[JAWAPOS – Mahasiswa] Perempuan dalam Konstruksi Sosial

Perempuan dalam Konstruksi Sosial
Oleh
Edelia Permata Sari
Mahasiswi Sastra Inggris Universitas Negeri Malang

ISU kesetaraan gender sangat krusial dalam feminisme. Bahkan, istilah gender berasal dari para feminis. Chris Barker, penulis buku Cultural Studies menuturkan, “Feminis beranggapan bahwa subordinasi kepada perempuan terjadi dalam semua institusi, baik institusi sosial maupun praktik institusi. Maka penyubordinasian perempuan dipahami sebagai kondisi yang struktural. Subordinasi kepada perempuan yang struktural itu oleh feminis disimpulkan sebagai patriarki. Sebuah konsep yang memiliki konotasi dari kepala keluarga, kekuasaan, dan keunggulan.” Dengan kata lain, perempuan akan selalu menjalani hidup di bawah sistem patriarki. Sebuah konsep yang memiliki konotasi dari kepala keluarga, kekuasaan, dan keunggulan.” Dengan kata lain, perempuan akan selalu menjalani hidup di bawah sistem patriaki.

Tanpa bermaksud merendahkan atau bahkan menganggap perempuan adalah sosok yang lemah, itulah fakta yang sebenarnya. Sekuat apa pun ita melawan budaya patriaki, hal itu akan percuma. Sebab, kondisi tersebut adalah kondisi struktural, kondisi yang turun menurun. Disadari atau tidak, para perempuan akan selalu tersubordinasi oleh lelaki. Mungkin para perempuan merasa sudah melawan budaya patriarki. Tetapi, tetap saja, tanpa disadari mereka masih berada di dalamnya.

Merujuk artikel-artikel sebelumya di Jawa Pos for Her, seakan semua penulis merasa bahwa mereka bisa setara dengan lelaki. Tetapi, justru yang dikemukakan adalah bentuk penyubordinasian perempuan. Contoh yang mereka berikan justru menunjuk-kan bahwa perempuan adalah objek dari dominasi lelaki. Mungkin mereka telah melangkah ke ranah ”publik” yang selama ini telah didominasi lelaki. Namun, dalam ranah ”publik” tersebut, mereka tetap melakukan pekerjaan yang bersifat ”domestik” .

Para TKI perempuan dan representasi perempuan dalam iklan adalah contoh bahwa mereka belum sepenuhnya keluar dari budaya patriarki. Mereka tetap saja ditampilkan sebagai ibu rumah tangga, pengurus anak, perem puan seksi, dan ebagainya. Dalam kehi dupan berumah angga pula, perempuan seolah-olah idak punya tempat untuk sejajar dengan lelaki. Perempuan tidak dapat menunjukkan bahwa mereka ”ada” . Itu dapat dilihat dengan nama belakang suami yang mengikuti nama si istri. Bahkan, kadang sepenuhnya si istri memakai nama suami dengan sebutan ”nyonya” .  Lelaki adalah kepala keluarga. Hal tersebut mutlak. Para perempuan pun menerima hal tersebut tanpa pernah mempertan yakan kenapa. Sebab, seperti dijelaskan sebelumnya, budaya patriarki adalah kondisi struktural.

Bahkan, seorang Virginia Woolf yang dikenal sebagai penulis feminis pun mengungkapkan dalam esainya, A Room of One’s Own, bahwa perempuan harus memiliki ruang sendiri apabila ingin setara dengan lelaki. Tetapi, kenyataannya, perempuan tidak dapat memiliki ruang tersebut. Satu-satunya ruang yang dimiliki perempuan adalah budaya patriarki itu.

Disadari atau tidak, perempuan tidak akan pernah bisa lepas dari budaya patriarki. Feminisme dan para feminis adalah usaha untuk keluar dari budaya itu. Mereka juga mengerti bahwa hal tersebut sulit dilakukan. Sebab, mereka hidup dalam konstruksi masyarakat yang selalu menempatkan posisi perempuan lebih lemah daripada lelaki. Namun, justru dengan berpikiran seperti itu, para feminis tidak akan pernah berhenti melawan agar dunia ini tidak hanya dipenuhi konsep-konsep maskulin. (*)

[HER VIEW] Senin, 7 Maret 2011 halaman 23

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.