UN, Sistem Evaluasi yang Tidak Pedagogis

UN, Sistem Evaluasi yang Tidak Pedagogis

DSC_037ToenLeo

Oleh  Anselmus Je Toenlioe

Tulisan Fathurrofiq di Kompas Jawa Timur berjudul Komodifikasi Bimbingan Belajar (4/2/2010) patut direspon serius agar dihasilkan system evaluasi pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan secara pedagogis. Kalau ditelusuri ke akar persoalan, sesunguhnya kehadiran bimbingan belajar dengan metode drill dan uji coba hanyalah dampak pengiring dari system evaluasi pendidikan nasional yang digunakan saat ini.

Dengan kata lain, sistem UN itu sendiri tidak pedagogis sehingga berdampak pada munculnya berbagai praktik yang tidak pedagogis pula.

Sesungguhnya kehidupan manusia selalu diwarnai oleh dua kutub realitas dengan fungsinya masing-masing. Ada siang, ada malam, ada pria, ada wanita, begitu seterusnya. Agar mempunyai  anak , misalnya pria dan wanita mesti bekerjasama sinergis sesuai fungsinya masing-masing. Pria tidak mungkin menyusui, sementara wanita tidak mungkin memiliki anak tanpa pria. Dua kutub realitas bisa didikotomikan, bisa juga disenergikan.

Di dunia pendidikan, pernah ada kutub empirisme yang memandang manusia ibarat tanah liat yang bisa dibentuk menjadi apa saja sesuka hati. Selain itu, juga pernah ada kutub nativisme yang memandang manusia telah membawa kediriannya sejak lahir. Perdebatan kedua kutub ini berakhir dengan lahirnya teori konvergensi yang memandang terbentuknya pribadi manusia sebagai hasil perpaduan antara pembawaan dan pengaruh lingkungan.

Di luar disiplin ilmu pendidikan, terdapat pula dua kutub akademik. Dalam ilmu social, terdapat kutub struktur sosial dan definisi sosial, dalam disiplin psikologi terdapat dua kutub behaviorisme dan humanis, dalam bidang penelitian terdapat  metode kuantitatif dan metode kualitatif, begitu seterusnya. Di Negara-negara maju perdebatan dikotomis antara kutub akademik ini lebih relative selesai secara sinergis sehingga mereka lebih focus membangun negerinya tanpa diganggu perdebatan yang menghambat laju pembangunan tersebut.

Kalau dicermati, pembangunan, khususnya pembangunan pendidikan, di negeri ini masih dikelola dengan hanya bertumpu pada satu kutub pandangan. Dari kacamata teori pendidikan, pendidikan di kelola dengan porsi empirisme yang berlebihan, yang sejalan dengan paradigm struktur social di bidang sosial, behavioristik di bidang pasikologi, dan kuantitatif di bidang penelitian.

UN adalah contoh paling konkret dan actual dari puncak gunung es penerapan berlebihan salah satu kutub teori atau pandangan dalam mengelola pendidikan, yakni teori empirisme, yang sejalan dengan psikologi behaviorisme. Oleh karena itu, UN adalah wujud evaluasi pendidikan sebagai komponen terakhir proses pendidikan. UN akan memengaruhi seluruh komponen sistem pendidikan akanmengabdi tanpa kompromi namunpenuh pamrih pada komponen ini.

Contoh paling akhir adalah seleksi masuk perguruan tinggi pun dirancang agar ikut mengabdi pada UN. Padahal, seleksi seleksi masuk PT dan UN memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Sebuah pengabdian yang mereduksi habis fungsi pendidikan.

Pendekatan terpadu

Memang lebih mudah menganut dan menerapkan secara ekstrim salah satu kutub pandangan atau teori dalam pengelolaan pendidikan. Mudah dalam arti tidak perlu bersusah payah berpikir dan bertindak untuk menggunakan secara energies dua kutub yang bertolak belakang. Namun hasilnya pasti pas-pasan. Kesanya seolah-olah kebijakan dan rencana kebijakan pendidikan saat ini, seperti UN dan penggunaan UN untuk seleksi masuk PTN, mengedepankan prinsip efesiensi dan efektivitas dalam peningkatan mutu pendidikan, tetapi sesungguhnya merefleksikan mentalitas malas dan mencari jalan pintas. Lalu, bagaimana contoh pemanduan itu?

Secara teoritis untuk pendidikan keterampilan-kejuruan UN berstandar tunggal layak digunakan. Namun, tidak untuk pendidikan umum-kognitif. Dengan kata lain, sistem UN yang digunakan saat ini tidak tepat untuk SD, SMP, dan SMA. Sistem tersebut lebih tepat untuk SMK. Adapun untuk SD, SMP, SMA, minimal UN menggunakan multistandar, misalnya disesuaikan dengan klasifikasi hasil akreditasi sekolah. Setiap daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, diberi wewenang menetapkan sendiri standar daerah, sementara pemerintah pusat menetapkan standar nasional sebagai acuan tertinggi.

Akan muncul pertanyaan, bagaimana dengan kemungkinan kesenjangan bakal akademik siswa ketika akan masuk ke jenjang lebih tinggi? Misalnya, bila standar ujian SMA berbeda, apakah hal itu tidak menyulitkan lulusan SMA dalam memilih PT disatu pihak dan menyulitkan PT dalam mengelola keanekaragaman  kemampuan akademis mahasiswa baru dipihak lain. Sesungguhnya disinilah letak peran kecerdasan kemauan, dan mentalitas kerja keras kita dalam mengelola pendidikan nasional.

Sekedar contoh, saya lulus dari sebuah sekolah pendidikan guru (SPG) dengan kondisi amta terbatas di pelosok Pulau Timor 37 tahun lalu, kemudian melanjutkan pendidikan di pulau Jawa. Beruntung ada sebuah PTS yang mau bekerja keras dengan memberikan kesempatan mengikuti pendidikan pra-universitas kepada calon mahasiswa kurang beruntung seperti saya. Andaikan keempatan itu tidak saya dapatkan, tulisan ini tidak akan sampai ditangan pembaca.

Mudah-mudah jelas apa yang dimaksudkan dengan berkerja keras dalam memadukan secara sinergis berbagai pandangan atau teori dalam mengelola pendidikan nasional. Kalau masih tetap tidak jelas, barangkali baru seperti itulah kemampuan akademik kita dalam mengelola pendidikan negeri ini. Menyedihkan.

Penulis

Dosen Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang (UM)

(Sumber: Kompas, 11/2/2010)

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.