KHUTBAH JUM’AT: PEWARTA

Dawud

Jamaah Jumah rahimakumullah,
Marilah kita mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT karuniakan kepada kita, di antaranya adalah nikmat Islam, nikmat Iman, dan nikmat kesehatan. Marilah kita meningkatkan kualitas ketakwaan kita dengan menjalan perintah-perintah-Nya semampu jiwa-raga kita dan menjauhi larangan-larangan-Nya tanpa terkecuali.
Dalam pendahuluan khutbah tadi, khatib membacakan ayat 224—226 Quran Surah Asy-Syu’ara
Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.

وَالشُّعَرَآءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ {224}

Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah

 أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ {225}

dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?,

 وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَالاَيَفْعَلُونَ {226}

kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mereka bangkit membela, sesudah mereka dizalimi. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali

إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَاظُلِمُوا وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ {227}

Melalui syair-syairnya, para penyair zaman Jahiliyah seringkali mengungkap kemolekan wanita, menampilkan kelezatan minuman keras sehingga mengalihkan manusia dari mengingat Allah. Para penyair zaman itu sering kali memuji dan menyanjung tindakan kaum yang seharusnya dikecam. Sebaliknya, mereka sering mengecam tindakan kaum yang seharusnya dipuji. Semua itu dilakukan dengan mempemainkan kata-kata, mengharapkan tepuk tangan, mengundang decak kagum pendengar, dan akhirnya mengantar mereka pada kesesatan (Shihab, 2004:159).
M. Quraish Shihab (2004:4) mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut mengecam para penyair, yang oleh masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran saat itu, para penyair itu mendapat tempat yang sangat terhormat. M. Quraish Shihab  juga mengatakan bahwa para penyair ketika itu dapat diserupakan dengan media massa dewasa ini, yakni dapat menyebarluaskan informasi, mengangkat derajat seseorang atau masyarakat tertentu, atau sebaliknya mendeskreditkannya.
Menurut hemat khatib, saat ini, melalui media sosial, siapa pun kita bisa menjadi sumber berita dan sekaligus pewarta yang luar biasa hebatnya dan yang dapat menyebarkan warta tanpa batas: lembah-ngarai, bukit-gunung, laut-samudra, dan daratan-benua. Kita bisa menjadi sumber berita dan pewarta melalui berbagai media sosial satu arah-dua arah, lisan-tulis, dan/atau audio-video. Kita bisa menjadi sumber berita dan pewarta melalui mikroblog, misalnya SMS, e-mail, chatting, chat-on, wechat, mesenger, facebook, twitter, instagram, kakaotalk, whatsapp, hangout, tango, dan sejenisnya; dan bisa pula melalui blog dan website.
Kalau kita tidak hati-hati, pemanfaatn media sosial dan media informasi tersebut bisa mengarah menjadi pewarta sesat yang diikuti oleh orang-orang yang sesat antara lain dengan ciri-ciri sebagai berikut.
  • Pewarta yang menyesatkan informasi dengan memutarbalikan fakta dan opini, menjungkirbalikkan argmen dan bukti, mencampuradukkan realita dan fantasi. Pewarta jenis ini bisa mengubah yang benar tampak menjadi salah, yang hati-hati distigma menjadi lambat, dan yang tegas dicap sebagai pemarah; demikian juga sebaliknya.
  • Pewarta yang mengararahkan persepsi orang sesuai dengan kepentingannya, yakni yang sesuai dengan kepentingannya diarahkan untuk dipersepsi positif, sebaliknya, yang tidak sesuai dengan kepentingannya diarahkan untuk dipersepsi negatif. Yang terakhir ini sering dilakukan dengan kampanye hitam. Cara termurah dan termudah untuk kampanye hitam adalah fitnah.
  • Pewarta yang menyombongkan diri dan tidak tahu berterima kasih ala Iblis. Lazimnya, pewartaan ini untuk memenuhi syahwat kekuasaan. Kepada kawan seperjuangan menuntut komitmen tanpa batas, saat telah berkuasa lupa jasa hingga tanpa bekas. Bahkan jika memungkinkan, mendepaknya hingga lenyap.
  • Pewarta yang menista, mem-buly, menghakimi, dan memvonis pihak yang berseberangan denganya: kafirlah, masuk nerakalah, terkutuklah, tak terampuni dosanya sampai tujuh turunanlah dan sejenisnya.
  • Pewarta yang membuka aib diri sendiri dan orang lain dengan narsis berlebihan, selfie nggak ketulungan, ananiyah melampaui batas kewajaran, misalnya, seorang wanita berkeluarga meng-update informasi dingin-dingin sepi jablay atau pasangan kekasih meng-upload video mesum dirinya di Youtube.
Jamaah Jumah rahimakumullah,
Ayat tentang penyair tersebut merupakan penutup dari tujuh kisah tentang nabi besar, yakni Nabi Musa, Ibrahim, Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu’aib alaihim salam. Kisah nabi-nabi tersebut berisi sari pati dakwah kerasulanya, misalnya, Musa mengajak Firaun dan kaumnya menyembah Allah; Ibrahim mengajak meninggalkan sesembahan berhala beralih menyembah Allah yang Maha Tunggal; Luth mengajak kaumnya meninggalkan lesbian dan gay untuk berumah tangga sesuai dengan sunatullah. Semua kaumnya yang kafir selalu menggunakan cara yang praktis untuk menolak dakwah para Nabi tersebut. Semua Nabi tersebut mendapatkan tantangan berat dari kaum yang diserunya.
Kita bisa memetik hikmah dari kisahnya, kalau Nabi pilihan Allah saja mendapatkan tantangan seberat itu, kita yang manusia biasa saat memperjuangkan kebenaran, memperjuangkan kejujuran, dan memperjuangkan keadilan hampir pasti selalu mendapatkan rintangan, tantangan, ganjalan, dan jegalan; di antaranya adalah rintangan, tantangan, ganjalan, dan jegalan dari pewarta dan tentang pewartaan.
Untuk itulah, dalam hampir di semua kisah para Nabi itu, Allah menutupnya dengan ayat penguat dan penghibur yang sama dan diulang-ulang
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu ayat dan tetapi kebanyakan mereka tidak beriman

إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَةً وَمَاكَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

Dan sesungguhnya Thuanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang

وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

 

Kaum muslimin rahimakumullah,
Dalam menghadapi pewarta yang sesat tersebut, kita bisa mencontoh insan bijak, baik dari orang awam, profesional, maupun para Nabi Allah.
 Orang awam yang bijak saat menghadapi pewarta sesat tentang dirinya akan mengatakan, antara lain,
  • Sing waras ngalah, wani ngalah luhur weksasane.
  • Kalau ada orang gila mewartakan kita gila, kita jangan menjadi gila dengan ikut membuat warta yang gila pula.
Tokoh profesional yang populer di media massa berucap, bertindak, dan bersikap bijak sebagai berikut.
  • Apa pun beritamu tentang aku, emangnya gue pikirin, kalau aku pikirin wartamu, akan habiskan energiku dan kamu bangga karena aku tanggapi wartamu.
  • Sejelek apa pun kau beritakan aku, yang penting aku kerja, kerja, dan kerja.
  • Sebanyak apa pun berita buruk tentangku kau wartakan, kemarin aku berprestasi, sekarang harus berprestasi, dan esok harus lebih berprestasi.
  • Atas semua warta jahat yang kau sampaikan, aku syukuri dan aku nikmati, al-hamdulillah engkau telah mengurangi dosa-dosaku dan mengirimkan pahalamu kepadaku.
  • Atas semua warta yang mencaciku, bagiku, tidak apa-apa kau wartakan aku dengan warta apa pun yang kau mau, aku maafkan wartamu bahkan sebelum kau mewartakannya.
Dalam surat Asy-Syu’ara ayat 83—85, Nabiyullah Ibrahim menanggapi jegalan kaumnya dengan do’a
Ibrahim berkata, Tuhan, karunialiah aku hukum dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ {83}

dan jadikanlah buat aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian

وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي اْلأَخِرِينَ {84}

dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan

وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةَ النَّعِيمِ {85}

Adapun Nabi Nuh menghadapinya dengan doa
Nuh berkata:”Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku;

قَالَ رَبِّ إِنَّ قَوْمِي كَذَّبُونِ {117}

maka bukakanlah (pintu penyelesaian) antara aku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan siapa yang bersamaku dari orang-orang yang mu’min.

فَافْتَحْ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِي مِنَ الْمُؤْمِنِينَ {118}

 
Semoga kita terhindar dari menjadi pewarta yang sesat dan menyesatkan. Semoga kita menjadi pewarta sekaligus penegak kebenaran, kejujuran, dan keadilan sebagaimana firman Allah dalam surat Asy-Syu’ara ayag terakhir
kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mereka bangkit membela, sesudah mereka dizalimi. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali

إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَاظُلِمُوا وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ {227}

 
Masjid Al-Hikmah Universitas Negeri Malang,
21 Maret 2014
 
Dawud
 
Buku Tafsir Sumber
Shihab, M. Quraish. 2004. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasihan Al-Qur’an Volume 10. Jakarta: Lentera Hati.
 

DOA KHUTBAH KEDUA

Ya Allah, Ya Rabbi
Engkaulah Tuhan kami. Tiada Tuhan yang patut disembah selain Engkau.
Kau ciptakan kami dan kami adalah hamba-Mu. Kami tetap pada sumpah dan janji kami kepada-Mu sekuat tenaga kami.
Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kami perbuat.
Kami datang kepada-Mu menyatakan pengakuan akan segala nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepada kami.
Kami datang kepada-Mu dengan segala dosa kami, maka ampunilah kami. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.
Ya Allah, Ya Wahhaab, Yang Maha Pemberi Karunia
Karunialah kami hukum dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh.
Jadikanlah buat kami buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang di kemudian hari
Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan abadi
Ya Allahu, Ya Muhaimin, Yang Maha Memelihara
Anugerahilah kami kemampuan untuk melihat yang benar adalah benar dan berilah kekuatan untuk mengikutinya.
Anugerahilah kami kemampuan untuk melihat yang salah adalah salah dan berilah kekuatan untuk menjauhinya
Ya Allah, Ya Hafidz, Yang Maha Penjaga
kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat,
kami berlindung kepada-Mu dari hati yang tak khusuk,
kami berlindung kepada-Mu dari jiwa yang tak puas,
kami berlindung kepada-Mu dari do’a yag tak terkabulkan.
Ya Allah, Ya Baari’, Yang Maha Menata
perbaikilah untuk kami agama kami yang merupakan pelindung segala urusan kami,
perbaikilah keadaan dunia kami yang merupakan tempat kehidupan kami,
perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami.
Jadikanlah hidup kami sebagai tambahan bagi kami untuk berbuat segala kebajikan,
dan jadikanlah kematian kami sebagai peristirahatan akhir bagi kami dari segala kejahatan.
Ya Allah,Ya Mutakabbir, Yang Memiliki Kebesaran
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang banyak mengingat-Mu,
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang banyak mensyukuri nikmat-Mu,
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang sangat patuh terhadap perintah-Mu,
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang selalu merendahkan diri di haribaan-Mu,
dan tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang selalu berserah diri kepada-Mu.
Ya Allah, Ya Rahiim, Yang Maha Penyayang
kami mohon kepada-Mu agar kami dapat mencintai-Mu,
kami mohon kepada-Mu agar kami mencintai hamba-Mu yang mencintai-Mu,
kami mohon kepada-Mu agar kami mencintai segala perbuatan yang mendekatkan kami menuju cinta-Mu.
Ya Allah, Ya Qaabidh, yang Maha Pengendali
Jangan Engkau biarkan pada diri kami ada suatu dosa, tanpa Engkau ampuni.
Jangan Engkau biarkan pada diri kami suatau cela, tanpa Engkau tutupi.
Janganlah Engkau biarkan pada diri kami suatu kesusahan, tanpa Engkau berikan jalan keluar.
Jangan Engkau biarkan pada diri kami suatu utang tanpa Engkau lunaskan.
Jangan Engkau biarkan suatu hajat duniawi dan ukhrawi yang Engkau ridlai dan baik bagi kami, tanpa Engkau penuhi.
 
Ya Allah, Ya Matiin, yang Maha Kokoh
kami mohon kepada-Mu ketetapan hati dalam segala urusan,
kami mohon kepada-Mu keteguhan kehendak menuju kebenaran.
Ya Allah, Ya Ghafur, yang Maha Pengampun
Ampunilah dosa kami
Ampuniah dosa guru-guru kami
Ampunilah dosa ayah ibu kami
Kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka mengasihi kami sepanjang hayat—kehidupannya

Komentar ditutup.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.