NIKMAT YANG TERABAIKAN

Nikmatnya Oksigen Gratis
Oksigen (O2) atau zat asam sangat diperlukan  makhluk hidup.  O2 adalah unsur kimia yang tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa, tidak terbakar tapi dapat membantu pembakaran (Oksidator).  Manusia membutuhkan asupan oksigen secara terus-menerus untuk proses respirasi sel, dan membuang kelebihan karbondioksida sebagai limbah beracun produk dari proses tersebut. Respirasi adalah pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Dari bahasa Latin re-(lagi) + spirare (bernapas) = bernapas lagi.  Pertukaran gas antara oksigen dengan karbondioksida dilakukan agar proses respirasi sel terus berlangsung.
O2 dihasilkan dari air menggunakan cyanobacteria, ganggang, dan tanaman saat melakukan fotosintesa. Oksigen yang dibutuhkan untuk proses respirasi sel ini sekitar 20,9% berasal dari atmosfer.    Oksigen terdapat bebas di udara dan dihirup untuk diperlukan tubuh untuk menghasilkan energi yang diperlukan dalam menjalankan aktifitas kehidupan.
Menurut beberapa literatur mengatakan, pada kondisi biasa (tidak melakukan aktivitas apa-apa seperti kerja berat ataupun olahraga), kebutuhan rata-rata manusia untuk oksigen sebanyak 375 liter per hari, untuk mudahnya anggap saja sama dengan 375 kg.  Oksigen untuk tubuh ini diperoleh melalui proses pernapasan, sekali bernapas, paru-paru bisa menampung sekitar 500 ml udara.
Untuk pemakaian oksigen di rumah pertamakali harus membeli dengan tabungnya, minimal memakai tabung ukuran kecil (0,5 m3).  Harga tabung oksigen ukuran 0,5 m3 + Regulator + Selang + Masker adalah +Rp. 1.150.000,-.  Tabung ukuran 1/2 m3 berisi 5 kg oksigen, harga isi ulang tabung oksigen Ukuran 0,5 M3 adalah +Rp 20.000,-.
Jika kebutuhan manusia akan oksigen per hari adalah 375 kg, kalau dicharge sesuai dengan perhitungan tersebut, maka kebutuhan yang harus kita bayar minimal perhari adalah 375/5 = 75 tabung @ Rp 20.000,- = Rp. 1.500.000,- (ini hanya untuk oksigen saja, belum yg lain).
Jika dihitung, oksigen yang akan kita bayar selama setahun adalah 365 x Rp. 1.500.000,- kira-kira +Rp. 547.500.000,- per tahun.  Seandainya anggap saja kita sudah hidup selama 30 th maka yang harus kita bayarkan seharusnya senilai Rp. 16.425.000.000,-

No.

Kebutuhan

Harga

Keterangan

 1. Tabung lengkap (awal) Rp. 1.150.000,- Tabung ukuran 1/2 m3 + Regulator + Selang + Masker

 2.

Pemakaian sehari Rp. 1.500.000,-per hari isi ulang oksigen 5 Kg untuk pemakaian sehari = 375/5 x Rp 20.000,-

 3.

Pemakaian per bulan Rp. 45.000.000,- 30 x Rp. 1.500.000,-

 4.

Pemakaian setahun Rp. 547.500.000,-  per tahun 365 x Rp. 1.500.000,-

 5.

Pemakaian 30 tahun Rp. 16.425.000.000,- 30 x Rp. 547.500.000,-
 6. Usia anda sekarang Rp. … … x Rp. 1.500.000,- (Silahkan hitung sendiri)
Jika kita harus bekerja mencari uang, berapa gaji yang kita butuhkan selama sebulan untuk membayar oksigen? Rp. 45 juta.  Saya yakin kita tidak akan mampu untuk membayarnya.  Persoalannya adalah ketersediaan oksigen gratis ini sering disia siakan dan tidak diperhitungkan oleh manusia, sadarkah kita?  Seandainya Alloh Subhanahuwata’ala mau berhitung dagang dengan manusia, keluarga kaya mana yang akan sanggup melunasi biaya nafas hidupnya ?
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Hitungan tersebut di atas itu baru untuk harga oksigen saja, belum lagi nikmatnya mata bisa melihat, nikmatnya telinga bisa mendengar, nikmatnya mulut bisa berbicara, nikmatnya lidah bisa merasakan makanan/minuman, nikmatnya tenggorokan bisa menelan, nikmatnya gigi bisa mengunyah, dan seterusnya yang tidak akan ada habisnya, dan kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya.
Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban ?  (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? ).  Kalimat ini di dalam Al-Qur’an disebutkan berulang-ulang sampai dengan 31 kali di surat ke 55 (Surah Ar-Rahman).   Ayat yang menjelaskan nikmat Allah yang Allah berikan kepada manusia terletak di akhir setiap ayat.  Ini menunjukkan bahwa manusia itu sering lupa dan mengingkari nikmat-nikmat yang telah Allah subhanahuwata’ala berikan, Allah telah memberikan nikmat yang banyak kepada kita.  
Allah SWT berfirman:

“dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Qs. 14:34)

“dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs 16:18)

Memenuhi Seruan Panggilan.
Jika kita mau memikirkan secara mendalam, kita tidak akan dapat membayangkan betapa banyaknya karunia Allah kepada manusia. Karunia Allah subhanahuwata’ala kepada semua orang baik kaya maupun kepada fakir miskin. Allah subhanahuwata’ala telah memberi kesehatan tubuh kita dan udara bebas untuk bernapas.  Namun manakala saat adzan berkumandang, “Hayya ‘alas-sholaah…marilah Sholat… seruan panggilan dari masjid untuk datang menghadap, seringkali manusia tidak menghiraukan.  Hayya ‘alal-falāh… mari mengalahkan hawa nafsu…sik ah…nanti dulu… pekerjaan belum selesai…. masih rapat… masih mengajar dst.  Beranikah manusia itu mengatakan … sik ah…nanti dulu…ketika atasan atau pimpinannya memanggil…atau ketika ada kunjungan menteri ataukah presiden ? lebih takut kepada siapa? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Allah SWT berfirman :
“… Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu. tentang nikmat-nikmat (yang telah kamu terima).  (Qs. 102:8)
Segala puji bagi Allah yang telah mengenyangkan kami dan memberi kami kenikmatan yang banyak.  “Ampuni kami ya Allah… Bimbinglah kami, agar kami tidak akan mendustakan nikmatMu. Ampunilah dosa-dosa kami dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.”Mudah-mudahan kita bisa untuk selalu berusaha mengendalikan diri menuju ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah kita terima.  Aamiin.

Noor Farochi – Staf BAKPIK

Komentar ditutup.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.