UMPAMA KELEDAI YANG MEMIKUL BUKU

Firman Allah dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 5

 

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِئَايَاتِ اللهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

 

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (Surat Al-Jumu’ah ayat 5).

Ayat ke-5 Surat Al-Jumu’ah tersebut berisi perumpamaan atas perilaku kaum Yahudi. Kepada kaum Yahudi tersebut Allah mengutus seorang Rasul dari Bani Israil, yaitu Nabi Musa a.s. dengan membawa petunjuk Allah berupa Kitab Taurat. Akan tetapi, petunjuk dalam Taurat tersebut tidak dipikulnya, tidak dilaksanakannya. Mereka mendustakannya dan hanya membangga-banggakannya. Orang seperti ini, oleh Allah dilabeli dengan UMPAMA KELEDAI—si hewan dungu—YANG MEMIKUL BUKU.

Secara tekstual, ayat tersebut ditujukan kepada kaum Yahudi. Mereka mendustakan kebenaran ajaran Taurat, antara lain, kewajiban mempercayai Nabi Muhammad. Demikian juga, ketika Nabi Muhammad berdakwah, kaum Yahudi menyatakan ummat Islam tidak memiliki kitab, umat Islam bukan kekasih Allah, dan ummat Islam tidak memiliki hari suci.

Walaupun perumpamaan dalam ayat tersebut ditujukan kepada kaum Yahudi, tetapi perumpaan tersebut memiliki nilai yang berlaku secara universal: bisa untuk kaum apa saja, suku dan bangsa mana saja, agama dan keyakinan apa saja, individu siapa saja; bahkan kapan pun dan di mana pun.

Dengan pemahaman demikian, kita pun dapat mengambil hikmah dari perumpamaan tersebut:

 

·          

sebagai muslim, kita sudah diamanati Al-Quran dan Al-Hadits, seberapa konsisten kita memikulnya;

 

·          

sebagai bangsa, kita sudah memiliki undang-udang, sudahkah kita memikulnya;

 

·          

sebagai kaum intelektual, kita memili norma dan etika, sudahkah kita memikulnya.

 

 

Mari kita introspeksi diri atas contoh-contoh berikut ini.

(1)    

 Sebagai intelektual muslim, kita memiliki acuan ayat pertama yang diturunkan Allah, yakni perintah IQRA ‘membaca’. Dalam pemahaman kontrasnya, perintah membaca juga perintah menulis. Fakta menunjukkan budaya baca kita termasuk rendah. Budaya tulis kita pun malah lebih rendah: buku masterpiece masih sedikit yang kita hasilkan, informasi elektronik di internet masih didominasi tulisan-tulisan non-Islami; sebagian dari mahasiswa kita masih berkarya dengan copy dan tempel hasil karya orang lain.

 

PERILAKU TESEBUT BISA MASUK DALAM KATEGORI UMPAMA KELEDAI—si hewan dungu—YANG MEMIKUL BUKU.

(2)    

Sebagai individu muslim kita telah dibekali hadits la’natullah ‘ala raasyi wal murtasyidilaknat oleh Allah penyuap dan penerima suap’ dan sebagai anak bangsa kita sudah mendapat acuan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

 

Dalam konteks ini, fakta-fakta berikut perlu menjadi renungan.

 

·          

Fenomena menyedihkan dan menggelikan terjadi dalam pekan ini, yakni unggahan video You Tube tentang seorang polisi di memeras turis karena tidak berhelm dan diikuti dengan ajakan pesta minuman keras di pos polisi. Diikuti pula pengakuan pada hari itu telah berhasil memeras 3 turis sebagaimana yang dilakukan pada jam itu.

 

·          

Fenoma penerimaan PNS di sejumlah instansi didasarkan pada besaran jumlah upeti yang diberikan merupakan pengetahuan umum bagai khalayak.

 

·          

Ulah sebagian wakil rakyat di DPR RI yang konon terhormat dengan mengatur anggaran pengadaan barang dengan permainan suap diberitakan secara berulang di media massa cetak dan elektronik.

 

 

PERILAKU TESEBUT JUGA MASUK DALAM KATEGORI UMPAMA KELEDAI—si hewan dungu—YANG MEMIKUL BUKU

(3)    

Dalam konteks usaha dan jasa, kegiatan transaksi riil, nyata, dan terikat waktu kini merupakan ajaran Rasul kita. Bunga berbunga dalam simpan pinjam merupakan larangan Allah.

 

·          

Perdagangan super derivatif dan/atau investasi bodong yang menjual hitungan-hitungan pengandaian keuntungan masa datang (ijon) dengan hitungan satuan tahun bahkan  puluhan tahun dengan bungkus analisis statistik dan computerized: investasi emas Raihan Jewellery; Golden Traders Indonesia Syariah; Virgin Gold Mining Corporation; dan investasi uang di Koperasi Langit Biru yang menjanjnjikan keuntungan berlipat dan flat yang luar biasa tinggi dan tidak masuk akal sehat.

 

·          

Transaksi model Ponzi, yakni seseorang berinvestasi dengan membawa nasabah di bawahnya (downline) dengan mengikuti deret hitung dengan janji mendapatkan keuntungan luar biasa. Padahal, keuntungan yang diberikan itu adalah modal sendiri dan modal nasabah di bawahnya. Anehnya, model investasi ini sudah ada sejak lama (sekitar tahun 1938), berulang-ulang terjadi, dan bahkan lebih aneh lagi untuk keperluan ibadah haji dan umroh pun ada, tetapi masih saja ada yang terpersok di dalamnya.

 

PERILAKU TESEBUT JUGA MASUK DALAM KATEGORI UMPAMA KELEDAI—si hewan dungu—YANG MEMIKUL BUKU

 

 

قُلْ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِن زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَآءُ لِلَّهِ مِن دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

 

Katakanlah:”Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar (Surat Al-Jumu’ah ayat 6)

 

 

 وَلاَيَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

 

Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahi akan orang-orang yang zalim.

Kaum Yahudi berkeyakinan bahwa mereka adalah kekasih-kekasih Allah, manusia pilihan Allah, tidak ada yang masuk surga kecuali orang Yahudi. Mereka sangat membanggakan diri dan melabeli diri sebagai manusia unggul di sisi Allah. Akan tetapi, ketika diinfokan tantangan jika mereka kekasih Allah, idamkanlah kematian agar segera berjumpa dengan Dzat yang mengasisi, mereka tidak mau.

 Ayat ini juga perlu kita introspeksi.

(1)    

Dalam bidang organisasi, sebagian kita sering membanggakan diri sebagai individu, sebagai kelompok, sebagai komunitas terbaik, terpintar, tersalih; bahkan ada adagium: sebaik-baik orang dari kelompok Anda termasuk terjelek dari kelompok kami; seburuk-buruk kelompok kami termasuk terbaik dari kelompok Anda.

(2)    

Dalam komunitas ritual, sebagian kita sering mengelompok dan melabeli diri dengan sebutan yang setara dengan kekasih Allah, waliyullah, habibullah.

 

Allah memberi indikator yang sangat jelas: idamkanlah kematian, agar yang mengasihi dan yang dikasih segera berjumpa. Indikatornya bukan jubahnya, bukan surbannya, bukan keturunannya, bukan pula nama jamaahnya yang berbau bahasa Arab dan atau terminologi yang biasa dipakai oleh ajaran Islam.

 

Jika indikator itu belum terpenuhi, kita pun masuk dalam kategori pendusta, orang yang tidak jujur, orang yang tidak benar, sebagaimana sifat Yahudi. Na’udzubillah min dzalik.

 

Disampaikan dalam khutbah Jumat 5 April 2013 di Masjid Al-Hikmah Universitas Negeri Malang

 

Dawud

Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Guru non LPTK

Berikut ini ada keputusan dari Mahkamah Konstitusi. Isinya menyangkut Guru tidak harus dari LPTK selama memunuhi persyaratan yang berlaku. 

Jika ingin melacak sumber unggahan ini silahkan menulis url di bawah ini pada penjelajah anda.

http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/putusan/putusan_sidang_95%20PUU%202012%20-%20telah%20ucap%2028%20Maret%202013.pdf

Putusan MK tentang Guru non LPTK

 

 

 

APRIL ISTIMEWA

20 APRIL: HARI KONSUMEN

Tanggal 20 April merupakan Hari Konsumen internasional. Peringatan hari konsumen berujutan mendukung atas hak-hak konsumen.

Di Indonesia, hak-hak konsume dilindungan dalam Undang-Undang Republik Indonesia  Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.

Hak konsumen adalah:

a.     

hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;

b.     

hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

c.     

hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai konsidi dan jaminan barang dan/atau jasa;

d.    

hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;

e.     

hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;

f.      

hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;

g.     

hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

h.     

hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

i.       

hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

 

21 APRIL: HARI KARTINI

Setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati hari kelahiran Raden Adjeng Kartini sebagai Hari Kartini. Hari Kartini merupakan hari kebangkitan wanita Indonesia dalam berpartisipasi dalam membangun bangsa. Wanita berkedudukan setara dengan pria dalam mengisi pembangnan bangsa: level keluarga, masyarakat, dan bangsa.

 

22 APRIL: HARI BUMI

Tanggal 22 April merupakan Hari Bumi. Hari Bumi diperingati sebagai dukungan atas pentingnya perlindungan lingkungan hidup. Hari bumi pertama kali dirayakan pada 22 April 1970. Saat ini, perigatan hari bumi dikoordinasikan oleh Erth Day Network dan diperingati lebih dari 192 negara tiap tahun.

Hari ini, UM menyelenggarakan peringatan Hari Bumi dengan menerapan sehari saja tanpa kendarangan bermotor yang dimotori oleh Ormawa UM. Tujuannya agar udara UM bersih dari polusi CO2 hasil pembakaran kendaraan bermotor. Tentu saja, terbebas dari polusi suara hasil raungan knalpot kendaraan bermotor.

Rasanya nikmat sekali tanpa asap dan tanpa raungan sura knalpot kendaraan bermotor. Saya pun dapat menikmati masuk ke kampus menggunakan sepeda listrik yang tanpa polusi. Juga ketika berjalan ke kantor Pusat TIK terasa udara segar, terdengar suara burung berkicau merdu, terdengar suara “gareng pung” pertanda musim akan berubah kemarau, terdengar suara anak-anak SMA yang sedang menyanyikan lagu saat ikut lomba yang diselenggarakan oleh Ormawa Fakultas Sastra.

Andai suasana seperti ini dipertahankan, setidaknya, bukan hanya sekali dalam setahun–munkin dua hari sekali, mungkin seminggu sekali, atau sebulan sekali: BETAPA SEHATNYA UDARA DI UM TERCINTA INI.

POHON LINDUNG BERBUNGA SUMBANGAN ALUMNI (5)

5.  Pelthophorum Pterocarpum

Peltophorum pterocarpum merupakan spesies asli dari pulau-pulau lepas pantai wilayah utara, Asia Tenggara, di daerah pesisir dari Sri Lanka melalui kepulauan Melayu dan Indonesia ke Australia utara.  Pohon ini juga disebut pohon flamboyan kuning, pohon api kuning karena kemiripan daun pakis, di India disebut Radhachura.
Pohon yang banyak ditanam di daerah tropis sebagai pohon hias ini dapat tumbuh mencapai ketinggian sekitar 15 m sampai dengan 25 m dan memiliki buah berbentuk polong panjang 5-10 cm dan 2,5 cm lebar mengandung 1-4 biji.  Pohon Pelthophorum pterocarpum menghasilkan tandan bunga kuning yang menakjubkan diikuti oleh datar polong tembaga tidak merekah atau pecah.
Bunga-bunganya harum yang berkerumun berwarna kuning memberikan kelimpahan mekar efek kuning cerah yang mencolok di musim panas, diameter 2,5-4 cm dengan panjang sampai 20 cm.  Cabang dahan dan ranting melebar menyebarkan banyak cabang yang membentuk mahkota mirip payung.  Karena keindahan bunganya yang mempesona umumnya ditanam untuk naungan di taman sebagai pohon peneduh.
Batang kayu berbutir halus dengan diameter batang bisa hingga 1 m yang berharga dapat digunakan untuk pertukangan, konstruksi, pembuatan mebel dan pekerjaan bak truk.  Dari kulit kayu dapat diekstraksi sebagai pewarna (warna coklat)  yang baik untuk digunakan dalam mewarna kain batik.
  

bersambung…….

Noor Farochi – Kabag UHTBMN

HARI BUMI SEDUNIA 22 APRIL

Hari ini adalah Hari Bumi, keberadaan Hari Bumi sedunia jatuh pada tanggal 22 April setiap tahunnya, peringatan Hari Bumi untuk mengingatkan kesadaran dan mempunyai kepedulian yang tinggi akan pentingnya kelestarian lingkungan.  Lebih menegaskan pentingnya sadar lingkungan dengan menanam dan merawat pohon agar bermanfaat bagi sesama.
Penanaman pohon tersebut merupakan salah satu pemanfaatan lahan yang positif.  Harapan awal lahan yang sebelumnya tanpa tanaman bisa berubah menjadi lebih hijau. Sehingga menanam pohon di manapun tempatnya, akan menjadikan lingkungan lebih segar.
Penanaman pohon-pohon besar yang rindang akan berfungsi efektif mengurangi pencemaran udara dengan menyerah gas CO2 dan menghasilkan O2 yang banyak dibutuhkan makhluk hidup. Pohon-pohon ini juga membantu menciptakan iklim mikro dengan memberikan hawa yang sejuk nan asri. Fungsi konservasi juga dijalankan yang berperan pada perlindungan dan konservasi tanah dan air.
Beberapa waktu yang lalu, Universitas Negeri Malang telah menanam beberapa pohon beringin, pohon trembesi, pohon sono lancur, pohon sawo kecik, pohon pucuk merah, dan beberapa pohon lindung lainnya.  Tidak lama berselang sekitar 61 bibit-bibit pohon lindung berbunga sudah tertanam berdiri di lahan yang sudah disiapkan, lengkap dengan ajir atau kayu penahan tanaman.
Kegiatan penanaman pohon yang dikerjakan oleh kepala urusan halaman sub bagian rumah tangga.  Penanaman ini merupakan partisipasi dari alumni Jurusan Bahasa Inggris Angkatan 1971/70++ IKIP Malang (dulu) melalui Bapak Murdibjono (Ketua IKA UM) yang di kirim pada hari Jum’at, 15 Maret 2013 dalam berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan.  Semoga segera diikuti alumni-alumni yang lain, aamiin.
Selain membuat lahan menjadi lebih hijau, segar yang kelak bisa mencegah terjadinya bencana alam yang akhir-akhir ini sering menimpa, penanaman juga dimaksudkan ikut berperan serta membantu memperindah kampus Universitas Negeri Malang tercinta.
Penanaman dan pemeliharaan pohon di tempat yang sama, dalam prosesnya membutuhkan dukungan dan peran serta semua pihak untuk memperhatikan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan hidup.  Tidak bisa hanya menanam pohon lalu berhenti begitu saja. ibarat kita menaruh kendaraan lalu tukang parkir disuruh menjaga keamanan, tetapi kita tidak memberikan uang parkir, maka sudah kewajiban penanam untuk memberikan ‘uang parkir’ (baca: dana perawatan dan pemeliharaan tanaman).  Muhamad Kundarto dalam tulisannya mengatakan, aksi perawatan berbeda dengan penanaman. Penanam cukup dilakukan sekali di awal, tetapi perawatan membutuhkan rentang waktu yang lebih panjang, bahkan idealnya sampai tanaman berumur 2 tahun atau tanaman mampu tumbuh dengan baik secara mandiri. Jadi porsi perawatan membutuhkan perhatian yang lebih besar, mengingat banyak orang lebih tertuju pada aksi penanaman saja. Perawatan pun membutuhkan dana yang lebih besar.
Menanam dan merawat pohon
Kita semua tahu perawatan dan pemangkasan yang tepat dapat meningkatkan kesehatan pohon dan keindahan.  Pemangkasan merangsang pertumbuhan, tujuannya adalah mendorong pohon untuk tumbuh kuat, sehat cabang menuju ke arah yang benar.  Jadi memangkas untuk meningkatkan bentuk alami pohon.  Pemangkasan juga untuk pembentukan cabang yang seimbang serta pertumbuhan vegetatif yang baik supaya tanaman selalu dalam kondisi yang prima.  Pada tanaman buah untuk mengurangi jumlah tunas dan pucuk batang agar pertumbuhan buahnya maksimal, diharapkan menghasilkan panen yang prima juga.
Sarana dan Prasarana
Untuk bisa melaksanakan perawatan dan pemangkasan yang tepat dan tidak dilakukan dengan asal, tentu membutuhkan peralatan yang memadai.  Memangkas manual, dengan cara menaiki pohon mempunyai resiko dahan yang patah saat diinjak atau dalam pegangan, terpeleset jatuh karena dahan yang licin karena basah atau karena terinjak benalu pohon, atau bisa juga tersengat kabel listrik yang melintang.
Yang pasti dengan memangkas manual keindahan pohon jadi berkurang.
Selamat memperingati Hari Bumi.

Noor Farochi – Kabag UHTBMN

 

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.