4 Sehat 5 Sempurna 6 Halal

Pelajaran tentang kesehatan dan gizi seimbang yang dulu kita terima di sekolah adalah 4 sehat 5 sempurna menurut saya adalah kurangtepat karena tidak menyertakan kehalalan dari apa yang dikonsumsi tersebut. Sehingga menurut saya akan lebih tepat kalau disebut menjadi 4 Sehat 5 Sempurna 6 Halal, yang empat sehat kelima sempurna dan keenam halal, dasarnya adalah sebagai berikut:

  • Setan Makan dan Minum dengan tangan kiri.

“Apabila salah seorang dari kalian makan, maka hendaklah makan dengan tangan kanan dan apabila dia minum, minumlah dengan tangan kanan.  Karena, setan apabila dia makan, makan dengan tangan kiri dan apabila minum, minum dengan tangan kiri.”  (HR. Muslim)

  • Jangan Makan dan Minum Sambil Berdiri

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu pula, ia berkata,

عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا

“Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau melarang seseorang minum sambil berdiri.” Qotadah berkata bahwa mereka kala itu bertanya (pada Anas), “Bagaimana dengan makan (sambil berdiri)?” Anas menjawab, “Itu lebih parah dan lebih jelek.” (HR. Muslim no. 2024).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِىَ فَلْيَسْتَقِئْ

“Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Apabila dia lupa maka hendaknya dia muntahkan.” (HR. Muslim no. 2026)

  • Jangan Makan seperti Makannya binatang (=> berdiri).

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS.Muhammad, 47:12)

  • Perintah memakan dari makanan yang halal  dan yang baik-baik (Halalan Thoyyiban).

Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk memakan makanan yang halal saja, tetapi juga makanan yang baik / Halalan Thoyyiban

“dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” [QS. Al Maa-idah(5):88]
  • Orang yang beriman, makan rezeki yang baik-baik.
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah” [QS. Al Baqarah(2):172].
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Mukminun(23):51]
  • Kalau tidak yang halal dan baik maka sama dengan mengikuti langkah-langkah setan.
“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS.Al Baqarah 2: 168).
  • Cara mendapatkannya harus dengan cara halal.
Nabi berkata: Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya.            (HR. Ath-Thabrani).
  • Jadi penyebab do’a tidak diterima
Kemudian Rasulullah menyebut seorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan wajahnya kotor penuh debu menadahkan tangannya ke langit seraya berseru: “Ya Robbku, Ya Robbku”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia diberi makan dari yang haram pula. Jika begitu bagaimana Allah akan mengabulkan doanya?          (HR. Muslim)
  • Yang terkait dengan makanan haram:
  1. Bangkai
  2. Darah
  3. Babi
  4. Binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Allah
  5. Khamer atau minuman yang memabukkan
diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[1], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[2], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[3], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini[4] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[5] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.     [QS.Al Maidah(5):3][1] Ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145.
[2] Maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati.
[3] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan Apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya Ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing Yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka’bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka’bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti Apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.
[4] Yang dimaksud dengan hari ini ialah: masa, Yaitu: masa haji wada’, haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w.
[5] Maksudnya: dibolehkan memakan (tidak berlebihan) makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika terpaksa.
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[6]. tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS.Al Baqarah(2): 173].[6] Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.
 “mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang Dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu[7]. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu[8], dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)[9]. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat cepat hisab-Nya.” [QS Al Maidah(5):4][7] Maksudnya: binatang buas itu dilatih menurut kepandaian yang diperolehnya dari pengalaman; pikiran manusia dan ilham dari Allah tentang melatih binatang buas dan cara berburu.
[8] Yaitu: buruan yang ditangkap binatang buas semata-mata untukmu dan tidak dimakan sedikitpun oleh binatang itu.
[9] Maksudnya: di waktu melepaskan binatang buas itu disebut nama Allah sebagai ganti binatang buruan itu sendiri menyebutkan waktu menerkam buruan.
  • Haram makan sembelihan yang tidak menyebut nama Allah:
“dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya[10]. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” [QS.Al-An’am(6):121][10] Yaitu dengan menyebut nama selain Allah.
  • Binatang yang dilarang untuk dimakan:
Hadis riwayat Abu Tsa`labah ra., ia berkata: Nabi saw. melarang memakan binatang buas yang bertaring. (Shahih Muslim No.3570)
Bahwa Rasulullah saw. melarang makan daging keledai piaraan. (Shahih Muslim No.3583)
Imam Syafi’ie mengharamkan hewan yang hidup di 2 alam (di air dan di darat) seperti kodok, buaya, kura-kura, dan kepiting.
5 binatang yang haram dimakan, berdasarkan hadits Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu-, beliau berkata:
“Rasulullah SAW melarang membunuh shurad, kodok, semut, dan hud-hud. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shohih).
  • Lima jenis hewan yang harus dibunuh.
Nabi pernah bersabda “Lima jenis hewan yang harus dibunuh, baik di tanah haram maupun di tanah biasa, yaitu : ular, kalajengking, tikus, anjing buas dan burung rajawali” (H.R. Abu Daud) dalam riwayat lain disebutkan juga burung gagak.

Noor Farochi – staf BAKPIK

REMBULAN TERSENYUM… Bagian Ke-14

REMBULAN TERSENYUM DI LANGIT MELONGOANE

(Bagian Ke-14)

Oleh: Djoko Rahardjo*

Waktu berlalu begitu cepat. Detik demi detik tlah dilaluinya dengan penuh ketegangan. Akankah Sersan Djoko menjemput ajalnya?
“Pak, di sini masih ada bangku yang kosong! Silahkan pindah kesini!” Teriak orang lain di sebelah kiri speed boat itu.
“Hah! Betulkah itu!“  Begitu suara yang meluncur dari mulut Sang Sersan.
Sungguh sangat luar biasa! Sulit untuk dipercayai. Di saat yang sangat kritis muncul suatu keajaiban.
“Alhamdulillah! Ya Allah…! Engkau telah menyelamatkan hambamu ini!”
Rupanya…, pada saat speed boat mogok tadi,  pengemudi telah meminta bantuan pada teman seprofesinya agar segera memberi pertolongan. Sungguh sangat bahagia hati Sang Sersan! Sulit untuk diceritakan dengan kata-kata.
Di dalam menapaki perjalanan hidup ini, dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lain, kadang terasa begitu cepat. Beberapa menit yang lalu…, sersan Djoko mengalami satu peristiwa yang sangat menegangkan! Hampir-hampir menghempaskan semua harapan hidupnya. Tetapi saat ini…, situasinya telah berubah 1800 (seratus delapan puluh derajat),  dari situasi yang sangat menegangkan ke situasi yang sangat santai. Indah…, syahdu… dan menyenangkan.
Ada lima orang penumpang dewasa dan satu anak lelaki kecil  yang berada di dalam speed boat itu. Sambil memandang indahnya Pulau Salibabu yang ada di sebelah selatan, Sang Sersan bersenandung, menyanyikan lagu dari Rod Stewart yang berjudul  “I am Sailing”.

I am sailing, I am sailing,
home again ‘cross the sea.
I am sailing, stormy waters,
to be near you, to be free.

I am flying, I am flying,
like a bird ‘cross the sky.
I am flying, passing high clouds,
to be with you, to be free.

Can you hear me, can you hear me
thro’ the dark night, far away,
I am dying, forever trying,
to be with you, who can say.

Can you hear me, can you hear me,
thro’ the dark night far away.
I am dying, forever trying,
to be with you, who can say.

We are sailing, we are sailing,
home again ‘cross the sea.
We are sailing stormy waters,
to be near you, to be free.

Oh Lord, to be near you, to be free.
Oh Lord, to be near you, to be free,
Oh Lord.

 “Hallo selamat pagi Pak Djoko! Sekarang posisi Bapak dimana?”

BERSAMBUNG …

Melongoane –Talaud – Sulut,  3 Oktober 2012

*) Djoko Rahardjo, Staf Subbag Sarana Akademik  BAKPIK  UM

 

REMBULAN TERSENYUM… Bagian Ke-13

REMBULAN TERSENYUM DI LANGIT MELONGOANE

(Bagian Ke-13)

Oleh: Djoko Rahardjo*

Tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan. Kadang sesuatu  yang tidak kita inginkan malahan datang berulang-ulang. Itulah hidup! Itulah kenyataan! Akankah kita lari dari kenyataan?
“Bapak sajalah yang harus meninggalkan speed boat ini!” Begitulah perintah pemilik speed boat kepada Sersan Djoko.
Langit yang semula terang benderang seketika itu mendadak menjadi gelap. Begitu dahsyat pengaruh perintah itu. Seakan-akan hendak menelanjangi dan menelan bulat-bulat nyali Sersan Djoko. Apa boleh buat! Sudah tidak ada pilihan lagi!
“Pak! Di sebelah sini! Hati-hati licin!” Pemilik speed boat itu menunjuk ke arah sebelah kiri.
“Saat inilah…, saya harus berjuang untuk hidup!” Begitu bisikan hati Sersan Djoko.
Sersan Djoko berdiri terhuyung-huyung. Langkahnya gontai…. Tanpa terasa keringat dingin telah membasahi tubuhnya. Pandangan matanya lurus ke depan. Raut mukanya sangat tegang! Gigi-giginya gemeretak! Tubuhnya terguncang! Nafasnya terengah-engah! Jantungnya berdegup kencang! Jari-jemari tangannya mencengkeram erat-erat kain terpal, atap speed boat. Dari dalam celana—di antara perut dengan pangkal paha—mengalirlah  “air hangat”—yang   tumpah ruah bagaikan  semburan lumpur Lapindo—yang menggenangi kawasan sekitarnya.
“Cepat Pak!” Teriak Pemilik Speed boat.

BERSAMBUNG …

Melongoane –Talaud – Sulut,  3 Oktober 2012

*) Djoko Rahardjo, Staf Subbag Sarana Akademik  BAKPIK  UM

 

REMBULAN TERSENYUM… Bagian Ke-12

REMBULAN TERSENYUM DI LANGIT MELONGOANE

(Bagian Ke-12) 

Oleh: Djoko Rahardjo*

Malang tak dapat ditolak! Untung tak dapat diraih! Bahwa setiap manusia tidak pernah tahu tentang ajalnya. Hanya Allah  swt. yang Maha Tahu atas segala rahasia kehidupan yang ada jagat  raya ini. Siapun kita? Setinggi apa pun ilmu dan jabatan kita! Sebanyak apa pun harta kita! Pastilah tidak pernah tahu! Kapan? Dimana? Dalam keadaan bagaimana? Ketika malaikat pencabut nyawa datang mengambil ruh dari jasad kita….
Di tengah-tengah ketakutan….. Di antara pergulatan antara hidup dan mati….Terbayanglah wajah Prof. Sudomo, Guru Besar FIP IKIP Malang/UM, Asisten Menteri Koordinator  Bidang Kesejahteraan Rakyat RI di Era Orde Baru. Jika  beliau masih hidup, dimanakah tempat tinggalnya? Bila beliau sudah wafat, dimanakah kuburnya? Ternyata…, sampai dengan hari ini,  tidak seorangpun yang tahu. Tragedi terbaliknya speed boat yang dinaiki oleh Prof. Sudomo di perairan  Pulau Komodo, NTT beberapa puluh tahun yang lalu, masih menyisakan mesteri bagi Keluarga Besar Universitas Negeri Malang.
“Pak…! Speed boat ini kelebihan muatan! Orangnya harus dikurangi!” Kata pengemudi speed boat.
“Mati aku!” Begitulah jeritan hati Sersan Djoko.
Kebetulan posisi Sersan Djoko berada di tempat duduk yang  paling pinggir. Dialah orang  yang  paling memungkinkan untuk diterjunkan ke laut. Padahal di dalam speed boat tidak ada alat pelampung, dan juga tidak  ada barang atau benda yang dapat dipakai sebagai pelampung. Sementara itu, Sersan Djoko semenjak lulus  dari SMA Tahun 1977, sudah tidak pernah berenang lagi. Bagaimana dengan nasib Sersan Djoko? Ikutilah kisah berikutnya!

BERSAMBUNG …

Melongoane –Talaud – Sulut,  3 Oktober 2012

*) Djoko Rahardjo, Staf Subbag Sarana Akademik  BAKPIK  UM

 

REMBULAN TERSENYUM… Bagian Ke-11

REMBULAN TERSENYUM DI LANGIT MELONGOANE

(Bagian Ke-11)

Oleh: Djoko Rahardjo*

Kapal  Laut Venecian  dengan nomor lambung  GT.712  merapat di Pelabuhan Lirung pada hari Sabtu, tanggal 29 September 2012, pukul 08.01 wita.  Para penumpang yang akan turun di Pelabuhan Lirung sudah  bersiap-siap meninggalkan kapal. Di antara hiruk-pikuknya para penumpang itu, Sersan Djoko meminta kepada sang komandan (Pak Amin ) dan Tim Elang  UM untuk segera turun ke lambung kapal yang dekat dengan speed boat.

KAPAL VENECIAN MERAPAT DI PELABUHAN LIRUNG

 
“Bang Ali, kamu mengambil posisi di atas kapal! Di barisan paling belakang! Amankan barang-barang! Saya akan mengambil posisi di bawah, di dekat speed boat! Barang-barang itu akan diambil oleh pemilik speed boat!” Begitu perintah Sersan Djoko.
“Siap ndan!” Jawab Koprol Ali.
“Pak Djoko apa sudah memesan speed boat?” Tanya Pak Amin.
“Sudah Pak!” Jawab Sersan Djoko.
“Pak Djoko speed boat yang akan kita naiki itu, apa mampu membawa kita?” Tanya Pak Dwi.
“Mampu Pak!” Jawab Sersan Djoko dengan sangat percaya diri.
Satu persatu anggota pasukan turun ke speed boat. Sersan Djoko yang paling akhir turun ke speed boat. Tidak lama kemudian speed boat itu telah meninggalkan kapal.
 
Di dalam speed boat, terlihat semua anggota pasukan menampakkan wajah yang berseri-seri. Senyum sumringah (gembira) terlihat di raut muka Pak Dwi Haryoto dan Pak Erry Hidayanto.
 
Baru pertama kali ini Sersan Djoko menaiki speed boat sehingga tidak mengetahui bahwa speed boat itu memiliki “keterbatasan” daya angkut. Padahal speed boat tersebut mengangkut enam orang dan barang-barang yang cukup berat.
Kira-kira sepuluh menit kemudian—setelah speed boat meninggalkan kapal—di tengah-tengah  lautan antara Pelabuhan Lirung dengan Pelabuhan Melongoane, tiba-tiba terdengar suara mesin:
“Bleb-bleb-bleb kreek! Bleb-bleb-bleb kreek! Kreeeeek…!”
“Aduh! Mesinnya mati!”
Tiba-tiba speed boat mendongak ke atas dan  mesinnya pun terendam air. Seketika itu mataku terbelalak dan mulutku pun berteriak:
“Ya Allah, jangan ambil nyawa kami! Ya Allah, selamatkanlah hambamu ini! Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu…, Allahu…, Allah-Allah-Allah….

BERSAMBUNG …

Melongoane –Talaud – Sulut,  3 Oktober 2012

*) Djoko Rahardjo, Staf Subbag Sarana Akademik  BAKPIK  UM

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.