Lembur Terakhir

Malam ini, Senin, 29 Desember 2014, saya dan teman-teman Pusat TIK melakukan lembur. Lembur ini merupakan lembur lanjutan dari lembur Rabu, 24 Desember 2014, malam liburan Natal pekan lalu. Setiap lembur, biasanya Mas Umar menyetel lagu Sayonara yang dilantunkan oleh Grace Simon. Lagu itu adalah lagu kenangan saat kami mulai kerja dengan anak-anak Pusat TIK, saat panik luar biasa, saya setelkan lagu Sayonara. Rupanya, Mas Umar terkenang masa sulit pertengahan & akhir tahun 2012 lalu. Saya tidak tahu, dua kali lemburan ini, Mas Umar tidak menyetel lagu itu.
Mungkin Mas Umar sungkan dengan saya. Karena, bagi saya, malam ini adalah LEMBUR TERAKHIR. Tentu, bagi teman-teman Pusat TIK, ini bukan lembur terakhir. Masih ada lembur terus di masa mendatang, tentu tanpa saya di samping mereka.
Dalam LEMBUR TERAKHIR ini, rasa puas, plong, dan puji syukur Alhamdulillah selalu saya panjatkan.
Alhamdulillah, UM tidak jadi mengeluarkan uang Rp 8.500.000.000,00 (delapan koma lima milyar rupiah) untuk pengembangan IT UM tahun 2012 lalu atas usulan pihak tertentu.
Alhamdulillah, UM tidak perlu mengeluarkan lagi uang 400 juta s.d. 600 juta per tahun untuk membayar FiNet karena UM dan Bank Mitra telah menggunakan aplikasi host to host yang dikembangkan oleh anak-anak Pusat TIK.
Alhamdulillah, data based UM telah terstandarisasi
Alhamdulillah, sistem informasi IT UM telah terintegrasi
Alhamdulillah, UM bisa melihat keuangan real time secara akurat
Alhamdulillah, registrasi mahasiswa baru UM dapat dilaksanakan one stop service di Graha Cakarawala UM dari validasi pembayaran sampai dengan menerima Kartu Mahasiswa bahkan jas almamater (kalau pengadaan tepat waktu) yang dalam sehari dapat melayani 2.500 mahasiswa baru
Alhamdulillah, para mahasiswa tidak perlu datang lagi ke UM saat dan usai membayar SPP/UKT untuk setempel validasi bukti pembayaran dan KTR
Alhamdulillah,  mahasiswa tidak perlu lagi datang ke kampus dan antri berjubel untuk KRS-an dan modifikasinya
Alhamdulillah, tenaga kependidikan fakultas tidak perlu lagi mencetak manual KRS, membaginya, dan menempel-nempel di pengumuman
Alhamdulillah, dosen tidak perlu mengisi DNA dengan pensil 2 B di kertas scan, memfoto copy, dan menyipannya dalam map
Alhamdulillah, lihat dan pesan untuk pinjam buku di Perpus Pusat, Perpus FS, Perpus FE, dan Perpus Pascasarjana cukup dari warnet, dari smartphone, dari tablet, dari rumah yang terkoneksi dengan internet
Alhamdulillah, pendaftaran, pembagian, dan penilaian PPL sudah online baik mahasiswa, dosen, maupun guru pamong
Alhamdulillah, aplikasi-aplikasi lain yang sudah siap dan sudah termanfaatkan.
Alhamdulillah, mulai bulan Januari 2015 ini, bandwidth UM mencapai 700 Mbps (bandingkan 2012 hanya 110 Mbps, 2013 ada 200 Mbps, dan 2014 ada 310 Mbps) dengan harga yang relatif tetap.
Alhamdulillah …. untuk semuanya, yang tidak perlu saya sebutkan lagi.
Malam ini, LEMBER TERAKHIR saya. Rabu, 7 Januari 2015 saya mengakhiri tugas saya sebagai anggota Rapim UM sekaligus sebagai Ketua Pelaksana Revitalisasi TIK UM / Supervisor TIK UM.
Terima kasih atas bantuan semua pihak. Secara khusus, terima kasih kepada teman-teman saya di Pusat TIK. Mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan saya selama menjalankan tugas tersebut.
****
Terngiang di telinga saya, lagu merdu Grace Simon
SAYONARA, SAYONARA, SELAMAT TINGGAL KAWANKU SEMUA.
Pusat TIK UM, 29 Desember 2014
Dawud

Gadis Kecil Penjual Jagung


GADIS KECIL  PENJUAL  JAGUNG

(Bagian Ke-1)

Oleh Djoko Rahardjo*

 

Angin gunung datang menghampiri Danau Bedugul sambil bercanda penuh tawa. Beribu-ribu manusia datang dan bertegur sapa pada sekawanan ombak kecil yang mulai menari-menari mengikuti irama semesta. Sore itu, Desember yang sudah beranjak tua, mulai bersiap-siap meninggalkan tahun 2014. Tujuh hari menjelang pergantian tahun, serombongan teman kantorku datang ke Pulau Dewata untuk melepaskan beban kerja. Sejenak meninggalkan hiruk-pikuknya urusan dinas. Walau hanya empat hari…, namun sungguh berarti bagi kami untuk memanjakan keluarga.
“Ve…, ayo kita membeli jagung rebus!”
“Tidak Mbah Kung!”
“Lho! Kenapa?”
“Di tas kresek biru, di dalam bus kan sudah ada roti”.
Ku gandeng tangan cucuku, sambil ku bisikan kata: “Kasihan dua gadis kecil itu, dagangannya belum laku. Sebentar lagi hujan akan turun”.
“Kalau begitu…, beli tiga saja. Satu untuk Mbah Kakung, Satu untuk Mbah Putri dan yang satunya untuk saya”.
“Nak…, apakah jagung rebus ini daganganmu?”
“Ya Pak!”
“Berapa harga tiga jagung?”
“Sepuluh ribu rupiah”.
Kira-kira sepuluh menit kemudian…, kami melangkah menuju ke tempat parkir bus. Tiba-tiba datanglah tembakan yang bertubi-tubi ke arahku. Peluru-peluru panas, yang ganas menembus mataku. Telingaku. Mulutku. Jantungku. Peluru kata-kata yang meluncur dari mulut mungil cucuku sangatlah tajam. Bagaikan peluru yang meluncur deras dari magazine—senapan otomatis AK47 buatan Rusia. Aku tak bisa menghidarinya. Aku jatuh terungkur oleh pertanyaan-pertanyaannya.
“Mbah Kung tidak bisa jadi contoh yang baik. Bukankah menjadi orang boros itu tidak baik dan itu perbuatan setan yang menyesatkan manusia. Kemarin…, saat di tempat wisata Kintamani, Mbah Kung membeli buah jeruk satu kresek…, padahal dari kantornya Mbah Kung sudah diberi buah jeruk, roti dan camilan. Sebelum berangkat ke Bali…, Mbah Putri membelikan Ave pakaian di Toko Sardo Malang tetapi masih dibelikan lima kaos di tempat ini. Kemarin…, sehabis Sholat Magrib di Masjid Pantai Sanur, Mbah Kung membeli empat botol Freshtea yang masih utuh, dan saat ini masih belum diminum tetapi mengapa baru saja beli lagi dua botol di warung depan tempat parkir!” Begitu lancar tutur kata dari bibir mungil cucuku bagaikan seorang orator.
 OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Belum sempat aku menjawabnya, tiba-tiba seorang teman menawarkan segenggam anggur merah kepada cucuku.
“Ini anggur untukmu. Terimalah!”
“Tidak. Terima kasih. Ave sudah punya jagung rebus yang masih hangat”. Jagung yang ada di tangan kanannya, ditunjukkan pada temanku.
Bagaikan halilintar yang menggelegar memecahkan gendang telingaku. Bagaikan trisula tajam yang merobek-robek ke dalam jantungku yang paling dalam. Aku tak punya muka. Lidahku kelu. Aku malu pada cucuku. Sebab dalam kehidupanku…, selalu menuntut sesuatu yang lebih. Sementara itu, cucuku yang masih duduk TK B, mengajariku tentang sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.
Badanku terguncang. Tanganku gemetar. Langkahku gontai menaiki tangga bus. Aku mengisyaratkan sesuatu kepada isteriku agar cucuku diajak memasuki bus yang masih belum ada penumpang didalamnya.
Tak terasa kacamata minusku, tiba-tiba berwarna kelabu. Disudut kelopak mataku terasa ada titik-titik air hangat yang jatuh dipipiku. Ketika aku berdiri di depan isteri dan cucuku, ada tatapan mata yang besembunyi dibalik kacamata pantai—yang bertangakai ping—milik cucuku.
Aku bingung. Aku kehabisan kata-kata. Meski hobiku merangkai kata-kata dan terbiasa berdebat dengan teman-temanku…, tetapi kali ini aku seperti orang yang tak memiliki kepercayaan diri. Aku harus menjawab apa?

Bersambung…

Malang, 29 Desember 2014

*) Staf Subbag Umum LP3 UM

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.