KISAH RUMAH BESAR

“Ini semua salahku,salahku, kemanakah perginya kalian? duh gusti, kembalikanlah mereka kepadaku” demikian gumam wanita tua sambil menyapu halaman yang lumayan luas dengan rumah yang cukup besar tapi kelihatan sangat kotor dan tampak tak terawat,apalagi ditengah halamannya tumbuh sebuah pohon besar yang setiap hari daun keringnya berguguran menebar keseluruh area rumah dan semakin menambah kotor keadaannya
Bila malam mulai menyelimuti,rumah yang besar itu tampak gelap dan senyap hanya terdengar suara unggas malam yang gaungnya menembus sekat sekat diantara dinding ruang sehingga menambah seramnya suasana rumah dan sekitarnya
“seandainya kalian dirumah,tak mungkin ada atap yang berlubang seperti itu dan tak mungkin dingin ini selalu menerpaku” demikian gumam wanita tua yang selalu duduk disudut ruang kala malam datang sambil memandang atap rumah yang kian rusak dan rapuh disana sini, karena termakan masa
Dengan mata berkaca kaca wanita tua itu berusaha untuk bertahan tapi toh keluar juga titik titik airmata yang mengalir disela keriput kulit wajahnya
Rumah yang dulunya besar dan megah serta suara gaduh, kadang bertengkar dari anak anaknya yang tiada hari tanpa menjengkelkan orang tuanya,tapi hatinya mengakui bahwa dibalik kebisingan itu ada nikmat dan kebahagiaan yang tiada tara mengikuti setiap denyut jantung kehidupannya.
Sejenak wanita tua itu menghela nafasnya yang mulai tersengal, tiba tiba terbayanglah wajah mendiang suami pertamanya yang begitu gagah, kaya, juga dihomati oleh masyarakat karena kebaikan dan keadilannya sebagai pejabat dan tokoh terkemuka, tapi dalam hati ia selalu bertanya yang tak pernah ada jawabannya,kenapa suaminya harus meninggal tanpa diketahui apa penyakitnya? Sedang anak satu satunya yang masih balita sangat membutuhkan untuk kelangsungan pertumbuhannya, lagi lagi wanita tua itu menarik nafas panjang dan berdesah, lalu terbayanglah kembali ketika datang laki laki tegap setengah baya yang siap mengisi hatinya dengan mempromosikan diri untu membahagiakan dia dan kelangsungan hidup anaknya.
Kebahagiaan itu memang direguknya dengan ditandai lahirnya anak laki laki kedua dengan suami kedua yang memang benar benar tampak menyayangi terhadap keluarganya
Beberapa tahun bahtera hidup itu dinikmatinya tanpa mengetahui bahwa bak semerbak bunga ditaman dan lebatnya hijau daun dirimbaraya tiba tiba berubah pucat yang akhirnya satu satu mulai berguguran
Berawal dari ketidak adilan dalam memperlakukan kedua anaknya,memicu anak yang masih belasan tahun itu akhirnya pergi meninggalkan rumah tanpa tahu kabar beritanya dan sejalan dengan itu pula sedikit demi sedikit harta mendiang suami pertamanyapun nyaris habis dimeja judi dan berakhir dengan kematian yang mengenaskan dari suami keduanya, kini semua pergi – pergi meninggalkannya
Sejenak wanita tua itu berfikir seakan menghitung, sudah hampir dua puluh tahun ia hidup dalam kesendirian, hanya sebab berharap kembalinya anak anaknyalah sehingga ia bertahan hidup hingga saat ini, selang beberapa lama ia masih terbawa oleh energi lamunan tapi akhirnya wanita tua itupun tertidur juga dengan melipat tangan dan kakinya karena rasa dingin malam yang begitu menyengat
Berita terakhir yang didengar wanita tua itu, bahwa anak laki laki pertamanya sudah jadi pemuda dewasa dan hidup dikota besar namun profesi maupun tempat menetapnya tidak jelas tapi bisa di temui ditempat tempat hiburan malam [dari cerita tetangga dusun yang bisnisnya luar kota dan menjumpai anak wanita tua itu secara tak sengaja]
Selang beberapa lama ternyata yang pulang lebih dahulu adalah anak keduanya yang juga tumbuh menjadi pemuda gagah,tampan dan pendiam tapi seakan ada sesuatu yang terpendam dibalik sayu matanya, tapi meski begitu suka cita wanita tua itupun tak terkirakan karena disaat airmata tua sudah mengering dan mulut terkatup makin rapat, kini bibir tua itu mulai tersenyum lagi oleh percik cahaya hati yang mengembang penuh kebanggaan, kebahagiaan ibu dan anak itu tercermin pada cerahnya suasana bangunan rumah besar yang kini tak lagi gelap, kotor yang berkesan angker
Hari hari terus berlari, sedang kebutuhan hidup itu pasti, uang tabungan kian menipis ditambah lagi lapangan pekerjaan tak pernah menghampiri dan yang lebih pedih lagi bayang bayang sosok wanita dambaan masa depan yang sudah terikat satu hati, satu janji, kini kian samar hampir menghilang,
tiba tiba tanpa sesadarnya mata pemuda itu memandang kesegala sudut rumah ia menarik nafas panjang, dalam hati ia berkata”tak ada lagi peninggalan berharga yang bisa untuk dijualnya..”
Sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam kondisi hidup, kini ibunya jatuh sakit yang hanya bisa berbaring saja diatas tikar
Ketidak berdayaan keluarga kecil itu menjadikan suasana dan rumah yang besar itu kembali suram lagi karena anak laki laki yang ada dalam rumah itu kerjanya hanya merenung sepanjang hari dan tak peduli lagi dengan kondisi yang ada dan tak mau repot berfikir mencari solusinya
Rumah besar yang sejak dulu dikenal seram oleh masyarakat sekitar, kini semakin tambah seram dan kesannya bertambah angker sebab hampir disetiap malam orang yang lewat jalan dibelakang rumah tersebut selalu mencium bau harum yuswa terkadang bau kemenyan hingga banyak orang yang ciut nyalinya, dibuat merinding bulu kuduknya oleh rasa takut tapi bagi orang orang yang punya keberanian malah menjadi penasaran dan mereka saling bertanya dan menduga duga, apakah yang dilakukan wanita tua dan anaknya didalam rumah?
Akhir akhir ini masyarakat melihat perubahan perubahan yang terjadi pada keluarga kecil penghuni rumah besar tersebut, yang pada hari hari tertentu rumahnya tampak terang tapi yang sering remang remang kadang gelap sama sekali dan ketika saat siang tetangga mencoba menanyakan kenapa begitu? anaknya menjawab kalau itu permintaan ibunya yang kini kondisinya sedang sakit parah, berita sakitnya wanita tua bangkitkan iba pada masyarakat yang memang sudah mengenalnya,tapi kesepakatan mereka untuk menjenguk kalah oleh perbawa dan aura seram dari rumah itu. dan yang diketahui masyarakat yang lain tentang keluarga kecil itu adalah ekonominya begitu lancar, contoh yang kecil adalah sudah terpenuhinya kelengkapan perabot idealnya rumah yang begitu besar, dan lainnya
Syahdan ketika lancar lancarnya ekonomi [yang menurut berita atas ijabah iblis, sebab penghuninya tak pernah berinteraksi dengan orang terkait urusan bisnis] maka meninggallah wanita tua itu [ibunya]
Tiada kata doa, apalagi lantunan dzikir, yang jelas sejak kematian itu rumah besar itu terus gelap gulita
Beberapa tahun kemudian, tampaklah laki laki setengah baya berjalan pelan dengan menunduk ke arah rumah besar yang beberapa tahun terakhir ini menakutkan tetangga sebab sering terdengar suara suara aneh dari dalamnya,dan laki laki tersebut ternyata si fulan,anak sulung dari mendiang wanita tua,yang sebelum menuju rumahnya untuk kembali tapi punya inisiatif memberi laporan dulu pada pejabat yang berwenang dan kepada masyarakat sambil menanyakan perihal keluarganya.
Dengan memendam penyesalan yang dalam dan sekali kali mengernyitkan keningnya yang tampak berkeringat,dia mengikuti cerita tetangganya dan diakhiri perasaan sangat kecewa ketika mendengar detik akhir dari kematian adiknya yang dianggap aneh
Dalam hati ia bersyukur kepadaNya,sebab terakhir dari perjalanannya yang kelam dan penuh kemaksiatan itu Tuhan masih berkenan mempertemukannya dengan seorang ulama dan menunjukkan jalan lurus atas izinNya sehingga ia mengerti apa fungsi dan tujuan hidup manusia di dunia
Dan kini rumah besar itu ibarat cahaya yang mampu menyinari masyarakat disekitar dan umat melalui suara azan yang selalu bergema dari masjid yang dibangun di halaman depan rumah besar,sedang suara alunan anak anak mengkaji dan membaca kitab suci alqur’an, mampu meluluhkan hati orang orang yang sebelumnya keras dalam menentang dan memusuhiNya ………….. [hanya fiksi/suhartono/d7/fs/um]

Komentar ditutup.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.