Webometrics Juli 2011: UM Peringkat 6 Indonesia

Hasil pemeringkatan Webometrics 30 Juli 2011: Universitas Negeri Malang (UM) menempati peringkat 6 Indonesia (dari 351 ), 32 Asia Tenggara (dari 1.008), dan 1.218 Dunia (dari 19.266). Sejarah UM dalam peringkat Webometrics sebagai berikut.

 

Prestasi ini bisa dicapai berkat kerja sama banyak pihak yang memberikan perhatian kepada Website UM. Beberapa pihak yang rajin mengisi website UM, antara lain: Humas, Perpustakaan, Kemahasiswaan, PSI, PK, FS, PPs, FIS, FMIPA, FIK, PSG15, Musik (diurus oleh Ismail Fahmi), LCWCU (diurus oleh Anida Etikawati). Banyak juga pribadi-pribadi yang bekerja di belakang layar yang dikenal dengan nama Pasukan Webometrics UM yang ikut membangun prestasi Webometrics UM.

Sejak Juli 2009 – Juli 2011, saya ditugaskan dan juga merasa terpanggil untuk mengawal peringkat Webometrics UM berkaitan dengan penugasan sebagai Ketua Divisi Perangkat Lunak. Saya berharap, setelah saya mundur  (per 11 Juli 2011) maka ada orang yang bertugas mengawal peringkat Webometrics UM. Tanpa pengawalan serius, peringkat UM akan merosot drastis (tidak masuk 13 besar) , tertinggal dari dua Arema lainnya yang sedang menanjak prestasinya yaitu UMM (dari peringkat 18 menjadi 8 ) dan UB (dari peringkat 29 menjadi 15). Dengan pengawalan, UM akan berada di posisi 10 besar atau bahkan menorehkan prestasi baru yaitu masuk 5 besar Indonesia.

Berikut ini peringkat lengkap perguruan tinggi Indonesia yang masuk peringkat 12.000 dunia. Perguruan tinggi yang diblok ungu adalah perguruan tinggi yang pernah mengikuti Lokakarya Nasional Webometrics yang diselenggarakan oleh Learning Center for World Class University (LCWCU) UM tahun 2010 atau 2011.

Malang, 30 Juli 2011

Johanis Rampisela

Peneliti Webometrics  dan Mantan Ketua Divisi Perangkat Lunak UM (2 Juni 2008 – 11 Juli 2011)

Eksis Tidak Harus dengan Facebook

Ferril Irham Muzaki Fs-UM

 

Ada sebuah jargon yang menggema di kalangan pecinta facebook.com, untuk menjadi seorang yang eksis, setiap orang perlu mempunyai akun Facebook dan kalau perlu update status secara tetap. Pertanyaannya apa iya? Saya dulu berpendapat senada dengan jargon di atas, namun setelah berpikir secara dalam, saya mulai mempertanyakan jargon tersebut. Setelah berbagi ide dengan seorang anggota komunitas berkarya.um.ac.id, saya berani menyimpulkan, seseorang akan lebih eksis tanpa facebook. Ada 3 alasan mendasar yang menjadi alasan saya berpendapat demikian:

  1. Ruang gerak Facebook sangat terbatas. Sudah menjadi rahasia umum, Facebook memiliki batasan dalam menulis status, kurang lebih 420 karakter. Kalau sudah begini, ide yang disampaikan akan terbatas. Blog gratis seperti blogger.com dan wordpress.com memiliki ruang yang lebih bahkan nyaris tidak terbatas. Untuk orang-orang yang ingin menuangkan gagasan jelas ada nilai plus menggunakan blog, meskipun gratis.
  2. Facebook terkesan hanya untuk main-main. Siapapun bisa membuat akun Facebook dan membagikan apapun yang ada di dalam pikiran pemilik akun. Sayangnya, karena mudahnya dicari melalui fitur cari dan begitu mudahnya memberi komentar, malah-malah menurunkan nilai jual dari sebuah “status” facebook. Status facebook yang kesannya main-main seperti “lagi sedih.com” dengan mudah mendapat tanggapan. Dalam blog, status seperti itu jelas-jelas tidak akan mendapat tanggapan. Tulisan di blog menuntut kreativitas  dan intelektualitas. Isi-isi blog yang main-main jelas tidak akan mendapat perhatian.
  3. Facebook sulit untuk dimoderasi. Memang betul, Facebook adalah media jejaring komunikasi yang mudah dan efisien dalam berkomunikasi. Namun, perlu dicatat, Facebook memiliki kelemahan, setiap komentar langsung dimuat tanpa moderasi. Jelas ini membahayakan pemilik status, apalagi jika status mereka dikomentari dengan komentar yang merujuk pada SARA (suku, agama dan ras). Kalau sudah begini, malah akan menjadi harimau bagi pemilik status, menurut UU ITE.

Dengan argumen-argumen di atas, saya memutuskan untuk mengambil langkah berpindah dunia, dari dunia Facebook ke dunia blog. Silahkan bagi yang tidak setuju, menanggapi dengan menulis komentar di forum yang disediakan.

Blog BERKARYA Perlu Pengelola

Blog BERKARYA ini mulai melayani UM sejak 1 September 2009. Blog dibangun dengan menggunakan WordPress dan terus-menerus dilakukan perbaikan dan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas yang diperoleh dari plugin.

Pada awalnya, saya sebagai Ketua Divisi Perangkat Lunak mengisi BERKARYA dengan berbagai macam hal tentang karya-karya yang ada di Universitas Negeri Malang yang tercinta ini. Tidak lama kemudian Pak Suryono, Mbak Anida, Mbak Nida, Pak Dawud, Bu Yuni, Bu Fatmawati, Mas Devid, Mas Ferril, Pak Djoko, dan penulis lainnya memunculkan tulisan-tulisannya. Selanjutnya, setiap hari saya memantau dan menerbitkan tulisan-tulisan berkualitas yang ditulis untuk BERKARYA.

Sejak 11 Juli 2011, saya tidak berhak lagi mengelola BERKARYA. Pagi ini (26 Juli 2011), saya melihat bahwa ada 1 tulisan yang belum diterbitkan (sejak 24 Juli 2011). Oleh sebab itu, saya menyarankan agar pihak yang berwenang segera menunjuk pengelola BERKARYA. Dengan demikian tulisan-tulisan yang disumbangkan bisa segera dievaluasi untuk diterbitkan atau ditolak sehingga para penulis tidak menunggu lama.

Pengelola BERKARYA perlu menyisihkan waktunya setiap hari untuk memeriksa dan menerbitkan tulisan-tulisan yang baru, membaca komentar-komentar dan membuang komentar yang tidak pada tempatnya. Juga perlu memeriksa komentar yang diduga “spam” dan membuang komentar yang benar-benar “spam”.  Sekali-sekali juga perlu memperbarui WordPress, mengubah tema, atau menambahkan plugin.

Mudah-mudahan pengelola BERKARYA yang baru segera diangkat dan memberi semangat yang baru untuk blog BERKARYA ini.

 

Malang, 26 Juli 2011

Johanis Rampisela

Dosen FMIPA

My Two Cents: Wanted: Modern Heroes The Jakarta Post | Sun, 07/17/2011 7:00 AM

We learned at school that heroes are those that died in their fights against Dutch colonials or in the war of independence. But now, the definition of a hero has seen some changes. The title is now given to those who serve wider society.

I have my daily life’s heroes spread across my hometown, Malang. They could be in the bus station, wet market and gas station. Nevertheless, all of them bear five characteristics of modern heroes.

First, the heroes serve society in a sincere way. They are not working in front of the camera. They don’t question what the nation could give to them but what they can give to the nation. They are ready to help out, neither asking for financial nor political benefits in exchange for their deeds because they believe God will always provide for them.

Second, when they are given the responsibility to govern this country, they will show integrity and honesty. They don’t abuse the facility provided with people’s taxes for their personal interests. They are doing their jobs with merit and they are always fair in taking decisions. They prioritize public concern over personal interests.

Third, real modern heroes are people who care about others. When they volunteer in natural disaster mitigation efforts, they are ready around the clock. They are giving back to society, providing scholarships to the poor and sometimes even working capital to create jobs. They are always keen to transfer their knowledge to marginalized people, helping them learn the skills to earn a better living. They don’t necessarily always have money, but they always come up with fresh ideas on finding solutions to problems in daily life.

Fourth, modern heroes also inspire others to become better people. They don’t just talk about it, they do it. They are the living examples of what heroes are like for the younger generation. When they’re gone, others will remember them as people who made their lives worth living. They will be remembered for their unrelenting passion, similar to Michelangelo’s passion for painting or Isaac Newton’s for his inventions.

Last, but not least, modern heroes are consistent in carrying out their deeds. And they don’t stop there. When they provide jobs, they also provide job training and counseling for the beneficiaries. They are the ones who not only build shelters for natural disaster victims, but also reconstruct sociocultural affairs in the disaster-struck society, although finishing it may take a great deal of time.

The five characteristics of modern heroes are actually the traits of a leader that our society currently needs. We need more people who serve the majority, who are honest and pursue their tasks well, respect others and themselves, and are an inspiration to others. In the final equation, they perform good deeds continuously; and not just for the benefit of leaders. All of us should try to assume these characteristics in our lives, regardless of whether or not people call us modern day heroes.

Ferril Irham Muzaki
University of Malang

http://www.thejakartapost.com/news/2011/07/17/my-two-cents-wanted-modern-heroes.html

SIAPA YANG MENGAWAL SISTEM PEMBAYARAN ONLINE?

Pembayaran online biaya pendidikan mahasiswa UM dirintis mulai bulan Mei 2010. Pembayaran online mengakibatkan dipangkasnya proses validasi di BAUK dan proses registrasi di BAAKPSI. Mahasiswa dipermudah dengan memperbanyak lokasi pembayaran (ATM/Kasir BRI/BNI, atau Kasir BTN). Sistem pembayaran online perlu tetap dilanjutkan.

Proses pengembangan sistem sebagai berikut: sistem pembayaran dikembangkan oleh Pusat TIK – Telkom dilanjutkan dengan perjanjian kerjasama PR IV – Telkom, pengadaan diajukan oleh Pusat TIK melalui ULPBJ, kemudian disusul kontrak kerja Kepala BAUK – Telkom. Secara teknis, layanan ke mahasiswa sudah cukup baik. Yang perlu mendapat perhatian adalah kewajiban UM yang tertunggak selama 12 bulan terhadap Telkom. Penyebabnya adalah tidak adanya pihak yang merasa bertanggung jawab terhadap hal ini. Syukurlah akhirnya Pak Rofi’uddin (PR II) turun tangan mengatasi hal ini sehari sebelum sistem pembayaran online terancam putus.

Yang masih menjadi pemikiran saya adalah KONTRAK LAMA sudah berakhir sejak 1 Juni 2011 dan sampai saat ini belum ada KONTRAK BARU. Pada saat saya masih menjadi Ketua Divisi Perangkat Lunak Pusat TIK (sebelum tanggal 11 Juli 2011), saya sudah mengajak berbagai pihak untuk membahas hal ini tetapi belum berhasil. Tanggal 18-25 Juli 2011 adalah masa pembayaran biaya pendidikan mahasiswa baru (juga mahasiswa lama). Jika terjadi pemutusan layanan oleh TELKOM (melalui Finnet) maka  ribuan mahasiswa tidak akan bisa membayar secara online dan akan membayar melalui setoran tunai ke rekening rektor. Jika itu terjadi, UM akan mundur ke masa lalu.

Mudah-mudahan ada pihak yang “terpanggil” untuk mengawal sistem pembayaran online.

 

Malang, 20 Juli 2011

Johanis Rampisela (Mantan Ketua Divisi Perangkat Lunak)

 

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.