Antara Rich Dad dan Rhoma Irama

Robert Kiyosaki berargumen orang kaya adalah investor. Mereka dapat mengelola hutang kemudian mengembangkanya menjadi laba. Hingga akhirnya kreditor (bank dan non-bank) ikhlas memberikan uangnya. Saya bukan ahli ekonomi (rekan-rekan dari Fakultas Ekonomi lebih paham masalah ini). Menurut orang-orang penganut paham Rich Dad, saya adalah orang kuno. Keputusan saya menjadi pekerja kemudian menabung dan mengharap negara menghidupi saya di hari tua adalah keputusan keliru.

Alasan mereka ada perampok yang tidak bisa ditangkap oleh Polri atau KPK. Perampok itu adalah inflasi. Dengan mudah nilai uang yang saya kumpulkan berubah menjadi debu. Saya membaca buku Rich Dad Poor Dad dan Cashflow Quadrant yang menjelaskan masalah ini lengkap dengan hitung-hitungan saintifik. Sejujurnya saja, saya bingung dan tidak mengerti.

Saya hanya tahu keadaan dunia berubah dengan cepat. Kita tidak tahu apa yang sedang dirapatkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di istana negara. Saya tidak akan mampu mengetahui apa yang sedang dirundingkan Presiden Barrack Obama di situation room di White House Washington DC. Saya hanya tahu diri saya bisa tidur dengan nyenyak dan makan dengan lahap.

Untuk itulah, saya mengajak pembaca sekalian untuk memutuskan mengikuti filosofi lagu Gali Lobang Tutup Lobang. Rhoma Irama berargumen bahwa hutang itu membuat orang stress. Kalau stress dipastikan sakit. Pendapat ini senada dengan pendapat Dahlan Iskan, menteri BUMN.

Bagi Dahlan Iskan kita harus bekerja untuk uang, bukan uang bekerja untuk kita. Sederhana saja argumen ini. Jika uang bekerja untuk kita, lantas ekonomi nyata tidak jalan, dipastikan uang kita tinggal tulisan di kertas. Apa artinya uang satu milyar rupiah kalau tidak ada yang dibeli?

Jika pendapat Dahlan Iskan digabung dengan Rhoma Irama, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kita harus bekerja keras setiap saat. Kita harus membuang jauh impian punya mesin uang. Menggerakkan ekonomi nyata merupakan kunci untuk makmur.

Ekonom Adam Smith berkata bahwa sebuah negara akan maju jika negara itu dikuasai oleh invisible hand. Setelah saya baca buku Wealth of Nations yang saya dapat dari perpustakaan Guttenberg, kesimpulan saya Indonesia maju jika rakyaknya mau bekerja, bekerja dan bekerja.

Kesimpulannya, sudah saatnya kita mengikuti ideologi Dahlan Iskan dipadu dengan Rhoma Irama. Filosofi kedua tokoh itu sederhana: kerja keras, makan enak dan tidur nyenyak. Ekonomi ala Rich Dad Robert T Kiyosaki memusingkan pembaca awam seperti saya. Secara pribadi saya tidak mau menggantungkan nasib saya pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka dan atau Presiden Barrack Obama di situation room Washington DC.

Ada pendapat dari pembaca?

 

Catatan: Mohon artikel ini dikritisi oleh pembaca yang lebih mengerti.

2 comments to Antara Rich Dad dan Rhoma Irama

  • djoko rahardjo

    Yth. Mas Ferril, saya mencoba memahami tulisan Anda berdasarkan pengalaman hidup saya sebagai seorang PNS “papan bawah” yang awam terhadap makro ekonomi. Kebetulan, anak saya yang nomor 2, sedang menempuh program magister ekonomi di Universitas Negeri Rusia Selatan, di Provinsi Rostov, pernah bercerita bahwa sistem ekonomi yang terbaik menurut dia adalah “ekonomi syariah”.

    Hal tersebut terbukti ketika Nabi Muhammad saw. selama menjadi Kholifah, hanya “satu kali saja” terjadi kolaps. Hal itu disebabkan oleh bencana alam kekeringan yang terjadi di negara Arab dan sekitarnya. Barrack Obama pernah melaksanakan kebijakan ekonominya “mirip” dengan praktik ekonomi syariah.

    Kira-kira satu bulan setelah Obama dilantik menjadi presiden, beliau mengumumkan pada para debitor perumahan yang menunggak kredit perumahan diberi “modal penyertaan” bagi rumahnya. Harapannya bila yang bersangkutan menjual rumahnya dengan “mendapat untung” maka Pemerintah Amerika akan mendapatkan keuntungan dari bagi hasil. Sebaliknya, apabila debitur perumahan “merugi” maka pemerintah “hanya menerima” angsuran dari modal penyertaan. Apakah ini bukan “salah satu” ciri ekonomi Islam atau ekonomi syariah?

  • pendapat saya sederhana:
    “we eat to live”

    kita makan sebanyak energi yang kita butuhkan untuk bekerja dan kita bekerja semaksimal mungkin sepanjang tidak kekurangan makan untuk produksi energi tersebut…

    tambah bingung kan? xixixixixi

    ekowahyu.s FSUM

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.