Apakah Kiat Dahlan Iskan Bisa Diterapkan di UM?

Berikut ini berita yang saya kutip dari TEMPO.CO, Sabtu, 21 Januari 2012 , 08:03 WIB, http://www.tempo.co/read/news/2012/01/21/093378787/Begini-Kiat-Dahlan-Ubah-Pola-Pikir-Karyawan-BUMN
 

Begini Kiat Dahlan Ubah Pola Pikir Karyawan BUMN  

foto

TEMPO.CO, Jakarta – Dahlan Iskan, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), punya cara tersendiri untuk mengubah pola pikir karyawannya agar lebih maju. Salah satunya, mengirimkan pekerja di perusahaannya ke luar negeri. “Mulai dari tukang sapu sampai direksi saya kirim ke luar negeri, tentu saja bertahap,” ujar Dahlan saat ditemui di kantor Kementerian BUMN, Jumat, 20 Januari 2012.

Menurut dia, cara itu jauh lebih efektif ketimbang marah-marah. Soalnya, kondisi di negeri orang yang lebih tertib dan tertata membuat mereka malu sendiri dengan kebiasaan buruk di Indonesia. “Iya, Pak, di Singapura itu bersih sekali, ya,” tuturnya menirukan kata-kata karyawannya. Kalau sudah begitu, kata dia, jauh lebih mudah untuk membuat perubahan di perusahaan.

Para karyawan yang sudah merasakan tinggal di luar negeri juga bisa lebih memahami cara kerja dan manajerial yang modern. Soalnya, menurut dia, kualitas tenaga kerja di Indonesia sebetulnya mumpuni. “Kalau dari segi kemampuan, orang Indonesia itu pintar-pintar, lho. Hanya kebiasaan buruknya itu yang sulit dihilangkan,” tutunya. Waktu yang efektif untuk mengubah pola pikir kira-kira dua bulan.

Cara ini juga diterapkan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang baru mengirim 20 karyawannya ke Valencia, Spanyol. “Program ini memang sudah beberapa kali dilakukan,” kata Dahlan.

Menurut dia, PT KAI memang sedang gencar mengubah pola pikir karyawannya agar perusahaan bisa semakin maju. Karyawan yang dikirim merupakan pekerja yang sehari-hari mengurusi hal-hal teknis dalam perjalanan kereta. “Di sana karyawan-karyawan belajar bagaimana menjalankan kereta dengan baik dan aman,” tuturnya.

 

UM bisa memulai untuk dosen dan karyawan teladan. Dosen teladan dan karyawan teladan diberi kesempatan untuk tinggal beberapa hari di negara yang sangat disiplin dan bersih seperti Singapura? Mereka kemudian diwajibkan membagikan pengalamannya dalam bentuk tulisan dan foto di Blog Berkarya ini.

 

Malang, 22 Januari 2012

Johanis Rampisela (Dosen Fisika FMIPA UM)

8 comments to Apakah Kiat Dahlan Iskan Bisa Diterapkan di UM?

  • Emilda

    Saya sangat mendukung jika UM mengikuti langkah pak Dahlan dalam meningkatkan kualitas SDM, tapi yang menjadi pertanyaan adalah mampukah UM melakukannya??

    Janagankan untuk mengirim SDM ke luar negeri, birokrasi intern UM saja sangat dirasa berbelit…

  • dwi

    permisi ikut nimbrung…
    saya rasa UM ckp mampu untuk melakukan apa yang di contohkan oleh Pak Dahlan Iskan. apalagi, jk penerapan pengiriman dosen k luar negeri tidak hanya dosen senior, tetapi jg mulai dosen junior yg memiliki potensi untuk berkembang lebih baik. tanpa mengurangi rasa hormat kpd dosen senior. dosen muda adalah penerus yg akan berjuang memperbaiki pola & konsep berpikir generasi selanjutnya, termasuk mahasiswa.

    wassalam,
    dwi

  • mohfaiz

    UM Harus segera merubah budaya kerja yang modern dan pasti bisa. Cara berfikir modern diperoleh tidak harus dikirim keluar negeri. Sudah banyak instansi dalam negeri yg memiliki sistem manajerial yg bagus. Lebih murah lagi bisa belajar melalui video2 negara2 maju. Tinggal mau belajar atau tidak. Tapi untuk ukuran UM yg merupakan instansi besar tidaklah keberatan jika mengirim karyawannya ke luar negeri. Sebagai contoh UMM sudah berani mengirim setingkat DEKAN ke Asia dan ke Eropa, apalagi UNIBRAW sudah punya program mengirim dosen yg sudah Doktor yg belum pernah ke luar negeri agar punya pengalaman ke luar negeri. Tinggal kapan giliran kita….?

  • Karkono

    Memang benar jika kemungkinan kendala yang dihadapi bagi UM adalah alokasi dana. Namun, alternatif lain yang dapat ditempuh UM adalah dengan gencar mendukung para dosen untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Selama ini memang sudah dilakukan, tetapi sangat mungkin untuk ditingkatkan dengan membuka berbagai kerja sama dengan perguruang tinggi di luar negeri misalnya. Untuk karyawan, tidak harus sekadar dikirim ke luar negeri untuk tinggal beberapa waktu tanpa kegiatan yang jelas. Karyawan bisa pergi ke luar negeri dan mengalami atmosfer kehidupan di luar tersebut sembari mengikuti kursus2 singkat sesuai bidang keahlian. Lalu, UM membantu penyebaran informasi2 yang berkaitan dengan hal tersebut.

  • Noor Farochi

    Ada juga yang berkomentar, kalau “teladan” yang diperoleh itu ibarat arisan, jadi bukan benar-benar karena prestasi dari kinerja yang bersangkutan. Benar atau tidaknya tim penilai yang tahu.
    Terkadang ada juga yang tidak mau untuk dicalonkan, karena tidak mau “menanggung beban” moral dari predikat teladan tersebut.

  • Secara normatif cara pak Dahlan iskan bisa diterapkan untuk dosen dan karyawan UM. Masalahnya apakah UM memiliki lakoasi dana yan cukup untuk mebiayai program tersebut. Selama ini yang terjadi di UM kalau untuk urusan peningkatan SDM dan kegiatan akademik, uangnya sulit atau tidak ada alokasinya. Tapi kalu untuk urusan taman dan bangunan atau pengadaan barang, mudah.

  • bambang

    jawabnya bisa. karena melihat dan merasakan “contoh” lebih mudah diingat daripada diceramahi saja. dan dimana ada niat disitu ada jalan. apalagi um kabarnya akan segera menerapkan pola penghargaan berbasis kinerja, dengan prestasi yang terukur. semoga

  • djoko rahardjo

    Kiat Pak Dahlan dalam “mengatur” BUMN memang OK! Bagaimana dengan UM? Menurut saya “masih sangat jauh” untuk dilaksanakan. Karena di UM antara “PNS Administrasi” yang rajin dan yang malas sama saja penghargaannya. Antara yang kreatif dan yang asal bekerja sama saja penghasilannya.

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.