ORANG FASIK PEMBAWA BERITA

Dalam keseharian kadangkala kita mendengar berita yang tidak jelas asal-usulnya, atau isu yang diperbesarkan dalam lembar provokasi, diedarkan atau ditempel-tempel sekenanya. Berita itu kadang terkait dengan kehormatan seseorang muslim, atau dengan jabatan. Bagaimanakah sikap kita seharusnya terhadap berita-berita yang belum jelas kebenarannya itu.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [QS. Al Hujurat(49) : 6]

Al alaamah Asy Syaikh “Abdur Rahman bin Nasir As Sa’dy rohimahullohu Ta’ala berkata dalam tafsirnya : “Ini termasuk adab bagi orang-orang yang memiliki akal yang mendidik dengan adab tersebut dan mengamalkan adab tersebut, bahwa apabila ada seorang yang fasik membawa suatu berita hendaknya mereka mencari kebenaran dalam berita tersebut, jangan diambil begitu saja.” (tasiirul kariimir rohmaani fii tafsiiri kalaamil mannan 765)

Dalam ayat tersebut di atas, dengan jelas kita dilarang percaya kepada berita angin, sebelum memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Orang-orang fasik itu pada dasarnya (jika berbicara) dia dusta, akan tetapi kadang kala ia juga benar. Karenanya berita yang disampaikan tidak boleh diterima dan juga tidak ditolak begitu saja, kecuali setelah diteliti. Jika pembawa berita itu memiliki buktinya, maka bisalah diterima. Jika tidak bisa membuktikan, maka tolaklah berita itu. Karena tidak semua berita itu benar, dan juga tidak semua berita yang disampaikan ada faktanya. Maka “…periksalah dengan teliti…” sehingga tidak menjatuhkan seseorang tanpa dasar.

Sebaiknya kita ikut mencegah masyarakat agar tidak menyampaikan berita bohong yang tidak ada dasarnya sama sekali dengan cara menghilangkan tulisan-tulisan yang mungkin diedarkan atau ditempel dan tidak membicarakan ulang. Hal ini tidak lain “…agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Maka wajiblah kita untuk senantiasa waspada, sehingga bisa mengetahui sumber kebencian, dan bagaimana rasa saling permusuhan dikobarkan oleh orang fasik dan atau orang munafik.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” [QS. An Nuur (24):11]

Terkadang kebaikan atau nikmat itu datang dalam satu bentuk yang kelihatannya menyusahkan, tapi yang jelas yang menyiarkan berita bohong itu baginya akan memperoleh azab yang besar.

Langkah pertama yang harus dilakukan, jika ada berita buruk tentang saudaramu, yaitu berhusnudhon (berperasangka baik) kepada dirimu. Jika engkau sudah husnuzdhon kepada dirimu, maka selanjutnya kamu wajib husnuzdhon kepada saudaramu dan (menyakini) kebersihannya dari cela yang disampaikan.

“(ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar. [QS. An Nuur (24):15]

Diawalnya ucapan itu diterima dengan telinga, bukan dengan lisan. Kalau tidak hati-hati menjaga lisan, maka cepat berita itu tersebar di tengah masyarakat. Seakan-akan kata-kata itu keluar dari mulut ke mulut tanpa melalui telinga, dilanjutkan ke hati yang memikirkan apa yang didengar. Sepertinya ini adalah sesuatu yang ringan padahal di sisi Allah adalah besar atau akan memperoleh azab yang besar.

“Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar.” [QS. An Nuur (24):16]

Disinilah pentingnya kita untuk berbaik sangka dulu pada saat menerima berita kemudian memeriksa dengan teliti, bukan menyebarluaskannya.

Menyebarluaskan berita bohong sama dengan membantu para pendusta berarti mengikuti langkah-langkah syaitan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” [QS. An Nuur (24):16]

Para penyebar berita palsu (fitnah), para pendusta, para pencari aib orang yang baik, tahanlah dirimu dari lisan atau tulisanmu, karena sesungguhnya kamu akan diminta pertanggungjawaban apa yang engkau ucapkan atau sebarkan.

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” [QS.Qaaf(50): 18]

“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi Balasan dengan apa yang diusahakannya. tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah Amat cepat hisabnya.” [QS.Al Mukmin(40) : 17]

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak,” [QS.Ibrahim(14): 42]

Maka berhati-hatilah para pembuat dan pembawa berita.

 Dari beberapa sumber, Noor Farochi —- staf BAKPIK

6 comments to ORANG FASIK PEMBAWA BERITA

  • Berbicara tentang budaya ngrumpi dikaitkan dengan agama ternyata ngrumpi yang dilakukan oleh masyarakat kita (mayoritas beragama Islam)cenderung kearah negatif yang mengarah kedosa. Saat ini saya sedang berada di Hawaii yang merupakan negara sekuler yang oleh mahasiswa “radikal” pemikirannya dikatakan sebagai negara yang…. Berhubungan dengan budaya ngrumpi, ternyata di sini tidak ada budaya ngrumpi. Di kampus, tidak ada sekelompok atau beberapa orang berkumpul yang ramai atau berbicara yang kelihatannya membicarakan orang lain yang tidak penting. Di sini tidak ada orang yang nganggur2 cangkrukan. Di jalan-jalan, tidak menemukan orang yang ngrumpi, tidak ada orang kumpul-kumpul yang tidak penting, jalan itu sepi. Di kotanya, yang terdapat pusat pertokoan, tidak ada orang yang ngobrol, apalagi bercanda, walaupun toko penuh orang, tapi tetap sepi tidak ada yang mengobrol/ngrumpi. Setelah saya tanya mengapa jalan atau lingkungan di Hawaii sepi, jawabnya orang-orang tidak akan keluar rumah jika tidak ada kepentingan. Kesimpulannya, berbicara tentang ngrumpi yang menjadikan dosa yang telah diatur dalam agama Islam sedemikian bagusnya ternyata oleh masyarakat kita yang menyatakan beragama Islam malah tidak diterapkan. Sementara itu, di sisi bumi lain yang penduduknya beragama boleh tidakpun boleh ternyata malah melakukan sesuatu yang dapat dikatakan “sesuai dengan nilai-nilai agama Islam”. Sekarang bagaimana caranya agar masyarakat kita dapat menerapkan nilai-nilai Islam yang bebas dari budaya ngrumpi? Saya kira itu yang penting untuk dipecahkan bersama. Terima kasih.

    Siti Awaliyah
    Dosen Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan UM

  • Noor Farochi

    Kata fasiq berasal dari bahasa Arab al-Fisq الْفِسْقُ atau al-Fusuq الْفُسُوقُ yang bermakna keluarnya sesuatu dari sesuatu yang lain dalam keadaan rusak. Adapun dalam pengertian syariat maka artinya adalah keluar dari ketaatan.
    Nah… kita semuanya bisa saja dengan mudah menjadi orang fasik. Misal kita membaca atau menemukan berita lembar provokasi yang biasanya bernada negatif, tetapi tanpa ada bukti yang mendukung hal negatif tersebut. Kemudian kita tidak berusaha menghilangkan tetapi malah menyebarkan berita itu baik dengan lisan maupun melalui lembaran serupa, maka jadilah termasuk orang fasik yang melanggar larangan Allah

  • Noor Farochi

    @Moh. Sahri
    Orang fasik adalah yang melupakan Allah
    “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” QS.Al-Hashr(59):19

  • Moch Syahri

    Bagus sekali sebagai nasehat. Agar tulisan ini semakin sempurna,ada baiknya dilengkapi dengan definisi orang fasik. Siapa saja yang termasuk orang fasik.

  • djoko rahardjo

    Masih tentang BUDAYA NGRUMPI, alat komunikasi yang sudah dimiliki oleh masyarakat kita tergolong canggih, misalnya HP dan internet. Apa yang sedang dan yang akan dikerjakan oleh masyarakat kita? Jawabnya adalah ngrumpi. Sekali lagi N-G-R-U-M-P-I. Apa yang dibahas oleh mereka? Hehehe…, celakanya bila yang memberi pernyataan tanpa didasari oleh fakta yang benar itu, adalah pejabat yang sedang berkuasa atau seorang pakar. Bagaimana tanggapan dari “sebagian” masyarakat kita?

  • djoko rahardjo

    Nah… ini baru tulisan yang bermutu! Begini Pak Noor…, bila kita cermati kondisi yang “sedang” terjadi di masyarakat kita tentang adanya “ngrumpi masal”. Hal ini terjadi mulai dari rasan-rasan/ngrumpi di tempat umum seperti para ibu penjemput di sekolah PAUD, di arisan RT, di jamaah pengajian, di jamaah tahlilan/yasinan, di pertemuan PKK, di kelompok arisan, di kantor, di sekolah, di kampus dll. Pendek kata, menurut pendapat saya (belum tentu benar 100%) di Indonesia yang lebih berkembang adalah “Budaya Ngrumpi” daripada Budaya Menulis.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.