KEMBALI FITRAH

Hari ini, Rabu, 15 September 2010 Masehi warga UM mengikuti open house di A1 atas undangan Rektor UM dalam rangka merayakan ‘iedul fitri 1 Syawal 1431 Hijriyah. Acara ini merupakan acara sambung talih kasih antarteman, setelah sebelumnya, kita telah melaksanakan silaturrahim dengan keluarga inti dan keluarga besar kita masing-masing.

Sejak akhir Ramadan pekan lalu, kita sudah menerima ucapan selamat atas keberhasilan kita menyempurnakan ibadah ramadlan kita: puasa, salat tarawih, salat tahajud, salat witir, tadarus dan tadabbur Al-Quran, serta sadaqah dan zakat kita. Kita juga menerima ucapan selamat atas datangnya idul fitri dengan berbagai ungkapan, baik yang baku maupun yang puitis-naratif, misalnya

  • ‘id mubaraak, kullu aam waantum bikhair, taqabalallahu minna wamingkum taqabbal ya kariim ‘selamat idul fitri yang penuh berkah, semoga sepanjang tahun Anda dalam kebaikan. Semoga Allah menerima amal kita semua. Ya Allah yang Maha Mulia kabulkan permohonan kami’
  • Ja’alanalallah waiyakum minal ‘aidin wal faizin wal maqbuulin kullu am waantum bikhair ‘Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk golongan orang yang kembali fitrah, beruntung, dan diterima amal kita. Semoga sepanjang tahun Anda dalam kebaikan’
  • Dalam beberapa saat, pesawat Ramadan Air akan mendarat di bandara internasional idul fitri. Saat ini jam menunjukkan pukul bedhuk. Tak ada perbedaan waktu takbir. Suhu dilaporkan kembali ke fitrah dengan jarak pandang pakaian bersih. Silakan kembali ke kursi silaturrahmi. Tegakkan uluran tangan. Buka jendela maaf. Melipat meja sak wasangka. Tetap berzikir sampai dengan jantung benar-benar berhenti dengan sempurna. Terima kasih atas segala perhatiannya. Akhirnya, atas nama pilot, co pilot, dan crew mengucapkan taqabalallahu minna waminkum

Apa pun wujud dan bentuk ucapan idul fitri itu, kesadaran kembali ke fitrah sudah menjadi pengetahuan kita, doa kita, harapan kita, bahkan tradisi kita. Hakikat kembali fitrah itu, antara lain, dapat dimaknai berikut ini.

Pertama, iedul fitri adalah kembali suci dari dosa setelah kita taubatan nasuha sepanjang bulan Ramadan lalu. Tentu saja, ibadah itu diikuti dengan upaya peningkatan (syawwal) agar sepanjang hari, sepanjang pekan, sepanjang bulan, sepanjang tahun, dan sepanjang hidup kita selalu dalam kesucian.

Sepanjang hari, kita kembali fitri dengan salat wajib lima waktu, lebih baik ditambah salat rawatib sebelum dan sesudah salat fardu, lebih bagus ditambah salat dhuha, lebih sempurna dengan salat tahajud dan salat witir di malam hari seperti yang kita lakukan sepanjang Ramadlan. Disempurnakan kefitrian kita sepekan dengan salat Jumat. Disempurnakan kefitrian kita sepanjang tahun dengan puasa Ramadlan dan zakat maal serta zakat fitrah. Disempurnakan kefitrian kita sepanjang hayat dengan melaksanakan haji, bagi yang mampu.

Itulah fasilitas, itulah kemudahan, itulah karunia yang diberikan oleh Allah yang Maha Rahman dan Rahim ‘Allah yang Maha Pengasih tidak pilih kasih; Allah yang Maha Penyayang tak pandang sayang’.

Ajaran doa dalam agama Islam juga mencerminkan perlunya upaya terus-menerus kembali ke fitri itu. Dua doa di antaranya adalah doa harian berikut ini. (1) Ya Allah, jadikanlah permulaan hari ini sebagai kebaikan; jadikanlah pertengahannya merupakan keberuntungan; dan jadikanlah ujung hari ini sebagai keberhasilan. (2) Kami mohon perbaikan amalan ibadah agama kami, yang merupakan pelindung segala urusan kami. Kami mohon perbaikan keadaan dunia kami, yang merupakan tempat kehidupan kami. Kami mohon perbaikan takdir akhirat kami, yang merupakan tempat kembali kami. Kami mohon jadikan hidup kami ini sebagai tambahan bagi kami untuk berbuat segala kebajikan. Kami mohon jadikan kematian kami nanti sebagai peristirahatan akhir bagiku dari segala kejahatan.

Melalui momentum idul fitri ini, marilah kita upayakan terus-menerus fitrah suci kita; kita tingkatkan terus amalan ibadah ilahiyah dan insaniyah kita; kita istiqamahkan dan kukuhkan keimanan, ketauhidan, dan keislaman kita.

Kedua, fitrah kita adalah makhluk pengasih & penyayang. Rasa kasih sayang adalah sebuah fitrah. Sebagai contoh, dalam kehidupan keluarga kita, kakek-nenek tiada henti menceritakan kelucuan, kepintaran, dan bahkan keusilan cucunya. Kehadiran cucu benar-benar bikin hidup lebih hidup. Ayah-bunda tidak pernah mau kalah membanggakan anaknya saat berkumpul di suatu arisan keluarga atau kantor. Sampai-sampai, seberapa pun tua usia cucu atau anak, tidak pernah dianggap dewasa oleh kakek-nenek atau ayah-bundanya. Itu adalah contoh fitrah kasih dan sayang manusia.

Fitrah kasih sayang itu harus direalisasikan pada sesama makhluk Allah: kepada sesama manusia, kepada hewan, bahkan kepada tumbuhan. Realisasi kasih sayang itu tentu harus Islami.  Realisasi kasih sayang itu tidaklah berujung, sepanjang kehidupan di dunia ini ada. Kasih sayang dalam Islam melampaui batas waktu, jarak, dan tempat baik kasih sayang terhadap teman, sahabat, kerabat, dan keluarganya sendiri. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin ‘agama kasih sayang untuk seluruh alam’.

  • Man laa yarhaminnaasa laa yarhamhullaahBarang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya’ (H.R. Turmudzi).
  • “Sekali-kali tidaklah kalian beriman sebelum kalian mengasihi.” Wahai Rasulullah, “Semua kami pengasih,” jawab mereka. Berkata Rasulullah, “Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (mukmin), tetapi untuk seluruh umat manusia” (H.R. Ath-Thabrani).
  • “Janganlah kalian bunuh perempuan, orang tua, dan anak-anak kecil. Jangan pula kalian kebiri pohon-pohon kurma, dan janganlah kalian tebang pepohonan yang berbuah. Jika kalian menjumpai orang-orang yang tidak berdaya, biarkanlah mereka, jangan kalian ganggu.” PesanAbu Bakar Shiddiq r.a. kepada pasukan Usamah bin Zaid dalam keadaan perang.

Karena itulah, sungguh mengherankan di banyak negara muslim realisasi kasih sayang untuk seluruh alam belum banyak menjadi bagian hidup nyata, dibandingkan dengan umat lainnya di belahan bumi ini. Contoh kecil berikut mengindikasikan kita kurang rasa kasih sayang itu.

  • Di jalanan, lalu lintas semrawut: bus, truk, mobil niaga, mobil pribadi, bahkan sepeda motor—terutama saat macet—menyerobot sana-sini, mencari menang sendiri.
  • Di kebun dan taman kita, sudah sulit kita jumpai burung berwarna-warni: kepodang, menco, jalak, perkutut, derkuku berkeliaran dan berceloteh yang kita pelihara bersama dan kita nikmati bersama. Yang terjadi justru: ditembak untuk memuaskan nafsu membunuh karena toh dimakan tidak layak untuk menambah kekenyangan apalagi gizi makanan.
  • Di hutan kita: spesies flora dan fauna semakin berkurang. Banyak di antaranya bahkan telah punah.

Dengan momentum idul fitri ini, marilah kita wujudkan Islam dan muslim yang ramah, Islam dan muslim yang melindungi, Islam dan muslim mengasihi.

Ketiga, fitrah kita adalah kedamaian. Sangat tidak nyaman perasaan kita, terasa panas suasana hati kita ketika ada konflik, pertentangan, apalagi permusuhan sekecil apa pun lingkup dan kadarnya. Sangat tidak nyaman saat kita dan saudara kita berbenturan. Serasa mendidih darah kita ketika kita dan teman tidak bertegur sapa. Berkecamuk berbagai perasaan duka ketika kelompok kita bertentangan.

Al-Quran menekankan perlunya penghindaran dari segala macam sikap lahir dan batin yang dapat mengeruhkan, mengacaukan, dan merusakkan hubungan antar kita. Sekalipun begitu, adalah suatu kewajaran ada gesekan dan kesalahpahaman komunikasi dan hubungan antarkita dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itulah, Al-Quran memerintahkan ishlah ‘perbaikan hubungan’ seandainya terjadi gesekan dan kesalahpamahaman itu.

Al-Quran juga memberikan contoh penyebab kerekatan hubungan dan sekaligus melarang setiap Muslim melakukannya. Ayat 11—12 Surat Al-Hujurat menunjukkan itu.

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kaum (pria) mengolok-olok kaum yang lain; karena, boleh jadi, mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) itu. Jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain; karena, boleh jadi, wanita yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok). Jangan pula kamu mencela dirimu sendiri. Jangan pula kamu panggil-memanggil dengan gelar-sebutan yang buruk. Sejelek-jelek panggilan adalah (sebutan) yang buruk sesudah iman. Barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim (QS Al-Hujurat [49]:11).

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari keburukan orang dan janganlah sebagian kamu menggunjing atas sebagian yang lain. Adakah di antara kamu suka memakan bangkai saudaranya yang telah meninggal? Tentu saja kamu membencinya. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS Al-Hujurat [49]:12).

Selama puasa Ramadlan yang lalu, kita berusaha menghindarkan diri dari larangan yang tersebut dalam kedua ayat tersebut: mengolok-olok, mencela diri sendiri atau orang lain, berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan dan keburukan orang, serta menggunjing. Sekalipun perbuatan tersebut tidak membatalkan puasa kita, tetapi dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala, fadilah, dan keutamaan puasa kita.

Hakikat isi larangan tersebut mutlak, sekalipun bentuk wadah dapat berubah dari masa ke masa. Kegiatan yang dilarang tersebut, yakni mengolok-olok, mencela diri sendiri atau orang lain, berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan dan keburukan orang, serta menggunjing dapat dikemas dalam kegiatan jejaring sosial tertentu: dari “petan mencari kutu” di gubuk kampung sampai arisan di hotel berbintang; dari coretan sahabat pena sampai e-mail; dari ngrumpi di warung kopi sampai infotainment di televisi; dari obrolan di pinggir kali sampai chatting, twiter, frendster, dan facebook.

Melalui momentum idul fitri ini marilah kita gunakan untuk menciptakan keteduhan dalam keluarga kita, persaudaran dalam pergaulan kita, dan kedamaian dalam kehidupan kita.

Keempat, fitrah kita, sunnatullah atas kita, keniscayaan kita, takdir kita adalah berbeda dan dalam perbedaan. Oleh karena itu, menghormati perbedaan adalah juga kembali ke fitrah kita.

Dalam kehidupan dunia ini, perbedaan adalah kenicayaan, perbedaan adalah hukum Allah. Sunnatullah menjadikan manusia berbeda: beda sukuku dan ras, beda agama dan keyakinan, beda adat istiadat dan cara hidup. Perbedaan itu untuk kelestarian hidup manusia. Perbedaan itu juga ditujukan agar manusia berlomba-lomba dalam mencapai kebaikan.

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan. Seandainya Allah menghendaki, nicaya Dia menjakan kamu satu umat. Akan tetapi, Allah hendak menguji kamu mengenai pemerian-Nya kepadamu. Maka, berlomba-lombalah berbuat kebajikan (QS Al-Maidah [5]:48)

Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku, bermarga-marga, dan berkeluarga-keluarga . Allah pun melengkapi manusia dengan akal budi. Dengan akal budi itu pula manusia bisa berpendapat. Oleh kerena akal budi tiap individu itu berbeda kapasitasnya, pendapatnya pun berbeda pula. Seandainya Allah menghendaki kesatuan pendapat, niscaya diciptakan-Nya manusia tanpa akal budi, tanpa pikiran, tanpa kebijakan seperti diciptakan-Nya binatang atau benda lain yang tak bernyawa. Dalam hal ini,  sungguh suatu kenicayaan bagi kita seorang Muslim dapat memahami adanya pandangan atau pendapat yang berbeda dengan pandangan aliran agama kita, atau bahkan berbeda dengan agama kita.

Sungguh kasihan jika kamu akan membunuh dirimu karena sedih akibat mereka tidak beriman kepada keterangan (Islam) ini (QS Al-Kahfi [18]:6)

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang ada di bumu seluruhnya. Maka apakah kamu akan memaksa semua manusia agar  menjadi orang-orang yang beriman? (QS Yunus [10]:99)

Dalam bidang agama, firman Allah memang mutlak. Hadis Nabi memang mutlak, Akan tetapi, pemahaman atau interpetasi manusia sangat dipengaruhi banyak faktor: lingkungan, ilmu yang dimiliki, perkembangan masyarakat, kemajuan IPTEKS, dan tingkat kecerdasan dan pemahaman mujtahid.

Agar kita menghormati perbedaan dalam ibadah, para ulama menyampaikan konsep dasar ukhuwah. Pertama, tanawwu’ al-‘ibadah ‘keragaman dalam ibadah’ selama Nabi sendiri memberi contoh atau praktik beragam: basamallah dalam Al-Fatihah bisa keras bisa pelan; haji bisa tamattu’, ifrad, atau qiran; misalnya. Kedua, al-mukhti’u fil ijtihaadi lahu ajrun ‘yang salah berijtihad dalam menerapkan hukum pun mendapatkan ganjaran’. Tentu saja orang yang berijtihad haruslah orang yang memiliki otoritas keilmuan. Ketiga, la hukma lillah qabla ijtihad al-mujtahid ‘Allah belum menetapkan suatu hukum sebelum upaya ijtihad dilakukan oleh seorang mujtahid’.

Itulah ajaran alim-ulama yang pakar dalam bidang agama. Sangat aneh, justru sebagian Saudara kita yang dangkal ilmu agamanya sering mengkafirkan kelompok lain, menghakimi orang lain amalannya tertolak, mengasingkan diri dan ekslusif dengan menyebut diri dan kelompoknya paling benar.

Demikianlah sebagian kecil makna idul fitri. Semoga langkah kecil setiap insan dalam perayaan idul fitri tahun ini menjadi lompatan besar bagi umat Muslim dunia untuk selalu menyucikan dirinya, menebarkan kasih sayang untuk semesta alam, mendamaikan diri, keluarga, dan umat, serta meningkatkan ukhuwah yang Islami untuk kemasalahatan umat manusia. Amien.

Malang, 15 September 2010

Dawud

Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.