Konflik dan Lunturnya Solidaritas Sosial Masyarakat Desa Transisi, oleh: Zulkarnain Nasution

Konflik dan Lunturnya Solidaritas Sosial pada masyarakat desa transisiDSC_0296-ZUlkarnain-GBR

Konflik yang terjadi antar warga desa akhir-akhir  ini semakin sering menjadi pemberitaan di media massa baik cetak maupun elektronik. Beragamnya masalah konflik yang timbul mulai dari masalah yang sepele, saling mengejek antar pemuda, sampai persoalan perbedaan pendapat dan pandangan antar warga desa akhir ini patut dijadikan sebagai bahan renungan bersama.

Salah satu potensi konflik yang terjadi pada masyarakat desa secara langsung dan terbuka adalah antara warga dusun (masyarakat kampung) dengan warga perumahan (masyarakat pendatang) sebagai masyarakat desa transisi. Masyarakat desa transisi merupakan masyarakat yang bertempat tinggal di perumahan dan permukiman baru di daerah pinggiran kota atau pinggiran pedesaan yang terjadi interaksi sosial sehingga terjadi tumpang tindih nilai-nilai tradisional peralihan menuju nilai-nilai modern.

Pada masyarakat desa transisi, peluang konflik  antara warga perumahan dengan warga dusun tersebut bisa terjadi akibat dari adanya pihak ketiga, yakni pihak developer perumahan dalam pembangunan sarana dan prasarana yang selalu mengabaikan pembangunan di dusun, sehingga menimbulkan kecemburuan sosial warga dusun,  kurang memberikan peluang integrasi sosial antara warga perumahan dengan warga dusun, serta kesempatan peluang kerja bagi warga dusun sebagai masyarakat asli yang sudah lama bertempat tinggal di desa tersebut.

Pada masa lalu masyarakat desa dikenal dengan sifat gotong royong. Gotong royong merupakan suatu bentuk saling tolong menolong yang berlaku di daerah pedesaan Indonesia. Berdasarkan sifatnya gotong royong terdiri atas gotong royong bersifat tolong menolong dan bersifat kerja bakti. Gotong royong merupakan perilaku yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat kita sebagai petani (agraris). Gotong royong sebagai bentuk kerjasama antar individu, antar individu dengan kelompok, dan antar kelompok, membentuk suatu norma saling percaya untuk melakukan kerjasama dalam menangani permasalahan yang menjadi kepentingan bersama. Bentuk kerja-sama gotong royong  semacam ini merupakan  salah satu bentuk solidaritas sosial.

Gotong royong merupakan perilaku yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat kita sebagai petani (agraris). Gotong royong sebagai bentuk kerjasama antar individu, antar individu dengan kelompok, dan antar kelompok, membentuk suatu norma saling percaya untuk melakukan kerjasama dalam menangani permasalahan yang menjadi kepentingan bersama. Bentuk kerja-sama gotong royong  semacam ini merupakan  salah satu bentuk solidaritas sosial. Dalam masyarakat primer (umumnya terjadi pedesaan) dicirikan masyarakat yang guyub, teposelero, dan jalinan kerjasamanya erat. Tetapi dalam masyarakat tipe sekunder justru terjadi sebaliknya.

Dahulu masyarakat desa dalam khasanah sosiologi dikenal dengan sebutan masyarakat primer. Namun kini proses solidaritas sosial dan tingkat partisipasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Proses memudarnya ikatan kerjasama itu disebabkan berbagai faktor, misalnya: masuknya nilai-nilai kapitalisme, perubahan sosial budaya, migrasi, urbanisasi, dan lain-lain.

Selain itu pada era globalisasi dan informasi telah terjadi perubahan pada berbagai aspek yang mendorong keterbukaan pada hampir di semua aspek dan sistem kehidupan manusia, termasuk pada masyarakat desa. Pengaruh globalisasi ini antara lain menyebabkan terbentuknya masyarakat desa transisi. Masyarakat desa transisi merupakan masyarakat yang di dalamnya terdapat masyarakat asli yang sudah secara turun temurun tinggal di desa tersebut dan masyarakat pendatang yang baru bertempat tinggal di desa tersebut.

Karakteristik masyarakat desa transisi ini meliputi: (a) terjadinya tumpang tindih antara nilai-nilai tradisional dengan proses modern. Hal ini dipertegas  Riggs (1998) yang menyebutkan terjadi pola campuran antara nilai-nilai tradisional dengan proses modern. Disatu sisi nilai-nilai modern yang mempengaruhi perilaku kehidupan masyarakat desa untuk meninggalkan nilai-nilai tradisional, di sisi lain nilai-nilai tradisional yang positif harus bisa dipertahankan dan tidak harus dihilangkan, akan tetapi dikelola  secara proporsional dan fungsional, seperti nilai-nilai solidaritas pada masyarakat perdesaan di Jawa, tradisi soyo (membantu membangun atau merenovasi rumah tetangga tanpa dibayar upah), tradisi ngelayat (mendatangi keluarga tetangga yang ditimpa musibah meninggal), tradisi rewang (membantu tenaga tetangga yang punya hajatan), tradisi klontang (memberi sumbangan uang kepada tetangga yang ditimpa musibah kematian dimasukkan ke dalam kardus aqua atau kaleng), tradisi buwuh (memberikan sumbangan uang pada tetangga/warga yang menyelenggarakan hajatan), dan tradisi lainnya; (b) masyarakat  menjadi heterogen, seperti: tingkat pendidikan, perkerjaan, dan kepercayaannya; (c) terjadinya pembangunan perumahan baru di desa pinggiran yang tidak memperhatikan kondisi masyarakat sekitar, mengakibatkan bisa terjadinya pertentangan antara nilai-nilai yang dibangun masyarakarat pendatang dengan masyarakat asli, dan kecemburuan sosial; (d)  kawasan desa pinggiran kota, kawasan di mana semakin tumbuh dan berkembangnya kawasan-kawasan industri, perdagangan, dan peru-mahan yang membawa dampak positif, yakni memberikan kesempatan kerja non pertanian bagi masyarakat di wilayah tersebut dan sisi negatifnya terjadi konflik antara masyarakat asli dan pendatang; (e) masyarakat desa yang mengalami peralihan dari mata pencaharian di bidang agraris (pertanian)  menuju mata pencaharian non pertanian.

Kondisi tersebut terutama terjadi  pedesaan, khususnya masyarakat desa yang letaknya di pinggiran kota karena kemajuan komunikasi dan kecenderungan menjadi pusat perdagangan serta lalu lintas komunikasi yang akan mengalami perubahan drastis. Perubahan ini akan paling terasa pada masyarakat desa transisi tersebut dalam pergeseran solidaritas.

Guna memelihara nilai-nilai solidaritas sosial dan partisipasi masyarakat secara sukarela dalam pembangunan di era sekarang ini perlu ditumbuhkan dari interaksi sosial yang berlangsung karena ikatan kultural sehingga munculnya kebersamaan komunitas yang unsur-unsurnya meliputi: seperasaan, sepenanggungan, dan saling butuh. Pada akhirnya menum-buhkan kembali solidaritas sosial. Karena solidaritas sosial adalah kekuatan persatuan internal dari suatu kelompok dan merupakan  suatu keadaan hubungan antara individu  atau kelom-pok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama serta diperkuat pengalaman emosional bersama.

Solidaritas sosial adalah perasaan yang secara kelompok memiliki nilai-nilai yang sama atau kewajiban moral untuk memenuhi harapan-harapan peran (role expectation). Sebab itu prinsip solidaritas sosial masyarakat meliputi: saling membantu, saling  peduli, bisa bekerjasama, saling membagi hasil panen, dan bekerjasama dalam mendukung pembangunan di desa baik secara keuangan maupun tenaga dan sebagainya.

Tradisi solidaritas sosial yang telah ada pada masyarakat kita secara terus menerus harus tetap dilestarikan dari generasi ke generasi berikutnya akan tetapi karena dinamika budaya tidak ada yang statis, terjadilah beberapa perubahan secara eksternal dan internal. Unsur kekuatan yang merubah adalah modernisasi yang telah mempengaruhi tradisi solidarits sosial. Selain itu perubahan solidaritas sosial tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (a) meningkatnya tingkat pendidikan anggota keluarga sehingga dapat berpikir lebih luas dan lebih memahami arti dan kewajiban mereka sebagai manusia, (b) perubahan tingkat sosial dan corak gaya hidup  kadang-kadang menciptakan kerenggangan di antara sesama anggota keluarga, (c) Sikap egoistik, bila seseorang individu terlalu mementingkan diri sendiri dan keluarganya, lalu mengorbankan kepentingan masyarakat.

Bentuk perubahan solidaritas sosial yang telah terjadi dalam masyarakat desa antara lain: (a) Adanya kecenderungan pada  masyarakat kita, khususnya masyarakat desa transisi pada warga asli dan warga pendatang berupa kecurigaan terhadap orang lain yang dianggap sebagai lawan yang berbahaya, ini bisa mengakibatkan terjadinya konflik antar kedua masyarakat tersebut. (b) Semakin menipisnya tingkat saling percaya  dan tolong menolong dalam kehidupan masyarakat, sehingga mengakibatkan menurunnya rasa solidaritas sosial dalam proses kehidupan.

Upaya memelihara solidaritas sosial  dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan  tidaklah semudah yang dibayangkan, karena solidaritas sosial akan terus berkembang menuju kehidupan sosial yang modern. Mampukah masyarakat desa, khususnya desa transisi beradaptasi dengan masuknya nilai-nilai yang modern yang mementingkan sikap individualitas dan tidak mengandung nilai-nilai kearifan lokal? sementara nilai budaya lokal yang dianut mengandung nilai-nilai kearifan dan sejalan dengan nilai budaya yang ada.

Nilai-nilai  solidaritas  sosial   pada  masyarakat desa transisi: (1) tumbuh dari pertautan (integrasi) antara  nilai   tradisi  lokal  dengan  nilai  modern,  akibat terjadinya  interaksi antar kedua warga tersebut, (2) Nilai-nilai solidaritas yang memiliki kearifan lokal pada masyarakat dusun dan masyarakat perumahan yang positif harus dipelihara seiring dengan  banyaknya pembangunan perumahan baru di wilayah  pedesaan,  karena  nilai-nilai   tersebut  cenderung meningkatkan  partisipasi  dalam pembangunan. Pihak  pengembang perumahan berkewajib-an mengontrol dan melakukan kerjasama   dengan  aparat  desa  dan  tokoh  masyarakat  di lingkungan masing-masing   terhadap   proses  sosial  yang berkembang dipemukiman baru,  agar segala gejala negatif yang muncul dapat segera  diantisipasi,  misalnya  gejala  segregasi   sosial   (mengabaikan  kelangsungan   sosial  dan  budaya  karena  menurut   perhitungan   ekonomi  dianggap  tidak  menguntungkan developer), konflik  sosial,  dan  dislokasi  sosial  (perubahan pemukiman penduduk dalam jumlah besar dan waktu relatif cepat) sehingga menimbulkan masalah sosial.

Penulis,

Pengamat Sosiologi Pedesaan, Staf Pengajar Jurusan PLS FIP, dan Kepala Humas UM

5 comments to Konflik dan Lunturnya Solidaritas Sosial Masyarakat Desa Transisi, oleh: Zulkarnain Nasution

  • ari

    tulisan yang menarik, dimana bisa diperoleh bukunya?
    terima kasih

  • saddam

    mksih ya pak artikelnya
    smga skses sllu

  • terimah kasih atas artikelnya saya aalah mahasiswa akper RSMI KESDAM VII CENDERAWASIH sementara menyusun proposal riset penelitian…………..angkatan VI 2007,semoga artikel bapak berguna bagi semua orang………….amin

  • Aribowo

    Nama: ARIBOWO,
    Status : Dosen yang sedang menjalani Tugas Belajar.
    Unit Kerja: Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung.
    Alamat: Jl. IR H. Juanda 367 Bandung.

  • Aribowo

    Saya tertarik dengan tulisan anda. Saya adalah mahasiswa PhD pada Universiti Sains Malaysia, sedang menulis disertasi mengenai modal sosial dalam mengatasi kemiskinan, namun saya menemukan suatu kenyataan bahwa modal sosial yang bersifat “Bonding social capital” justru meningkatkan gairah konflik antar kampung. Berikut adalah sedikit tulisan saya. Tulisan ini banyak mengacu pada tulisan Eric Hoffer (1998).

    1. “Melebur” Dalam “Kelompok Sendiri” (In-Group) sebagai “Energi” Pengorbanan Diri Yang Dissosiatif.

    Konflik sosial merupakan suatu fenomena sosial politik yang menarik untuk dikaji secara mendalam. Konflik ini selalu membutuhkan suatu akar sosial tertentu serta selalu diikuti oleh kelompok-kelompok yang memiliki anggota dengan karakteristik sebagai “pemeluk teguh “(True Believer) yang memperjuangkan tujuan tertentu yang dianggap sebagai “tujuan suci”. kelompok-kelompok seperti ini biasanya didasarkan pada kriteria kesamaan tertentu, baik kesamaan suku, kesamaan kehidupan sosial ekonomi, budaya, pendidikan, agama, ras, dan sebagainya. Kelompok dengan tipe seperti ini seringkali pula diikuti oleh beberapa karakteristik lain sebagai kelompok sendiri (In-group) yang erat, yang diidentifikasi oleh anggotanya memiliki kesamaan tertentu.

    Apapun sifat gerakan massa yang menjadi landasan sebuah konflik yang melibatkan kekerasan (agama, rasial, sosial, politis, atau ekonomi), semuanya mempunyai sekelompok ciri yang sama, yaitu mampu membangkitkan pada diri para pengikutnya kerelaan untuk “berkorban sampai mati”, kecenderungan untuk beraksi secara kompak, fanatisme, antusiasme, harapan berapi-api, kebencian, intoleransi, kepercayaan buta, kesetiaan, serta memejamkan mata dan menutup telinga dari kebaikan orang lain. Berbagai kerusuhan seperti kerusuhan rasial di Sambas, kerusuhan antar agama di Ambon, kerusuhan buruh di Bandung Jawa Barat, kerusuhan politik pada 27 Juli di Jakarta, kerusuhan “semanggi” yang dipelopori oleh mahasiswa di Jakarta, konflik antar kampung di Nusa Tenggara Barat, dan banyak lagi kerusuhan lain yang juga sangat “kental” dengan karakteristik seperti itu.

    Beberapa ahli tentang kelompok (Krech, Crutchfield, Ballachey : 1962; Garvin : 1987; Raven dan Rubin : 1976) menyebutkan bahwa kelompok merupakan sarana bagi seseorang untuk memperoleh kekuatan untuk bergerak, bahkan juga gerak untuk memberontak. Selain itu, melalui kelompok erat pula seseorang akan menyalurkan rasa sakit dan penderitaannya, sehingga rasa sakit dan penderitaan tersebut tidak lagi dirasakan sebagai penderitaan pribadi. Seseorang akan memperoleh kekuatan luar biasa untuk bergerak, atau mencapai tujuan dengan “meleburkan diri” dalam kelompok erat, kelompok kental, atau kelompok sendiri, (Raven dan Rubin : 1976) sehingga ciri dan tanda yang membedakannya sebagai pribadi yang mandiri hilang dan mewujud dalam kesatuan kelompok “Ku” yang solid. Sehubungan dengan proses-proses dalam kelompok erat inilah maka individu anggotanya memperoleh “energi” untuk berubah, bergerak, tumbuh, menampilkan peran, sekaligus juga menolak, melawan, atau juga membangkang. Kelompok sendiri ini memiliki karakteristik tertentu yang sangat erat dan memiliki semangat untuk menolak orang luar yang tidak menjadi anggota kelompok serta menganggapnya sebagai musuh yang perlu dilawan atau minimal dicurigai.

    Perwujudan lebih lanjut dari kelompok sendiri, menurut Hoffer (1988) dapat digambarkan melalui ungkapan-ungkapan sederhana yang kuat seperti : Aku termasuk dalam “Keluargaku”, “Klikku”, “Kerabatku”, “Agamaku”, “Kampungku”, “Sukuku”, dan sebagainya, atau semua kelompok yang berakhir dengan kata kepunyaan “Ku”. Semua itulah yang dimaksud dengan kelompok sendiri, karena “aku” termasuk di dalamnya. Semua kelompok di mana bukan diakhiri dengan kata kepunyaan “Ku” merupakan kelompok luar, karena “Aku” berada di luarnya, kelompok seperti ini akan dipandang sebagai orang asing atau orang luar ras yang akan menempati posisi mirip sebagai “musuh”.

    Kecenderungan manusia untuk melibatkan diri ke dalam suatu kelompok nampaknya secara sosial merupakan suatu dorongan dasar dari manusia itu sendiri. Jika seseorang bertemu dengan orang asing atau baru dalam suatu situasi, maka mereka seketika itu juga akan segera mencari kesamaan diantaranya (Raven dan Rubin, 1976). Mereka akan bertanya dari mana asalnya, apa tujuannya, apa dan bagaimana aliran pemikirannya, apa agamanya, dan seterusnya. Jika keduanya berasal dari satu kota yang sama, maka kesamaan itu akan diperkecil lagi menjadi kampung atau desa mana dia berasal. Jika mereka memiliki berbagai kesamaan tertentu, mmaka mereka akan mudah untuk bergabung dan menjalin hubungan sosial secara akrab. Sebaliknya, setelah pengumpulan data secara singkat ini, kemudian tidak ditemukan kesamaan-kesamaan, maka mereka akan menganggap orang tersebut berada di luar kelompoknya yang harus diwaspadai, dicurigai, atau minimal tidak diajak untuk bergabung dengan kelompoknya. Kecenderungan orang untuk mencari kesamaan tertentu diantara kumpulan orang-orang mendorong orang untuk lebih mementingkan kelompoknya sendiri yang bersifat erat, tatap muka secara intens, kompak, serta mengidentifikasikan kepribadiannya kepada kelompoknya. Sebaliknya, sejalan dengan proses identifikasi terhadap kelompok erat ini, akan mengakibatkan berkurang atau menurunnya identifikasi maupun upaya untuk mengikatkan diri pada kesatuan masyarakat yang lebih luas. Meningkatnya keeratan huubungan di dalam kelompok-kelompok kecil yang dibarengi oleh berkurangnya ikatan dalam satu kesatuan masyarakat yang lebih luas akan menjadi sumber panas bagi pertentangan kepentingan antar kelompok.

    Durkheim (Johnson : 1988) menjelaskan hal ini dalam bahasannya tentang sumber-sumber ketegangan dalam masyarakat organik. Dia mengatakan bahwa salah satu ancaman paling besar pada solidaritas organik adalah berkembangnya heterogenitas yang mengakibatkan ikatan bersama yang menyatukan suatu masyarakat luas menjadi kendur. Hal itu mendorong individu-individu mulai mengidentifikasikan diri pada kelompok-kelompok yang bersifat terbatas, erat, dan memiliki solidaritas mekanik yang tinggi. Jika solidaritas pada tingkat ini (tingkat kelompok kecil yang kuat) digabungkan dengan melemahnya identifikasi dengan masyarakat yang lebih luas, maka kemungkinan konflik menjadi semakin besar.

    Kondisi melemahnya solidaritas dan kesatuan dalam suatu masyarakat yang lebih luas serta munculnya kelompok-kelompok dengan solidaritas mekanik yang kuat inilah yang melatar belakangi berbagai macam konflik yang terjadi di Indonesia. Konflik di Ambon, Lombok Mataram, Sampit, dan sebagainya juga dilandasi oleh latar belakang sosial yang mirip dengan gejala seperti disebut di atas.

    Untuk membuat serta mematangkan seseorang agar dia bersedia berkorban untuk melakukan gerakan massa dalam sebuah konflik, maka semua ciri dan tanda yang membedakannya sebagai pribadi harus dihilangkan. Seseorang harus dijauhkan dari ciri “Atom Insani” yang memiliki kepribadian sendiri, akan tetapi harus dileburkan dalam suatu kelompok sendiri yang erat, yang memiliki kepribadian yang berbeda dengan kepribadian individual (Hoffer : 1988) yang juga sejalan dengan pemikiran Raven dan Rubin. Selanjutnya Hoffer juga menjelaskan bahwa cara yang paling cepat dan efektif untuk membangun kerelaan untuk berkorban adalah dengan cara membuat agar orang “terserap habis” dalam kelompok erat, orang yang sudah “terserap habis” ke dalam sebuah kelompok sudah tidak lagi melihat dirinya sebagai sebuah pribadi yang bebas.

    Jika anggota kelompok sendiri tersebut ditanya “siapa dirinya”, maka dengan lantang dan tegas dia akan menjawab bahwa dirinya adalah orang yang berasal dari kampung tertentu, agama tertentu, suku tertentu, aliran politik tertentu, kaum tertentu, dan sebagainya yang memiliki kepribadian tersendiri yang berbeda dengan kepribadian individualnya yang mandiri. Keadaan inilah yang kemudian menjadi “kekuatan luar biasa” untuk menganggap bahwa orang lain di luar kelompoknya adalah orang asing yang patut untuk dicurigai, dan dijadikan seteru dalam menghadapi situasi sosialnya. Setelah keadaan peleburan diri secara penuh ke dalam kelompok, maka orang sebagai sebuah pribadi ini akan rela melakukan apa saja demi kelompoknya.

    Dalam setiap tindakannya, seseorang yang sudah meleburkan diri ke dalam kelompok erat, selalu mengkaitkan dirinya, kepribadiannya, dan nilai-nilainya kepada sesuatu yang lebih besar, lebih kuat, yang memiliki identitas tersendiri, yaitu kelompok sendiri, atau kelompok erat. Inilah yang juga terjadi pada sebagian besar konflik atau kerusuhan sosial. Kesedihan dan kegembiraan, rasa bangga dan percaya diri, keinginan dan harapan, keputus asaan dan penderitaan yang dialami sangat terkait erat dengan kelompoknya. Jika seseorang “terdampar” pada suatu situasi yang sangat buruk, menderita fisik, sosial, maupun ekonomi menyakitkan, mengalami penyingkiran yang rumit, serta ketidak mampuan pribadi yang parah, maka pribadi tersebut tetap menganggap atau merasa bahwa “mata dan tangan” kelompoknya tetap menatap dan melindunginya. Jiwa dan kekuatan diri yang terpusat pada kelompok begitu kuat, sehingga dia tidak melihat dirinya sebagai sebuah pribadi yang unik, melainkan sebuah kekuatan kolektif yang menjadi energi penggerak dalam menghadapi segala situasi. Jika dia mengalami suatu kemiskinan, maka dia tidak melihat hal itu sebagai akibat dari ketidak mampuan atau kemalasan diri. Dikeluarkannya seorang individu dari kelompok seperti ini akan dirasakan sebagai “perenggutan” yang sangat parah dari kehidupan. Orang ini akan merasa bahwa kehidupannya sudah tidak berarti lagi, karena kekuatan kolektif yang diberikan oleh kelompok kepada dirinya sudah tidak ada lagi. Dia akan mengalami “Lethargy” yang sangat parah, serta rasa keputus asaan yang “mematikan”.

    Berbagai konflik suku, agama, ras, kampung, partai, maupun beraneka gerakan kerusuhan dan pemberontakan massa yang menakutkan, nampaknya seringkali dimotori oleh benturan kekuatan-kekuatan semacam ini dengan kekuatan sejenis yang berasal dari kelompok lain. Anggota satu kelompok yang terlibat konflik semacam ini akan dengan sukarela mencurahkan segala kehidupannya kepada kelompoknya. Dia bersedia “hancur” demi kelompoknya. Dengan demikian, tidaklah heran jika seseorang rela mengorbankan harta bendanya, jiwa dan raganya, kehidupannya demi kelompoknya untuk mencapai tujuan yang sebenarnya secara logis kurang bermanfaat atau tidak bermanfaat, bahkan seringkali berupa penghancuran kehidupan orang lain atau kelompok lain. Contoh nyata yang sangat baik dan dapat diamati secara nyata adalah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dimana anggotanya bersedia menderita lahir dan batin, luar dan dalam, sosial maupun material untuk membela dan terlibat penuh untuk mencapai tujuan suci dari kelompoknya.

    2. Kebencian Bersama yang Menyatukan Gerakan Dalam Sebuah Konflik.
    Berbagai macam bentuk konflik serta pemberontakan yang keras selalu diawali oleh kondisi kebencian yang sangat parah dari anggota kelompok yang terlibat. Kebencian ini nampaknya merupakan suatu unsur dasar utama yang ada dalam gerakan-gerakan seperti itu. Hal inilah yang seringkali dimanfaatkan oleh para “provokator” sebuah konflik yang melibatkan kekerasan, yang sangat memahami sifat dari sebuah gerakan massa.

    Konflik kekerasan yang berlatar belakang agama di Ambon nampaknya mustahil akan mengakibatkan penghacuran mengerikan seperti yang selama ini terjadi, karena Ambon sebenarnya merupakan suatu masyarakat yang sangat bersahabat, terbuka, memiliki kehidupan sosial yang indah. Mereka adalah masyarakat yang mampu mengekspresikan keindahan melalui nyanyian-nyanyian serta kesenian tradisionalnya yang memukau. Selain itu, latar belakang keagamaan nampaknya akan sulit diterima sebagai faktor yang mendorong munculnya konflik. Agama-agama besar yang ada di dunia ini, apapun agamanya, memiliki ajaran tentang keharmonisan serta kesucian pribadi yang sangat kuat, yang sesungguhnya justru akan mencegah munculnya konflik. Akan tetapi kebersamaan serta keharmonisan ini akan rusak dengan sekejap mata hanya karena adanya suatu rekonstruksi kebencian bersama (antar kelompok-kelompok dalam / sendiri) terhadap sesuatu atau suatu kelompok lain.

    Agamaku adalah yang terbaik, karena aku berada di dalamnya, dan dengan solidaritas mekanik yang tinggi, yang cenderung menganggap bahwa identitas pribadinya yang unik telah menyatu dengan identitas keagamaannya, dan dibarengi oleh memudarnya ikatan kemasyarakatan yang luas, maka solidaritas ini akan diikuti oleh adanya anggapan bahwa agama di luar agamaku adalah sesuatu yang buruk yang perlu diwaspadai, perlu dicurigai, dan harus ditempatkan dalam posisi sebagai musuh. Penanaman kebencian kolektif ini memerlukan proses sosilisasi yang intensif, jika proses sosialisasi ini dilakukan terus menerus semenjak seseorang berusia dini, maka kebencian ini akan berurat dan berakar dalam kepribadian tanpa disadari.

    Seorang pemimpin dari sebuah gerakan pemberontakan berdarah sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam menciptakan kebencian atau musuh bersama ini. Masyarakat Afganistan yang terpecah belah dalam beraneka ragam suku yang saling bermusuhan serta berperang satu sama lain, secara cepat akan bersatu karena mendapat ancaman bersama. Mereka akan melupakan permusuhan internal dan memusatkan perhatian untuk mengusir kekuatan asing yang mampu menimbulkan kebencian kolektif. Mungkin Saddam Husein perlu berterima kasih kepada Amerika Serikat karena justru Amerikalah yang telah menyatukan Irak menjadi suatu kekuatan yang tak terkalahkan karena seluruh rakyatnya bersatu untuk melawan intervensi luar. Demikian pula sistem politik “memecah belah” yang dijalankan penjajah pada hampir semua bentuk penjajahan yang bertujuan untuk mengurangi konsentrasi kebencian pada satu musuh saja, dengan demikian perlawanan dan pemberontakan kaum terjajah diupayakan untuk dikurangi seminimal mungkin.
    Penentuan musuh bersama yang dapat membangkitkan kebencian kolektif inilah yang menjadi syarat bagi seorang pemimpin pemberontakan. Kemampuan memahami keadaan dan kelihaian mereka yang pandai mengarahkan pemberontakan tercerrmin dalam memilih musuh bersama yang tepat untuk dianut. Bahkan Hitler yang merupakan pakar dalam mengobarkan kebencian kolektif mengatakan bahwa keunggulan seorang pemimpin terletak pada kemampuannya untuk memusatkan sedemikian rupa semua rasa benci pada satu musuh, sehingga musuh-musuh yang sangat berbeda satu sama lain tampak seperti satu kelompok saja. (Hoffer : 1988).

    Kebencian suatu golongan kepada golongan lain, atau satu kelompok kepada kelompok lain ini dipicu oleh beraneka ragam kepentingan yang sangat bervariasi. Kebencian kaum miskin terhadap kaum yang lebih kaya, misalnya, bukan hanya disebabkan oleh ketertindasan yang mengakibatkan revolusi sosial seperti yang dikemukakan oleh Marx, akan tetapi kecenderungan kelompok miskin ini untuk mengidentifikasikan diri pada kelompok-kelompok yang dianggap memiliki kesamaan tertentu (dalam hal ini adalah kemiskinaannya) dan memfokuskan kebenciannya pada kelompok lain yang memiliki perbedaan yang sangat menonjol. Hal inilah yang perlu diperhatikan dengan seksama dalam memahami konflik diantara golongan kaya dan golongan miskin di perkotaan. Hal yang sejenis juga dapat terjadi antara kelompok sipil dan birokrat, sipil dan militer, suku yang satu dengan lainnya, antara agama yang satu dengan agama lainnya, dan seterusnya.

    Kebencian seringkali ditularkan kepada orang lain dengan lebih mudah dibandingkan dengan menularkan rasa cinta. Seseorang tidak akan mencari kawan untuk mencintai, bahkan orang lain yang sama-sama memiliki posisi mencintai sesuatu dianggap sebagai saingan yang berniat menyerobot. Orang seperti ini akan menganggap pesaingnya harus disingkirkan atau dilenyapkan. Sebaliknya seseorang akan mencari sekutu sebanyak-banyaknya bila kita membenci. Pertumbuhan dan perluasan kebencian menjadi kebencian kolektif inilah yang akan menyatukan suatu gerakan menghancurkan dari sebuah konflik.

    3. Rayuan Yang Mengobarkan Kekerasan Dalam Konflik.
    Banyak pendapat dari para pakar ilmu sosial, para politisi, serta birokrat dalam pemerintahan yang mengulas tentang konflik serta kerusuhan sosial yang melebih-lebihkan arti penting dari sebuah bujukan untuk membangkitkan konflik, yang belakangan memunculkan istilah provokator. Pendapat ini, menurut hemat saya, kurang benar, karena, bagaimanapun kuat dan besarnya rayuan, dan ahlinya seorang provokator, tidak akan mampu membangkitkan suatu konflik jika tidak ada prakondisi penting yang menjadi motor penggerak konflik.

    Rayuan atau provokasi saja tidak akan mampu mempengaruhi jiwa dari orang-orang yang tidak ingin dipengaruhi. Harus ada luka mendalam yang dapat membangkitkan semangat orang untuk membalas. Luka mendalam juga tidak akan membangkitkan konflik luas jika tidak ada kebencian kolektif yang mendalam dari sebuah kelompok atau kaum. Provokasi tidak akan berhasil membujuk orang untuk melakukan konflik jika orang tersebut tidak memiliki “bahan bakar” untuk melakukan konflik. Provokasi atau rayuan untuk melakukan tindakan konflik secara terbuka dan luas hanya mampu menjalar ke dalam dada orang yang sudah terluka. Fungsi rayuan ini bukan untuk menanamkan pendapat baru tentang ketidak adilan, melainkan hanya berfungsi untuk mengungkapkan luka yang terpendam, kedengkian yang sudah membara, serta membangkitkan perasaan-perasaan terdalam dari orang yang tertindas. Orang hanya akan terbujuk untuk mempercayai sesuatu yang sudah diketahuinya tetapi tidak muncul ke permukaan.

    Rasa tidak puas, kebencian akibat terjadinya penindasan yang lama berlangsung, kemiskinan diantara melimpahnya sumber, fanatisme buta yang mendapat rongrongan dari luar, fanatisme buta yang menganggap alirannyalah yang terbaik serta memunculkan kecurigaan, kecemburuan, stereotipe terhadap suatu golongan masyarakat tertentu atau terhadap aliran lain, ketidak adilan, nampaknya merupakan bara yang siap berkobar menunggu tiupan angin dari para provokator. Kita tidak perlu terlalu takut kepada para perayu atau provokator ini, jika kita mampu meniadakan atau mengurangi semaksimal mungkin prakondisi penting yang akan berfungsi sebagai energi penggerak sebuah pemberontakan atau sebuah konflik terbuka yang luas.

    Akhirnya, kebencian yang dirasakan oleh orang banyak yang tergabung dalam suatu kelompok sendiri (In-group) yang memiliki kekuatan berontak yang sangat besar, didukung oleh pra kondisi seperti ketimpangan, kemiskinan, penindasan, kecemburuan dan kecurigaan yang membara akan dengan senang hati menyambut tiupan angin propaganda yang dilakukan oleh para provokator (perayu dan pengobar konflik). Anggota kelompok erat ini akan secara kompak dan sangat bersemangat serta penuh angkara murka menghancurkan apa saja yang menjadi bagian dari sesuatu yang dibenci. Konflik secara kelompok yang dikobarkan melalui propaganda akan menjadi semakin seru dan kejam bila dilakukan bersama dengan kekerasan dibandingkan dengan bila hanya semata-mata bersandar pada kemampuannya sendiri. Hal seperti inilah yang harus dipahami oleh para penganalisis konflik, sehingga langkah penanganan serta upaya pencegahan terjadinya konflik kekerasan juga melihat kondisi sistemik yang melahirkan kebrutalan.

    F. BEBERAPA HIPOTESIS
    Beferly Crawford, andrew v. Bell Vialkoff, Michael Urban, Philip G. Roeder.

    1. Diskriminasi dan pengutamaan ekonomi pada dasar kriteria kesukuan atau keturunan akan menyebabkan identitas kultural semakin menguat yang apabila di perkuat secara politis akan menyebabkan kecenderungan konflik secara kuat.
    2. Globalisasi ekonomi dan demokrasi pasar akan menyebabkan menguatnya market-dominant minorities yang jika disertai dengan melemahnya institusi hukum akan melemahkan kontrak sosial suatu masyarakat yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya konflik sosial.
    3. Liberalisasi sosial politik dan ekonomi mengakibatkan terjadinya disintegrasi kepemilikan yang tersentralisasi dalam aset produksi serta meningkatnya etnosentrisme tertentu yang rawan terhadap konflik.
    4. Liberalisasi juga akan memperlemah institusi-institusi formal regional, selain institusi pusat, serta menguatnya kepemimpinan etnis.
    5. Faktor kelemahan ekonomi juga akan melemahkan institusi politik yang menjaga kontrak sosial serta stabilitas sosial.
    6. Jika institusi negara cukup kuat dan diakui oleh rakyatnya, maka kompetisi politik tidak akan mengarah kepada kekerasan.
    7. Jika institusi negara memiliki kekuatan yang cukup untuk memaksa walaupun sebenarnya tidak diterima oleh kelompok-kelompok masyarakat yang dominan, maka konflik juga tidak akan mengarah pada kekerasan, walaupun institusi-institusi ini dianggap menindas. (Mungkin ini berlaku dan terjadi pada jaman orde baru).
    8. Jika institusi negara melemah, yang dibarengi dengan melemahnya kesempatan untuk menyatakan aspirasi kultural kelompok etnis, maka kekerasan dalam konflik akan meningkat.
    9. Jika institusi negara yang menopang kontrak sosial atau institusi yang dapat menekan kekuatan kelompok luar menjadi lemah, atau berada dalam tekanan, maka kekerasan etnik dan sektarian akan meledak.
    10. Kekerasan dalam konflik akan meningkat dengan pesat jika institusi yang mendukung dan menghentikan kelompok yang sedang bertikai melemah.
    11. Kekerasan dalam konflik akan meningkat jika aliansi-aliansi budaya dibentuk sampai melewati batas dan jika partner aliansinya juga mendukung kekerasan

Leave a Reply

  

  

  


*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Aturan Rubrik

Sampaikan pendapat/ide/saran/layanan/kegiatan tentang UM yang sesuai dengan Aturan Rubrik

Komentar Terbaru

  • [selesai] BAKAL CALON REKTOR (40)
    • Mega Suryawati: Mencari seorang pemimpin yang tepat tidaklah mudah, kewajiban kita sebagai anak bangsa adalah berusaha memilih pemimpin yang terbaik dari yang baik di segala level kepemimpinan,...
    • Iis Dahlia: Pada saat ini banyak yang telah membicarakan mengenai pergantian rektor baru di Universitas Negeri Malang. Masing-masing mahasiswa mempunyai kriteria tersendiri mengenai rektor baru...
    • ERNIE PURWANTI: Menanggapi perubahan rektor Universitas Negeri Malang (UM) saat ini, seharusnya pemimpin dan kepemimpinan yang baik yaitu: 1. Sebagai pengatur, pengarah aktivitas organisasi untuk...
    • Anis Latifatul Badriyah: Pemimpin adalah seseorang yang dipercaya dan memiliki wewenang untuk mengatur suatu organisasi tertentu berdasarkan hasil pemilihan para anggota organisasi. Sedangkan...
    • Bachtiar Zakariah: perubahan dalam suatu organisasi tidak dapat di pisahkan dari peranan seorang pemimpin. menanggapi hal itu, um yang dalam waktu dekat ini menyelenggarakan pemilihan rektor, saya...
    • Bayu Candra Eka P: Berbicara tentang bagaimana cara orang memimpin di dalam suatu organisasi memang berbeda-beda. Begitu juga dengan para anggota di dalam organisasi yang mempunyai persepsi dan...
    • Kholifatul Mahmudah: Perubahan pemimpin akan memberikan dampak yang besar bagi organisasi. Begitu pula dengan pergantian Rektor Universitas Negeri Malang (UM), yang diharapkan dapat melakukan...
    • Alfaraby: Jika ditanya ‘apakah termasuk yang meminta/mengusulkan diri dalam pencalonan ini?’ tidak, mereka dicalonkan setelah Senat UM melakukan rapat khusus. terlepas dari hal...
    • Dwi Rahmah Hidayati: Derasnya pembicaraan tentang pergantian kepemimpinan di tingkat universitas, yakni melalui pemilihan rektor UM yang baru, menggelitik saya untuk turut menyuarakan...
    • Mediana Wahyu P: comment REKTOR: Dalam suatu universitas/perguruan tinggi, nama “Rektor” sudah tidak asing lagi didengar, karena rektor merupakan organ suatu universitas. Universitas...
    • Dinar Adi Meda: Rektor yang baru pasti mempunyai visi dan misi. Dan diharapkan yang belum di jalankan dijalan kan lagi. Dan yang lebih penting bisa membawa Universitas Negeri Malang lebih maju...
    • dina ni'matul: Mahasiswa berkualitas adalah mahasiswa yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, pengetahuan yang luas, mampu mengontrol emosional, memiliki spiritual dan sosial yang tinggi....
    • Moch. Arensyah AP: Sebuah Universitas yang besar membutuhkan pemimpin yang berjiwa besar pula. Salah satunya Universitas Negeri Malang (UM) ini. UM membutuhkan pemimpin yang berjiwa besar, disiplin...
    • Fadilla Weka Y: Kemajuan suatu lembaga tergantung pada peran seorang pemimpin yang ada di dalamnya. Seorang pemimpin harus mampu menjalankan visi dan misinya dengan penuh tanggung jawab untuk...
    • Sagita Dwi: Tugas seorang pemimpin memanglah berat, karena mempunyai tanggung jawab yang besar untuk membawa organisasi yang dipimpinnya menuju ke arah yang lebih baik. Seorang pemimpin diharapkan...
    • Wulanda: Setiap lembaga pendidikan membutuhkan agen perubahan atau seorang pemimpin yang mampu membawa organisasioanal, khususnya pada perguruan tinggi Universitas Negeri Malang (UM). Berhasil...
    • Venny Elana TF: Seorang pemimpin dalam suatu lembaga pendidikan tentunya sangat berperan besar untuk kemajuan lembaga pendidikannya. Untuk memilih seorang rektor sebagai pemimpin sebuah...
    • Siska Agustina: Dalam sebuah lembaga pendidikan pergantian pemimpin merupakan perubahan yang besar karena hal tersebut menentukan berlangsungnya program yang ada di lembaga pendidikan tersebut...
    • Ufifatul Ilma: Universitas ataupun Perguruan Tinggi merupakan suatu tempat untuk menuntut ilmu setelah masa SMA, berkualitas atau tidaknya suatu universitas terletak pada bagaimana seorang rektor...
    • Dwi Ratna Mayang: Kepemimpinan didalam suatu organisasi sangatlah penting bahkan bisa dikatakan pemimpin adalah inti dari suatu organisasi. Di dalam kenyataannya tidak semua orang yang menduduki...
    • Nur Shofia Maya Sofa: Pergantian Rektor merupakan suatu perubahan yang besar.Rektor yang terpilih diharapkan dapat membawa UM untuk lebih baik lagi dari sebelumnya. dengan harapan agar UM dapat...
    • ekowahyus: Kalo sudah banyak yang mengulas tentang syarat pemimpin dan harapan terhadap pemimpin, sekarang kembali ke diri kita masing-masing, seluruh tenaga akademik, tenaga kependidikan,...
    • Nur Azizia: Saya harap Rektor UM selanjutnya dipimpin oleh seorang yang jujur, adil, baik, dan cerdas. Seorang pemimpin yang adil, indikasinya adalah selalu menegakkan supremasi hukum; memandang...
    • Faiqotul Izzatin Ni'mah: Rektor sebagai pimpinan tertinggi di Universitas Negeri Malang (UM) diharapkan mampu membawa perubahan yang positif dan signifikan bagi seluruh sivitas akademika dalam...
    • Thoriq Ardyawan: Pergantian Rektor Universitas Negeri Malang (UM) merupakan perubahan skala besar dalam struktur organisasi. Pergantian pemimpin ini juga memberikan harapan baru pada seluruh...
    • Ayu Linda Puspita: Saya tertarik dengan pernyataan Drew Faust yang merupakan Rektor atau presiden Universitas Harward, Faust mengatakan “Pendidikan adalah mesin yang membuat demokrasi Amerika...
    • Ngainun Naja: Memimpin merupakan tugas, amanat, dan tanggungjawab yang sangat berat untuk seorang pemimpin. Apalagi memimpin sebuah lembaga yang besar, dan sudah dikenal dikhalayak umum tentu...
    • Rakhmawati Indriani: Kualitas dari lembaga pendidikan sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan Rektor di dalamnya. Untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang unggul dan berkualitas, maka diharapkan...
    • Aisyah Amini: sebagai Mahasiswa, saya berharap untuk kedepannya. UM sebagai universitas yang saat ini unggul dalam mencetak tenaga pendidik profesional, dapat dipimpin oleh seorang rektor yang...
    • Lia Dwi Kristanti: Menjadi seorang pemimpin bukanlah suatu hal mudah, karena selain tanggung jawab yang berat, seorang pemimpin sejati harus memiliki tiga kompetensi dasar yang menjadikan seorang...
    • Fitria Anike WIdyawati: Calon Rektor UM ke depannya harus bisa menerapkan kepemimpinan visioner dengan kriteria yaitu: 1. Berwawasan ke masa depan Pemimpin yang mempunyai pandangan yang jelas...
    • FITRIANI HAVIVAH: Nilai keunggulan suatu lembaga pendidikan tinggi sangat bergantung pada kepemimpinan visioner yang harus ada pada jiwa seorang Rektor. Hal tersebut jika dikaitkan dengan visi UM...
    • Cerita Lucu: Saya sependapat seperti mas andrew “Siapapun itu semoga yang terbaik. Yang terpilih memang layak untuk memimpin bukan karena sebuah intrik politik. Rektor yang mengerti kebutuhan...
    • Andrey: Siapapun itu semoga yang terbaik. Yang terpilih memang layak untuk memimpin bukan karena sebuah intrik politik. Rektor yang mengerti kebutuhan kampus bukan karena nyari fulus. Rektor yang...
    • Achmad Supriyanto: Universitas Negeri Malang (UM) adalah lembaga penyelenggara pendidikan tinggi yang seharusnya bercirikan antara lain religius, ilmiah, edukatif, dan selalu menggunakan pendekatan...
    • Noor Farochi: Betul pak @ekowahyus… utamanya pada poin 2. semakna dengan maksud tulisan saya
    • budiarto: semua yang disampaikan diatas, saya sangat setuju sekali. Rektor seperti apa yang harus jadi Rektor ? adalah Rektor yang tidak lagi menjadi bagian dari golongan-golongan tertentu,...
    • ekowahyus: Menurut saya…. 1. Memang betul, prinsip tidak memberikan jabatan kepada yang meminta adalah pedoman karena boleh jadi MEMINTA karena mengharapkan sesuatu. 2. Konteks PILREK dengan...
    • mujahidin akbar: Rektor mendatang harus berorientasi melayani, meninggalkan kepentingan-kepentingan golongan dalam merumuskan kebijakan yang dapat menguntungkan bersama. Dalam mengemban tugas...
    • andriyan: Menurut saya bakal calon Rektor harus memenuhi kriteria: 1.Beriman dan Beramal Shaleh 2.Niat yang Lurus 3.Tidak Meminta Jabatan 4.Berpegang pada Hukum Allah 5.Memutuskan Perkara Dengan...
  • Mengapa wanita mudah kesurupan? (5)
    • satrio: klo ada yg blg bhw “siapa pun yg mengaku melihat arwah itu dusta”, mk ia telah mendustakan nabi saw yg melihat arwah d siksa dlm kubur lalu memberi pelepah kurma d atas kubur...
  • KHUTBAH JUM’AT: PEWARTA (1)
    • suhartono: Alhamdulillah tidak meleset apa yang disampaikan Pak Dawud,memang zaman sekarangpun tetap marak jangankan yang masih terhitung muda usianya bahkan yang tuapun bila berjalan tak cukup...
  • Dwi Cahyono: Masa Lalu Sebagai Pengalaman Baru (10)
    • Yudi Widodo: Mas Dwi, karena keterbatasan ilmuwan untuk memahami artefak masa lalu, sehingga muncul katagori prasejarah tatkala sandi & simbol tidak dapat difahami sebagai tulisan untuk...
  • Kekacauan Dunia Terjemahan (7)
    • Arul: Kalo untuk universitas Negeri Malang diterjemahkan The state University of Malang, karena Malang adalah nama dari sebuah kota dimana universitas tersebut berada,biasanya diterjemahkan seperti...
  • BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH (25)
    • tri wahyu: Salut buat ebes Djoko. menurut saya sekarang ini memang sudah sedikit kera ngalam yang memakai boso walikan. Memang perlu untuk segera dilestarikan, atau kalo perlu dibuatkan kamus boso...
  • Variabel pada Fotografi (1)
    • Lintas Fakta: informasi yang sangat berguna bagi kami yang photographer
  • LEMBUTKAN HATI DI USIA KRITIS (2)
    • kurniawan: ia benar kita harus permaaantap tiang agama,,,!
    • jasmine: usia kritis sebaiknya perbanyak ibadah , lebih baik kl dari usia muda, krn kita tak tahu umur kita :)
  • PERBEDAAN PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF (5)
    • Djarot: Puyeng ah… Gak ada bedanya tuh. Kadang-kadang dalam deskriptif juga memerlukan analisa data kualitatif. Ada yang lebih sederhana?
  • Hymne Universitas Negeri Malang (3)
    • Tiyayu Hanit: buat download mp3 mars dan hymne um dimana ya min? apa versi mp3nya belum ada ?