Pola Pikir Gelap Kampus

Oleh: Ivan Setiawan

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Malang

Tinggal di manusiayangmerdeka.wordpress.com

Dimuat di Kompas, Selasa 6 Juli 2009

Sadarkah kita jika koruptor yang merugikan negara itu dulunya seorang mahasiswa? Atau, lihatlah politisi licik yang penuh manipulasi dan permainan uang, mereka juga mantan mahasiswa. Jika kampus itu lembaga pendidikan, mengapa banyak koruptor dan politisi kotor lulusan kampus?

Tak semua kesalahan itu bisa dilemparkan pada institusi pendidikan. Kampus juga telah melahirkan banyak  ilmuwan, negarawan, agamawan, seniman dan tokoh yang berjasa kepada negara.

Namun, fakta koruptor dan politisi klepto itu individu lulusan kampus tak dapat dimungkiri. Hal ini bisa dijelaskan jika kita mengamati dunia pendidikan kita yang kian kapitalis dan matrealis. Berbagai pungutan terjadi hampir di semua tempat.

Mahalnya biaya pendidikan mau tak mau akan melahirkan satu pola pikir yang juga kapitalistik. Jika kapitalisasi terjadi dalam kampus, maka mahasiswa akan tercemar cara berpikir kapitalis juga, walau besar dan kecilnya pengaruh itu tergantung setiap orang.

Mahasiswa pada umumnya bercita-cita menjadi kaya. Bukan hanya soal tuntutan hidup atau jaminan masa depan, tetapi kampuslah yang secara tak langsung ‘mengajarkan’ hal itu.

Biaya kuliah mahal, padahal tak semua mahasiswa berasal dari keluarga mampu. Maka, wajar jika  mahasiswa bercita-cita menjadi kaya sebab mereka berkuliah dengan penuh perjuangan, terutama yang bersifat material. Menjadi kaya adalah jawaban ‘menuntut balas’ atas materi yang dikeluarkan selama kuliah.

Segera Kaya

Dari titik ini semua masih ‘wajar’. Namun, jika pola pikir ‘ingin jadi kaya’ berubah menjadi ‘harus segera kaya’, disinilah permasalahannya. Tak masalah jika cara yang dipakai adalah cara yang benar, halal, dan tak merugikan orang lain. Namun jika sebaliknya, pola pikir gelap bernama mental kapitalis sudah merasuki alam pikiran mahasiswa. Akan ada banyak cara licik yang bisa dilakukan untuk mewujudkan impian.

Banyak dari koruptor dan pejabat kotor semasa  mahasiswa adalah agitator ulung, cerdas, bahkan anti-korupsi. Namun, ketika memasuki dunia kerja, mereka melakukan hal sama.

Saya teringat, peringatan Bung Tomo pada para mahasiswa. Ketika ditanya mau jadi apa, mereka menjawab ingin kaya secepatnya. Maka, berbondong-bondonglah mereka melamar ke perusahaan negara yang ‘basah’. Bung Tomo khawatir, cara tercepat untuk menjadi kaya itu adalah dengan licik dan kotor. Tak ada satu pun ahli matematika di dunia yang bisa menjelaskan bagaimana seseorang yang bekerja di institusi negara bisa menjadi sangat kaya dalam tempo singkat jika tidak korupsi.

Maka, hanya mahasiswa berpikiran sehat yang akan selamat dari permainan itu. Melawan kapitalisasi di kampus adalah salah satu tugas mahasiswa. Namun, ketangguhan mental untuk menolak pelanggengan kehidupan yang tak halal lewat cara kotor juga harus dimiliki para lulusan kampus yang memasuki dunia kerja.

Bagaimanapun, lingkaran setan ini harus diputus sekarang juga.

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.