Gadis Kecil Penjual Jagung


GADIS KECIL  PENJUAL  JAGUNG

(Bagian Ke-1)

Oleh Djoko Rahardjo*

 

Angin gunung datang menghampiri Danau Bedugul sambil bercanda penuh tawa. Beribu-ribu manusia datang dan bertegur sapa pada sekawanan ombak kecil yang mulai menari-menari mengikuti irama semesta. Sore itu, Desember yang sudah beranjak tua, mulai bersiap-siap meninggalkan tahun 2014. Tujuh hari menjelang pergantian tahun, serombongan teman kantorku datang ke Pulau Dewata untuk melepaskan beban kerja. Sejenak meninggalkan hiruk-pikuknya urusan dinas. Walau hanya empat hari…, namun sungguh berarti bagi kami untuk memanjakan keluarga.
“Ve…, ayo kita membeli jagung rebus!”
“Tidak Mbah Kung!”
“Lho! Kenapa?”
“Di tas kresek biru, di dalam bus kan sudah ada roti”.
Ku gandeng tangan cucuku, sambil ku bisikan kata: “Kasihan dua gadis kecil itu, dagangannya belum laku. Sebentar lagi hujan akan turun”.
“Kalau begitu…, beli tiga saja. Satu untuk Mbah Kakung, Satu untuk Mbah Putri dan yang satunya untuk saya”.
“Nak…, apakah jagung rebus ini daganganmu?”
“Ya Pak!”
“Berapa harga tiga jagung?”
“Sepuluh ribu rupiah”.
Kira-kira sepuluh menit kemudian…, kami melangkah menuju ke tempat parkir bus. Tiba-tiba datanglah tembakan yang bertubi-tubi ke arahku. Peluru-peluru panas, yang ganas menembus mataku. Telingaku. Mulutku. Jantungku. Peluru kata-kata yang meluncur dari mulut mungil cucuku sangatlah tajam. Bagaikan peluru yang meluncur deras dari magazine—senapan otomatis AK47 buatan Rusia. Aku tak bisa menghidarinya. Aku jatuh terungkur oleh pertanyaan-pertanyaannya.
“Mbah Kung tidak bisa jadi contoh yang baik. Bukankah menjadi orang boros itu tidak baik dan itu perbuatan setan yang menyesatkan manusia. Kemarin…, saat di tempat wisata Kintamani, Mbah Kung membeli buah jeruk satu kresek…, padahal dari kantornya Mbah Kung sudah diberi buah jeruk, roti dan camilan. Sebelum berangkat ke Bali…, Mbah Putri membelikan Ave pakaian di Toko Sardo Malang tetapi masih dibelikan lima kaos di tempat ini. Kemarin…, sehabis Sholat Magrib di Masjid Pantai Sanur, Mbah Kung membeli empat botol Freshtea yang masih utuh, dan saat ini masih belum diminum tetapi mengapa baru saja beli lagi dua botol di warung depan tempat parkir!” Begitu lancar tutur kata dari bibir mungil cucuku bagaikan seorang orator.
 OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Belum sempat aku menjawabnya, tiba-tiba seorang teman menawarkan segenggam anggur merah kepada cucuku.
“Ini anggur untukmu. Terimalah!”
“Tidak. Terima kasih. Ave sudah punya jagung rebus yang masih hangat”. Jagung yang ada di tangan kanannya, ditunjukkan pada temanku.
Bagaikan halilintar yang menggelegar memecahkan gendang telingaku. Bagaikan trisula tajam yang merobek-robek ke dalam jantungku yang paling dalam. Aku tak punya muka. Lidahku kelu. Aku malu pada cucuku. Sebab dalam kehidupanku…, selalu menuntut sesuatu yang lebih. Sementara itu, cucuku yang masih duduk TK B, mengajariku tentang sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.
Badanku terguncang. Tanganku gemetar. Langkahku gontai menaiki tangga bus. Aku mengisyaratkan sesuatu kepada isteriku agar cucuku diajak memasuki bus yang masih belum ada penumpang didalamnya.
Tak terasa kacamata minusku, tiba-tiba berwarna kelabu. Disudut kelopak mataku terasa ada titik-titik air hangat yang jatuh dipipiku. Ketika aku berdiri di depan isteri dan cucuku, ada tatapan mata yang besembunyi dibalik kacamata pantai—yang bertangakai ping—milik cucuku.
Aku bingung. Aku kehabisan kata-kata. Meski hobiku merangkai kata-kata dan terbiasa berdebat dengan teman-temanku…, tetapi kali ini aku seperti orang yang tak memiliki kepercayaan diri. Aku harus menjawab apa?

Bersambung…

Malang, 29 Desember 2014

*) Staf Subbag Umum LP3 UM

Komentar ditutup.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.