Kemerdekaan Bangsa di Pena Taufiq Ismail

Bahasa merupakan sebuah alat komunikasi. Tanpa adanya bahasa, manusia tidak dapat bertukar pikiran, mentransmisikan ide dan transfer ilmu pengetahuan. Dengan berbahasa, manusia akan mampu mewariskan apa yang telah dipelajari oleh generasi sebelumnya. Jadi, bahasa adalah media bertukar informasi.

Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga alat untuk pemersatu bangsa. Ada sebuah ungkapan, tanpa bahasa Indonesia, Indonesia bukanlah Indonesia. ungkapan tersebut mencerminkan betapa pentingnya bahasa sebagai pemersatu bangsa. Dengan Bahasa Indonesia, bangsa Indonesia dapat bersatu hingga meraih kemerdekaan. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang merdeka dari penjajahan.

Tantangan yang dihadapi bahasa Indonesia dewasa ini adalah penjajahan bahasa asing, utamanya bahasa Inggris. Menurut Taufiq Ismail dalam puisinya, dimuat di majalah Horison edisi Desember 2010, “Bebas dari Penjajahan Bahasa Belanda, Masuk ke Dalam penjajahan Bahasa Amerika”, Bahasa Indonesia menghadapi tantangan yang luar biasa, yaitu penjajahan bahasa Inggris.

Dalam puisi Taufiq Ismail yang dimuat di majalah Sastra Horison edisi Desember 2010, Taufiq Ismail mengutarakan kegelisahaannya tentang bagaimana Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang terpinggirkan di negaranya sendiri. Taufiq Ismail mengkritik penggunaan istilah Bahasa Inggris, padahal sudah ada padanan kata di Bahasa Indonesia.

Menurut hemat penulis, penjajahan bahasa Inggris, sebagaimana yang diutarakan oleh Taufiq Ismail, merupakan bentuk mental inlander, mental rendah diri terhadap kebudayaan asing, dalam kasus ini bahasa.

Apa yang dikatakan Taufiq Ismail merupakan cermin dari ketidak-percayadirian bangsa Indonesia dalam menggunakan bahasa Indonesia. Kita ambil contoh bagaimana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpidato. Sebagai mana yang diketahui khalayak umum, SBY berpidato sering menggunakan bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Indonesia, di depan rakyatnya di forum resmi.

Sebagai contoh, dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR pada 16 Agustus 2010, SBY menggunakan istilah top down ketimbang dari atas ke bawah. Tidak lupa SBY menggunakan istilah check and balance ketimbang kontrol yang seimbang.

Penulis setuju dengna pandangan Taufiq Ismail yang menyindir penggunaan bahasa Inggris yang berlebihan dengan ungkapan “Kalau pakai bahasa sendiri memang kurang bergengsi, kurang berwibawa.” Ungkapan itu adalah sebuah fakta yang amat sulit untuk dihindari.

Menurut Taufiq Ismail, penjajahan bahasa Amerika disebabkan oleh tiga hal, yang pertama rasa minder. Mental minder para pengguna bahasa Inggris yang berlebihan dalam konteks keindonesiaan merupakan masalah utama. Bahasa Amerika, bagi pengguna yang berlebihan di Indonesia, merupakan simbol moderanisasi. Bagi mereka dengan menggunakan Bahasa Amerika, akan terlihat moderen dan mengikuti perkembangan zaman.

Media massa juga berperan dalam persebaran penjajahan bahasa Amerika. Media massa merupakan alat komunikasi yang efektif dalam menyebarkan media. Ditonton oleh jutaan pemirsa. Tentu, televisi telah menjadi sebuah model dalam berkomunikasi. Dengan menggunakan Bahasa Amerika, Televisi menjadi sebuah “teladan”  bagi pemirsanya.

Terakhir, televisi merupakan sebuah institusi yang mencari untung. Tentu saja rating tinggi diutamakan. Dengan tingginya rating, otomatis semakin tinggi pula pemasukan Televisi. Sehingga televisi menghalalkan segala cara, termasuk menggunakan bahasa Amerika.

Akhirnya, semua kembali pada diri masing-masing. Kesediaan membantu Bahasa Indonesia berperang melawan penjajah Bahasa Amerika tergantung pada para pemakai Bahasa Indonesia. Tanpa adanya semangat untuk merdeka dari Bahasa Amerika, selamanya Bahasa Indonesia tetap terjajah oleh Bahasa Amerika.

 

Ferril Irham Muzaki, Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

3 comments to Kemerdekaan Bangsa di Pena Taufiq Ismail

  • terima kasih atas tulisan ini saya tertarik beberapa tulisan tentang sastra.
    playgroup jakarta
    kindergarten school jakarta

  • Ya mudah mudahan mas Ferril dan mahasiswa UM lainnya bisa jadi agen agen perubahan di negeri pecundang ini..juga mampu melepaskan cengkeraman penjajahan mereka melalui cara berfikir, cara pandang bangsa kita. Potret keterpurukan, krisis moral…dan lainnya dan mereka terus menusukkan ideologinya ke semua aspek sampai kita benar benar membebek bergantung pada kehendak mereka………

  • djoko rahardjo

    Yth. Mas Ferril, Jurusan Sastra Inggris FS UM

    Saya senang membaca tulisan Anda tentang
    (1)kegelisahan “Kakek” Taufik Ismail dapat dipahami bila seringkali bahasa Indonesia harus “mengalah” dengan bahasa Inggris karena beliau teringat dengan “Sumpah Pemuda;
    (2)adaptasi atau adopsi “kata” bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dapat diterima dengan “kesepakatan nasional” antara lain melalui “Konggres Bahasa Indonesia” seperti yang sudah pernah dilaksanakan beberapa kalii;
    (3)pejabat negara seharusnya bangga dengan bahasa Indonesia kecuali ada beberapa “sinomini” bahasa Indonesia dari bahasa Inggris yang “jarang digunakan” atau “mati sebelum lahir” contoh: “sangkil” (efektif), “mangkus” (efisien).

    Keprihatinan saya terhadap penggunaan Bahasa Indonesia “yang tidak benar” seperti:

    Kita sudah menerima uang tersebut. Lho Pak! Saya tidak ikut menerima uangnya, yang menerima uang tersebut Bapak dan Ibu.
    Ini adalah pengaruh kata bahasa Inggris “we” (‘kita’). Seharusnya kata “kita” menurut bahasa Indonesia yang benar pada kalimat tersebut adalah “kami”.

    Demikian komentar dari Kakek Djoko Rahardjo
    Staf Subbag Sarana Pendidikan BAAKPSI UM

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.