MEMANG DUNIA KITA BERBEDA

Oleh: Lukman Chamdani  

Mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang/Santri PIQ Singosari

lukchamdani@gmail.com 

EMPAT belas ribu kilometer memisahkan dua ratus empat puluh juta orang Indonesia dan tiga ratus juta orang Amerika Serikat. Namun, jarak yang membentang tak menghalangi komunikasi antara dua bangsa berbeda budaya dan bahasa. Perbedaan yang menciptakan berbagai benturan bila tak dijembatani akan menjadi jurang pemisah yang membatasi hakikat beragamnya penciptaan manusia untuk saling mengenal dan bersaudara. 

Dan Konferensi Komunikasi Lintas Budaya (The Cross Cultural Communication Conference) yang diadakan Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang bekerjasama dengan Kedutaan Besar AS, Sabtu hingga Minggu (23-24/3/2013) mengajak kedua bangsa menciptakan pemahaman lintas budaya yang lebih baik, menepis mitos-mitos tak bertanggung jawab yang memicu kesalahpahaman, dan memesrakan kembali hubungan sosial keduanya.

Hadir sejumlah warga negara AS yang tinggal di Indonesia untuk menceritakan pengalaman mereka dalam menangani konflik yang terjadi karena kurangnya pemahaman antarbudaya. Liz England PhD, misalnya. Pengajar di UIN Alauddin Makassar itu mengungkapkan cara terpenting adalah jujur mengomunikasikan ketidaknyamanan yang dirasakan tanpa perlu ditunda. Tanpa mengungkapkan secara langsung, perbedaan budaya yang terjadi tak pernah ditemukan jalan tengahnya. 

Hal senada disampaikan Autumn Jackson MA (AS) dan Esteban Touma MA (Ekuador), pasangan suami istri ini berbagi tips membina hubungan multikultural perlu komunikasi yang baik ketika terjadi miskonsepsi sehingga terjadi jembatan yang ideal ketika dua budaya berbeda secara ideal mampu berkompromi tepat di tengah-tengah dan bukan timpang sebelah. 

Komunikasi yang buruk, stereotip dan generalisasi yang keterlaluan menjadi batu sandungan lain dalam komunikasi lintas budaya sebagaimana disampaikan Jonathan Gasbar MA. Menurutnya, AS digambarkan sebagai negara permissif dalam hal seks dan obat-obatan, tak sepenuhnya benar. Nyatanya AS adalah negara yang religius.

Pernyataan Gasbar diamini Joshua Yardley MA yang menyatakan, seringkali kita menerapkan apa yang disuka kepada orang lain yang mungkin malah merasa terganggu. Joshua mengibaratkan dengan buah persik dan kelapa. Intinya, kedua bangsa terdiri dari amat sangat banyak orang yang sangat wajar bila memiliki selera, kepribadian, dan budaya berbeda. 

Dengan tagline Connecting in a World of Differences, konferensi ini menegaskan bahwa perbedaan adalah hal yang amat sangat wajar di dunia yang dihuni oleh berjuta umat manusia dengan latar belakang berbeda. Hanya saja, perbedaan tersebut hendaknya tidak dihakimi benar salahnya dengan menggunakan perspektif diri sendiri. Ada baiknya melihat sesuatu dengan cara pandang budaya lain untuk memahami bahwa terkadang sebagai manusia kita terlalu naif dan sombong untuk memahami bahwa kita terbatasi untuk memahami seluruh hal di dunia ini hanya dengan mengacu kepada diri sendiri.

(http://surabaya.tribunnews.com/2013/04/03/memang-dunia-kita-berbeda#sthash.cpr8Wuvw.dpbs /Rabu, 3 April 2013 19:11 WIB | Dibaca: 299 | Editor: Tri Hatma Ningsih | Sumber : Surya Cetak. Diunduh 6 April 2013:07.26)

Catatan: pemuatan artikel ini sudah seizin penulisnya via e-amail.

Komentar ditutup.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.