THE DREAM TEAM: WUJUDKANLAH IMPIAN KAMI

KENYATAAN KINI DAN IMPIAN KAMI
Sebagai dosen Penasihat Akademik, setiap awal semester saya mendapatkan data tentang mahasiswa yang menjadi kepenasihatan saya. Setiap menerima daftar itu, kening saya berkerut: mahasiswa ini sudah lulus, koq masih tercantum namanya dalam kepenasihatan saya? Yang saya butuhkan adalah keadaan riil mahasiswa kepenasihatan saya.
Sebagai Dekan, ketika awal tahun atau akhir tahun, untuk perencanaan program atau laporan kegiatan akhir tahun, saya memerlukan data statistik tentang keadaan riil mahasiswa: per program studi, per jurusan, per angkatan menyangkut daya tampung, yang diterima, keketatan persaingan, dan kepentingan praktis lainnya. Yang dilakukan oleh staf saya adalah membongkar arsip kertas, memasukkan data ke Excel, menghitung ulang, dan seterusnya. Saya tanya mereka, apa Sistem Informasi Akademik On Line Mahasiswa kita—setidaknya via intranet—tidak bisa menampilkan itu semua secara on line? Belum bisa Pak. Ya, Allah, sejak Pusat Komputer, TPSI, dan era Pusat TIK selama sekian tahun tetap begini? Sampai kapan?
Sebagai anggota tim penyusun borang akreditasi program studi, saat mengisi data kegiatan dharma penelitian dan pengabdian dosen, saya harus mencari buku-buku laporan penelitian dan pengabdian ke Lemlit dan LPM. Setelah dapat, saya dan teman-teman harus mengetik ulang atau mengetik ulang data itu. Menghitungnya dengan Excel … uthuk-uthuk … uthuk-uthuk …uthuk (suara tut keyboard lap top saya tengah malam yang hening saat lembur). Ya Allah, ini saya ini ada pada zaman komputerisasi, digitalisasi, mesin elektronik, ataukah mesin ketik Brother?
Sebagai penyusun naskah akademik Organisasi dan Tatakelola Universitas Negeri Malang, saya memerlukan data statistik semua unsur di UM ini, mahasiswa, dosen, pegawai, sarana-prasarana (jumlah, perkembangan 5 tahun terakhir menyangkut berbagai variabel, dan lain-lain dan lain-lain). Saya harus datang ke Subbag Sistem Informasi di A2 mengambil buku statistik: membacanya, mengetiknya, mengolahnya! Astaghfirullah, energi kami habis. Haruskah terus-menerus seperti inikah? Tidak bisakah kami tinggal buka komputer, sambung ke jaringan intranet—syukur-syukur bisa internet—lalu klik ini, klik itu: kebutuhan-kebutuhan dasar bagi “ummat” ini terpenuhi? Mimpi di siang bolongkah saya?
Mas Wawan (begitulah saya memanggil kesehariannya untuk Eko Wahyu Setiawan, staf kami di subbagian keuangan dan kepegawaian) harus bergumul dengan kertas-kertas berkas kenaikan pangkat dosen untuk memberkas kenaikan pangkat dan jabatan dosen: memilih dan memilah, mengetik, mengolahnya: SEMUANYA DARI NOL! Tidak ada data yang diolah secara on line terintegrasi se-UM: setidaknya data statis dosen (nama, NIP, pangkat, jabatan, misalnya) dan karya tridharmanya serta pendukung (butir A, B, C, D istilah teknisnya). Coba kita baca komentar Mas Wawan atas tulisan Michael tentang Belajar dari Kampus Lain di Berkaya.
Saya pun dapat info yang dramatis: personel di Bagian Kemahasiswaan UM (mungkin Bu Fatmawati sendiri, Kabag Kemahasiswaan) untuk memperoleh data kemahasiswaan Beliau harus mengajukan surat resmi ke pihak tertentu! Kalau info ini benar: tragedi yang mengenaskan!
Daftar kesenjangan antara kenyataan dengan impian itu kalau dideret sangat panjang. Cukup itu sajalah sebagai representasinya.
Impian kami tidak muluk-muluk. Impian kami hanyalah memberikan layanan prima. Impian kami hanyalah adanya data-data, informasi, rekaman, dan laporan statistik itu riil, kondisi objektif, real time. Data dan informasi itu terpadu. Data-data dan informasi itu akurat. Data dan informasi itu dapat kami akses dengan mudah: sebagian hanya dapat kami baca, sebagian dapat kami unduh, dan sebagian dapat kami up date sendiri sesuai dengan keperluan.
Itulah di antara rasionel perlunya revitalisasi sistem dan teknologi informasi-komunikasi UM. Itulah latar pemikiran Pokja mengirimkan kuesioner untuk menggali keberadaan dan kebutuhan perangkat lunak dan perangkat keras.  Itulah dasar Pokja mengadakan lokakarya dan menindaklanjutinya. Itulah mengapa Pokja membentuk The Dream Team yang terdiri atas personel muda yang memiliki kompetensi yang andal dalam bidang perangkat lunak dan perangkat keras. Personel The Dream Team berasal dari semua organ di UM: Fakultas, Biro, dan Pusat TIK. Siapa mereka?
PERSONEL THE DREAM TEAM
Sebelumnya, saya pribadi belum mengenal secara dekat dan dalam siapa mereka. Memang, wajah-wajah mereka saya akrab. Akan tetapi, nama-nama mereka belum saya kenal seluruhnya, apalagi kompetensinya! Ketika lokakarya di Batu tanggal 14—15 April 2012 itulah, sedikit demi sedikit saya kenal mereka. Ketika diskusi di Wisma UM Jalan TGP 9 saya mengetahui kompetensi dan potensi mereka: anak muda yang cerdas, anak muda yang potensial, anak muda yang polos, anak muda yang patuh, anak muda yang berkomitmen tinggi pada keahliannya. Saat berdiskusi itu, saya katakan—sekalipun saya sudah Prof. Dr.—saya adalah siswa play group di hadapan mereka saat membahas pengembangan perangkat lunak dan perangkat keras. Saya sebut anak (muda) karena usia mereka paling tua “seplantaran” dengan adik saya, bahkan sebagian besar seusia dengan anak saya. Saya berguru, belajar, dan menimba ilmu kepada mereka. Saya bangga kepada mereka. Saya menaruh harapan besar kepada mereka.
Berikut nama, unit kerja, dan keahlian mereka.
Laksono Budiarto FIP Software & Hardware
Faul H FS Hardware
Putut Januarto FMIPA Hardware
Rini FMIPA Software
M. Bakir FE Software & Hardware
Hardi Sona Kurniawan BAUK Software
Andriyan Nurman Effendi BAUK Software
Fitria Puji Harmini BAAKPSI Software
Denky Aditya Dwi Wibowo BAAKPSI Software
Arrijal Nagara TIK Software
Abdul Wahed TIK Software
Sandra Irawan TIK Hardware
Risky TIK Hardware
Fajar Budi TIK Hardware
Sutrisno TIK Hardware
Purwanto TIK Software
Umar Faisol TIK Software
R. Moh. Ismail Fahmi TIK Hardware
Tanpa bermaksud mengecilkan peran dan profil yang lain, sebagai perwakilan, beberapa nama saya ulas sedikit. Mas Abdul Wahed telah menyampaikan gagasan segar tentang pengembangan software di UM. Wawasannya luas, alur bicaranya runtut, dan ini yang penting: saat impian-impian itu kami sampaikan, dia menjawab, bisa Pak, insya-Allah. Mas Arrijal Nagara yang bicaranya lugas. Mas Sandra Irawan bisa memberikan gambaran utuh dan spesifik tentang kebutuhan hardware TIK UM. Bicaranya kalem dan menyejukkan. Mas Laksono Budiarto memiliki wawasan yang lengkap, baik software maupun hardware. Karena itulah, dia harus “berbagi diri” untuk dua kepentingan itu. Bicaranya khas gaya anak muda: ekspressif, lugas, langsung pada pokok permasalahan. Mas Faul adalah personel yang terampil dan trengginas. Dia telah mendampingi saya selama 11 tahun: belum pernah mengatakan tidak mau, tidak sanggup, atau tidak bisa. Paling “jelek”: ungkapannya, saya coba Pak. Yang paling sering saya dengar: bisa Pak, insya-Allah. Hasilnya, terbukti bisa. Mbak Fitri adalah pengembang software Sistem Informasi Kepegawaian UM. Dia teliti, cermat, dan protektif atas “keselamatan” data basenya. Personel seperti ini penting sekali untuk UM ini. Mas Hardi telah mengembangkan software keuangan. Kalau software ini nanti sudah terintegrasi, sungguh memudahkan pengambil kebijakan merencanakan, melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi kegiatan. Itulah sedikit gambaran tentang profil personel revitalisasi sistem dan teknologi informasi-komunikasi UM.
Kalau diizinkan saya menyuarakan impian semua unsur di UM, ungkapan: “Anak-anakku, aku gantungkan realisasi impianku kepadamu”, mungkin tepat untuk mewakilinya. Semoga terwujud.
Malang, 27 April 2012
Dawud
Dekan FS UM, anggota Pokja

Komentar ditutup.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.