Orang Tua jadi “Bonyok”

ORANG TUA JADI “BONYOK”

Oleh:

Tyieca; Chiezka; Rizca; Ierma

Perkembangan jaman yang berjalan seiring perkembangan teknologi mengharuskan segala sesuatu yang terkini. Baik dari segi pengetahuan, gaya hidup, segala macam fasilitas, pola tingkah laku, bahkan gaya berbahasa juga harus mengikuti tuntutan terkini. Hal yang paling tampak selalu di-up date adalah dari gaya hidup dan gaya bahasa yang digunakan. Gaya hidup anak-anak remaja atau usia muda kebanyakan mengikuti trend atau gaya luar negeri, tapi dalam penggunaan gaya bahasa sangat berbeda, mereka cenderung menciptakan dan menggunakan gaya mereka sendiri, yang biasanya disebut dengan gaya bahasa gaul yang mereka pakai sehari-hari. Salah satu gaya bahasa gaul yang sering kita dengar sehari-hari adalah kata-kata bonyok (bokap-nyokap) yang artinya tak lain adalah orang tua yang biasanya juga disingkat dengan ortu. Kebanyakan yang menggunakan istilah bonyok adalah mereka para remaja usia SMP, SMA dan mahasiswa yang tinggal di lingkungan perkotaan. Bahkan tidak hanya lingkup perkotaan, di beberapa daerah pinggiran pun juga marak penggunaan istilah bonyok.

Bahasa gaul ini boleh saja dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari selama bahasa gaul ini dapat memperlancar komunikasi. Bahasa gaul itu sebenarnya hasil kreatifitas para anak muda itu sendiri, jadi sah-sah saja kalau mereka menggunakannya dalam komunikasi mereka dengan sesama teman sehari-hari agar komunikasi di antara mereka bisa lancar dan sedikit santai karena tidak terikat oleh kondisi formal. Akan tetapi, yang menjadi permasalahan adalah jika penggunaan bahasa gaul ini perlahan mulai menggeser penggunaan bahasa baku yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Karena, bagaimanapun juga bahasa Indonesia yang baku merupakan identitas bangsa yang tidak seharusnya dilupakan sekalipun muncul bahasa-bahasa lain hasil kreatifitas mereka sendiri yang justru intensitas penggunaannya lebih marak di kalangan masyarakat umum.

Istilah bonyok sendiri kebanyakan digunakan dalam percakapan sehari-hari kepada sesama teman, tapi tak jarang juga kita temui banyak anak-anak yang tidak sopan menggunakan kata bonyok saat berbicara dengan orang yang lebih tua, misal saat ada orang bertamu ke rumah mereka mencari orang tua mereka yang saat itu sedang tidak berada di rumah. Mereka biasanya menjawab dengan santai dan sangat tidak sopannya “bonyok lagi kagak ada di rumah, om”. Hal seperti ini sering kita jumpai di kehidupan perkotaan yang hampir menghapus kesetaraan kesopanan antara anak-anak dan orang yang lebih tua. Sekalipun penggunaan bahasa gaul itu sudah melekat dalam diri masyarakat Indonesia, harusnya mereka tetap bisa mengendalikan bahasa gaul itu sendiri dalam penggunaannya, dimana, kapan, dan kepada siapa.

Penggunaan istilah bonyok itu juga kurang baik sekalipun dalam komunikasi dengan sesama teman yang sebaya. Hal ini dikarenakan istilah bonyok ini berarti orang tua kita, yang seharusnya kita hormati. Namun, dengan menggunakan istilah bonyok sebagai panggilan sebutan mereka itu sedikit mengurangi kesopanan seorang anak kepada orang tua. Alangkah lebih baik, lebih sopan, dan lebih terlihat menghargai dengan menyebut mereka orang tua bukan bonyok atau ortu

Masyarakat Indonesia khususnya golongan muda berbondong-bondong mempelajari dan menggunakan bahasa gaul ala mereka sendiri dalam komunikasi sehari-hari, tapi tanpa disadari mereka telah perlahan melupakan bahasa asli, bahasa Indonesia. Sebagai masyarakat yang bijak, masyarakat Indonesia seharusnya mampu mengakulturasikan bahasa gaul dengan bahasa Indonesia asli atau bahasa Indonesia baku dalam percakapan sehari-hari. Paling tidak dengan penggunakan bahasa Indonesia baku berarti kita melestarikan bahasa nasional yang juga merupakan salah satu ciri khas Negara Kesatuan RI.

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.