Hanya ada 2 orang dari 30.534 Mahasiswa UM yang Meraih Level “Special Advanced”

Hanya ada 2 orang dari 30.534 Mahasiswa UM peserta TKBI yang meraih level “Special Advanced”

Tes Kemampuan Bahasa Inggris (TKBI) bagi Mahasiswa Baru Universitas Negeri Malang telah dilaksanakan sebanyak 7 kali atau 7 angkatan, yakni angkatan tahun 2005 diikuti 3982 orang (93,81%), tahun 2006 diikuti 4.280 orang (93,19%), tahun 2007 diikuti 4.940 orang (96,48%), tahun 2008 diikuti 3.939 orang (82,38%), tahun 2009 diikuti 4.330 orang (87,26%), tahun 2010 diikuti 4.448 orang (83,96%) dan tahun 2011 diikuti 4.615 orang (86,28). Jumlah Mahasiswa Baru UM angkatan tahun 2005 sampai dengan tahun 2011 yang telah mengikuti TKBI adalah 30.543 orang (tiga puluh ribu lima ratus empat puluh tiga) orang.

Dari 30.534 orang Maba UM peserta TKBI tersebut, ada 2 (dua) orang yang telah meraih level “Special Advanced” yakni atas nama Galih Bondan R., NIM: 305222481998, Prodi Bahasa dan Sastra Inggris, total score 590 dan Habibi Indra M., NIM: 307342407359, Prodi Biologi, total score 566.

Berapa total score tes kempuan bahasa inggris (TKBI/TOEFL) yang diperlukan untuk calon mahasiswa yang akan belajar ke luar negeri?
Jawabnya bervariasi. Penulis pernah bertanya kepada Prof. Dr. Siusana Kweldju (Dosen Sastra Inggris FS UM) “idealnya” adalah 600.
Berapa nilai rata-rata TKBI Mahasiswa UM? Dari hasil pengumpulan data nilai TKBI Mahasiswa UM angkatan tahun 2005—2011 adalah antara 351—425 atau pada level “Intermediate”. Balai Bahasa dan Budaya FS UM menata peringkat (Level of Proficiency) dalam 6 (enam) level yakni ke-1, Special Advanced: >550; ke-2, Advanced: 501—550; ke-3, Pre Advanced: 426—500; ke-4, Intermediate: 351—425; ke-5, Pre Intermediate: 200—350; dan ke-6, Elementary: < 200.

Tingkat kehadiran Mahasiswa UM pada pelaksanaan TKBI “yang tertinggi” adalah Maba UM angkatan tahun 2007 yakni 96, 48%. Setiap tahun, panitia (Subag Sardik BAAKPSI UM) senantiasa meningkatkan sosialisasi TKBI bahkan pada tahun terakhir sudah menggunakan website UM, di samping melalui pengumuman ke fakultas, jurusan/prodi dan pemasangan spanduk di tempat yang strategis.

Malang, 4 Januari 2012

Djoko Rahardjo, Staf Subag Sardik BAAKPSI UM

12 comments to Hanya ada 2 orang dari 30.534 Mahasiswa UM yang Meraih Level “Special Advanced”

  • Citra Resmi

    apakah di UM tidak ada kursus untuk tes tkbi?
    karena kalo di jurusan saya mahasiswa yang dinyatakan lulus y mengikuti tes tkbi untuk menghadapi dunia kerja…apakah tidak sebaiknya ha ini di lakukkan massal untuk semua mahaasiswa yang lulus

  • Bapak, mau tanya, apakah TOEFL yang diadakan ini statusnya Internasional? soalnya saya dengar kabar katanya TOEFL yang diadakan pada mahasiswa baru ini tidak bisa dipakai untuk mendaftar sebagai persyaratan beklajar diluar negeri. Terimakasih sebelumnya…

  • MATSUANI

    selamat dan semoga sukses selalu…

  • nahrowi

    Alangkah baiknya jika dibuka kursus / lembaga bimbingan belajar khususnya bahasa inggris (TOEFL) intern kampus UM, .supaya para mahasiswa tidak repot mencari kursus diluar kampus. .

  • yeni

    yahh..kalo mas habibi si ya maklum, hidup diluar indo juga brapa tahun..
    saya setuju dengan usulan ketika keluar dri um diadakan test lagi,mengingat banyaknya seleksi penerimaan pegawai atau sekolah lanjut dengan mensyaratkan kemampuan bahasa inggris.jadi setidaknya kalau masih kurang,dapat diperbaiki entah melaluikursus atau blajar sendiri… yang jelas ada persiapanlah! demikian, terimakasih!

  • Kayaknya harapan-harapan kemajuan UM bidang akademik begini kurang mendapat respon dari pimpinan UM yaa…?
    Saya yakin, berdasarkan pengelaman, yang ribut begini hanya pak Joko dan sedikit personel yang “sok kritis”, sedangkan pimpinan kok gak ada yang merespon. Jangan-jangan mereka juga gak pernah menengok situs ini… Capek deh….
    Ayo buktikan kalau para Yang Mulia memang peduli…pada martabat UM…

  • Nadia

    saran: setelah mengetahui hal tersebut, ada baiknya ditindaklanjuti dong pak… seperti buka kursus bahasa inggris intensif bagi mahasiswa yang berminat dg biaya terjangkau. akur???

  • Pak Djoko, saya pingin sharing dulu ya pak sebelum kasih usulan. saya mahasiswa baru (2011) di PPS UM prodi S2 Manajemen Pendidikan. refleksi selama 1 semster kuliah di PPS, ttg penguasaan dan kemampuan bahasa Inggris dosen yang mengajar di kelas kami, ngapunten Pak, menurut saya kok kurang seimbang dengan kapasitasnya sebagai dosen S2.

    usul saya Pak Djoko, mungkin unit kerja panjenengan bisa mengupayakan adanya konsistensi antara peraturan dan aplikasi. maksudnya begini, ketika kami mendaftar S2 di UM, ada satu syarat bahwa kami HARUS menyerahkan sertifikat TOEFL.faktanya, tidak mengumpulkan pun tidak masalah (Saya ikut TOEFL di luar UM).

    Pak Djoko, saya juga menyadari, mungkin, sekali lagi mungkin, “kelonggaran” TOEFL utk calon mahasiswa PPS diberikan sebagai kebijaksanaan yang manusiawi–supaya calon mahasiswa tidak terganjal masuk PPS “HANYA” karena faktor itu.

    setelah hampir sebulan kuliah, saya baru melihat spanduk di gerbang UM jalan Semarang ttg tes TOEFL di UM.

    sekali lagi Pak Djoko, hanya titip usul (sekiranya memang pantas diusulkan), soal konsistensi “aturan” (syarat kelengkapan) dengan aplikasinya di lapangan.

    Satu lagi pak, apakah mahasiswa asing itu tidak perlu dites kemampuan dan penguasaan bahasa Indonesianya. saya usulkan TOIFL (Test of Indonesian as Foreign language). memang, mahasiswa asing dah latihan bahasa Indonesia selama 1 tahun. kasus di kelas kami, 3 orang mahasiswa asing–Laos, Kamboja dan Thailand, “ketatelan” (istilah bhs Jawa) mengikuti kuliah. apalgi ketika harus presentasi dan menulis makalah. bahasa Inggris mereka pun jatuh bangun. apa tidak sebaiknya diuji juga kemampuan dan penguasaan bahasa Indonesianya Pak.

    Demikian usul yang saya titipkan melalui Bapak. matur nuwun

  • yoga

    Tes kemampuan budaya daerah dan kearifan lokal tidak ada ya pak…??

  • Lebih seru lagi bila dosen-doswn dan karyawan juga diukur TKBI-nya. Sebagai perguruan tinggi yang pernah terkenal dengan pengajaran bahasa Inggrisnya, UM perlu mempertahankan predikat tersebut. Dosen khususnya, yang tidak mencapai stadart TKBI yang disyaratkan harus menempuh diklat bahasai inggris sampai mencapai standar. jangan hanya mahasiswa yang disuruh belajar keras, dosennya juga harus lebih keras belajarnya. Kalau benar-benar gak mampu mencapai standar tsb. ya apa boleh buat disuruh carai pekerjaan lain yang lebih cocok.

  • djoko rahardjo

    Terima kasih Pak Supriyono, saya sependapat dengan Anda bahkan akan lebih baik lagi bila mahasiswa UM diberi matakuliah tambahan “Bahasa Inggris Keilmuan” karena sudah ada matakuliah Bahasa Indonesia Keilmuan.

  • Akan lebih bagus bila untuk mahasiswa yang menjelang lulus juga diukur kemampuan Bahasa Inggrisnya. Dengan demikian akan diketahui selama belajar di UM apakah kemampuan mereka bertambah (cat: berapa gain score-nya). Atau ada standar kelulusan tertentu yang diwajibkan untuk mahasiswa sebagaimana telah dilakukan pada beberapa perguruan tinggi lain. Mahasiswa hanya boleh lulus (mendapatkan ijazah) bila telah mencapai sekor tertentu dalam TKBI standar. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.