Lebih Baik Hujan Batu di Kota Orang dari pada Hujan Emas di Kota Sendiri

Para pembaca mungkin akan mengomentari judul tulisan ini terasa aneh dan bahkan dianggap ngawur. Sabar dulu. Memang peribahasa kita sudah lebih dulu memperkenalkan “Lebih baik hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang”. Bagi kita yang penting adalah isi bukan judul. Tetapi adakah hubungan antara judul dengan isi? Tentu ada.

Pembaca yang budiman mungkin pernah mendengar atau membaca tentang Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Terpencil (SM-3T). Dalam hal ini Universitas Negeri Malang (UM) ditugasi oleh Ditjen Dikti Kemendiknas untuk mempersiapkan mereka melalui seleksi dan dilajutkan dengan pelaksanaan prakondisi (pelatihan). Kegiatan seperti ini juga dilaksananakan oleh beberapa universitas eks IKIP.

Setelah selesai mengikuti prakondisi di Belanegara Rindam V Brawijaya Malang, 446 orang peserta SM-3T UM diberangkatkan ke Kabupaten Manggarai dan Manggai Timur yang dibagi dalam 7 kelompok penerbangan (kloter). Dimulai dengan kloter ke-1, 2 dan 3 yang diberangkatkan pada hari Senin, 11 Desember 2011 pukul 02.00 wib. Penulis mendampingi Peserta SM-3T Kloter ke-3.

Pesawat terbang yang ditumpangi tiga kloter ini transit di Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali. Kloter 1 dan 2 langsung menuju Bandara Labuhan Bajo, Manggarai Barat NTT. Sedangkan kloter ke-3 menginap di Hotel Goodway di Nusadua Bali karena keterbatasan armada penerbangan ke Bandara Labuhan Bajo NTT.

Memang tertundanya perjalanan itu kadang membuat hati gundah tetapi kali ini tidak demikian. Lho mengapa? Nah…, kali ini tertundanya perjalanan membawa berkah seperti sebuah judul film “Sengsara Membawa Nikmat” yang dibintangi oleh Desy Ratnasari. Begini ceritanya, para peserta SM-3T kloter ke-3 sebagian besar berasal dari Kabupaten Manggarai NTT tersebut, belum pernah menginap di hotel mewah berbintang empat dengan tarif per-kamar Rp700.000,00.

Ketika makan malam tiba, semua peserta menikmati makan dengan lahabnya. Makan malam di tepian kolam renang yang indah dan romantik ditemani oleh para pelayan hotel yang cantik bagaikan bidadari yang sedang turun mandi. Menu makanan yang disajikan antara lain Ayam Teriyaki, Udang Windu Goreng Tepung, Salat Buah, Sup dan lain-lain. Hem… sungguh nikmat. Penulis, berjalan di tengah ruang makan yang temaram, bertanya pada beberapa peserta: “Bagaimana masakannya?” Jawabnya: “Enak sekali”. Sekilas, saya lihat di atas piringnya: nasi yang menggunung, paha ayam yang terlentang, dan udang yang melengkung bagaikan atlit loncat indah yang sedang bersalto di udara dan terjun di atas air.

Pukul 03.30 wita mereka terbangun dari tidurnya yang lelap. Satu persatu berkumpul di ruang resepsionis hotel untuk diberangkatkan ke Bandara Ngurah Rai. Bus milik Merpati Air membawa 17 orang beserta koper dan barang bawaan. Penumpang yang lainnya diangkut dengan 4 mobil Toyota Inova. Bus dan 2 mobil Toyota Inova sudah berangkat lebih dahulu. Tinggal 2 mobil yang belum berangkat karena menunggu 6 orang peserta beserta 3 orang panitia yang belum bangun dari tidurnya. “Celaka! Kalau begini bisa ditinggal pesawat!”, kata ketua pendamping. Petugas hotel tidak bisa menghungi lewat telepon ruang hotel. Apa boleh buat petugas hotel lansung bergerak cepat sambil membawa kunci duplikat–tanpa basa-basi– pintu langsung dibuka. “Bangun-bangun, sebagian besar rombongan sudah di bandara”, Teriak petugas hotel.

Ternyata di Bandara Ngurah Rai rombongan kami mendapat ganti pesawat terbang yang lebih baik dari sebelumnya. Kebiasaan penulis ketika naik pesawat terbang apabila tidak mendapat kursi yang dekat dengan jendela adalah naik paling akhir. Mengapa? Biasanya tempat duduk paling depan untuk penumpang VIP ada yang kosong. Ternyata betul. Atas seizin pramugari dapat duduk di kursi Nomor 1A. Lumayan… sepanjang bandara Ngurah Rai sampai Bandara Labuhan Bajo, penulis dapat melihat keindahan pulau-pulau yang ada di NTB dan NTT. Penulis bersyukur, “hanya satu pulau saja” di Indonesia yang belum penulis lihat dari angkasa yaitu “Pulau Irian” atau Papua. Semoga di lain waktu dapat melihatnya.

Dari angkasa…, Pulau Komodo dan pulau yang lainnya sudah kelihatan, pertanda tidak lama lagi pesawat akan mendarat di Bandara Labuhan Bajo. Ketika kaki-kaki yang mulai gontai menginjak landasan, ada dua orang gadis yang kelihatan sangat berduka. Penulis bertanya: “Mengapa Anda berdua kelihatan sangat bersedih”? Jawabnya di luar dugaan: “Walau kami berdua lahir dan dibesarkan di Manggarai tetapi kami sangat berat untuk meninggalkan Kota Malang. Kami kuliah 4 tahun di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Kanjuruhan Malang. Tolong sampaikan salam kami kepada para Dosen Sastra Indonesia UM yang telah mengajar kami di Belanegara Rindam V Brawijaya Malang”.

Lebih lanjut mereka mengatakan walaupun tempat tugas mengajarnya di daerah Manggarai, tempat papa dan mama mereka berdua berada. Tetapi hatinya tertambat di Kota Malang. Sambil berkaca-kaca, matanya kelihatan sayu. Penulis menjabat tangan mereka berdua: “Selamat jalan Dik Yoan dan Dik Atik, tunggu satu tahun lagi kami akan menjemput Anda berdua untuk mengikuti Program Profesi Guru (PPG) di Universitas Negeri Malang”.

Malang, 16 Desember 2011
Djoko Rahardjo, Staf Subag Sardik BAAKPSI UM

Antara Ayam dan Telur: Keterampilan Berbahasa atau Kompetensi Berbahasa? Ferril Irham Muzaki, Sastra Inggris UM

Alkisah suatu hari Abu Nawas dipanggil raja Harun Al-Rasyid. Dia mendapat pertanyaan yang amat sulit, lebih dahulu mana, ayam atau telur? Dengan bijaksana, Abunawas menguraikan bahwa telur menjadi lebih penting bila sudah ada ayam di tempat itu. Namun, bila telur diletakkan tanpa ayam, lebih baik masuk wajan penggorengan. Demikian juga sebaliknya, ayam yang tidak bisa bertelur lebih baik dijual ke pemilik warung soto ayam. Analogi di atas cukup untuk menjawab pertanyaan, mana yang harus diutamakan dalam proses belajar dan membelajarkan bahasa, keterampilan berbahasa atau kompetensi dalam berbahasa?

Keterampilan berbahasa menurut definisi para ahli diuraikan sebagai keterampilan untuk menerima dan menyampaikan pesan. Sehingga, orang-orang yang berkecimpung di dunia bahasa dan sastra, utamanya linguistik, mendefinisikan dua komponen pokok yang harus dikuasai; reseptif, menerima pesan melalui membaca dan mendengar dan serta produktif, keterampilan menyampaikan gagasan dalam bentuk ujaran dan tulisan.

Selain keterampilan berbahasa, seorang pembelajar tentu diwajibkan memiliki kompetensi berbahasa; berupa linguistik, socio-linguistik, pragmatik yang bermanfaat untuk mendukung seseorang memproduksi wacana ketika dia dalam sebuah kejadian di masyarkat. Contoh sederhanya, ketika sesorang berada di lingkungan masyarakat yang sedang menonton wayang kulit, alangkah tidak sopannya dia jika dia membandingkan kisah-kisah wayang dengan film Harry Potter. Orang itu akan menjadi dihargai bila ia mampu membuat gagasan perbandingan wayang versi Jawa dengan versi dari India.

Pertanyaan pokok mana yang lebih penting antara keterampilan berbahasa atau kompetensi berbahasa, akan lebih mudah terjawab bilamana seorang pengajar ilmu bahasa membuat tautan dengan teori pemerolehan bahasa; pertama dan kedua. Untuk lebih memudahkan, Bahasa pertama disingkat (B1), Bahasa kedua disingkat (B2).

Langsung saja, kita bahas pemahamam teoritis terlebih dahulu. B1 memiliki banyak sekali definisi. Dalam tulisan ini, penulis mendifinisikan B1, adalah bahasa yang didapat melalui pergaulan di lingkungan rumah dan permainan anak. B1 dipelajari oleh seorang pembelajar bahasa dengan memegang prinsip bahasa adalah sebuah kebiasaan. Dengan prinsip ini, seorang pembelajar bahasa, membiasakan diri menguasai bahasa dengan cara memaksa dirinya untuk menerima input dari lingkungan dan mengeluarkan output untuk membuat wacana di tempat pergaulannya.

Dapat dipahami bahwa B1 menjadi sebuah kebiasaan hingga terjadilah fosilisasi, baik penguasaan terhadap keterampilan berbahasa ataupun kompetensi berbahasa. Sekarang, zona nyaman bahasa pertama akan mulai terkoyak saat anak masuk ke lingkungan yang mewajibkan seorang anak memakai B2.

B2, menurut para ahli diakuisisi saat anak “dengan terpaksa” menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Penyesuaian ini akan mudah dilakukan pada usia 6-12 tahun atau yang diperkirakan usianya sama dengan anak sekolah dasar di Indonesia. Saat inilah pembelajar mencoba-coba menyesuaikan pemahaman yang diperoleh saat belajar bahasa pertama dengan bahasa kedua yang sedang mereka usahakan. Aksi coba-coba ini menyebabkan terjadilah fenomena bahasa antara; bahasa yang bukan B1 ataupun B2.

Pemahaman tentang B2, bila melihat fenomena yang terjadi di Indonesia membuat dua definisi utama, yaitu definisi bahasa kedua dan bahasa asing. Sampai di sini, penulis mencoba membawa pada observasi bersama dalam diskusi informal yang dilakukan penulis bersama rekan-rekan penulis saat sedang melakukan praktik mengajar, kewajiban pokok calon guru sebelum lulus, bahasa Inggris di SMP dan SMA di wilayah Malang raya.

Dari pengamatan penulis dan rekan-rekan, ditemukan fakta bahwa meletakkan fokus pembelajaran bahasa kepada pembelajar ditentukan oleh sampai tahap mana mereka belajar bahasa? Apakah B1 atau B2? Catatan salah seorang rekan penulis menyimpulkan bahwa bahasa pertama di Kota Malang adalah Jawa dengan logat Arema, kedua adalah bahasa Indonesia baku, terakhir bahasa asing adalah bahasa Inggris.

Penulis bersama rekan-rekan penulis menyimpulkan bahwa di kota Malang, bahasa pertama yang dipakai mayoritas murid adalah bahasa jawa dengan logat arema. Bila kita ingin membelajarkan bahasa jawa dengan logat arema sebagai bahasa pertama, yang dibutuhkan adalah memfokuskan pada kompetensi berbahasa. Alasannya cukup sederhana, setiap hari anak-anak itu sudah berlatih menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dengan melatih kompetensi mereka, terutama memahami sosio-linguistik dan pragmatik, diharapkan anak-anak menjadi lebih sopan dalam tindak tutur berbahasa.

Mencoba mengajarkan bahasa kedua, bahasa Indonesia fokus yang harus ditekankan adalah penguasaan mereka akan kebermelakan wacana yang ada di masyarakat. Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional, setiap aktivitas resmi menggunakan bahasa Indonesia. Sehingga, diutamakan mereka harus mampu menganalisa isu-isu yang berkembang di masyarakat pengguna bahasa Indonesia.

Bahasa asing, dalam konteks pembelajaran bahasa inggris di kota Malang, diharapkan terfokus pada keterampilan berbahasa. Rasionalnya, mereka belum membuat bahasa Inggris sebagai kebiasaan. Otomatis mereka akan kesulitan menangkap penggunaan unsur-unsur linguistik, socio-linguistik, pragmatik dan akhirnya kesulitan membentuk wacana yang berterima sesuai dengan konteks.

Pada akhirnya, jawaban dari pertanyaan mana yang lebih penting, keterampilan berbahasa atau kompetensi berbahasa dapat dijawab menggunakan ilustrasi berikut. Suatu hari seorang paman ingin membelikan baju kepada keponakan perempuannya.

“Mana yang kamu pilih?” Keponakan perempuan itu diam.

“Baju yang hijau?” Dia diam.

“Baju yang merah?” Dia diam.

“Ya udah, kita pulang saja.”

“ Paman, aku mau dua-duanya.”

 

Cat: Ini opini pribadi. Tidak mewakili siapapun.

KHUTBAH JUMAT: MUHASABAH AWAL 1433 H & PENGHUJUNG 2011 M

Di awal tahun baru 1433 H dan di pengujung tahun 2011 M ini, marilah kita melaklukan muhasabah, perhitungan, dan perenungan atas niat semua amalan ibadah kita, baik ibadah khas maupun ibadah aam.
Dalam sebuah hadis sahih yang panjang riwayat Muslim (hadis nomor 1089), Abu Hurairah r.a. berkata saya pernah mendengar Rasulullah bersabda
“Sesungguhnya, manusia pertama diadili pada hari kiamat adalah:
1. Orang yang terbunuh dalam pertempuran, lalu dia dihadapkan kepada Allah, kemudian Allah menampakkan kenikmatan kepada orang itu, dan orang itu pun melihatnya. Lalu, Allah bertanya: “Apa amalan untuk memperoleh kenikmatan itu?”. Orang itu menjawab, “Saya pernah berperang membela agama-Mu, sehingga saya mati syahid”. Allah berfirman, “Kau berdusta! Kau berperang hanya agar kau disebut sebagai pemberani. Dan kau telah disebut pemberani.” Maka, diputuskan hukuman orang itu, lalu dia ditarik di bagian mukanya untuk dilemparkan ke neraka.
2. Orang yang mempelajari ilmu lalu dia ajarkan kepada orang lain. Dia juga membaca Al-Quran. Orang itu dihadapkan kepada Allah, kemudian Allah menampakkan kenikmatan kepada orang itu, dan orang itu pun melihatnya. Lalu, Allah bertanya: “Apa amalan untuk memperoleh kenikmatan itu?”. Orang itu menjawab, “Saya mempelajari ilmu, lalu saya ajarkan kepada orang lain. Saya juga membaca Al-Quran. Semuanya karena-Mu”. Allah berfirman, “Kau berdusta! Kau mempelajari ilmu agar kau disebut sebagai ilmuwan. Kau membaca Al-Quran agar kau disebut sebagai qari’. Dan kau telah disebut seperti itu.” Maka, diputuskan hukuman orang itu, lalu dia ditarik di bagian wajahnya untuk dilemparkan ke neraka.
3. Orang yang diberi kelonggaran oleh Allah dan diberi segala macam harta. Orang itu dihadapkan kepada Allah, kemudian Allah menampakkan kenikmatan kepada orang itu, dan orang itu pun melihatnya. Lalu, Allah bertanya: “Apa amalan untuk memperoleh kenikmatan itu?”. Orang itu menjawab, “Tidak ada kebaikan yang Engkau perintahkan untuk didanai melainkan aku turut mendanai. Semuanya karena-Mu”. Allah berfirman, “Kau bohong! Kau berbuat seperti itu agar kau disebut sebagai dermawan. Dan kau telah disebut sebagai dermawan saat di dunia.” Maka, diputuskan hukuman orang itu, lalu dia ditarik di bagian wajahnya untuk dilemparkan ke neraka.”

Sidang jumat yang dimuliakan Allah,
Hadis tersebut mengajari kita tentang peran penting niat atau motivasi beramal terhadap proses, prosedur, hasil, dan imbalan atas perbuatan dan amal ibadah kita.

Kebenaran dan kesalahan niat kita dalam beramal sangat menentukan hasil dan imbalan yang akan kita terima: tunggal ataukah ganda. Jika kita hanya berniat untuk kepentingan amalan dan pekerjaan kita, maka kita hanya akan mendapatkan hasil dan imbalan tunggal, yakni konsekuensi dan implikasi logis, konsekuensi dan implikasi manusiawi, konsekuensi dan implikasi inderawi, konsekuensi dan implikasi materi, konsekuensi dan implikasi duniawi dari usaha kita.
Sebaliknya, motivasi dan niat yang benar, tulus, ikhlas untuk mendapatkan ridla dan kasih Allah dalam stiap perbuatan, amalan, dan ibadah, maka kita akan mendapatkan hasil dan imbalan berganda: duniawi-ukhrawi, lahir-batin, materi-spiritual, harta-pahala.

• Mahasiswa yang menuntut ilmu dengan niat untuk memperoleh gelar sarjana, magister, atau doktor; maka setelah lulus dia hanya mendapatkan gelar itu saja karena memang niatnya untuk itu.
• Guru atau dosen mengajar berniat untuk memperoleh gaji atau honorarium, setelah mendapatkan gaji dia tidak mendapatkan apa-apa lagi. Selesai urusannya. Jangan harap dapat berkah atau pahala atas ilmu yang diajarkannya.
• Pimpinan suatu instansi yang memimpin untuk memperoleh popularitas, maka usai era kepemimpinannya paling-paling hanya tertinggal jejak tanda tangan di prasasti: prasasti peresmian gedung, jejak tanda tangan pada peratuan yang dia buat, atau lukisan tanda tangan pada ijazah, sertifikat, atau tanda penghargaan yang pernah dia tanda tangani. Atau, mungkin hanya disebut: itu lho mantan walikota, dia itu mantan rektor, dia itu dekan fakultas ini periode lalu. Setelah itu, tidak ada apa-apanya.

Niat pula yang menentukan keberkahan dan kemanfaatan atas hasil usaha kita bernilai jangka panjang atau jangka pendek. Keberkahan dan kemanfaatan jangka panjang hanya bisa diperoleh dari usaha dengan niat yang benar, tulus, ikhlas untuk menggapai kasih dan ridla Allah. Contoh kecil berikut patut kita renungkan
• Kerindangan dan keindahan taman suatu wilayah yang saat ini kita nikmati, sebagian besar adalah hasil karya pemimpin sebelum kita 5—10 tahun yang lalu. Dengan kata lain, saat ini seorang pemimpin yang menanam pohon untuk penghijauan dan keindahan di wilayahnya, baru dinikmati hijaunya, rindangnya, indahnya, warna-warni bunganya, bergerombol buah-buahannya baru dinikmati oleh pemimpin atau warga 5—10 tahun yang akan datang saat beliau sudah tidak menjabat, atau sudah pensiun, bahkan sudah meninggal dunia.

Hadirin jamaah salat jumah kekasih Allah,
Penataan niat ibadah kepada Allah yang perlu kita introspeksi adalah seringnya kita menimbang, mengukur, dan menilai amal kita dengan imbalan atau balasannya: ingin surga dan takut neraka. Kita beribadah dan beramal untuk memperoleh imbalan surga. Kita menghindari maksiat karena takut neraka. Untuk tahapan tertentu, memang tidak salah. Akan tetapi, pada tahapan yang lebih tinggi, timbangan, ukuran, dan penilaian itu perlu diubah. Gapaian surga atau keterhindaran dari neraka itu semata-mata karena kasih Allah. Adapun amalan itu semata-mata sebagai sarana untuk mencintai Allah, sarana mengabdi kepada-Nya.
Diriwayatkan dari Aisyah r.a. dia berkata: Rasulullah saw pernah bersabda, “Perbaikilah dirimu, ucapkan kebaikan, dan sampaikan informasi yang menyenangkan. Sesungguhnya, amal seseorang tidak akan bisa memasukkannya ke dalam surga.”
Orang-orang bertanya, “termasuk amal Anda juga, ya Rasulullah?” Belaiu menjawab, “Ya, termasuk amalku juga, kecuali jika Allah mencurahkan rahmatnya kepadaku. Ketahuilah bahwa amal yang paling disenangi oleh Allah adalah amal yang paling lestari, meskipun sedikit (HR Bukhori & Muslim, dalam hadis Muslim nomor 1927).

Disebutkan dalam kisah, di siang hari, penyair sufi Rabi’ah al Adawiyah membawa ember berisi air di tangan kanannya dan membawa obor menyala di tangan kirinya. Dia membawanya sambil berteriak akan kubakar surga dan akan kupadamkan neraka dengan bawaanku ini. Mengapa? Karena manusia beribadah hanya menginginkan surga dan takut nereka. Mereka tidak mencintai Alllah dan juga tidak takut akan murka Allah.

Hadirin jamaah salat jumah kekasih Allah
Kemukhlisan yang perlu kita muahasabah di awal dan di akhir tahun ini menyangkut pemurnian akidah kita.

وَمَآ أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ …{5}
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, …. (QS. 98:5)

• Allah Maha Tunggal. Allah tempat bergantung (QS. Al-Ikhlas).
• Kita berlindung kepada Allah dari: dari kejahatan makhluk-Nya; dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al-Falaq).
• Kita berlindung kepada Allah dari: kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi; yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia (QS. Annaas)
Mengapa sebagian dari kita masih mempercayakan nasib pada tukang ramal; masih mengandalkan dukun untuk menyelesaikan masalah; masih takut bahkan minta tolong pada jin, syaitan, peri, perewangan. Padahal, itu menyesatkan, syirik, dan merendahkan harga diri dan martabat manusia beriman.
Dukun atau paranormal adalah manusia sok tahu, bahkan kadang melampaui kewenangan Allah. Mempercayai dan mengabdi dukun atau paranormal adalah upaya jahiliyah. Manusia adalah makhluk paling mulia, bahkan dibandingkan dengan malaikat sekalipun, apalagi dibandingkan dengan jin, syetan, dan sebangsanya.

Masjid Al-Hikmah UM, 2 Desember 2011
Dawud

Khutbah Jumat Dekan FS UM di Awal Tahun 1433 Hijriah

Di Zaman ini banyak orang yang kurang peduli pada penyiapan kebutuhan hidup bagi generasi yang akan datang. Banyak pemimpin yang berbuat hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup “jangka pendek”. Begitulah kira-kira inti khutbah Jumat Prof. Dr. H. Daud, M.Pd, Dekan Fakultas Sastra UM pada tanggal 8 Muharam 1433 Hijriah (2 November 2011) di Masjid Al Hikmah UM.

Lebih jauh beliau menyontohkan, pembangunan di UM yang berupa gedung, taman dan lain-lain hasilnya akan dapat dinikmati 5 sampai 10 tahun ke depan. Penulis sependapat dengan beliau. Memang pemikiran yang bersifat futuristik ( wawasan ke depan) seringkali mendapat reaksi yang begitu kuat. Reaksi tersebut terkadang bernada “sumbang”. Sebagian dari keluarga kita masih belum “tanggap ing sasmito” atau belum tanggap akan isyarat perubahan zaman.

Pernah suatu ketika penulis berbincang-bincang dengan Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd (Dosen Jurusan Sastra Indonesia FS UM) bahwa sebagian warga kita masih belum berubah pola pikirnya (mindsetnya). Sambil berkelakar beliau mengumpamakan pola pikir sebagian mereka seperti makanan “universitas rasa IKIP”. Penulis juga merasakan resep masakan tersebut. Apakah para pembaca juga merasakan resep universitas rasa IKIP? Mari kita dukung program Rektor UM untuk segera merubah mindset tersebut. Setuju…?!

Malang, 5 November 2011
Djoko Rahardjo, Subag Sardik BAAKPSI UM

Sumbangan Pikiran untuk Internet UM

Pada tanggal 17 November 2011, UM mengumumkan mengadakan lelang bandwidth Internet dengan dana maksimum Rp 1,5 M.  Kemudian pada tanggal 30 November 2011, diumumkan bahwa calon pemenangnya mengajukan harga penawaran Rp 660 juta. Berdasarkan kedua pengumuman di atas, saya menyarankan hal-hal sebagai berikut:

  1. Sebaiknya pada pengumuman lelang dan pengumuman calon pemenang, dicantumkan lebar bandwidth yang disewa sehingga warga UM mengetahui lebar bandwidth UM.
  2. Ada baiknya sebelum diadakan pengumuman lelang, panitia lelang mencari informasi terbaru tentang sewa bandwidth atau minimal berdasarkan data sewa bandwidth tahun lalu sehingga bandwidth yang bisa disewa dapat dimaksimumkan.

Tahun 2011, bandwidth yang disewa adalah 32 Mbps. Untuk tahun 2012, tidak ada pengumuman ke warga UM tentang besar bandwidth, saya asumsikan tetap 32 Mbps. Perhitungan kasar lebar bandwidth yang bisa disewa adalah (1,5M/660 juta) x 32 Mbps = 73 Mbps.  Perhitungan yang lebih halus akan menghasilkan angka lebih besar lagi karena semakin lebar bandwidth yang disewa maka harga per bandwidthnya akan lebih rendah. Dengan asumsi harga turun menjadi 85% maka lebar bandwidth yang dapat diperoleh adalah 100/85 x 73 Mbps = 85 Mbps.

Membaca tulisan dan komentar di SUARA KITA dan BERKARYA, saya menyimpulkan bahwa warga UM (terutama mahasiswa) sudah mulai menikmati Internet tetapi masih mengharapkan peningkatan kecepatan akses, kelancaran jaringan, dan perluasan titik-titik akses. Berdasarkan hal itu, akan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi pengguna Internet UM jika pada tahun 2012 lebar bandwidth bisa meningkat menjadi 85 Mbps.

Semoga UM semakin maju.

 

Malang, 1 Desember 2011

Johanis Rampisela (Dosen Fisika FMIPA UM)

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.