JANGAN ADA DUSTA DALAM SURVEY: Mengapa Jokowi – Ahok Mengalahkan Hasil Survey?

Pagi ini (Kamis 12 Juli 2012) saya membaca berita salah satu media massa ternama di Jawa Timur dan Indonesia. Isi beritanya mengenai kemampuan Jokowi-Ahok dalam membalik hasil survei dari lembaga-lembaga survei yang konon memiliki reputasi jempolan dalam menebak hasil pemilu kepala daerah sebelum hari pemilihan Gubernur dalam PEMILUKADA (pemilihan kepala daerah) DKI Jakarta.

Hasil pemilukada mengingatkan saya pada penjelasan tiga orang dosen senior saya (Prof. Ali Saukah M.A., Ph.D, Prof. Adnan Latief M.A., Ph.D dan Dr. Yazid Busthomi , M.A) tentang  masalah mendasar kebenaran ilmiah produk  survei yang memerlukan validasi dari peneliti berikutnya yang jujur. Berikut ini saya rangkum dalam beberapa poin penting.

    • Prof. Ali Saukah dalam matakuliah Statistika Penelitian menjelaskan bahwa tempat pengambilan sampel memegang peranan penting dalam penentuan hasil sebuah survei. Contohnya, daerah A merupakan basis pendukung calon X. Daerah B merupakan basis pendukung calon Y. Jika survey dilakukan di daerah A dengan pertanyaan siapa yang didukung calon X atau Y, maka jawaban yang muncul adalah calon X karena letak survey dilakukan di daerah A yang notabene markas pendukung calon X. Tentu saja para pembaca sudah bisa menebak hasilnya jika dilakukan di daerah B.
    • Prof. Adnan Latief dalam matakuliah Penyusunan Proposal Skripsi menjelaskan pentingnya validasi pertanyaan yang akan ditanyakan sebelum melakukan survey. Ilustrasinya pertanyaan

1) Anda mendukung calon A atau B?

2) Anda tahu kelemahan masing-masing calon?

3) Anda sadar pilihan anda menentukan masa depan kota anda?

Ketiga pertanyaan di atas “seolah-seolah”  bagus. Namun ada satu kelemahan mendasar dari keseluruhan pertanyaan di atas, yakni  sudahkah peneliti yakin semua orang mampu menjawab sejujurnya? Sederhananya pertanyaan di atas membuka peluang untuk mengawur jawaban. Hasil jawaban ngawur dari pertanyaan di atas bila dijadikan patokan tentu hasilnya amat galau alias menyedihkan.

      • Dr. Yazid Busthomi M.A dalam diskusi dengan penulis kemarin sore di kantin Pak Japan (FS-UM) menjelaskan Narrative Research dalam survey. Sederhananya peneliti dan lembaga survey melakukan pendiktean jawaban kepada responden atau subjek penelitian

Contoh:

1) Apakah saudara mengenal calon A? (Ya)

2) Apakah saudara tahu kesalahan calon A selama memimpin daerah X? (Setiap orang punya kelemahan dan manusia memiliki kesalahan)

3) Saudara masih ingin nasib saudara sama karena kesalahan yang dilakukan oleh calon A? (tentu tidak ingin)

4) Apakah saudara mengenal calon B? (tidak)

5) Apakah saudara tahu keunggulan calon B selama memimpin daerah Y? (belum tahu)

6) Apakah saudara pernah mendengar kemakmuran daerah Y selama dipimpin calon B? (belum)

Pertanyaan dari peneliti kepada responden terkesan tidak berimbang. Singkat kata, mengapa calon A diasosiasikan dengan kesalahan sedangkan calon B diasosiasikan dengan kemakmuran? Adakah agenda tersembunyi dari pertanyaan di atas? Pembaca sudah tahu jawabannya.

Sederhananya, seharusnya para lembaga survey mengedepankan prinsip Broery sebelum menanggung malu: Jangan Ada Dusta di Antara Kita.

 

Ferril Irham Muzaki

Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang

Sedang menempuh Pasca-Sarjana UM untuk program studi S2. Pendidikan Dasar

Komentar ditutup.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.