Dari Mikrolet sampai ke Alphard

Kepadatan lalu lintas di Kota Malang pada jam kerja begitu terasa. Begitu juga di ruas Jalan Veteran Malang. Setiap pagi, sekitar pukul 06.45 wib., penulis memasuki kampus UM melalui pintu gerbang utara, dari arah Jalan Veteran Malang bersama dengan kendaraan para mahasiswa, pegawai dan dosen UM. Kendaraan yang memasuki pintu gerbang tersebut ada berbagai jenis dan merk. Tetapi ada juga yang berjalan kaki.

Diantara pejalan kaki itu ada seorang profesor UM yang setiap harinya naik angkutan umum mikrolet. Tidak hanya dari arah utara saja, dari arah selatan di pintu Jalan Surabaya, penulis sering berpapasan dengan dua orang profesor UM yang setiap hari juga naik angkutan umum mikrolet.

Pemerintah Indonesia sudah berusaha meningkatkan kesejahteraan para guru dan dosen dengan tunjangan profesi. Memang ada beberapa orang Guru Besar UM yang terbiasa dengan pola hidup sederhana. Jadi, jangan heran bila Anda menjumpai beberapa orang Guru Besar UM yang mengendarai sepeda motor Honda Astrea Star tahun 1988 dan Honda Supra Fit tetapi jangan kaget pula bila ada Guru Besar UM yang mengendarai mobil Toyota Alphard.

Semua itu wajar. Karena itu hanyalah alat transportasi. Mungkin ada yang bertanya berapa harga mobil Toyota Alphard? Murah. Hanya sekitar Rp 1,3 milyard. Sekarang Toyota Alphard di bawah 3000 cc, sejenis New 24G di diskon menjadi Rp800 juta.

Di zaman ini batasan pola hidup sederhana menjadi sangat relatif. Penulis mencoba mendefinisikan pola hidup sederhana seperti berikut.

Seseorang yang membelanjakan hartanya kurang dari setengah/separuh total kekayaannya , dapat dikatagorikan sebagai pola hidup sederhana.

Nah…, disinilah kita mencoba bermain-main dengan matematika ekonomi. Bila seseorang mampu membeli mobil Toyota Inova tetapi yang dibeli adalah mobil Toyota Avansa; Bila seseorang mampu membeli mobil Toyota Alphard tetapi yang dibeli Mobil Toyota Fortuner; Bila seseorang mampu membeli pesawat helikopter tetapi yang dibeli mobil Toyota Alphard; Bila seseorang mampu membeli pesawat twin otter tetapi yang dibeli pesawat helikopter, itulah contoh kongkret pola hidup sederhana.

Penulis berkhayal, bila suatu saat nanti, di UM banyak orang yang memiliki mobil sejenis atau sekelas dengan Toyota Alphard maka atap gedung-gedung di UM harus diganti dengan landasan helikopter (helipad). Mengapa? Karena tidak menutup kemungkinan akan ada warga UM yang akan membeli helikopter. Hehehe….

Ya…, semua itu kembali pada kodrat manusia bahwa semua yang hidup “pasti” akan mencicipi mati dan akan “menghadap” pada Sang Pencipta. Bila kita masih diberi hidup, diberi iman, diberi kesihatan, diberi hati nurani, diberi akal yang sehat, diberi harta maka perlu merenungkan nasehat di bawah ini.

The mutual rivalry for piling up (the good things of this world) diverts you (from the more serious thing),
Until you visit the graves.
Terjemahan:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
Sampai kamu masuk ke dalam kubur.
(Al-Qur’an Surat ke-102, At-Takatsur: 1–2).

Malang, 12 Maret 2012
Djoko Rahardjo, Staf Subag Sardik BAAKPSI UM

2 comments to Dari Mikrolet sampai ke Alphard

  • djoko rahardjo

    Nah ini namanya kejutan, Ibu kita yang satu ini baru saja mengikuti wisuda Doktor bahasa Inggris UM. Selamat dan sukses untuk Ibu. Kebetulan saya kenal dekat dengan para profesor UM yang ada pada tulisan ini. Saya mengagumi kesederhanaan beliau-beliau.

  • Ny. ED Laksmi

    Ini sungguh sebuah tulisan menggelitik tentang hidup sederhana. Kebetulan saya tidak tahu para profesor yang penulis maksud; jadi ketika membacanya yang muncul di benak saya adalah sosok Nabi Muhammad yang, diriwayatkan oleh Bukhari, ketika wafat tidak meninggalkan dinar, dirham, hamba sahaya lelaki atau perempuan, dan tiada sesuatu apa pun, kecuali keledai putih yang biasa dikenderainya dan sebidang tanah yang disedekahkan untuk kepentingan orang rantau; Nelson Mandela dengan rumah bata-merah-segi-empatnya , Mahatma Gandhi dengan baju dari kain yang benangnya dia pintal sendiri; Presiden Iran Ahmadinejad yang ketika mantu mantu putranya, masing-masing tamunya disuguhi sebuah pisang, apel dan jeruk yang dihidangkan dalam sebuah piring; Prof Soetandyo sang pejuang HAM itu, yang senantiasa naik bis umum dan lalu berjalan kaki untuk pergi ke kantor Komnas HAM.#Hidup sederhana hari-hari ini seperti tak lagi menarik minat bayak orang untuk membicarakannya apalagi menerapkannya. Saya kira ini karena kini hampir-hampir tak ada lagi contoh apalagi ajakan untuk hidup sederhana. Jadi, terimakasih Pak Djoko atas tulisan ini. Menutup komentar ini, yuk kita dengarkan lagunya Slank (2008) . . Gak Punya apa-apa, tapi banyak cinta. Hidup bermewah-mewahan; punya banyak harta, tapi sengsara …seperti para koruptor…

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.