NEGERI PARA SILUMAN

Arloji di tanganku menunjukkan pukul 23.45 wib., udara di sekitar pos kamling sangat dingin. Tulang di sekujur tubuhku terasa ngilu. Maklum, usiaku sudah tak muda lagi, 55 tahun. Malam itu, Sabtu Wage, tanggal 31 Maret 2012, hujan deras yang mengguyur sejak sore hari mulai reda. Beberapa tangkai bunga sedap malam di samping pos kamling mulai mekar dan tercium harum mewangi. Pikiranku mulai kacau. Hatiku mulai tak karuan. Aku bukanlah seorang penakut tetapi juga bukan seorang pemberani. Biasa saja. Seperti para lelaki yang lain.

Malam itu, seharusnya ketiga temanku sudah datang pukul 21.00 wib. Aku heran, ada apa dengan mereka? Ketika aku sedang melamun, tiba-tiba dari arah depan, di seberang jalan, di antara rimbunnya pohon jagung muncul sosok hitam. Tidak begitu jelas. Makhluk apa itu? Ia berjalan mengendap-endap ke arahku. Lalu dia menyalak dan menerkamku: “Auuu…! Brak…!”
Untung…, aku masih dapat menghindarinya. Jantungku berdetak keras! Bulu kudukku berdiri. Keringat dingin membasahi tubuhku. Sambil membaca taawudz: “Audzu billahiminnas syaiton nirrojim (aku berlidung kepada Allah dari segala godaan syetan dan jin yang terkutuk)!” Kuangkat tongkatku tinggi-tinggi…, begitu makhluk itu menerkam ke arahku lagi, kupukul keras-keras di bagian kepalanya, prakkk! Kaing-kaing! Larilah ia sekencang-kencangnya meninggalkanku.

Sambil mengamati kemana larinya makhluk itu, kuambil saputangan yang ada di saku celanaku. Perlahan-lahan kubasuh mukaku. Kuhirup dalam-dalam oksigen disekitarku. Kuagungkan nama Tuhanku. Allahu Akbar! Detak jatungku, perlahan-lahan mulai normal kembali. Belum selesai aku mengusap tubuhku. Hem…, bau apa ini? Siapa lagi yang datang? Seperti bau kemenyan. Hiiii…! Cahaya rembulan yang remang-remang menimpa dua makhluk yang datang ke arahku. Kira-kira 25 meter dari arah samping kanan. Dengan hati yang berdebar-debar, kuberanikan diri untuk menatap kedua sosok itu—yang satu tinggi kurus—berambut panjang—berpakaian putih, dan yang satunya lagi gemuk pendek—berkepala gundul—berpakain hitam.

Ku geser langkahku kebelakang. Kira-kira lima kangkah. Persis tiga jengkal di atas kepalaku tergantung kentongan berserta pemukulnya, secepat kilat kuraih pemukul itu dan kupukulkan beberapa kali ke kentongan: “Thung thung thung!”. Walau tak begitu keras aku memukulnya, akibat tangan yang gemetaran tetapi terdengar sampai di telinga dua makhluk itu. “Pak De, aku yang datang, teman rondamu! Teriak mereka nerdua. Sontoloyo! Jam segini kamu baru datang? Dari mana saja kamu berdua? Mana Togog? Waduuh…, Togog ndlosor (tersungkur) di warung Mbok Limbuk, kebanyakan minum tuak!”

Kedua temanku itu, Kotrip yang berbadan tinggi kurus dan Gombing yang berbadan gemuk pendek, bercerita bahwa mereka baru selesai ngobrol di warumg Mbok Limbuk. Kotrip menghisap dalam-dalam “rokok siong” , yang beraroma seperti kemenyan. Sesekali mulutnya mengeluarkan asap yang menggulung-gulung. Putih. Harum. Meliuk-liuk. Erotis. Seperti penari striptise yang sedang menari. Dengan suaranya yang serak-serak becek…, eh… keliru…, serak-serak basah maka meluncurlah kata-katanya: “Gombing gayaren (kesakitan)! Lho? Kenapa? Tanyaku. Sudah beberapa malam ia tidak tidur. Beberapa kali mondar-mandir antara rumahnya ke pom bensin (SPBU). Ada apa? Biasa. Biasa bagaimana? Siluman bekerjanya kan malam hari, membawa jerigen dan menimbun “premium”. Sudah terlanjur menimbun premium tetapi BBM tidak jadi naik, hahaha…!”

Dengan muka memerah…, Gombing membalas ejekan itu: “Kamu juga siluman! Pekerjaanmu seperti siluman juga. Pagi hari, kamu memborong sayur dan palawija milik para petani dengan harga murah! Malam hari, kamu jual kepada para mlijo (pedagang keliling) dengan harga yang mahal. Alasanmu, BBM akan naik! Sekarang ini…, BBM tidak jadi naik. Bagaimana dengan harga daganganmu? Apakah harga daganganmu sudah kamu turunkan? Kotrip tidak menjawabnya. Hanya klecam-klecem (hanya senyum-senyum saja). Hehehe…..”

Ada tawa dan canda Kotrip serta Gombing, hatiku terhibur. Senang. Lega. Tertawa. Walau tanggal tua, gaji sudah habis tetapi sejenak dapat kulupakan. Untuk meredakan ketegangan konfrontasi di antara mereka berdua, saya mencoba mengalihkan pembicaraan—dengan membentangkan koran di atas dipan (pembaringan) pos kamling—Koran Jawa Pos hari Sabtu, 31 Maret 2012. Kuhidupkan lampu senter, fokus pada halaman 19, kolom 2: ” Coba kalian baca halaman 19, kolom 2 (Voting, 356 Anggota DPR Setuju BBM Naik). Apa komentarnya?”

Legislator Fraksi PDIP Maruarar Sirait mengatakan, ayat tambahan tersebut hanya siasat untuk tetap menaikkan harga BBM. “Itu pasal siluman”, Kata Maruarar. Menurut dia, harga minyak mentah Indonesia (ICP) sepanjang Maret telah mencapai USD 126 perbarel. Karena itu dengan deviasi 20 persen sekalipun, pemerintah masih bisa menaikkan . Asumsi ICP dalam RAPBNP 2012 ditetapkan USD 105 perbarel.

Hehehe…, ternyata ada pasal siluman. Artinya, di Gedung DPR-RI juga tempat bersemayamnya para politisi siluman. Jangan main-main dengan Undang-Undang BBM, Mbing…, Gombing. Hati-hati kamu, bila terbukti menimbun BBM secara sah maka penjaralah tempatmu! Tetapi bagaimana dengan Kotrip? Tanya Gombing kepadaku. Waaah…, kalau kasus menaikkan harga sayur dan polowijo, setahu saya belum ada aturannya. Hehehe…, selamatlah aku! Kata Kotrip.

Tidak terasa…, arloji di tanganku sudah menunjukkan pukul 04.00 wib. Sudah hampir subuh. “Yuk kita pulang! Malam ini kampung kita aman! Mari kita pulang bersama!” Kebetulan kami bertiga bertempat tinggal dalam satu kawasan. Berjalan di tengah-tengah pematang sawah—berbaris seperti tentara—Kotrip di barisan paling depan, Gombing di tengah, dan saya berbaris di posisi paling belakang. Untuk memecah kesunyian malam , dan membunuh rasa kantuk maka kami bertiga mendendangkan lagu Meggy Z. yang berjudul “Terlanjur Basah”.

Terlanjur basah ya sudah mandi sekali
Terlanjur retak pecah sekali
Habis bagaimana tiada bukti kau dapat
Kau tuduh diriku “menimbun BBM di rumahku”

Terlanjur malu ya sudah malu sekali
Di depan orang kau tega memfitnah aku
Bukankah fitnah lebih kejam dari membunuh
Terlanjur basah ya sudah mandi sekali

Jangankan burung yang terbang
Ranting pun tak ingin patah
Apalagi diriku yang punya perasaan

Sudah kau lempar batu
Kau sembunyikan tanganmu
Diriku yang “punya hutang”
Mengapa “Kotrip yang kau pinjami uang”

Aduh-aduh daripada sakit nanti
Lebih baik sekarang
Sebelum diriku mati

Saya tertawa geli melihat tingkah laku mereka berdua. Kotrip menyanyi sambil sempoyongan. Gombing joget megal-megol (pantatnya digoyangkan ke kanan dan kekiri). Keduanya nampak serasi, Ada lirik lagu yang sengaja diganti oleh Gombing menjadi: (1) Kau tuduh diriku menimbun BBM di rumahku, (2) Diriku yang punya hutang, dan (3) Mengapa Kotrip yang kau pinjami uang.

Malang, 2 April 2012
Djoko Rahardjo, Staf Subag Sardik UM

3 comments to NEGERI PARA SILUMAN

  • Ali H

    Alur ceritanya menarik, seakan-akan penulis betul-betul merasakan emosi yang terjadi pada rangkaian cerita. Sepertinya Pak Djoko perlu mengumpulkan cerpen-cerpen atau karya-karya lainnya untuk ditulis ke dalam buku.. Ada tidak ya majalah di UM yang memuat karya-karya tidak hanya para dosen, namun juga civitas akademika serta jajaran yang berada di lingkungan administratif secara keseluruhan..?

  • djoko rahardjo

    Ah…, pura-pura kagak tahu aja? Di KPRI UM kan ada istilah “nyundul”, masak Pak Noor lupa. Jadi, hutang yang lalu masih setengah perjalanan ditutup dengan hutang baru yang lebih besar. Naah…, kan masih ada lebihnya, hehehe….

  • Noor Farochi

    Bgmn mau ngasih hutang Gombing P.Djoko, hutang yang lama belum lunas, apalagi struk nya minus,…hehehehe

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.