Lahirnya Anak Berkebutuhan Khusus

LAHIRNYA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Oleh;

Eka Dyan; Imro’atus S; Nurul A; Ayudian S

 

Bahasa merupakan alat yang digunakan seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Perkembangan bahasa selalu bergerak secara dinamis, selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan manusia dan teknologi. Hal ini akan menyebabkan adanya pergeseran atau perubahan makna pada sebuah bahasa. Munculnya istilah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan salah satu contoh pergeseran makna yang mengakibatkan peninggian makna (ameliorasi). Pergeseran istilah dari anak cacat menjadi anak berkebutuhan khusus sesungguhnya lebih untuk memberikan api semangat bagi para penyandang cacat. Semangat untuk mereka agar terus berkarya dan terus berprestasi sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Karena pada dasarnya para individu berkebutuhan khusus masih memungkinkan untuk dapat dibina dan dikembangkan secara optimal. Sehingga image anak cacat sebagai aib sekarang bisa berubah menjadi anak berkebutuhan khusus yang mendapatkan layanan khusus sesuai kebutuhannya. Dewasa ini hadir pendidikan inklusi di Indonesia. Pendidikan inklusi merupakan pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu pada pendidikan inklusi menekankan kefleksibelan dan keakomodatifan sekolah dan layanan untuk memenuhi keberagaman siswa.

Setiap anak berkebutuhan khusus sesugguhnya masih memiliki kelebihan dibalik kekurangannya. Inilah tugas kita sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan dengan bentuk fisik yang normal, untuk membantu mereka atau minimal memberi semangat kepada mereka agar mereka bisa terus mengasah potensi yang mereka miliki. Dukungan dan perhatian yang kita berikan untuk mereka sedikit banyak akan mampu menguatkan mental mereka untuk tetap percaya diri dalam mengembangkan potesinya.

Sistem pendidikan di Indonesia saat ini sudah terlanjur berdampak segmentasi atau mengkotak-kotakkan antara anak berkebutuhan khusus dan anak normal lainnya. Anak berkebutuhan khusus cenderung dididik di sekolah-sekolah luar biasa, dan untuk anak normal lainnya dididik di sekolah umum seperti biasanya. Sehingga hal ini mengakibatkan anak berkebutuhan khusus semakin terkucilkan.

Hadirnya pendidikan inklusi di Indonesia ini kurang cocok untuk diterapkan di Indonesia. Karena tenaga pendidik di Indonesia belum mampu untuk memenuhi keberagaman siswa jika anak berkebutuhan khusus dididik bersama-sama dengan anak normal lainnya. Selain itu, jika pendidikan inklusi untuk anak berkebutuhan khusus ini diterapkan di Indonesia, dikhawatirkan akan menjatuhkan mental anak berkebutuhan khusus, sehingga tujuan pendidikan khusus yang ditujukan untuk anak berkebutuhan khusus untuk mengoptimalkan potensi yang mereka miliki tidak akan tercapai.

Sering kita temui, para individu penyandang cacat besar kemungkinannya untuk dicemooh atau bahkan dikucilkan oleh individu lain bila keduanya berinteraksi dalam satu wadah yang sama. Oleh karena itu, pendidikan sekolah luar biasa lebih cocok diterapkan di Indonesia daripada pendidikan inklusi. Karena dengan pendidikan sekolah luar biasa, anak berkebutuhan khusus akan lebih mudah mengembangkan potensinya karena bimbingan yang mereka dapatkan dari guru lebih terfokus kepada mereka, anak berkebutuhan khusus. Lagipula, tidak sedikit anak berkebutuhan khusus yang lebih berpotensi dibandingkan mereka-mereka yang normal. Untuk itu istilah anak cacat perlu direvisi ulang menjadi anak berkebutuhan khusus. Karena dengan bahasa yang santun akan bisa menumbuhkan sikap perhatian, saling menghormati, saling menghargai, dan saling mendukung sesama yang kurang beruntung. Hal ini akan lebih berharga dibandingkan besarnya materi yang akan kita berikan untuk menyantuni mereka.

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.