Tentang Puisi Alay

Ferril Irham Muzaki

Mahasiswa Sastra UM

 

Saya menyadari setelah bergelut dengan sastra sekian lama. Ingatan saya berputar tahun 2007. Untuk pertama kalinya saya menulis puisi. Saya berusaha mengingat-ingat kepuasan batin saat pertama kali menyelesaikan puisi sepanjang tiga baris itu. Rasanya kalau boleh dianalogikan, seperti baru saja menyelesaikan skripsi sepanjang 75 halaman standar Universitas Negeri Malang.

Ingatan saya seolah kembali ke masa awal-awal saya kuliah di Fakultas Sastra di UM tahun 2008. Saya ingat betul bagaimana sulitnya menulis sebaris puisi. Seolah, teori dan ilmu sastra yang saya pelajari ternyata tidak cukup tajam untuk menuliskan rasa yang terpendam.

Sejak tahun 2008, muncul puisi alay atau lebay. Para penyair generasi ini adalah generasi digital. Hidup dalam kubangan digital sejak lahir.

 

 Menghakimi puisi model alay tidak boleh dengan perspektif puisi generasi Chairil Anwar tahun 45. Jangan pula menghakimi dengan perspektif puisi era Sapardi Djoko Darmono dan Sutardji Calzoum Bachri. Semangat yang diusung sudah berbeda jauh. Jaman tahun 45 belum ada Facebook dan Twitter. Era Sapardi dan Sutardji belum ada You Tube dan situs unggah dan unduh data secara bebas. Semangat zaman sudah berbeda.

 

Dalam artikel ini, izinkan saya membagi temuan saya selama 4 tahun tentang puisi alay atau lebay. Saya memetakan beberapa bentuk puisi berdasarkan aliran logika dalam larik-larik yang ditulis. Sebagian puisi ini adalah buatan teman-teman saya, baik di komunitas universitas, maupun di komunitas informal dan sebagian saya sadur dari lagu-lagu yang populer antara 2008 hingga 2012 saat artikel ini ditulis.

Kita langsung saja cek di TKP (Mirip opera Van Java)

 

  1. Bertentangan

 

 

 

Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, biarlah aku tetap dalam kesalahan ini.

 

Pertanyaan untuk penulis puisi ini: Salah kok diteruskan?

 

  1. Kait-mengait

 

Kau adalah kunci untuk membuka pintu hatiku yang telah lama tertutup

 

Pertanyaan: Kuncinya ngapain diberikan ke orang lain? Kok tidak dipegang sendiri?

 

  1. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab

 

Adakah orang yang mencintaiku setulus hatinya?

 

Pertanyaan: Emang ada? Di negeri antah berantah mungkin?

 

  1. Pengakuan akan fakta

 

Cuma akun Facebook yang aku punya.

 

Pertanyaan: Berarti akses akun Facebook gratis? Tidak perlu beli laptop, handphone 3G dan atau sewa internet?

 

  1. Pengingkaran akan fakta

 

Aku tidak percaya kau duduk di sampingku.

 

Pertanyaan: Berarti teman yang duduk di sampingmu makhluk berjenis siluman?

 

Karena keterbatasan, mungkin masih banyak fakta yang akan ditemui di masyarakat, pada khususnya generasi kubangan digital. Hargai mereka. Mereka adalah pemilik zaman ini.

 

Orang yang berkata bahwa generasi puisi alay adalah generasi putus asa adalah orang yang lebih alay dari para generasi alay. Karena orang itu menilai masa kini lebih suram dari masa lalu.

 

Keterangan: alay = Suka mengeluh

Komentar ditutup.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.