BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH

BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH

BAGIAN I

(Masa Keemasan, Komunitas, Performa dll.)

 

Oleh: Djoko Rahardjo*)

 

Bahasa Arema atau lebih dikenal dengan bahasa Walikan adalah bahasa gaul yang memiliki keunikan tersendiri. Bahasa Gaul Arema ini lebih tua usianya jika dibandingkan dengan  Bahasa Gaul Artis Indonesia yang diperkenalkan oleh Deby Sahertian dkk. Saat ini, pengguna bahasa Arema  jumlahnya semakin berkurang atau hampir punah.

Imam Agus Basuki menyatakan (2010), Bahasa Jawa dialek Malang sama sekali tidak terstruktur dan jauh dari kaidah Bahasa Jawa yang standar sehingga menjadi unik dan kadang tidak dimengerti oleh lawan bicaranya…. Ia mengakui, bahasa walikan Malangan itu tidak mudah dimengerti oleh orang dari luar Malang, bahkan orang asli Malang sendiri juga banyak yang tidak memahami bahasa “walikan” itu, sebab selain tidak jelas strukturnya juga jauh menyimpang dari kaidah Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia pada umumnya.

Contoh kalimat:

Sam, ayas kadit raijo (ojir), kapnim oker’e utas.

‘Mas, saya tidak uang, minta rokoknya satu (satu batang)’.

Sebelum memasuki pembahasan pola pembentukan kata bahasa Arema, perlu diketahui lebih dahulu: 1) masa keemasan pengguna, 2) komunitas pengguna, 3) performa pengguna, 4) Arema yang sukses, dll.

Masa Keemasan Pengguna

Sekitar tahun 1966—1977 sebagian warga masyarakat Kota Malang  pernah menggunakan “Bahasa Gaul Arema” (Bahasa Walikan) di samping Bahasa Nasional Indonesia.  Memang belum diketahui secara pasti tahun berapa bahasa tersebut mulai digunakan . Pada kurun waktu itu, masyarakat  Kotamadya Malang menggunakan tiga bahasa 1) bahasa resmi: bahasa Indonesia, 2) bahasa Jawa dialek Malang, dan 3) bahasa gaul Arema.

Komunitas Pengguna

Ada beberapa komunitas pengguna bahasa Arema yakni di Pusat Kota Malang (pada tahun  1966—1977 Kotamadya Malang hanya memiliki tiga kecamatan, yakni Kecamatan Klojen, Kecamatan Blimbing dan Kecamatan Kedung Kandang) dan sebagian wilayah Kabupaten Malang. Kelompok pengguna bahasa Arema yang relatif banyak ada di Kidul Pasar (selatan Pasar Besar Malang) Kel. Jodipan, Kidul Dalem, Kel. Polehan, Kel. Bareng, Kel. Betek, Kel. Oro-oro Dowo, Kel. Samaan, Kel. Rampal Celaket, Kel. Lowokwaru, Kel.Glintung dll.

Performa Pengguna

Performa pengguna pada tahun 1966—1977, para pemuda: mode rambut grodrong panjang sebahu; mode pakaian celana komprang (lingkar di lutut sempit, lingkar di mata-kaki lebar seperti terompet); mode sepatu hak tinggi 10 cm. Para pemudi: mode rambut Agogo (horizontal midi cut); mode pakaian rok mini ketat atau celana cutbray; mode sepatu hak tinggi 10 cm.  Aliran musik yang disukai muda-mudi: hard rock, pop dan dangdut.

Arema Tahun 1950—2011 yang Sukses

Dari kalangan militer antara lain: Laksamana TNI AL (Pur) Soedomo mantan KSAL/Wapangab ABRI/MenteriTenaga Kerja RI/Ketua DPA RI, Jenderal TNI AD (Pur) Rudini mantan KSAD/Mendagri RI, Letjen TNI AD (Pur) Suyono Mantan Kasum ABRI, dan masih banyak lagi para perwira yang lainnya. Dari kalangan Akademisi antara lain: Prof. Drs. Achmad Tutjik Moechid, M.Sc., Ph.D. (FT UM), Prof. Drs. Effendy, M.Pd, Ph.D. (FMIPA UM),  Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, M.S (FT Unibraw) dll. Dari kalangan atlet antara lain: Wongso Suseno, petinju professional kelas walter, Juara Nasional dan OPBF, Monod, petinju profesinal kelas bantam, Juara Nasional dan Juara OPBF, dan masih banyak atlet yang lainnya. Dari kalangan artis antara lain Ian Antono, Totok Tewel (Gitaris Band God Bless), Abadi Soesman, Yuni Sara, Tarzan, Topan dll. Hampir semua Arema ini menyelesaikan pendidikan SLTA-nya di Kota/Kab. Malang.

Arema adalah Apresiator yang Handal

Arema adalah apresiator yang handal/berkualias  di bidang musik dan olahraga. Kota Malang adalah “barometer musik nasional” bagi setiap penyayi atau grup band, setiap penyanyi dan grup band yang “sukses” pentas di Kota Malang maka sudah dapat dipastikan 99,99% akan sukses di tingkat nasional. Indikator keberhasilan/kesuksesannya adalah setiap penyayi atau grup band yang “tidak disuruh turun/tidak dilempari dengan telur busuk, dan mendapat aplaus/tepukan dari penonton”. Begitu pula untuk para atlet sepakbola maupun para atlet tinju.

*) Lahir di Kota Malang tahun 1958, pedidikan SD, SLTP, SLTA di Kota Malang, bekerja di Universitas Negeri Malang mulai tahun 1985—sekarang.

RUJUKAN

Imam Agus Basuki. 2010. Bahasa Jawa Dialek Malang Memiliki Keunikan, (online), (htpp://kompas.com, diakses 15 Maret 2011)

Komentar ditutup.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.