Ini salah siapa?

INI SALAH SIAPA?

Selasa, 31 Maret 2015 pukul 09.15 wib., bertempat di trotoar sebelah timur Gedung Pascasarjana Univeritas Negeri Malang, penulis bertemu dengan Dr. Nurul Murtadho, M.Pd, Dosen Jurusan Sastra Arab, FS UM yang telah selesai mengajar di PPs UM. Penulis meminta izin kepada beliau untuk menyampaikan pengalaman hidup di Zaman Orde Baru.

“Assalamu’alaikum Ustadz”.

“Waalaikumssalam”.

“Ustadz…, saya minta izin berbicara sebentar dengan Anda”.

“Silakan Pak Djoko”.

“Dahulu…, di Zaman Orde Baru…, pada umumnya setiap Orang Islam yang akan menikah wajib mengikuti Penataran Pedoman Penghayatan  dan Pengamalan Pancasila (P4) di Kantor Urusan Agama atau di Kantor Kecamatan. Kita tahu bahwa hal itu terkait dengan masalah politik. Sekarang ini…, tidak ada salahnya bila Penataran P4 diganti dengan Penataran Mendidik Anak Secara Islami. Bagaimana Ustadz?”

“Itu hal yang baik Pak Djoko”.

“Ustadz…, kami mempunyai pengalaman yang unik. Ketika ada arisan PKK RT, ada seorang ibu memberi 2 (dua) kue sekaligus kepada cucu saya tetapi isteri saya hanya mengizinkan 1 (satu) kue saja. Apa komentarnya? Masak diberi 2 (dua) kue kok hanya diambil satu! Jawaban isteri saya: Bu…, tamu yang belum datang masih banyak. Saya kuatir nantinya mereka ada yang tidak kebagian kue. Kejadian tersebut menjadi bahan renungan bagi saya, mungkin inilah awal mula terjadinya tindakan kurupsi”.

Saya menyambung cerita tersebut dengan pengalaman yang lain: “Ada lagi orangtua yang menitipkan hadiah pada panitia HUT RI di tingkat RT agar nanti anaknya dianggap menjadi juara lomba. Bukankah ini tindakan penipuan?”

“Ya…, saya juga mempunyai pengalaman di waktu kecil. Ketika saya minta kepada ayah untuk dibelikan mainan seperti kelereng, umbul dan lain-lain, biasanya langsung dibelikan. Suatu ketika saya pulang dengan membawa kelereng cukup banyak. Apa reaksi ayah? Semua kelereng yang saya bawa pulang, langsung ditumbuk/dipecahkan! Mengapa? Menurut ayah…, kelereng yang saya bawa pulang itu adalah hasil dari menang taruhan alias hasil dari perjudian!” Begitu cerita Ustadz Nurul Murtadho.

Penulis mencoba berandai-andai—seandainya sebelum pernikahan dilaksanakan— para calon temanten mendapatkan penataran, bagaimana cara mendidik anak secara Islami? Beberapa hari kemudian diuji dan diwawancarai, apabila hasil ujiannya jelek maka yang bersangkutan harus mengulanginya. Pembaca yang budiman, bagaimana pendapat Anda?

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.