DOSA YANG DIANGGAP BIASA

 

Hukum asal jabat tangan adalah baik
Menurut Imam An-Nawawi, berjabat tangan (salaman) telah disepakati sebagai bagian dari sunnah ketika bertemu. Ibn Batthal juga menjelaskan, “Hukum asal jabat tangan adalah satu hal yang baik menurut umumnya ulama.” (Syarh Shahih Al-Bukhari Ibn Batthal, 71/50).Dalam riwayat, jabat tangan juga diamalkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, antara lain, Qatadah bertanya kepada Anas bin Malik: “Apakah jabat tangan itu dilakukan diantara para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Anas menjawab: “Ya.” (HR. Al-Bukhari, 5908).Abdullah bin Hisyam mengatakan: “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara beliau memegang tangan Umar bin Al-Khattab.” (HR. Al-Bukhari 5909).

Ka’ab bin Malik mengatakan: “Aku masuk masjid, tiba-tiba di dalam masjid ada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Thalhah bin Ubaidillah berlari menyambutku, menjabat tanganku dan memberikan ucapan selamat kepadaku.” (HR. Al-Bukhari 4156).

Namun, perlu diperhatikan bahwa penjelasan di atas berlaku untuk jabat tangan yang dilakukan antara sesama laki-laki atau sesama wanita.
Di jaman sekarang jabat tangan sudah menjadi budaya, tanpa dapat lagi membedakan antara mahram dan bukan mahram semua sama saja, di suatu pertemuan, biasanya, malah jika tidak mau berjabat tangan dengan wanita dianggap tidak sopan dan kurang beradab.  Terkadang orang tersinggung jika kita tidak menyambut uluran tangannya, bahkan sering dikatakan kolot, ketinggalan zaman, kaku, sulit beradaptasi, ekstrim dan lain-lain.
Luar Biasa, Bukan Biasa-Biasa Saja
Jika kita mengetahui bagaimana hukumnya berjabat tangan dengan wanita bukan mahram adalah luar biasa, bukan biasa-biasa saja.  Berjabat tangan antara laki-laki dengan wanita yang bukan mahram hukumnya adalah haram secara mutlak, dalilnya sangat jelas, disepakati hukum haram oleh ulama madzhab yang empat yaitu Hanafiyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hambali, dalam pendapat yang terpilih, juga oleh Ibnu Taimiyah.Ulama Hanafiyah lebih mengkhususkan pada gadis yang membuat pria tertarik. Ulama Hambali berpendapat tetap haram berjabat tangan dengan gadis yang non muhrimbaik dengan pembatas (seperti kain/sarung tangan) atau lebih-lebih lagi jika tanpa sarung tangan. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 37: 358-360).Sedangkan ulama Syafi’iyyah berpendapat haramnya bersentuhan dengan wanita non mahram, termasuk pula yang sudah tua.  Syafi’iyah tidak membedakan antara wanita tua dan gadis, hukumnya tetap haram.
Pertama,
Berkaitan dengan jabat tangan dengan wanita non muhrim, ada orang yang mengatakan, “kan niatku baik”, adakah orang yang lebih bersih hatinya daripada Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?,Sebagaimana beliau Aisyah RA telah memberikan jaminan dalam hadiats Riwayat Muslim ” Namun – demi Allah – beliau sama sekali tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun.  Beliau hanya membaiat para wanita dengan ucapan beliau.  ‘Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menyentuh wanita sama sekali sebagaimana yang Allah perintahkan.  Tangan beliau tidaklah pernah menyentuh tangan mereka.  Ketika baiat, beliau hanya membaiat melalui ucapan dengan berkata, “Aku telah membaiat kalian.”   (HR. Muslim no. 1866).
Berkata Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim(13/16): “Dalam hadits ini menjelaskan bahwa bai’at wanita dengan ucapan, bukan dengan menyentuh tangan”.Berkata Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (4/60): “Hadits ini sebagai dalil bahwa bai’at wanita dengan ucapan, tanpa dengan menyentuh tangan.”Jadi bai’at terhadap wanita dilakukan dengan ucapan tidak dengan menyentuh tangan. Adapun asal dalam berbai’at adalah dengan cara menyentuh tangan sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membai’at para shahabatnya dengan cara menyentuh tangannya. Hal ini menunjukkan haramnya menyentuh/berjabat tangan kepada selain mahram dalam berbai’at, apalagi bila hal itu dilakukan bukan dengan alasan bai’at tentu dosanya lebih besar lagi.
Kedua,
Islam mengajarkan sebaiknyalah kita berhati-hati agar tidak terjadi kerusakan dalam hubungan antara pria dan wanita, Islam mengajarkan berbagai aturan ketika pria dan wanita berinteraksi, dan melindungi dari perbuatan yang tidak diinginkan yaitu zina.  Salah satu di antara adabnya adalah dalam hal berjabat tangan dengan wanita non mahram.  Berkaitan tidak bolehnya berjabat tangan dengan wanita adalah untuk melindungi diri sendiri dan wanita-wanita dari pengaruh pergaulan.
Hadits Ma’qil bin Yasar.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Walau hadits tersebut dipermasalahkan keshahihannya oleh sebagian ulama lainnya, hadits ini sudah menunjukkan betapa kerasnya ancaman perbuatan tersebut.  Yang diancam dalam hadits di atas adalah menyentuh wanita yang bukan mahramnya, sedangkan bersalaman atau berjabat tangan sudah termasuk dalam perbuatan menyentuh.Yang dimaksud wanita yang tidak halal di sini adalah wanita yang bukan mahramnya, termasuk sepupu sekali, sepupu dua atau tiga kali, baik dari paman atau bibi, lebih-lebih yang bukan sepupu.
Banyak orang mengira atau mengartikan bahwa berzina itu ketika kemaluan dengan kemaluan bertemu, pria dengan wanita yang bukan istrinya, padahal berzina itu banyak macamnya salah satunya adalah dengan tangan.  Menyentuh tangan perempuan lebih-lebih sengaja memegang tangan bukan mahram, adalah termasuk dalam perbuatan zina.Berkata Abu ‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali Al-Makky Al-Haitami (Az-Zawajir 2/4) bahwa: “dalam hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh dan berjabat tangan dengan selain mahram adalah termasuk dosa besar”.
Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi setiap anak Adam bagiannya dari zina, ia mengalami hal tersebut secara pasti. Mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zananya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang dan kaki zinanya adalah berjalan dan hati berhasrat dan berangan-angan dan hal tersebut dibenarkan oleh kemaluan atau didustakan.”
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim(8/457) mengatakan: “Bahwa setiap anak Adam ditakdirkan untuk melakukan perbuatan zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina sesungguhnya, yaitu memasukkan kemaluan ke dalam kemaluan. Di antara mereka ada yang zinanya tidak sungguhan, dengan melihat hal-hal yang haram, atau mendengarkan sesuatu yang mengarahkan pada perzinaan dan usaha-usaha untuk mewujudkan zina, atau dengan bersentuhan tangan, atau menyentuh wanita asing dengan tangannya, atau menciumnya…”Sedangkan pada (16/316), An-Nawawi menjelaskan: “Hadits ini menerangkan bahwa haramnya memegang dan menyentuh selain muhrimkarena hal itu adalah pengantar untuk melakukan zina kemaluan” (Imam An-Nawawi).
Berjabat tangan, hal yang sudah dianggap biasa-biasa dan wajar saja dilakukan di depan umum, bahkan terlebih lagi ada yang dianggap suatu kehormatan jika bertemu laki-laki perempuan lalu saling berciuman pipi kiri dan kanan. Bukankah sekarang orang melihat itu suatu hal yang lumrah, tanpa ada perasaan bahwa dia telah melanggar syariat?  Dengan kata lain, istilah zina digunakan untuk semua anggota badan yang melakukan pelanggaran, karena hal tersebut merupakan pengantar terjadinya perzinaan.  Sedangkan zina yang hakiki adalah zina kemaluan.
Ketiga,dalil qiyas (analogi).
Imam Nawawi rahimahullah berkata,

كل من حرم النظر إليه حرم مسه وقد يحل النظر مع تحريم المس فانه يحل النظر إلى الاجنبية في البيع والشراء والاخذ والعطاء ونحوها ولا يجوز مسها في شئ من ذلك

“Setiap yang diharamkan untuk dipandang, maka haram untuk disentuh.  Namun ada kondisi yang membolehkan seseorang memandang –tetapi tidak boleh menyentuh, yaitu ketika bertransaksi jual beli, ketika serah terima barang, dan semacam itu.  Namun sekali lagi, tetap tidak boleh menyentuh dalam keadaan-keadaan tadi. ” (Al Majmu’: 4: 635)
Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur: 30)
Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga menyatakan terlarangnya pandangan kepada wanita non muhrimadalah dalil-dalil berikut ini.

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur: 31)
Banyak hadits yang shahih yang menerangkan, berdasarkan kesepakatan para ulama, melihat wanita yang bukan mahram dengan sengaja dan tanpa sebab yang syar’i dihukumi haram.   Jika melihat saja terlarang karena bisa menimbulkan godaan syahwat, apalagi menyentuh dan bersalaman, tentulah godaannya lebih dahsyat daripada pengaruh pandangan mata.  Berbeda halnya jika ada sebab yang mendorong hal ini seperti ingin menikahi seorang wanita, lalu ada tujuan untuk melihatnya, maka itu boleh, tentu saja boleh dalam keadaan darurat dan sekadarnya.
Ibnu Katsir (tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 216) menafsirkan ayat pertama di atas mengatakan, ”Ayat ini merupakan perintah Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman untuk menundukkan pandangan mereka dari hal-hal yang haram.  Janganlah mereka melihat kecuali pada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat (yaitu pada istri dan mahramnya).  Hendaklah mereka juga menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram.  Jika memang mereka tiba-tiba melihat sesuatu yang haram itu dengan tidak sengaja, maka hendaklah mereka memalingkan pandangannya dengan segera.”
Ketika menafsirkan ayat berikutnya, Ibnu Katsir mengatakan,”Firman Allah (yang artinya) ‘katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka’ yaitu hendaklah mereka menundukkannya dari apa yang Allah haramkan dengan melihat kepada orang lain selain suaminya.  Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak boleh seorang wanita melihat laki-laki lain (selain suami atau mahramnya, pen) baik dengan syahwat dan tanpa syahwat. … Sebagian ulama lainnya berpendapat tentang bolehnya melihat laki-laki lain dengan tanpa syahwat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 216-217).Dari Jarir bin ‘Abdillah, beliau mengatakan,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 2159)
Wanita, benar-benar dimuliakan.
Dalil-dalil di atas tidak mengecualikan apakah yang disentuh adalah gadis ataukah wanita tua. Jadi, pendapat yang lebih tepat adalah haramnya menyentuh wanita yang non mahram, termasuk pula wanita tua.   Realitanya yang kita saksikan, tega-teganya, wanita tua pun ada yang diperkosa.  Sedangkan untuk wanita (gadis atau bukan)tetap dinyatakan haram untuk menyentuh dan berjabat tangan dengannya.  Hal di atas menunjukkan bahwa wanita benar-benar dimuliakan dalam Islam sehingga tidak ada yang bisa macam-macam dan berbuat nakal.Semuanya terserah kembali kepada anda, hanya Allah yang memberi taufik untuk menjauhi yang haram.
——- Diambil dari berbagai sumber ——-                                                                  Noor Farochi – Staf BAKPIK

[selesai] BERTEMAN DENGAN SEORANG MENTERI

BERTEMAN DENGAN SEORANG MENTERI

Oleh: Djoko Rahardjo*)

Minggu tanggal 9 September 2012, pukul 06.34 wib., ketika itu kami bertiga ( penulis, isteri penulis dan cucu tercinta) sedang bercengkerama di kamar tamu, tiba-tiba hp yang ada di meja tv berbunyi. “Mbah Kung…, ada sms!” Teriak cucu penulis. Siapa yang mengirim sms sepagi ini? Perlahan-lahan kuhampiri meja tv, sambil menggendong cucu penulis yang saat itu genap berusia empat tahun. Lho? Hati ini agak kaget karena yang mengirim sms adalah  salah seorang Staf Protokoler Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Begini isinya…
“Ass wr wbr, izin Bapak, saya … Protokol Mendikbud. Kami infokan dg hrmt Bapak Mendikbud  pagi ini jam 09.00 akan memberi arahan pada mahasiswa baru UNMUH di DOME. Bilamana Bapak ada waktu mhn perkenan mendampingi Beliau. Hadir juga Bapak Rektor ITS dan UNESA. Suwun Wss wr wbr. Hormat kami….”

Wah…, teman saya ini salah mengirim sms. Meskipun saya kenal baik dengan pengirimnya tetapi kali ini isi sms harus saya kirimkan kepada pimpinan  atau atasan langsung. Seketika itu, sms tersebut saya kirimkan kepada Kepala Biro AAKPSI UM, Kabag PK UM dan Kasubag Sardik UM.

Dalam hati penulis, mengundang menteri untuk datang ke daerah adalah tugas yang tidak mudah. Jarang sekali perguruan tinggi pada acara Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi (PKPT) mengundang Mendikbud RI. Kali ini Mendikbud RI berkenan hadir untuk memberikan arahan pada Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Malang Tahun Akademik 2012. Pembaca tentu masih ingat dengan Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang sekaligus Mantan Menteri Agama RI, Prof. Malik Fadjar, M.Sc. Beliau juga Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang. Bagaimana? Betulkan? Berteman dengan menteri itu menguntungkan.

Bagaimana dengan IKIP Malang (UM)? Jangan khawatir IKIP Malang pun memiliki cerita yang menghebohkan! Mungkin pembaca akan berkata dalam hatinya: “Pak Djoko Rahardjo itu suka nggedabrus/membual! Wong cilik ae nyritakno sing aneh-aneh!”

Bilieve or not! Pengalaman penulis bersama dengan teman-teman yang lain ketika bertugas di Kantor Program Diploma IKIP Malang beberapa puluh tahun yang lalu. Saat itu yang menjadi Ketua Program Diploma IKIP Malang adalah Bapak Widodo, Mantan Dekan FPMIPA, Mantan Pembantu Rektor II dan Pembantu Rektor III IKIP Malang—meminta pada penulis untuk memfotokopi berkas usul kenaikkan jabatan fungsional lima orang dosen—dari  lektor kepala ke guru besar madya. Dua hari berikutnya, penulis terkejut! Betapa tidak! Surat Keputusan Guru Besar (professor) atas nama Prof. Widodo (Jurusan Biologi), Prof. Rebo Hardjosiswojo (Jurusan Matematika), Prof. Samsul Kislam (Jurusan Matematika), Prof. Santoso Budiman (Jurusan Pendidikan Dunia Usaha/Ekonomi) dan… kalau tidak keliru, Prof. Purwito (Jurusan Pendidikan Dunia Usaha) sudah jadi!

Menurut keterangan almarhum Prof. Widodo bahwa berkas usul kenaikkan jabatan fungsional  lima orang dosen IKIP Malang tersebut diserahkan ke staf mendikbud, tidak sampai 1 (satu) jam SK Guru Besar sudah jadi. Mengapa begitu? Kira-kira apa jawabnya? Jawabnya adalah…, Prof. Dr. Eng. Wardiman Djojonegoro (Mendikbud RI) teman satu kelas Prof. Widodo ketika di SMAN 2 Surabaya. Sedangkan Jenderal (Purnawirawan) TNI AD Try Sutrisno (MantanWakil Presiden RI) adalah kakak kelas beliau berdua di SMAN 2 Surabaya.

Malang,  9 September 2012

*) Djoko Rahardjo, Staf Subbag Sarana Pendidikan  BAAKPSI UM

Desain Buku: Batu, Kota di kaki langit

Desainer : Eny Erawati

Prodi: Desain Komunikasi Visual

Lulusan tahun : 2012

http://enyerawati.wordpress.com/2012/09/08/kota-di-kali-langit/

BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH BAGIAN XX

BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH

BAGIAN XX

KADIT OSI TUNTENG

 (Tidak Dapat Buang Angin/Kentut)

Oleh: Djoko Rahardjo*

Nalub Syawal asaibe genaro-genaro ngewag nakaman tradisional “tapuk-an”. Kanyab arados utowo kanyab nawak asaibe lek Riyoyo Iedul Fitri nglumpuk nang hamure ebes’e ewed-ewed. Ayas karo ojob wis kadit kanyup ebes. Idad…, yo ongul nang hamure sam ayas nok Celaket, Kota Ngalam.
Bulan Syawal biasanya orang-orang/masyarakat membuat makanan tradisional “kupatan”. Banyak saudara atau kawan biasanya bila pada Hari Raya Iedul Fitri berkumpul di rumah orangtua sendiri-sendiri. Saya dan Isteri sudah tidak mempunyai orangtua. Jadi…, ya pergi ke rumah kakak saya di Celaket, Kota Malang.

Wah…, lek urusan nakaman ojok nokat. Asaibe nakaman, koyok  najad, omben-omben, itor ngirek lan liyo-liyane digelar nok mejo tamu. Kudu itreng karo kemampuane wetenge ewed. Sak orip kuate nyimpen nakaman? Ipat yo rodo toper lek diisaki nakamam kadit disibano. Nakus karo sing ngisaki nakam. Genaro sing kenek ngincek sinam kudu diet nakaman karo ngombe sing igel-igel.

Wah…,  kalau urusan makanan jangan tanya. Biasanya makanan, seperti kue, aneka minuman, roti kering dan lain-lain.  Harus mengerti dengan kemampuan perutnya sendiri. Seberapa kuat menyimpan makanan? Tetapi ya agak repot bila diberi makanan tidak dihabiskan. Sungkan dengan yang memberi makanan.  Orang yang kena kencing manis harus diet makanan dan minuman yang manis-manis.
Wis ewus ayas kadit ketemu karo nawak dolin waktu licek biyen. Saiki wis odop duwe keluarga, kanyup ojob karo kana. Malah onok sing wis idad mbah kakung karo mbah putri.

 “Mbah Kung Okodj, utup umak orip?” Nokate Sam Helas.

“Utas!”

“Nganal opo kodew?”

“Kodew!”

“Umure orip?

“Tapme nuhat!”

“Wis halokes?”

“Wis!”

“Nok anam?”

“Nok TK Alma’un!”

“Jenenge apais?”

“Ave!”

“Kerae uya?”

“Yo uya sam! Utupe apais? Utupe Mbah Kakung Okodj. Umak osi tahil foto wanyok!”

 

Sudah lama saya tidak bertemu dengan teman bermain waktu kecil dahulu. Sekarang sudah mempunyai keluarga, mempunya isteri dan anak. Malahan sudah menjadi kakek dan nenek.

“Kakek Djoko, cucumu berapa?” Tanya Mas Saleh.

“Satu!”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Perempuan!”

“Umurnya berapa?”

“Empat tahun!”

“Sudah sekolah?”

“Sudah!”

“Dimana?”

“Di TK Al- Ma’un!”

“Namanya siapa?”

“Ave!”

“Anaknya cantik?”

“Ya cantik! Cucunya siapa? Cucunya Kakek Djoko. Kamu dapat melihat foto ini!”

 

FOTO AVE CUCUKU

 

 

 

Rodok ewus ayas omong-omongan karo Sam Helas, kadit kroso wis onok hangates jam.

 

 

“Aduh…!”

 “Kenek opo Sam Okodj?”

“Wetengku sulem-sulem!”

“Masuk angin ta?”

“Oyi!”

“Wis osi tungteng?”

“Kadit…, uh…, tikas…!”

“Sam Okodj…, iki lho…, ngombea het sanap karo Bodrex!”

Agak lama saya berbincang-bincang dengan Mas Saleh, tidak terasa sudah ada setengah jam.

 

“Aduh…!”

“Kena apa Mas Djoko?”

“Perutku mulas-mulas?”

“Masuk angin?”

“Ya!”

“Sudah bisa kentut?”

“Tidak bisa kentut!”

“Mas Djoko…, ini lho…, minumlah the panas dengan Bodrex!”Bodrex wis tak ombe. Awak ayas rodok kane.

 

“Duuuut…, prot…, prot! “

“Nuwus Sam Helas! Ayas wis osi tungteng!”

“Hem…, sedaaap! Gak opo-opo Sam Okodj. Lek umak kadit osi tungteng, dikawab nang hamur tikas. Umak itreng, orip biaya oparasine?”

“Orip?”

“Aud hulup agit juta!”

“Wow…!”

Bodrex sudah saya minum. Badan saya agak enak.

“Duuuut…, prot…, prot!”

“ Suwun Mas Saleh! Saya sudah bisa kentut!”

“Hem…, sedaaap! Tidak apa-apa Mas Djoko. Bila kamu tidak bisa kentut, dibawa ke rumah sakit. Kamu mengerti, berapa biaya operasinya?”

“Berapa?”

“Dua puluh tiga juta rupiah!”

“Wow!”

 

Malang,  2 September 2012

*) Staf Subbag Sarana Pendidikan BAAKPSI UM

Social Hackering: Ancaman Keamanan Dunia Internet

 

Salah satu isu pokok dalam keamanan dunia internet adalah kegiatan social hackering. Jika terorisme di dunia nyata mengandalkan senjata api sebagai medianya, maka teroris di dunia internet mengandalkan laptop dan koneksi fiber optik untuk melakukan sebuah kejahatan. Salah satu  kejahatatan dunia maya yang saat ini ramai diperbincangkan adalah Social Hackering.

Social Hackering  merupakan kegiatan illegal di dunia Intenet. Para hacker yang bergerak di dunia ini menggunakan mesin pencari seperti google, yahoo dan bing sebagai senjata utamanya. Cara kerjanya, mencari dokumen-dokumen yang dapat diakses oleh publik. Strateginya dengan memainkan kata kunci di mesin pencari. Kadang-kadang kalau beruntung bisa mendapat informasi lengkap tentang pejabat publik, termasuk nomor telpon hingga biodata lengkap.

Contoh dari kegiatan ini dapat diilustrasikan sebagai berikut. Seorang hacker berusaha mencari biodata tentang pejabat publik A. Satu fakta yang diketahui umum adalah pejabat ini pernah bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan multinasional. Fakta lainnya pejabat ini merupakan anggota senat salah satu universitas ternama di Indonesia. Potongan informasi tersebut sudah cukup untuk mencari biodata pejabat tersebut.

Caranya, hacker tersebut membuka situs internet perusahaan multinasional dan universitas tempat pejabat A itu bekerja. Kemudian hacker tersebut menspesifikasi pencariannya pada periode jabatan orang A di perusahaan multinasional dan senat universitas tersebut. Maka ribuan dokumen yang didapat diteliti dan diklasifikan menurut kebutuhan. Misal, kehidupan pribadi, hingga kebijakan publik yang dibuat. Lantas dibuatlah analisa tentang kehidupan pribadi pejabat A.

Di sisi lain, hacker ini juga melakukannya di dunia nyata. Mulai dari mengintai kehidupan pribadi pejabat A hingga melakukan pencarian informasi kehidupan pejabat A. Contoh sumber-sumber tersebut bisa berupa informasi dari orang terdekat, hingga potongan kertas yang tercecer di tempat sampah. Berikutnya, informasi yang didapat dianalisis sesuai kebutuhan pemesan.

Karena dokumen-dokumen yang diakses bersifat terbuka, Undang-undang teknologi informasi dan transaksi elektronik sulit untuk mejerat kegiatan social hackering. Para social hackering dengan mudah berlindung di balik baju berbagai profesi, mulai dari tukang sampah, hingga peneliti.

Bahkan beberapa hacker yang saya temui memanfaatkan posisinya sebagai mahasiswa untuk mendapat surat izin sebagai peneliti di sebuah lembaga. Data yang dia kumpulkan melebihi yang dibutuhkan dan yang lazim, sehingga dengan mudah sekali dimanfaatkan untuk kepentingan yang tidak bertanggung jawab.

Tentu saja, aparat keaman juga harus lebih berhati-hati dengan para social hacker. Mereka bahkan bisa melakukannya tanpa laptop dan internet. Cukup dengan membuat kliping berita di Koran-koran yang dapat dibeli setiap hari kemudian membuat analisis berdasarkan kebutuhan pemesan juga dapat dikategorikan sebagai kegiatan social hackering.

Saya agak khawatir jika informasi yang dikumpulkan oleh para social hacker dimanfaatkan untuk kegiatan membuat kekacauan keamanan. Para aparat harus lebih perhatian terhadap para social hacker yang lebih berbahaya dari pada hacker password. Keterampilan Social Hackering dapat dipelajari secara otodidak.

Ferril Irham Muzaki, Universitas Negeri Malang

Kontributor di laman: berkarya.um.ac.id

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.