Prolog: Antara Bumi dan Langit

Mungkin sudah takdir menjadi seorang anak kusir kereta. Itulah yang dirasakan oleh Basukarna. Tidak ada harapan lagi untuk menuntut ilmu di padepokan milik para ilmuan dan pendekar panah di istana. Padepokan itu khusus untuk para pembesar istana. Hanya mereka, yang punya uang dan berkedudukan di Istana, yang berhak untuk menuntut ilmu di padepokan itu.

“Maafkan aku Karna, aku tidak mampu untuk membayar biaya masuk ke padepokan itu.”

“Biarkan aku belajar sendiri akan ilmu memanah. Belajar tidak harus di kelas. Biarkan aku bertualang ke hutan-hutan untuk melatih kemampuanku memanah mata burung.

Karna memutuskan belajar secara otodidak. Ia percaya, pengetahuan adalah kekuatan. Tidak ada alasan untuk tidak punya buku cara memanah dengan benar seperti pemanah kondang, Arjuna. Tidak ada alasan untuk berhenti berusaha.

Seperti kata seorang kusir kereta yang selama ini merawatnya,

             Bila kau mengembara ke berbagai negeri untuk belajar memanah, aku yakin kau bisa sakti seperti Arjuna. Asal kau mau bekerja keras. Tidak usah mengandalkan bantuan dari sistem. Kau harus menghancurkan tirani yang diciptakan oleh Arjuna.

Sekarang, Karna bersumpah, ia akan belajar dengan keras. Agar ia bisa memanah mata burung seperti yang dilakukan Arjuna.

Registrasi Semester Pendek 2011/2012

Jadwal waktu pembayaran Registrasi Administrasi Semester Pendek Tahun Akademik 2011/2012 tertuang dalam pengumuman sebagai berikut:
(klik gambar 2 kali untuk memperbesar)

THE DREAM TEAM: WUJUDKANLAH IMPIAN KAMI

KENYATAAN KINI DAN IMPIAN KAMI
Sebagai dosen Penasihat Akademik, setiap awal semester saya mendapatkan data tentang mahasiswa yang menjadi kepenasihatan saya. Setiap menerima daftar itu, kening saya berkerut: mahasiswa ini sudah lulus, koq masih tercantum namanya dalam kepenasihatan saya? Yang saya butuhkan adalah keadaan riil mahasiswa kepenasihatan saya.
Sebagai Dekan, ketika awal tahun atau akhir tahun, untuk perencanaan program atau laporan kegiatan akhir tahun, saya memerlukan data statistik tentang keadaan riil mahasiswa: per program studi, per jurusan, per angkatan menyangkut daya tampung, yang diterima, keketatan persaingan, dan kepentingan praktis lainnya. Yang dilakukan oleh staf saya adalah membongkar arsip kertas, memasukkan data ke Excel, menghitung ulang, dan seterusnya. Saya tanya mereka, apa Sistem Informasi Akademik On Line Mahasiswa kita—setidaknya via intranet—tidak bisa menampilkan itu semua secara on line? Belum bisa Pak. Ya, Allah, sejak Pusat Komputer, TPSI, dan era Pusat TIK selama sekian tahun tetap begini? Sampai kapan?
Sebagai anggota tim penyusun borang akreditasi program studi, saat mengisi data kegiatan dharma penelitian dan pengabdian dosen, saya harus mencari buku-buku laporan penelitian dan pengabdian ke Lemlit dan LPM. Setelah dapat, saya dan teman-teman harus mengetik ulang atau mengetik ulang data itu. Menghitungnya dengan Excel … uthuk-uthuk … uthuk-uthuk …uthuk (suara tut keyboard lap top saya tengah malam yang hening saat lembur). Ya Allah, ini saya ini ada pada zaman komputerisasi, digitalisasi, mesin elektronik, ataukah mesin ketik Brother?
Sebagai penyusun naskah akademik Organisasi dan Tatakelola Universitas Negeri Malang, saya memerlukan data statistik semua unsur di UM ini, mahasiswa, dosen, pegawai, sarana-prasarana (jumlah, perkembangan 5 tahun terakhir menyangkut berbagai variabel, dan lain-lain dan lain-lain). Saya harus datang ke Subbag Sistem Informasi di A2 mengambil buku statistik: membacanya, mengetiknya, mengolahnya! Astaghfirullah, energi kami habis. Haruskah terus-menerus seperti inikah? Tidak bisakah kami tinggal buka komputer, sambung ke jaringan intranet—syukur-syukur bisa internet—lalu klik ini, klik itu: kebutuhan-kebutuhan dasar bagi “ummat” ini terpenuhi? Mimpi di siang bolongkah saya?
Mas Wawan (begitulah saya memanggil kesehariannya untuk Eko Wahyu Setiawan, staf kami di subbagian keuangan dan kepegawaian) harus bergumul dengan kertas-kertas berkas kenaikan pangkat dosen untuk memberkas kenaikan pangkat dan jabatan dosen: memilih dan memilah, mengetik, mengolahnya: SEMUANYA DARI NOL! Tidak ada data yang diolah secara on line terintegrasi se-UM: setidaknya data statis dosen (nama, NIP, pangkat, jabatan, misalnya) dan karya tridharmanya serta pendukung (butir A, B, C, D istilah teknisnya). Coba kita baca komentar Mas Wawan atas tulisan Michael tentang Belajar dari Kampus Lain di Berkaya.
Saya pun dapat info yang dramatis: personel di Bagian Kemahasiswaan UM (mungkin Bu Fatmawati sendiri, Kabag Kemahasiswaan) untuk memperoleh data kemahasiswaan Beliau harus mengajukan surat resmi ke pihak tertentu! Kalau info ini benar: tragedi yang mengenaskan!
Daftar kesenjangan antara kenyataan dengan impian itu kalau dideret sangat panjang. Cukup itu sajalah sebagai representasinya.
Impian kami tidak muluk-muluk. Impian kami hanyalah memberikan layanan prima. Impian kami hanyalah adanya data-data, informasi, rekaman, dan laporan statistik itu riil, kondisi objektif, real time. Data dan informasi itu terpadu. Data-data dan informasi itu akurat. Data dan informasi itu dapat kami akses dengan mudah: sebagian hanya dapat kami baca, sebagian dapat kami unduh, dan sebagian dapat kami up date sendiri sesuai dengan keperluan.
Itulah di antara rasionel perlunya revitalisasi sistem dan teknologi informasi-komunikasi UM. Itulah latar pemikiran Pokja mengirimkan kuesioner untuk menggali keberadaan dan kebutuhan perangkat lunak dan perangkat keras.  Itulah dasar Pokja mengadakan lokakarya dan menindaklanjutinya. Itulah mengapa Pokja membentuk The Dream Team yang terdiri atas personel muda yang memiliki kompetensi yang andal dalam bidang perangkat lunak dan perangkat keras. Personel The Dream Team berasal dari semua organ di UM: Fakultas, Biro, dan Pusat TIK. Siapa mereka?
PERSONEL THE DREAM TEAM
Sebelumnya, saya pribadi belum mengenal secara dekat dan dalam siapa mereka. Memang, wajah-wajah mereka saya akrab. Akan tetapi, nama-nama mereka belum saya kenal seluruhnya, apalagi kompetensinya! Ketika lokakarya di Batu tanggal 14—15 April 2012 itulah, sedikit demi sedikit saya kenal mereka. Ketika diskusi di Wisma UM Jalan TGP 9 saya mengetahui kompetensi dan potensi mereka: anak muda yang cerdas, anak muda yang potensial, anak muda yang polos, anak muda yang patuh, anak muda yang berkomitmen tinggi pada keahliannya. Saat berdiskusi itu, saya katakan—sekalipun saya sudah Prof. Dr.—saya adalah siswa play group di hadapan mereka saat membahas pengembangan perangkat lunak dan perangkat keras. Saya sebut anak (muda) karena usia mereka paling tua “seplantaran” dengan adik saya, bahkan sebagian besar seusia dengan anak saya. Saya berguru, belajar, dan menimba ilmu kepada mereka. Saya bangga kepada mereka. Saya menaruh harapan besar kepada mereka.
Berikut nama, unit kerja, dan keahlian mereka.
Laksono Budiarto FIP Software & Hardware
Faul H FS Hardware
Putut Januarto FMIPA Hardware
Rini FMIPA Software
M. Bakir FE Software & Hardware
Hardi Sona Kurniawan BAUK Software
Andriyan Nurman Effendi BAUK Software
Fitria Puji Harmini BAAKPSI Software
Denky Aditya Dwi Wibowo BAAKPSI Software
Arrijal Nagara TIK Software
Abdul Wahed TIK Software
Sandra Irawan TIK Hardware
Risky TIK Hardware
Fajar Budi TIK Hardware
Sutrisno TIK Hardware
Purwanto TIK Software
Umar Faisol TIK Software
R. Moh. Ismail Fahmi TIK Hardware
Tanpa bermaksud mengecilkan peran dan profil yang lain, sebagai perwakilan, beberapa nama saya ulas sedikit. Mas Abdul Wahed telah menyampaikan gagasan segar tentang pengembangan software di UM. Wawasannya luas, alur bicaranya runtut, dan ini yang penting: saat impian-impian itu kami sampaikan, dia menjawab, bisa Pak, insya-Allah. Mas Arrijal Nagara yang bicaranya lugas. Mas Sandra Irawan bisa memberikan gambaran utuh dan spesifik tentang kebutuhan hardware TIK UM. Bicaranya kalem dan menyejukkan. Mas Laksono Budiarto memiliki wawasan yang lengkap, baik software maupun hardware. Karena itulah, dia harus “berbagi diri” untuk dua kepentingan itu. Bicaranya khas gaya anak muda: ekspressif, lugas, langsung pada pokok permasalahan. Mas Faul adalah personel yang terampil dan trengginas. Dia telah mendampingi saya selama 11 tahun: belum pernah mengatakan tidak mau, tidak sanggup, atau tidak bisa. Paling “jelek”: ungkapannya, saya coba Pak. Yang paling sering saya dengar: bisa Pak, insya-Allah. Hasilnya, terbukti bisa. Mbak Fitri adalah pengembang software Sistem Informasi Kepegawaian UM. Dia teliti, cermat, dan protektif atas “keselamatan” data basenya. Personel seperti ini penting sekali untuk UM ini. Mas Hardi telah mengembangkan software keuangan. Kalau software ini nanti sudah terintegrasi, sungguh memudahkan pengambil kebijakan merencanakan, melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi kegiatan. Itulah sedikit gambaran tentang profil personel revitalisasi sistem dan teknologi informasi-komunikasi UM.
Kalau diizinkan saya menyuarakan impian semua unsur di UM, ungkapan: “Anak-anakku, aku gantungkan realisasi impianku kepadamu”, mungkin tepat untuk mewakilinya. Semoga terwujud.
Malang, 27 April 2012
Dawud
Dekan FS UM, anggota Pokja

Purna Tugas dan Jabatan

Dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, dengan santainya satu demi satu para petugas administrasi menjalani masa pensiun, purna tugas di UM. Seiring dengan itu pula sebagian jabatan administrasipun lowong, memerlukan tenaga pengganti estafet melanjutkan pendahulu sebelumnya. Melihat peluang ini, ada yang menanggapi dengan wajar, biarlah semua itu berjalan sesuai dengan alurnya dan ada pula yang dengan ambisius.dengan berbagai upaya. Upaya itu bisa berupa meminta diberi jabatan, menyogok, menjelek-jelekkan orang lain dst….. naudzubillah…., padahal meminta jabatan seperti itu akan membuat beban kepemimpinan semakin berat.

Meminta Jabatan
Jabatan tidak boleh diberikan kepada seseorang yang memintanya dan berambisi untuk mendapatkannya. Abu Musa radliallahu ‘anhu berkata: “Aku dan dua orang laki-laki dari kaumku pernah masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka salah seorang dari keduanya berkata: “Angkatlah kami sebagai pemimpin, wahai Rasulullah”. Temannya pun meminta hal yang sama. Bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733)

Dalam riwayat yang lain, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdurrahman bin Samurah :”Bila engkau diberikan dengan tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun bila diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” Siapa yang tidak ditolong maka ia tidak akan mampu. Dan tidak mungkin jabatan itu diserahkan kepada orang yang tidak cakap. (Syarah Shahih Muslim, 12/208, Fathul Bari, 13/133, Nailul Authar, 8/294)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Sepantasnya bagi seseorang tidak meminta jabatan apapun. Namun bila ia diangkat bukan karena permintaannya, maka ia boleh menerimanya. Akan tetapi jangan ia meminta jabatan tersebut dalam rangka wara’ dan kehati-hatiannya dikarenakan jabatan dunia itu bukanlah apa-apa.” (Syarah Riyadlus Shalihih, 2/470)

Beban Berat Meminta Jabatan
Rasulullah s.a.w. bersabda:
Artinya : “Janganlah kamu meminta jabatan dalam pemerintahan. Karena jika kamu diberi jabatan karena permintaanmu, maka bebanmu sungguh berat. Tetapi jika kamu diberi jabatan tanpa kamu minta, maka kamu akan dibantu oleh orang banyak.” (HR. Muslim dari Abdurrahman bin Samurah r.a.)

Rasulullah s.a.w. bersabda:
Artinya : Abu Dzar r.a. berkata: Saya bertanya, “Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memberiku jabatan?. Maka Rasulullah menepukan tangannya pada pundakku, lalu beliau bersabda: Hai Abu Dzar, sungguh kamu ini lemah, sedangkan jabatan adalah amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajibannya dalam jabatannya.” (HR. Muslim)

Pertanggunganjawab Pemimpin
Menjadi seorang pemimpin dan memiliki sebuah jabatan merupakan impian semua orang kecuali sedikit dari mereka yang dirahmati oleh Allah. Setiap orang adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggunganjawab atas apa-apa yang telah dipimpinnya, sebagaimana hadis dari Ibnu Umar, ”Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (HR Muslim)

Ambisi Menjadi Penyesalan
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwa¬yatkan dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu: “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (HR. Bukhari no. 7148)

Semoga bermanfaat.

[BELAJAR DARI KAMPUS LAIN – 1] Mengurangi Penggunaan Kertas dengan SMS

Pengantar: Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengunggulkan kampus lain, penulis sekadar menginformasikan apa yang dilakukan kampus lain –yang penulis ketahui– supaya dapat dijadikan contoh untuk pengembangan kampus UM.

Mulai Februari 2012, saya menempuh pendidikan program pascasarjana di salah satu kampus swasta yang terletak di kota Malang. Kali pertama, saya melakukan pendaftaran di sana, saya cukup heran mengapa di kampus tersebut pengisian nomor ponsel mahasiswa sangat penting. Mereka mengasumsikan semua mahasiswa memiliki nomor ponsel.

Setelah beberapa lama berada di kampus tersebut, baru saya menyadari alasan pihak kampus meminta nomor ponsel setiap mahasiswa. Tujuan utamanya adalah untuk penghematan kertas dan efisiensi biaya. Bagaimana bisa?

Kampus yang memiliki kurang lebih 800 mahasiswa ini ternyata menggunakan media SMS untuk setiap pengumuman dan undangan kepada pihak intern (mahasiswa dan dosen). Hanya pesan tertentu yang dikirim melalui media surat, misalnya surat kepada orang tua.

Kampus menggunakan media SMS ini mengingat biaya SMS yang cukup murah (hanya sekitar 11.000/bulan). Toh hampir pasti mahasiswa dapat membaca SMS. Bagaimana bila SMS tidak terkirim? Memang ada kalanya, SMS tidak diterima dengan baik oleh beberapa orang. Namun, antarindividu pada umumnya saling berkomunikasi, sehingga hampir pasti pesan tetap dapat tersampaikan. Toh, meskipun pengumuman disampaikan via surat sekalipun, peluang pesan tidak tersampaikan selalu ada.

Risiko bagi sivitas akademika adalah mereka dituntut tidak mengganti nomor ponsel mereka. Kalaupun terpaksa mengganti, mereka wajib memberitahukannya ke bagian tata usaha.

Untuk meminimalkan terjadinya penipuan SMS (pengirim SMS palsu yang mengatasnamakan pihak kampus), nomor SMS pengirim selalu tetap (1 nomor utama dan 1 nomor alternatif) yang diberitahukan kepada sivitas akademika via pengumuman yang ditempel di beberapa sudut kampus.’

Bagaimana dengan UM?

Sebenarnya UM telah mengembangkan teknologi SMS Server sejak 2009, sayangnya teknologi ini belum dimanfaatkan untuk ini. Oleh karena itu, penulis mengusulkan untuk memanfaatkan SMS Server tersebut untuk keperluan ini dan tidak menutup kemungkinan layanan yang lain melalui SMS juga dapat dikembangkan.

Mengingat jumlah sivitas akademika UM cukup banyak, layanan pemberitahuan via SMS server ini dapat dibagi dengan menggunakan beberapa nomor yang berurutan, misalnya 088686001 – 088686030 (nomor sengaja dibuat dengan nomor yang tidak terdaftar karena hanya merupakan contoh) dan sebagai antisipasi pengumuman maupun undangan dapat dicantumkan pula di laman www.um.ac.id. Pengumuman via SMS masih diperlukan, mengingat tidak semua sivitas akademika memantau laman UM tiap hari.

Bersambung

 

Malang, 26 April 2012

Michael
www.michael.asia
Alumnus

 

 

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.