MABA BIDIK MISI JALUR UTUL SNMPTN YANG LOLOS VERIFIKASI SEBAGAI PENERIMA BEASISWA BIDIK MISI UM TAHUN AKADEMIK 2012/2013

Download pengumuman hasil verifikasi selengkapnya;

  1. Calon Mahasiswa Baru Jalur Ujian Tulis SNMPTN 2012 yang dinyatakan lolos verifikasi sebagai penerima beasiswa Bidik Misi (Sumber Dana APBN) UM Tahun Akademik 2012/2013 ;
  2. Calon Mahasiswa Baru Jalur Ujian Tulis SNMPTN 2012 yang dinyatakan lolos verifikasi sebagai penerima beasiswa Bidik Misi (Sumber Dana APBNP) UM Tahun Akademik 2012/2013;

HASIL SELEKSI PENERIMAAN MABA JALUR SPAJ

download SK REKTOR UNIVERSITAS NEGERI MALANG tentang Calon Mahasiswa Baru Program Sarjana(S1) Jalur Seleksi Program Alih Jenjang (SPAJ) Universitas Negeri Malang Semester Gasal 2012/2013

[selesai] PELATIHAN PENULISAN ARTIKEL ILMIAH TAHUN 2012

Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi dalam tahun 2012 akan menyelenggarakan Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah, semula pendaftaran ditutup tanggal 30 Maret 2012 2012 pk.16.00 WIB, tetapi berdasarkan email dari Kaseksi Publikasi Ditlitabmas DIKTI masih memungkinkan adanya penambahan jumlah peserta.
Untuk itu bagi para dosen UM dan dosen perguruan tinggi se Malang Raya  yang sudah memiliki artikel ilmiah (hasil penulisan tesis,disertasi, atau penelitian lainnya baik sendiri maupun kelompok) yang sudah siap diajukan untuk diterbitkan pada jurnal terakreditasi segera mengirimkan berkas-berkas kelengkapan berupa surat pernyataan dan biodata (format dapat diperoleh di Subag Sistem Informasi UM , gedung A2 lantai 2), data isian (soft copy) menggunakan compact disk dengan format yang dapat diunduh dari website http://dikti.go.id.
Seluruh berkas usulan diketik menggunakan kertas ukuran A4 (21×29,7 cm) dan dijilid dengan sampil warna biru.
Peserta belum pernah mengikuti kegiatan sejenis dari Ditjen Dikti dan bukan Profesor.
Naskah telah disiapkan sesuai dengan petunjuk penulisan artikel (gaya selingkung) berkala terakreditasi yang dituju, dan menuliskan nama berkala yang dituju serta melampirkan petunjuk bagi penulis/guide for authors.
Usulan dikirimkan ke Subag Sistem Informasi, BAAKPSI UM, gedung A2 lantai 2, paling lambat tanggal 26 Juli 2012, hari Kamis, pukul 15.00 WIB untuk kami proses lebih lanjut.

KARENA DAN UNTUK YANG TERCINTA

Pada setiap amal ibadah, tiga unsur memegang peran penting, yakni niat, prosedur, dan substansinya. Niat harus benar, prosedur harus benar, dan substansi/zatnya harus halal.
Tiga ilustrasi sederhana berikut dapat digunakan untuk menjelasan hal tersebut. Pertama, seseorang berhaji untuk memenuhi rukun Islam (niat benar), dengan berdagang (prosedur perolehan harta benar), yang diperdagangkan babi (substansi/zatnya haram), berarti ibadah hajinya tidak benar. Kedua, seseorang bersedekah untuk meringankan beban tetangganya yang kesulitan hidup (niat benar), yang disedekahkan uang (substansi/zatnya halal), uang itu diperoleh dari korupsi (prosedur perolehan haram), berarti ibadah sedekahnya tidak benar. Ketiga, saudagar peternakan sapi kaya raya (prosedur usaha benar, substansi/zat yang diupayakan halal) berzakat supaya dikenal sebagai orang dermawan (niat salah), berarti ibadah zakatnya tidak benar.
Dalam konteks ibadah puasa Ramadlan, niat berperan dalam menentukan tingkatan puasa kita.
Pertama, puasa Ramadlan merupakan upaya untuk memenuhi syariat Islam, yakni menjalankan salah satu rukun Islam.  Puasa Ramadlan sebagai upaya menggugurkan kewajiban sebagai seorang muslim. Puasa Ramadlan dimaknai sebagai amalan menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak “melakukan hubungan suami-isteri” dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Pada tahapan ini, niat dan amalan ibadah puasa telah memenuhi syarat sah puasa.
Kedua, di samping terpenuhi syar’i puasa, seseorang berpuasa Ramadlan dengan meningkatkan upaya dan amalan utama (misalnya, tetap kerja dengan keras, tetap banyak membaca dan terus menulis tentang ayat manziliyah dan atau kauniyah) dan menghindari atau menjauhi amalan yang mengurangi bahkan menghilangkan keutamaan ibadah puasa (misalnya, berkata kotor, menggunjing). Meskipun menggunjing dan berbohong tidak membatalkan puasa secara syar’i, seseorang itu menghindarinya. Puasa orang tersebut mendapatkan fadlilah ‘keutamaan’ puasa.
Ketiga, secara hakiki, yang mengetahui bahwa seseorang itu puasa atau tidak hanyalah dirinya dan Allah. Seseorang dapat menampilkan secara lahiriyah puasa, padahal sejatinya baru saja makan atau minum, misalnya, yang membatalkan puasa. Saya teringat di masa kecil saya, saat saya berlatih puasa. Saat itu, saya kelas 2 sekolah dasar. Pulang sekolah, saya harus mencari rumput dan menggembala sapi di “padang”  di kaki Gunung Wilis. Saat itu, luar biasa panasnya. Untuk salat dhuhur, saya berwudlu di pancuran bambu belah untuk mengalirkan air dari sela-sela batu, saya pun minum. Segar sekali. Meskipun tidak ada yang tahu, tenyata ada penyesalan: (1) ah ternyata rasanya setelah minum hanya begini, mengapa tidak saya tahan; dan (2) ah saya mampu membohongi Bulik dan Nenek saya, tetapi saya tidak bisa membohongi diri saya. Allah ada. Allah mengawasi kita. Allah bersama kita. Puasa sebagai pengokoh iman.
Keempat, di siang bolong, penyair sufi Rabi’ah Al-‘Adawiyah berlari-lari dengan membawa ember berisi air di tangan kanan dan obor di tangan kirinya. Dia katakan kepada orang yang bertanya alasan melakuan itu “… akan aku padamkan api neraka dengan air di ember ini dan akan aku bakar surga dengan obor ini … karena manusia beribadah hanya menginginkan surga dan takut masuk neraka … manusia beribadah bukan karena dan untuk Allah semata …” Substansinya, Allah-lah yang TERCINTA. Oleh karena itu, segala amal ibadah kita, termasuk puasa Ramadlan, hanya KARENA DAN UNTUK YANG TERCINTA—ALLAH Yang Maha Mulia, ALLAH Yang Maha Suci.
 
Malang, 24 Juli 2012
Dawud
FS UM

NUKILAN SURGA

Di penghujung Surat Al-Baqarah ayat 185 yang mengakhiri penjelasan tentang puasa dinyatakan “…  Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
As-shiyam (puasa) Ramadlan merupakan salah satu bentuk bersyukur. Dalam konteks umat Islam yang hidup di Malang Raya, khususnya, dan di Indonesia pada umumnya, bentuk syukur itu dapat kita hayati, setidaknya, dari tiga kekhasan berikut.
Pertama, kita dikaruniai oleh Allah untuk dapat berjumpa lagi dengan Ramadlan. Do’a yang kita mintakan kepada Allah “… waballighna ramadlana”  ‘dan jumpakanlah kami dengan Ramadlan’ telah dikabulkan oleh Allah. Mari kita lihat di sekeliling kita: Ramadalan tahun lalu, sebagian dari kita masih ditunggui ayah-ibu kandung dan atau ayah-ibu mertua, suami atau istri, atau sahabat akrab yang kita hormati—teman sekampung, teman sekantor. Akan tetapi, saat ini, salah seorang dari Beliau, sudah mengahadap-Nya, tidak bisa lagi berpuasa Ramadlan dengan kita, tidak bisa lagi minum “kolak” untuk ta’jil buka puasa bersama kita, tidak bisa lagi membangunkan “ayo tahajjud Pa/Ma/Nak”, atau tidak bisa lagi “membisikkan” kata … sahur … sahur … sahur ….
Kedua, kita dikarunia oleh Allah negeri “nukilan surga.” Sebagian besar gambaran fisik tentang surga ada di negeri kita “… yang mengalir di bawahnya sungai … tumbuhlah aneka tumbuhan dengan buah-buahan … ada taman dengan aneka bunga yang indah-indah.” Negara kita hanya mengenal dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan dengan suhu udara yang sedang-sedang: tidak terlalu ekstrim panasnya (bandingkan dengan di Makkah yang bisa mencapai 45 derjat Celcius) atau telalu dingin (bandingkan dengan Selandia Baru yang bisa mencapai minus derajat Celcius).
Ketiga, kita dikarunia masyarakat yang majemuk yang menghormati perbedaan. Dalam konteks penentuan awal Ramadlan kemarin, misalnya, sejak awal, dengan metode hisab, Muhammadiah sudah menetapkan bahwa Ramadlan jatuh pada Jumat, 20 Juli 2012. Dengan perhitungannya, pada tanggal 19 Juli 2012, hilal sudah wujud walaupun mungkin belum maujud, yakni belum dapat dilihat. Sementara itu, Nahdlatul Ulama melakukan rukyah bil fi’li  ‘melhat hilal secara langsung’ baru bisa menetapkan awal Ramadlan. Dalam sidang isbat Kementerian Agama tanggal 19 Juli 2012, Menteri Agama menetapkan 1 Ramadlan 1433 H jatuh pada hari Sabtu, 21 Juli 2012 karena hilal belum dapat dilihat di tempat ru’yat seluruh Indonesia pada tanggal 19 Juli 2012 . Oleh karena itu, bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.
Dalam sidang isbat itu, Menteri agama memberi kesempatan kepada organisasi massa (ormas) Islam untuk menyampaikan pandangan. Sebagian besar ormas yang hadir mengikuti ketetapan Pemerintah. Dua ormas yang menetapkan 20 Juli 2012 sebagai awal Ramadlan dengan perhitungan dan alasan yang lain.
Yang patut kita syukuri, sebagian besar pemimpin ormas Islam menyampaikan pandangannya dengan menghormati pandangan yang lainnya, tidak ada pemaksaan. Demikian juga masyarakat muslim di Indonesia: yang mulai puasa tanggal 21 Juli 2012 menghormati yang mulai puasa 20 Juli 2012, demikian juga sebaliknya. Tentu saja harus konsisten atas pilihannya, tidak bisa misalnya, awal puasa ikut yang Sabtu, sedangkan saat mengakhir puasa ikut yang Jumat. Kalau ini yang dipilih, ada kemungkinan puasanya hanya 28 hari, andaikan permulaan puasa hari Jumat, ternyata bulan Ramadlan itu hanya 29 hari.
Secercah harapan muncul saat sidang isbat itu, yakni keinginan kuat agar awal Ramadlan dan awal Syawal bisa bersama-sama. Ada peserta yang mengusulkan perlunya kriteria yang sama penetuan awal bulan dengan menggabungkan hisab dan rukyat, yakni kriteria hisab imkan rukyah ‘berbasis hisab, tetapi yang mungkin dapat dirukyah’. Ada juga yang menyampaikan betapa tidak praktisnya penentuan awal Ramadlan dan awal Syawal di Indonesia, terutama untuk saudara-saudara kita yang di Indonesia Timur. Karena saat ketetapan sudah sekitar pukul 19.30 WIB, berarti di Indonesia Timur sudah pukul 21.30 WIT,  sudah sangat malam.
Dalam pikiran saya, tidak bisakah kita menetukan tanggal 1 bulan berikutnya dengan sangat akurat dengan menghitung dan “melihat” bulan pada siang hari tanggal 29-nya? Toh, dalam konsideran baik yang hisab maupun rukyah selalu menggunakan “usia” bulan hari itu. Tentu saja, dengan catatan ada kriteria yang sama tentang sudah terbit hilal atau belum terbitnya hilal. Kalau kriterianya belum sepakat, ya, memang tidak akan pernah bertemu.
Akan tetapi, apa pun pilihan para pemimpin ormas itu, yang paling kita syukuri adalah umatnya sangat menghormati pilihan masing-masing.
Selamat menjalan ibadah Ramadlan 1433 Hijriyah.
 
Malang, 23 Juli 2012
Dawud
FS UM

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.