Indonesia adalah Surga Sekaligus Neraka bagi…

INDONESIA ADALAH SURGA SEKALIGUS NERAKA BAGI INVESTOR ASING

Oleh: Djoko Rahardjo

Penulis yakin bahwa pembaca akan bertanya: “Lelucon macam apa ini?” Mungkin sebagian pembaca juga akan mempertanyakan kompetensi penulis. Biasanya pembaca lebih yakin bila penulisnya adalah seorang profesor ekonomi, seorang ekonom, seorang praktisi, seorang doktor ekonomi lulusan Berkeley University of California USA, seorang doktor ekonomi lulusan perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun di luar negeri, dan seterusnya. Penulis sadar akan semua itu. Memang penulis adalah seorang PNS papan bawah. Seorang yang sehari-harinya bekerja di kantor dan juga di kandang domba.

Baiklah kita awali rerasan (pergunjingan) ini dari penyebab terbunuhnya beberapa pemimpin dunia. Lho? Apa korelasi antara keadaan ekonomi suatu negara dengan terbunuhnya pemimpin suatu negara? Tidak apa-apa bila sebagian orang menertawakan tulisan ini. Pembaca yang budiman, tentu masih ingat dengan peristiwa terbunuhnya Jhon F. Kennedy, Mantan Presiden Amerika Serikat dan Muammar Gaddhafi, Perdana Menteri Libya. Apa motif dibalik peristiwa pembunuhan tersebut? Masalah politik? Salah besar! Lho? Lalu apa penyebabnya? Penyebabnya adalah masalah ekonomi. Tidak percaya! Mari kita lanjutkan rerasan ini.

Jhon F. Kennedy merasa kesal dengan otoritas Bank Sentral USA atau dikenal sebagai The Fed. Penyebab kekesalan beliau adalah semua gerak dan kiprahnya dalam bidang ekonomi selalu dibayangi oleh pengaturan moneter yang memusingkan kepala. Sebagai seorang presiden merasa terganggu kredibilitasnya dalam mengatur perekomian USA. Oleb sebab itu, beliau berpendapat bahwa akan lebih baik jika yang mencetak mata uang dolar USA adalah negara. Bukan Bank Sentral USA. Apa yang terjadi kemudian? Beliau ditembak saat menumpangi mobil terbuka. Ada konspirasi di balik terbunuhnya Jhon F. Kennedy. Siapa yang mendalanginya?

Muammar Gaddhafi juga merasakan apa yang dirasakan oleh Jhon. F Kennedy. Apa itu? Kekecewaan Muammar Gaddhafi terhadap nilai tukar mata uang yang begitu mengenaskan. Muammar Ghaddafi mempunyai gagasan mempersatukan ekonomi Benua Afrika untuk mencetak mata uang emas (dinar) sebagai alat pembayaran. Alasannya adalah logam emas memiliki nilai yang relatif stabil, dari zaman ke zaman. Sebagai contoh harga seekor kambing yang disembelih untuk hewan kurban di zaman Rusullah Muhammad saw. adalah satu dinar, dan sekarang pun harga seekor kambing untuk kurban masih sama, yaitu satu dinar.

Berat satu keping mata uang dinar adalah 4,25 gram logam emas dengan kadar 22 karat. Harga emas dengan kadar 22 karat, update 14 Agustus 2015, Buy Back Antam adalah Rp 435. 417.00 (empat ratus tiga puluh lima ribu empat ratus tujuh belas rupiah). Sehingga nilai mata uang satu dinar adalah 4,25 gram x Rp 435. 417.00 = Rp 1.850,525,00 (satu juta delapan ratus lima puluh ribu lima ratus dua puluh lima rupiah). Jika kita berkunjung ke sauatu kota kecil di luar negeri, yang tidak ada jasa penukaran mata uang maka uang emas tersebut dapat dijual dengan harga emas yang berlaku di negara yang bersangkutan.

Seandainya gagasan Muammar Gaddhafi itu terlaksana, siapa yang akan rugi? Jawabnya adalah otoritas Bank Sentral. Mengapa? Pembaca akan bisa menjawabnya sendiri. Lalu…, bagaimana dengan gejolak perekonomian di Indonesia, saat ini? Apa yang menyebabkan nilai tukar rupiah terpuruk terhadap nilai tukar mata uang asing, khisusnya dolar USA? Benarkah inflasi itu selalu identik dengan kerugian? Bagaimana dengan investasi di Indonesia? Mohon maaf, sekali lagi tulisan ini hanyalah rerasan dari seorang rakyat jelata, dan bukan suatu analisis dari pakar ekonomi.

Bersambung…

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.