Bahasa Alay, kata “sangat” menjadi “beud”

Bahasa Alay, kata “sangat” menjadi “beud”

oleh :

Sandy Pras; Fajar Ady; Nuril Komariyah; Sinta Tri A

 

Ketika melihat status facebook teman saya, ia menulis “Ud4rA MaLm n1e d!n9in bEud”. Kalimat yang ditulis tersebut apabila diubah menjadi bahasa Indonesia yang sesuai dengan ejaan, seharusnya menjadi “Udara malam ini sangat dingin”. Dari segi penulisan, kata “sangat” sengaja diubah menjadi kata “beud”.  Hal inilah yang menjadi unik di kalangan remaja saat ini. Remaja lebih sering mengubah bahasa yang seharusnya mudah dipahami menjadi bahasa alay yang sulit untuk dimengerti sehingga diperlukan beberapa kali ketelitian untuk memahaminya.

Situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter mempunyai peran yang cukup penting dalam penyebaran bahasa alay seperti kata “beud” di lingkungan remaja. Remaja menggunakan media semacam situs jejaring sosial sebagai tempat untuk mendemokrasikan kata-kata sesuka hati dan disusun secara individual. Sebagai akibatnya, kata “beud” yang sering ditulis oleh seorang remaja di facebook atau twitter semakin memudahkan remaja yang lain untuk melihat, membaca, dan memahaminya.

Hal yang membuat resah adalah ketika bahasa alay seperti kata “beud” lebih sering diucapkan dan dituliskan daripada kata “sangat”. Bisa saja bahasa baku yang selama ini sudah ada dalam bahasa Indonesia semakin lama akan terganti oleh bahasa alay karena intensitas penggunaan bahasa alay yang terlalu sering ditulis dan diucapkan oleh remaja.

Keberadaan bahasa alay seperti kata “beud” tentu membuat orang asing yang ingin belajar Bahasa Indonesia menjadi ikut terpengaruh. Orang asing yang mulai mengenal dan mempelajari bahasa Indonesia akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan bahasa yang ia peroleh dengan bahasa yang terdapat di lingkungannya yang baru.  Mereka pasti kesulitan dalam berinteraksi dengan orang Indonesia yang menggunakan bahasa gaul (alay) seperti kata “beud”. Hal ini dikarenakan orang asing belum paham arti kata “beud” jika mereka masih tergolong pendatang baru di Indonesia. Akan tetapi, keberadaan bahasa alay semakin menambah pengetahuan orang asing bahwa di Indonesia terdapat bahasa lain selain bahasa Indonesia baku yang saat ini mulai dipopulerkan oleh remaja Indonesia.

Apabila dilihat secara umum, remaja yang menggunakan bahasa alay seperti kata “beud” tidak bisa disalahkan begitu saja. Satu sifat bahasa arbriterlah yang digunakan oleh remaja sebagai acuan untuk menciptakan bahasa baru yang terkesan aneh, gaul dan tentunya tidak ketinggalan zaman. Kata “beud” menurut komunitas alay merupakan kata-kata yang dianggap keren dan modern, sehingga kata tersebut sering digunakan baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam bahasa sms. Apabila kata “sangat” oleh remaja dapat dikreasikan menjadi kata “beud” maka sangat sah-sah saja.

Tampaknya fasilitas yang diberikan oleh media internet melalui situs jejaring sosial harus digunakan dengan hati-hati oleh remaja. Hal ini dimaksudkan agar perkembangan bahasa Indonesia tetap terjaga dari keberagaman bahasa remaja khususnya bahasa alay. Remaja harus memperhatikan situasi yang tepat kapan menggunakan bahasa Indonesia baku dan kapan menggunakan bahasa alay. Pertanyaannya sekarang adalah jika harus memilih, pilih kata “sangat” atau “beud”?

2 comments to Bahasa Alay, kata “sangat” menjadi “beud”

  • Ayas kate ngetokno onek2 bes.ono 2 kabeh e.1.sing bener n baku iku “pertama kali opo kali pertama se…..?2.opo o wong2 terutama ndik jakarta n jawa barat lek ngarani etane jabar mesti ngomong “JOWO”….contone…kapan pulang ke jawa,o..kamu dari jawa ya..?arus mudik dari jawa…dsb nya,padahal mereka berdiri,makan,tidur,kerja,mati,buat anak juga di PULAU JAWA…..mhn pencerahan KI.

  • djoko rahardjo

    Untuk Mas Sandy dkk., selamat Anda telah memasuki web/laman ini.

    Bahasa Aley yang Anda tulis masih sebatas “kata” atau “leksikon” belum memasuki “kalimat” dan “wacana” sehingga untuk mempelajari gramatikanya menjadi sulit.

    Berberda dengan bahasa gaul Arema yang dapat “ditelusuri” asal-usul kata dan pola pembentukannya.

    Contoh: Analet ayas diukutno naragod (‘Celana saya dibelikan joragan’).
    Celana –> Tjelana (ejaan lama) dibalik menjadi–> analejt –> huruf j nazal/dihilangkan –> “analet”,
    kata ‘saya’ dibalik –> “ayas”,
    dibelikan–> ditukokno/di-tuku-no (bahasa Jawa) dibalik –> “di-ukut-no”,
    joragan –> djoragan (ejaan lama) dibalik –> nagarojd –> huruf j nazal –> nagarod –> huruf g bertukar tempat dengan huruf r –> “naragod”.

    Saya sudah menemukan pola pembentukan beberapa kata “yang sama” seperti kata-kata tersebut. Sehingga dapat disimpulan bahwa “Bahasa Gaul Arema” memiliki gramatika.

    Sungguh “merugi” bagi mahasiswa UM bila “tidak dapat menggunakan” Bahasa Gaul Arema hehehe…

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.