Peringkat Perguruan Tinggi: Webometrics dan Alexa

Webo-AlexaMalang, 27 Maret 2010

Johanis Rampisela (LCWCU UM http://lcwcu.um.ac.id)

Tiga Cerpenku Dituduh Plagiat

CATATAN REDAKSI: KARYA TULIS INI DIBUAT OLEH WARGA UM DAN DITERBITKAN OLEH HARIAN SURYA.

Plagiarisme jadi bahasan berhari-hari di hampir semua media massa umum karena kasus Prof Anak Agung Banyu Perwita, dosen Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Lalu, apa yang dimaksud plagiarisme itu? Saya punya tiga contoh yang sekaligus pengalaman pribadi saya dan cocok buat ilustrasi masalah plagiarisme.

Cerita pendek (cerpen) saya di majalah sastra Horison bulan Juli 2007 dengan judul Cinta dan Prasasti mendapat tuduhan sebagai hasil plagiat. Sebuah komentar lewat surat elektronik berkata, alurnya mirip cerpen Lelaki yang Memandang Jauh karya Yus R Ismail. Ada juga yang bilang nama tokoh Cinta di situ menjiplak dari film remaja Ada Apa dengan Cinta. Seorang rekan bilang, saya menjiplak renungan penyejuk hati dari AA Gym.

Cerpen saya lainnya, Sahabat Hati, di majalah Horison bulan Agustus 2007 juga mendapat tuduhan yang sama. Ada yang komentar, frase Sahabat Hati sangat mirip sekali dengan Sandaran Hati, sebuah lagu karya Band Letto. Ada pula yang berkomentar, saya menjiplak lagu Kokoronotomo, terjemahan bebasnya adalah Teman di Hati, lagu Jepang yang amat populer di Indonesia tahun 80-an. Bahkan, ada yang bilang, banyak adegan mirip dengan cerpen karya Lan Fang berjudul Aku dan Perempuan Anganku.

Cerpen saya lainnya lagi, Berjalan di Atas Kenangan di Horison bulan Juli 2008 mendapat cercaan yang sama. Banyak yang bilang, saya menjiplak judul novel yang kemudian difilmkan, A Walk to Remember karya Nicholas Spark. Bahkan ada seorang kawan bilang, cerita cerpen itu memiliki kesamaan dengan Gita Cinta dari SMA karya Eddy D Iskandar, dan Siti Nurbaya karya Marah Rusli.

Dapatkah saya sebagai penulis yang memiliki kemiripan karya dengan orang lain dikatakan melakukan plagiasi? Apakah nama, alur dan adegan yang sama dapat dimasukkan sebagai kategori plagiarisme? Lalu apa bedanya dengan terinspirasi? Bukankah kadangkala seorang penulis mengaku terinspirasi dari karya orang lain?

Kadang kala, film-film box office memilki alur yang sama. Misalnya, film Avatar yang berlatar planet Pandora dengan film The Last Samurai yang bersetting di Jepang era Restorasi Meiji. Keduanya memiliki alur cerita yang hampir sama.

Masalah nama mirip bukanlah plagiasi. Yang saya ambil adalah suatu hal yang universal. Kemiripan judul juga merupakan hal biasa. Belum tentu judul sama itu menjiplak karya orang lain. Ada pepatah kuno, tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.

Sastrawan Taufiq Ismail di Gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang, pertengahan 2008, berkata, saya parafrasekan ulang kalimatnya, penulis adalah pembaca jenius yang haus membaca karya sastra.

Sebuah ayat yang cukup terkenal dalam sebuah kitab suci menyatakan, segala sesuatunya datang dari Tuhan yang Maha Esa. Dan Brown dalam novelnya yang terbaru, The Lost Symbol pada bagian akhir berpendapat bahwa Tuhan adalah konstanta yang universal.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita memiliki aturan undang-undang yang terperinci mengenai plagiarisme karya? Leus Deo, terpujilah Tuhan, sumber mata air inspirasi bagi manusia, untuk terus berkarya setelah menyelesaikan karya yang sebelumnya

http://www.surya.co.id/2010/02/19/tiga-cerpenku-dituduh-plagiat.html

Ferril Irham Muzaki

Mahasiswa Sastra Inggris, Universitas Negeri Malang

ferril_im@yahoo.com

Ketua NU yang Profesional

CATATAN REDAKSI: KARYA TULIS INI DIBUAT OLEH WARGA UM DAN DITERBITKAN OLEH HARIAN SURYA.

Nahdatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi masyarakat (ormas) Islam yang usianya cukup tua, didirikan oleh K.H Hasyim Asyari. Menginjak usianya yang cukup tua, didirikan tanggal 31 Januari 1926, NU akan mengadakan sebuah acara besar, yaitu muktamar NU ke 32 pada tanggal pada 23-27 Maret 2010. Kalau dianalogikan seperti usia tumbuh kembangnya manusia, NU kini sudah masuk sebuah fase di mana kebijaksaan menjadi tolak ukurnya.

Sekarang peradaban manusia telah memasuki abad ke 21. Abad ke 21 adalah sebuah abad yang mementingkan profesionalisme sebagai tolak ukurnya. Arus informasi melalui berbagai macam media massa seperti koran, televisi dan internet menjadi kian luas. Masyarakat terutama warga NU tentu sudah memiliki kriteria untuk ketua umum NU, yaitu yang memiliki profesionalitas dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran dan Alhadist, tidak terjebak dalam konservatisme.

Masyarakat kini dengan mudah mengetahui, mengamati dan menilai tindak-tanduk para pemimpinnya. Di abad ke 21, masyarakat mendambakan profesionalitas dan keteladanan dari para memimpinnya. Harapan-harapan di atas tentu menjadi kriteria pemimpin NU yang akan segera dipilih.

Di era informasi seperti sekarang, menafsirkan segala sesuatunya haruslah sesuai dengan konteks sosial yang terjadi di masyarakat.

Ketua NU sebagai salah seorang panutan umat Islam haruslah menafsirkan ayat-ayat suci Al quran dan Alhadist, pegangan bagi umat Islam dalam bertindak, berperilaku dan beribadat, dengan berkaca pada realitas sosial yang ada.

Jika sebuah organisasi Islam menafsirkan ayat-ayat suci Alquran dan Alhadist secara kaku, maka yang terjadi adalah ditinggalkannya organisasi Islam tersebut. Umat Islam sekarang sudah menjadi umat yang kritis, mereka tidak mau lagi didogma.

Sebagai contohnya adalah saat sekumpulan “ulama” mengeluarkan fatwa Facebook haram, yang terjadi adalah umat Islam justru ramai-ramai memboikot fatwa tersebut dengan membuat kelompok-kelompok “perlawanan” di Facebook.

Harapannya, pemimpin NU yang nanti terpilih, mampu berkaca dari realita seperti kisah nyata di atas. Caranya, membaca ayat-ayat Alquran dan Alhadist secara kontekstual, bukan tekstual.

Dengan penafsiran yang bersifat kontekstual, diharapkan NU tidak ditinggalkan umatnya.

Sebab pemahaman yang kontekstual membuat NU bisa bertahan dari segala cuaca. Menurut hemat penulis, menyiapkan payung sebelum hujan lebih baik dari pada membeli payung saat musim hujan.

Manfaat yang lain dengan menafsirkan Alqur’an dan Alhadist secara kontekstual, NU menjadi lebih kreatif sehingga tidak dilindas oleh zaman.

Umat sekarang membutuhkan pemimpin yang mampu mengakomodasi kepentingan umatnya. Bukan terjebak dalam konservatisme penafsiran Alquran dan Alhadist.

Kalau sampai terjadi konservatisme dalam penafsiran Al-Qur’an dan Al Hadist oleh pemimpin NU, sungguh amat sangat disayangkan, karena umat membutuhkan profesionalitas dalam menafsirkan ayat, secara kontekstual dan bebas dari cengkraman konservatisme.

http://www.surya.co.id/2010/03/22/ketua-nu-yang-profesional.html

Ferril Irham M

Jurusan Sastra Inggris UM

ferril_im@yahoo.com

Ring Tinju Senayan

CATATAN REDAKSI: KARYA TULIS INI DIBUAT OLEH WARGA UM DAN DITERBITKAN OLEH HARIAN SURYA.

Ada sebuah anekdot. Suatu hari di sebuah sasana tinju, ada seorang petinju mengeluh. Keluhannya, akhir-akhir ini order untuk naik ring tinju sangatlah jarang. Menurut salah seorang promotor tinju nasional yang cukup ia kenal, hal itu disebabkan masyarakat lebih tertarik menonton pertandingan tinju di senayan.

Menurut salah seorang analis olahraga, Ring tinju senayan cukup menarik bagi permirsanya, sebab, pesertanya dipilih langsung oleh rakyat, melalui pemilihan yang melibatkan jutaan penduduk negeri.

Bahkan membutuhkan dana yang sulit dibayangkan tumpukan uang seratus ribuan dalam dunia nyata. Menurut salah seorang wasit tinju, cara bertinju di ring Tinju senayan amat mirip dengan cara bertinju anak taman kanak-kanak (TK). Dia membeberkan sejumlah fakta-fakta sekaligus keheranannya. Bahwa tinju ala anak TK di DPR jauh lebih diminati ketimbang tinju professional.

Menurut wasit tinju kenalan saya itu, sidang kesimpulan akhir bailout Bank Century adalah bukti nyata dari pernyataannya tersebut, jelas hal itu membuat saya bertanya-tanya. Hati saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri saat melihat sidang kesimpulan akhir bank century.

Pertanyaan yang sama mungkin terlintas di benak pemirsa Indonesia yang melihat acara tersebut. Sungguh dalam hati saya merasa ada sesuatu yang janggal di sidang tersebut, sesuatu yang membuat saya bingung terhadap sidang tersebut.

Pertanyaan sekaligus rasa heran itu, apakah anggota Dewan Perwakilan Rakyat kita sudah tidak bisa mengimplentasikan pancasila nomor empat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan? Bukannya dengan memainkan tinjunya.

Dalam hati kecil saya bertanya-tanya, apakah pantas anggota DPR kita yang terhormat berperilaku layaknya, seperti yang dikatakan oleh Gus Dur bertahun tahun yang lalu, “anak TK”.

Saya sendiri tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Sebab anak tetangga saya yang masih taman kanak-kanak, tahu betul bagaimana cara berbagi, berempati dan berdiskusi dengan sesama.

Sungguh aneh tapi nyata. Setahu saya, anggota DPR yang terhormat minimal lulus Sekolah Menengah Atas. Berdasarkan pengalaman saya, selama menjadi pelajar di SMA, Pancasila selalu dibacakan oleh Pembina upacara tiap hari senin.

Malahan, dalam berbagai jurusan, sebut saja Pedidikan Kewarga Negaraan yang wajib diajarkan, baik untuk jurusan Ilmu Alam, Ilmu Sosial, ataupun Ilmu Bahasa, PKN selalu mengajarkan bagaimana menjadi seorang warga negara yang baik, dalam berbagai aspek kehidupan.

Salah satu aspek kehidupan yang diajarkan adalah bagaimana berperilaku sebagai manusia Indonesia yang Pancasilais.

Semoga saja, keluhan seorang petinju professional bahwa dia jarang naik ring karena kalah rating dengan ring tinju senayan segera berakhir.

http://www.surya.co.id/2010/03/19/ring-tinju-senayan.html

Ferril Irham M

Universitas Negeri Malang

ferril_im@yahoo.com

Bahasa SBY dan Bahasa Indogris

CATATAN REDAKSI: KARYA TULIS INI DIBUAT OLEH WARGA UM DAN DITERBITKAN OLEH HARIAN SURYA.

Saya coba merenungi fenomena kebahasaan di masyarakat kita. Akhir-akhir ini, ketika budaya pop menjadi tren, orang-orang terutama tokoh masyarakat berusaha meningkatkan status mereka lewat bahasa. Salah satu caranya, mencampur dua bahasa; Indonesia dan Inggris. Pencampuran itu dalam beberapa sumber disebut sebagai “Indogris” (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris).

Setelah mengkaji sekian banyak sumber, saya menyimpulkan Indogris adalah dampak dari globalisasi. Ada beberapa teori mengapa Indogris menyebar di Indonesia. Salah satu hipotesisnya, karena pengaruh media massa. Indogris, pada awalnya, digunakan tokoh-tokoh masyarakat, artis, penceramah dan lain. Bahkan dalam dunia politik, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga menggunakan Indogris ketika berbicara, pidato atau konferensi pers.

Contohnya, saat pidato 8 Desember 2009. Presiden SBY memakai istilah corruptors fight back, bukannya koruptor menyerang balik. Pada berbagai kesempatan, ia juga mengobral frase conflict of interest, asset recovery, extraordinary crime, whistle-blower,” daripada konflik kepentingan, pemulihan aset, kejahatan luar biasa.

Mengapa pengguna Indogris bangga? Setelah melakukan sedikit pengamatan dengan menyimak pengguna Indogris, saya menyimpulkan, pengguna Indogris beranggapan bahwa dengan menggunakan Indogris orang akan menganggap mereka lebih modern. Oleh karena itu, mereka memanfaatkan Indogris sebagai alat mereka untuk menjadi “modern”.

Media massa sebagai media komunikasi massa membutuhkan tokoh masyarakat, yang berbeda dari yang lain, untuk menjadi berita. Untuk kepentingan komersial, media massa menjadikan tokoh masyarakat yang menggunakan Indogris sebagai berita utama. Dalam teori sosial, masyarakat cenderung meniru apa yang dilakukan tokoh publik. Kadang-kadang, mereka meniru secara langsung, tanpa berpikir itu baik atau tidak.

Globalisasi memberikan dampak dalam bahasa Indonesia. Menurut hemat saya, Indogris yang menjadi fenomena baru, memberikan efek yang luas untuk bahasa Indonesia. Setidaknya, kita dapat melihat dampak buruk Indogris. Pertama, anggapan orang Indonesia tentang bahasa mereka, dan soal kemurnian bahasa Indonesia.

Orang Indonesia akan menganggap bahasa Inggris lebih baik atau keren daripada bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia pun digunakan dengan cara yang tidak benar karena dicampur dengan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia juga tidak murni lagi. Ada kata dalam bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Indonesia. Banyak istilah-istilah Inggris yang telah diserap dalam bahasa Indonesia. Lafal Inggris pun digunakan dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia akhirnya kehilangan identitas. Bahasa Indonesia merupakan identitas Indonesia. Jika dicampur dengan bahasa Inggris, bahasa Indonesia tidak murni lagi. Bahasa Indonesia akan kehilangan identitasnya. Ini tidak baik untuk bahasa Indonesia. Sebaiknya, ketika berbicara bahasa Inggris, menggunakan bahasa Inggris dengan baik, dan ketika berbicara dalam bahasa Indonesia, kita gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kita tidak perlu mencampur kata-kata dan istilah asing. Sudahkah kita berbicara bahasa Indonesia dengan benar?

Ferril Irham M

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Malang

ferril_im@yahoo.com

http://www.surya.co.id/2010/02/05/bahasa-sby-dan-bahasa-indogris.html

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.