Kulsum Prof. H. Moh. Adnan Latief, M.A., Ph.D.

Mencoba memahami isi materi kuliah sepuluh menit (kulsum) yang disampaikan oleh Ustadz Prof. H. Moh. Adnan Latief, M.A., Ph.D. pada hari Rabu, 7 Maret 2012, setelah sholat dzuhur di Masjid Al-Hikmah UM. Beliau mengutip isi Al-Qur’an Surah Al-Ma’un ayat 1—3 dan Surat Al-Baqarah ayat 10 seperti berikut.

Terjemahan Surah Al-Ma’un ayat 1—3:
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

Terjemahan Surah Al-Baqarah ayat 10:
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

Anak yatim yang dimaksud adalah anak-anak (tidak memiliki ayah yang mencarikan nafkah) dari kalangan masyarakat lapisan bawah yang belum memperoleh perhatian dari masyarakat maupun pemerintah. Terhadap anak-anak ini kita diwajibkan “mencintai” dengan ikhlas.

Orang miskin atau penduduk miskin yang dimaksud adalah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar walaupun dalam kadar yang sangat minim. Terhadap orang-orang miskin ini kita diwajibkan memberikan makan dari sebagian rezeki kita.

Kita diharapkan memiliki kecintaan terhadap mereka. Indikator mencitai adalah “memiliki kepedulian” terhadap nasib mereka. Lebih lanjut beliau menerangkan bahwa kita diharapkan dapat meringankan beban atau kesulitan mereka. Jangan sampai kita malah membebani mereka dengan membuat suatu “aturan” yang menyebabkan bertambahnya beban atau derita mereka. Bila kita tidak mau memperhatikan nasib mereka maka kita termasuk pembohong.

Batasan orang yang dinyatakan miskin di Indonesia kadang “membingungkan”. Bila kita memakai kriteria Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K):

Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran/pendapatan per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan disebut penduduk miskin.

Lebih lanjut Badan Pusat Statistik (BPS) telah membuat tabel Rumah Tangga Sasaran (RTS) tahun 2008 yang memuat 33 provinsi yang ada di Indonesia. Khusus Provinsi Jawa Timur, seseorang yang berpenghasilan setiap bulan = Rp 493.004,00 (sangat miskin), Rp 1.256.122,00 (miskin) dan Rp1.330.696,00 (hampir miskin).

Tim Penggerak PKK Desa Sumber Sekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang pada pertemuan di PKK RT 5, RW 3 tanggal 5 Maret 2012 menyampaikan “pengalamannya yang unik” ketika membagi beras miskin (raskin). Ada warga yang dikategorikan miskin di Dusun Precet, Sumber Sekar yang “menolak” diberi raskin. Alasannya, yang bersangkutan masih mampu mencari nafkah sendiri. Sementara itu, di tempat lain ada seorang ibu yang “marah-marah” karena tidak memperoleh raskin. Padahal yang bersangkutan tidak termasuk warga miskin karena keseharian mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Indikator orang ini dikategorikan “tidak miskin” adalah gelang emas yang dipakai bernilai puluhan juta rupiah. Hal itu tidak termasuk harta yang tersimpan di rumahnya.

Pengalaman Tim Penggerak PKK Sumber Sekar ini kemungkinan juga dialami oleh yang lainnya. Penulis menduga di Indonesia ini cukup banyak orang yang “memiskinkan diri” yang mengakibatkan sebagian orang yang betul-betul miskin tidak memperoleh haknya. Bila kemiskinan itu diidentikkan dengan “kekurangan” maka di Indonesia akan terjadi “malapetaka yang dahsyat”. Mungkinkah? Rasionalnya bagaimana? Pembaca sudah tahu, orang yang melakukan tindak pidana korupsi itu karena selalu “merasa kekurangan”. Betulkan? Jadi, para koruptor itu termasuk “orang miskin”. Apakah mereka perlu disantuni?

Malang, 19 Maret 2012
Djoko Rahardjo, Staf Subag Sardik BAAKPSI UM

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.