

Raditya Winata, Penyair muda dan mahasiswa Tata Boga FT UM hasilkan karya-karya puisi dan sebagai bahan ajar di NTU Singapura

Raditya Winata, Penyair muda dan mahasiswa Jurusan Tata Boga Fakutas Teknik Universitas Negeri Malang (UM) hasilkan karya-karya puisi dan menjadi bahan ajar di  Technology University (NTU) Singapura.

Pembawaan sikap low profile dan gaya bicara ceplas-ceplos cukup melekat pada diri Raditya Winata. Khas gaya seniman dan penyair. Raditya memang salah satu penulis puisi cukup produktif. Sekitar 500 judul puisi yang berhasil ia kumpulkan dalam tiga buah buku. Sedang masih ada banyak puisi yang ditulis ketika masih SD hingga SMP berserakan. “Sejak SD saya aktif mengirim puisi ke beberapa majalah,” ungkap Raditya.

Raditya menceritakan, karya puisinya bisa menembus Singapura karena tidak sengaja. Yakni saat ada Kongres Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia di Hotel Asida Batu,tahun 2008 lalu. Dalam kongres itu,ada dua tamu istimewa, yakni Prof. Azhar Ibrahim (Singapura) dan Prof. Zariat Abdul Rani (Malaysia).

Dalam kongres itu, juga dipajang berbagai karya tulis sastrawan mulai karya novel, puisi maupun cerpen. Salah satu dari karya puisi yang dipajang adalah milik Raditya. Dua Professor itu sempat membaca beberapa karya pria kelahiran 13 Maret 1988 ini. Bahkan, mereka tertarik dan membeli puisi saya waktu itu sebelum dibukukan, masih berupa fotokopian,”kenang Raditya.

Dari buku yang sempat dibawa itu,Prof Azhar Ibrahim Alwi itu tertarik untuk bekerjasama dengan Raditya selaku penulis. Keduanya akhirnya cukup intens berkomunikasi via e-mail.

Dari komunikasi itu, Azhar yang juga Dosen Sastra di NTU meminta agar karyanya diajarkan kepada mahasiswa Jurusan Sastra Melayu NTU Singapura.

Raditya pun setuju. Bahkan, Azhar pun member dana seluruh biaya penerbitan tiga bukunya yang berjudul Piring Plastik, Homo Sapiens dalam Kingdom Animalia dan Langit adalah Canopi “Maret saya juga diundang ke Singapura dan Malaysia untuk diskusi dan launching tentang karya ini,” urai Raditya.

Dalam menulis puisi ini, dia mengaku kerap melakukan saat berada di dalam kelas. Ketika ia merasa tidak mood menerima mata pelajaran di bangku sekolah, ia mengambil kertas dan bullpen untuk menulis puisi. Saat di kelas itu bisa tiga sampai empat skrip puisi berhasil ditulis. “Baru setelah berada di rumah tulisan itu langsung saya sempurnakan lagi,” urai dia.

Untuk memilih tema puisi, dia banyak menemukan ide ketika berada di dalam kamar mandi. Tema yang berkaitan dengan fenomena social menjadi andalannya. Misalnya saja dalam buku berjudul Piring Plastik. Ide itu muncul saat ia santai di warung untuk minum kopi, ada seorang nenek renta membeli makanan.

Dengan membawa piring plastik, Si Nenek ini ternyata hanya membeli nasi putih ditambah garam. Melihat fakta itu, nurani Raditya merasa terpanggil untuk menulis puisi.

Ia merasa berdosa kenapa dirinya santai-santai di warung kopi sementara di lingkungan sekitar masih ada orang yang hanya mampu beli nasi dan garam. “Saya yakin dengan puisi bisa menjadi alat perubahan,” tandas Raditya.

Saat ini dia pun sedang menyusun buku paket yang akan digunakan bahan ajar di Singapura. Yakni buku tentang nasehat Ronggowarsito. Petuah-petuah kuno Ronggo Warsito itu juga pernah didengar oleh Azhar hingga dia diminta untuk menyusun kembali menjadi bahan ajar. “Saya banyak terbantu oleh bapak saya (Sunoto, Dosen Sastra UM) karena beliau punya banyak buku kuno,” tandas dia.

(Sumber: Radar Malang/Jawa Pos, 18/2/2010)

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.