[selesai] BERKESEMPATAN KULIAH DI UM MELALUI JALUR PKBI

Bagi Peserta SMPDS yang tidak diterima di UM, Anda berkesempatan kuliah di UM melalui jalur vokasi di  PKBI. Keterangan lebih lanjut kunjungi Kantor PKBI, Gedung H8 atau web. http://www.pkbi.um.ac.id

CAMABA UM Jalur SMPDS TAHUN AKADEMIK 2012/2013

Download;

  1. SK Rektor UM Nomor 542TAHUN 2012 tentang Calon Mahasiswa Baru UM Jalur SMPDS Tahun Akademik 2012/2013
  2. Lamp. SK Rektor Nomor 542TAHUN 2012 (Daftar Calon Mahasiswa UM Jalur SMPDS Tahun Akademik 2012/2013)
  3. Pengumuman Registrasi Administrasi Calon Mahasiswa Baru UM Jalur SMPDS Tahun Akademik 2012/2013

BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH BAGIAN XIX

BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH

BAGIAN XIX

NAKAM TEMPE SENJEM

(Makan Tempe Menjes)

Oleh: Djoko Rahardjo*

Nakaman sing jenenge tempe sing diewag tekok dele wis  ewus dingenesi karo Genaro Ngalam. Ipat kadit Genaro Ngalam thok sing ngenesi, meh hebak genaro sing onok nok Indonesia. Saiki regane tempe laham soale regane dele mundak. Genaro licek sing idrekane kadit ajeg ngrasakno akibate, sing asaibe ukut sak emplek regane utas ubir male idad aud ubir.
Makanan yang bernama tempe yang dibuat dari kedelai sudah lama disenangi oleh orang/penduduk Kota Malang, Tetapi tidak hanya penduduk Kota Malang saja tetapi juga disenangi/disukai oleh hamper semua orang yang di Indonesia. Sekarang harga tempe mahal sebab harga kedelai naik. Orang kecil/rakyat kecil yang pekerjaannya tidak pasti merasakan akibatnya, yang biasanya membeli satu potong seharga seribu rupiah menjadi dua ribu rupiah.

Sakjane onok tempe sik regane kadit laham/harum jenenge tempe senjem. Tampe senjem iki wis ewus dingerteni karo Genaro Ngalam. Tempe senjem jenise onok aud. Tempe senjem sing diewak tekok kacang karo tempe senjem tekok campuran ampas uhat karo ampas oplok. Rasane yo odop kane. Mek asaibe nakam senjem opo kadit. Onok meneh tempe dele sing diruncapi karo setak enom. Rasane yo kane. Senjem sing ewag tekok ampas iki asaib dijenengno Tempe Levis. Soale warnane koyok analet Levis sing bulak.

Sebetulnya ada tempe yang harganya tidak mahal/murah namanya tempe menjes. Tempe menjes ini sudah lama diketahui oleh Penduduk Kota Malang. Tempe menjes ini jenisnya ada dua. Tempe menjes yang dibuat dari kacang dengan tempe menjes yang dibuat dari campuran ampas tahu dan ampas kelapa. Rasanya ya sama enaknya. Hanya terbiasa makan atau tidak. Ada lagi tempe kedelai yang dicampur dengan buah papaya muda. Rasanya ya enak. Menjes yang dibuat dari ampas ini biasa dinamakan tempe Levis. Sebab warnanya seperti celana Levis yang bulak.

Negorone ewed iki yo ayak! Yo rubus! Kok kadit osi nandur dele sing kanyab. Ahli-ahli pertanian kok ngenem’ae. Bareng genaro-genaro sing lawedan tempe ngerom-ngerom mergo kadit osi ukut dele sing regane harum, baru ewud rikipan ngrancang ngewag hawas dele sing ambane amil sutar hektar. Yo lucu ker! Kok osi tale!. Opo ahli-ahli pertanian karo ekonom-ekonom ewed, hebak  odop rudit ewus?

Negara kita ini ya kaya! Ya subur! Kok tidak bisa menanam kedelai yang banyak. Ahli-ahli pertanian kok diam saja. Ketika orang-orang yang berjualan tempe marah-marah karena tidak dapat membeli kedelai dengan harga yang murah, kemudian baru berfikir merancang membuat sawah  tanaman kedelai yang luasnya lima ratus hektar. Ya lucu teman! Kok bisa terlambat! Apakah ahli-ahli pertanian dan ekonom-ekonom kita , semuanya sedang tidur nyenyak?

Lek dirikip-rikip…, yo onok renebe opo sing diomongno karo Bung Karno, bangsane ewed ojok gampang singan lek nemoni ketewuran licek. Bangsane ewed ini bongso sing edeg. Yo reneb genarone Indonesia asaibe nakam tempe ipat Duduk Bongso Tempe. Bangsane ewed kudu bersatu lek ngadepi persoalan bongso. Ojok njagakno negaro liyo ngisaki ngatu. Semangat berdikari, ngadeg nok likise ewed. Termasuk ngewag tempe ojok mek njagakno impor dele tekok Amerika.

Bila dipikir-dipikir…, ya ada benarnya apa yang disampaikan oleh Bung Karno, bangsa kita jangan mudah menangis (jangan lemah) bila menghadapi keruwetan kecil. Ya betul orang/masyarakat  Indonesia biasanya makan tempe tetapi Bukan Bangsa Tempe. Bangsa kita harus bersatu bila menghadapi persoalan bangsa. Jangan hanya mengharapkan negara lain member hutang/pinjaman. Semangat berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Termasuk membuat tempe, jangan hanya mengharapkan impor kedele dari Amerika.

 Malang,  27 Juli 2012

*) Staf Subbag Sarana Akademik BAKPIK UM

CAMABA PROGRAM SARJANA (S1) PGPAUD UM YANG DINYATAKAN DITERIMA MELALUI JALUR KERJASAMA DENGAN DINAS PENDIDIKAN KOTA MALANG TAHUN AKADEMIK 2012/2013

download SK Rektor UM tentang Calon Mahasiswa Baru Program Sarjana(S1) Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini(PGPAUD) Universitas Negeri Malang Yang Dinyatakan Diterima Melalui Jalur Kerjasama Dengan Dinas Pendidikan Kota Malang Tahun Akademik 2012/2013


[SELESAI] KITA BUKAN BANGSA TEMPE

KITA BUKAN BANGSA TEMPE

Oleh: Djoko Rahardjo*

Urusan Tempe Risaukan Istana, demikian tajuk utama di Harian Surya yang terbit hari Rabu, 25 Juli 2012. Mungkin orang asing yang belum faham dengan urusan “pertempean” di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa akan terheran-heran, setelah membaca berita ini. Apakah tempe itu senjata yang ampuh sehingga dapat merisaukan pemerintah? Apakah peristiwa yang terjadi saat ini masih ada hubungannya dengan masa lalu bangsa kita?

Lebih lanjut Harian Surya mewartakan: Persoalan kenaikan harga kedelai yang berimbas pada mahalnya tempe dan tahu akhirnya sampai ke istana presiden. Ancaman para perajin  tempe Jakarta untuk mogok selama tiga hari ke depan sudah didengar oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono….Kenaikan harga kedelai ini dipicu oleh kekeringan di Midwest AS, Akibat kekeringan terparah selama 50 tahun,,,,Padahal Indonesia  mengimpor sebagian besar kebutuhan kedelainya dari AS.

Saking hebatnya  tempe ini—pada tahun 1963—Presiden  RI yang pertama, Soekarno—pernah memakainya sebagai senjata pamungkas.  Kompasiana, 16 Mei 2011, pukul 10.28 wib.,  mengutip Pidato Bung Karno: Kita Bukan Bangsa Tempe, dan Lebih Baik Makan Gaplek (di unduh tgl 25-7-2012 pukul 14.50 wib.).

Bila kedua peristiwa tersebut kita cermati, ternyata masih ada hubungannya walaupun pada konteks yang berbeda. Pada masa yang lalu—kita bukan bangsa tempe—adalah  suatu ungkapan ketidaksukaan Bung Karno terhadap campur tangan asing—yang mengaitkan setiap bantuan/pinjaman dengan kemauan negara pendonor—termasuk Amerika Serikat. Pada masa kini—secara faktual—bahwa urusan tempe—kita tidak dapat menghindar impor kedelai dari Amerika Serikat.

Kepanikan  para pengrajin tempe akan kenaikan harga kedelai dapat difahami. Dalam hal ini, pengrajin tempe atau produser tidak lagi menerima keuntungan yang layak atas jerih payahnya. Sementara itu, pembeli atau konsumen masih dapat memilih lauk pauk yang lain. Hubungan antara produsen dan konsumen sudah tak lagi mesra. Untuk pindah profesi dari pengrajin tempe  ke profesi lain tidaklah mudah. Harapan para pengrajin tempe kepada pemerintah adalah memperoleh harga kedelai yang sesuai dengan daya beli konsumen.

Pemerintah ke depan, akan mencetak 500 hektar  lahan pertanian kedelai (Metro TV, Rabu 25 Juli 2012). Memang tidak serta merta urusan kedelai ini dapat segera diselesaikan. Tentu masih perlu proses. Kita pernah memproklamirkan diri sebagai negara penghasil tanaman padi yang dapat memenuhi kebutuhan sendiri (swasembada) bahkan pernah mengekpornya. Tetapi untuk menjaga stabilitas pangan, khususnya beras maka impor beras tak dapat dihindari. Kemungkinan hal ini juga akan terjadi pada kedelai.

Pengalaman kita sebagai bangsa yang sudah merdeka selama 67 tahun, pernah merasakan pedasnya harga lombok  yang mencapai Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah) per-kilogram. Walaupun lombok atau cabe tidak termasuk sembilan bahan pokok tetapi sempat memicu angka inflasi. Akankah kenaikan harga kedelai ini memicu angka inflasi?

Ada hal yang menarik dari produk olahan kedelai yang bernama tempe. Bung Karno melukiskan “ketidakberdayaan ekonomi bangsa” dengan ungkapan “Kita Bukan Bangsa Tempe”. Meskipun sebagian rakyat Indonesia penyuka makanan tempe. Entahlah mengapa beliau menggunakan ungkapan tersebut. Menurut pendapat penulis, Bung Karno mendidik kita agar tidak menjadi “bangsa yang cengeng”, yang mudah mengeluh terhadap persoalan yang sepele. Kita didik oleh beliau agar menjadi bangsa yang besar, yang mampu menyelesaikan masalah bangsa dengan semangat persatuan dan kesatuan.

Malang, 26 Juli 2012

*) Djoko Rahardjo, Staf Subbag Sarana Akademik BAKPIK UM

 

 

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.