KERINDUAN

KERINDUAN

Oleh: Djoko Rahardjo*

Bila rasa rindu sudah sampai di dasar lubuk hati. Bila rasa rindu sudah melampui batas demensi ruang dan waktu. Bila rasa rindu menggelora di dalam dada dan tak terbendung lagi. Apa yang akan terjadi? Pernakah Anda merasakannya? Ada beberapa “kisah nyata” yang hendak penulis paparkan di bawah ini.
Hiruk pikuk peserta festival drama di Lab Drama, Gedung E6  FS UM yang sedang mempersiapkan diri, mulai terasa. Pagi itu, Sabtu 22 Oktober 2011, sekitar pukul 08.30 wib., ada beberapa Siswa SLTA yang ada di Kota Malang dan sekitarnya,  sedang berlatih drama di halaman samping gedung FS. Secara kebetulan–pagi itu bersamaan dengan pelaksanaan Tes Kemampuan Bahasa Inggris (TKBI) bagi Mahasiswa UM Angkatan 2011—dilaksanakan di Aula FS—yang terletak persis di depan lab drama.

“Pak! Ada orangtua yang ingin bertemu dengan pejabat FS!” Kata panitia festival drama.

“Dimana beliau sekarang?”

“Di sebelah barat gedung!”

Kutimggalkan meja tempat presensi peserta TKBI yang berada di bawah tangga lab. drama. Kuhampiri kakek tua yang berbaju putih, bercelana krem, dan  bertopi laken putih. Kugandeng tangannya, sambil berjalan tertatih-tatih, beliau bertanya: “Siapa yang menjadi Ketua Jurusan Sastra Indonesia?”

“Prof. Dr. Maryeni, M.Pd”, jawabku.

“Apakah saya dapat menjumpainya?”

“Maaf Pak! Kita tidak dapat menjumpainya sekarang karena hari Sabtu perkuliahan libur”.

Langkah kami terhenti di depan meja panitia festival. Kuperkenalkan beliau kepada beberapa mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia.

“Adik-adik…, beliau adalah Prof. M.A. Icksan, Mantan Dekan Fakultas Sastra dan Mantan Rektor IKIP Malang. Perlu Anda ketahui…, hampir semua  Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia FS UM yang ada sekarang ini, pernah menjadi mahasiswanya. Termasuk Kajur Sastra Indonesia, Dekan FS, Pembantu Rektor II dan Rektor UM”.

Setelah bercerita cukup lama, beliau berpamitan kepada kami. Seperti saat kedatangannya, ketika pulangpun kuantar sampai di tempat parkir. Ada beberapa orang petugas parkir FS yang sedang berjaga. Salah satu diantara mereka, kuminta kesediaannya untuk mengantar beliau sampai ke rumahnya.

Apakah hanya Prof. M.A. Icksan saja yang merindukan pertemuan dengan koleganya? Tidak! Masih ada beberapa Pensiunan Dosen dan Karyawan IKIP Malang atau UM yang memiliki perasaan rindu kepada tempat mereka “mengabdi” beserta sahabat dan teman sejawat. Berikut ini ada 2 (dua) orang sahabat penulis yang memiliki perasaan tidak jauh berbeda dengan Prof. M.A. Icksan.

Di suatu pagi—setelah sholat Subuh–pada beberapa bulan yang lalu—penulis menerima SMS dari seorang teman—yang telah pensiun dua tahun yang lalu. Isi dari SMS tersebut cukup pendek: “Yok opo kabare konco-konco nok kantor? Sak iki opo yo sik pancet sibuk?” (Bagaimana kabarnya teman-teman di kantor? Sekarang ini apa masih tetap sibuk?). Penulis mengira SMS ini hanya ditujukan kepada penulis pribadi. Ternyata tidak! Setibanya di Kantor Subbag Sarana Pendidikan UM, penulis memberitahaukan kepada kawan-kawan: “Saya tadi pagi menerima SMS dari Pak Asma’un”.

“Sama!” Jawab kawan-kawan di kantor, hampir serentak.

“Ada apa ya, Pak Asma’un kok meng-SMS kita? Mudah-mudahan beliau tidak ada apa-apa!“ Komentar penulis.

Kira-kira sekitar pukul 14.00 wib., beberapa teman pergi ke rumah Bapak Asma’un, S.Pd, di Desa Klandungan, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Beberapa menit kemudian, rombongan sudah sampai di rumah beliau. Apa yang terjadi?

“Gak onok opo-opo, aku mek kangen Kantor Sardik karo kepingin ketemu konco-konco kabeh! (Tidak ada apa-apa, saya hanya rindu melihat Kantor Sardik dan kepingin bertemu dengan kawan-kawan)”.

Rupanya rasa rindu “semacam ini” juga dirasakan oleh Bapak Wahyudi Sudibyo, B.A.–mantan PNS UM—tempat  tugas terakhir di Laboratoium Geografi—yang pensiun dua tahun yang lalu.

Hari Sabtu, 4 Agustus 2012, sekitar pukul 16.50 wib. Penulis bertamu ke rumah beliau di Tlogamas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Sore itu, suasana rumah terasa hangat. Sebab, semua anggota keluarga ada di rumah: Isteri, kedua anaknya, kedua menantunya dan ketiga cucunya menyambut penulis dengan ramah dan hangat. Penuh kekeluargaan. Maklum…, sebagai sahabat, kami bertemu terakhir setahun yang lalu. Ketika itu, beliau sedang mempunyai hajat menikahkan putrinya yang nomor dua.

“Assalamu’aalaikum!” Sambil menjabat erat tangannya, kutanyakan padanya: “Bagaimana kabar Pak Wahyudi dan seluruh keluarga? Sehat-sehat semua?”

“Alhamdulillah, saya dan seluruh keluarga sehat-sehat. Bagaimana dengan Pak Djoko dan keluarga di rumah? Sehat-sehat?” Begitu tegur sapa yang hangat darinya.

Sambil menuntun cucunya yang nomor dua, dia berkata: “Sebetulnya…, saya kepingin berkunjung ke kantor dan bertemu dengan kawan-kawan tetapi saya sungkan”.

Kami bertiga berbincang-bincang tentang kenangan masa lalu. Secara bergantian…, Nyonya Wahyudi (Mbak Tutuk, Pensiunan PNS UM, tempat tugas terakhir di Kantor Lembaga Penelitian UM) menanyakan tentang kemajuan yang telah dicapai UM. Kurang lebih 15 menit kami berbicara, tiba-tiba HP penulis berbunyi, ada telepon dari Isteriku: “Pak…, sebentar lagi kita berbuka puasa! Apakah Bapak sudah membeli lauk-pauk?” Jawabku singkat: “Sudah!”

Pembicaraan kami berhenti sampai disitu. Penulis berpamitan. Sambil menjabat erat tangan Pak Wahyudi, sahabatku, kukatakan kepadanya: “Insyaallah…, cerita ini akan kutulis di website UM!” Dalam perjalanan pulang …, penulis mencoba memahami beberapa komentar Pak Wahyudi dan Bu Tutuk, yang antara lain menyiratkan seolah-olah keberadaan Para Pensiunan Dosen dan Karyawan UM seperti pepatah “Habis manis sepah dibuang”. Mudah-mudahan hal tersebut tidak terjadi.

Sesampainya di laut…, kuceritakan semuanya…, kepada ombak—kepada karang—kepada matahari. Waduh…! Keliru,,,, Itukan syair lagu BERITA KEPADA KAWAN, yang dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade.

Nah…, yang betul…, hal ini kuceritakan kepada Isteriku di rumah. Sesampainya di meja makan kubuka lauk-pauk, kugandengkan dengan nasi hangat—kumakan bersama Istri dan Cucuku. Sambil menikmati hidangan berbuka puasa, kuceritakan semuanya, dan kusampaikan “pendapatku” seperti berikut.

“Bu…, salakah bila seseorang memiliki kerinduan dan ingin bertemu? Memang…, Broery Pesolima almarhum dengan Dewi Yul pernah berduet menyayikan lagu RINDU YANG TERLARANG, syairnya seperti ini: Kupuisikan…rindu dihatiku. Kuharap tiada seorangpun tahu….”

“Tetapi lebih tepat kerinduan mereka dilukiskan  seperti syair lagu yang dinyanyikan oleh Delly, vokalis Band The Rollies dari Kota Bandung yang terkenal di era tahun 70-an. Syairnya kurang lebih seperti ini: Adakah kerinduan dihatimu…, seperti yang kurasa….”

Kok jadi melangkolis, ya? Wah…, jangan-jangan Bapak dan Ibu Dosen serta Karyawan UM akan merasakan hal seperti itu, ketika pensiun nanti. Sebelum hal itu terjadi pada PNS UM, bagaimana bila penulis menawarkan OBAT ANTI RINDU? Ada-ada saja…. Seperti apa? Penasaran, kan? Hehehe…, ikutilah episode berikutnya!

Komentar ditutup.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.