Kurasi Pameran Photo, perpuskota Malang, oleh eny erawati

Poster Pameran komunitas Fotografi di Malang

WARKOP – Secangkir Ekspresi

Photos-graphos memiliki makna yang mendunia. Meski sederhana, tafsirannya ikut berkembang seiring perkembangan jamannya. Menulis dengan cahaya. Tafsiran yang sederhana, tapi membutuhkan seluruh isi kepala untuk mewujudkannya.

Cerita dari ruang pamer,

Dinding per dinding, ia selalu ingin memuat cerita. Memvisualkan isi kepala ia -atau mereka- yang sedang memajang karyanya disana. Dinding per dinding, ia memiliki garisnya. Menaik menurun memainkan rasa pemirsanya.

Seperti sebuah buku visual yang luar biasa besarnya, ruang pamer menceritakan bagian perbagian ceritanya, berurut berdasarkan bagaimana ia ditata. Bab per bab, halaman per halaman, dari awal hingga paling akhirnya.

Seperti sebuah bingkai, WARKOP memanggil moment untuk mewujudkan isinya. Mewadahi hati dan kepala ratusan anggotanya. Memfasilitasi panggilan jiwa dari masing masingnya. Seperti sebuah bingkai, tak mungkin ratusan karya komunitas fotografer itu dipasang sekaligus pada waktu yang sama. Maka disusunlah sebuah cerita demi menceritakan secara visual para photos yang mewakili kata-per-kata nya.

Bisa jadi, satu paragraf terwakili oleh satu gambar saja. Bisa pula, untuk satu kalimat saja, dibutuhkan satu dinding penuh untuk menceritakannya. Boleh jadi, satu dinding menceritakan kehebatan sebuah moment. Boleh jadi pula pada beberapa dinding tersebut, beberapa karya disusun demi menceritakan ragam tingkat kemahiran para fotografernya.

Jangan menyiksa diri Anda dengan mencari tahu apa makna gambar per gambarnya. WARKOP adalah komunita fotorografer yang mengajarkan cara memotret, apapun kameranya, seperti apapun tingkat kemampuan anggotanya. Only Share to Shoot, semata berbagi tentang fotografi.

Adalah dosa kuratornya, ketika Anda memasuki ruang pamer, dan pulang tanpa  membawa cerita apa apa di dalam benak Anda.

Hal sesederhana kemilau warna daun, suara tetesan air, ramainya gemerelung awan, dinginnya tatapan mata, atau senyuman mentari saat ia mulai jelang. Apakah Anda akan membawanya pulang?

Malang, Galeri Ken Arok, Perpustakaan Kota Malang, 02032011

Eny Erawati

Post Author: eny erawati

6 thoughts on “Kurasi Pameran Photo, perpuskota Malang, oleh eny erawati

    Tommy

    (6 Maret 2012 - 12:26)

    Semangat kak

    Moch Syahri

    (15 Maret 2011 - 14:58)

    Mbak Eny, tetap semangat. ada orang bijak mengatakan ” orang yang punya idealisme harus mempunyai energi yang melimpah ruah”

    eny erawati

    (15 Maret 2011 - 05:25)

    kurasi kedua, yaitu pameran dalam rangka bumi, besok akan di buka, di MATOS.
    sangat dekat untuk dikunjungi meski cuma sekelebatan waktu, diantara sekian hari waktu pamer.
    tidak sama dengan pameran di galeri, krn di galeri tujuannya memperkenalkan diri dan unjuk gigi.
    pameran ini, di Mall, bertema hari bumi, tujuan edukasinya mengecil hingga separuh porsi. di prodi kami, ini seperti instore promosi/desain pemajangan.
    tetap indah, tapi bertujuan ingin dibeli.
    monggo diapresiasi.

    eny erawati

    (15 Maret 2011 - 05:16)

    matur nuwun apresiasinya.
    kita membicarakan iklim yang berbeda, jika ada yang kecewa dengan harapannya.
    tp kali ini, di posting yang ini, saya ingin mengusik keinginan semua orang untuk menjenguk kegiatan mahasiswanya.
    tak akan pernah besar, jika yang kecil kecil tak juga diistiqomahkan untuk berakumulasi sehingga memberi dampak yang besar. ya kan ?!

    Moch Syahri

    (14 Maret 2011 - 13:10)

    Yth. Mbak Eny, iklim akademik di Malang berbeda sekali dengan Jakarat atau Jojgjakarta. Di Jakartay (IKJ) atau Jogjakarta, kita akan dengan mudah menemukan komunita pecinta seni atau kelompok diskusi yang punya idealisme. Selamat dan semoga sukses selalu

    eny erawati

    (12 Maret 2011 - 04:24)

    Pameran ini masih akan di gelar di 2 tempat lain di kota Malang. dan ditutup dengan pameran di Salatiga.

    Kurasi berikutnya akan dilakukan untuk pameran dalam rangka hari Bumi di MATOS.

    sebagai akademisi, saya pribadi berharap banyak dari menjalani proses ini (kembali). membawa jati diri yang berbeda dari jati diri saya sebelum ini (Fotografi IKJ).
    dulu, kampus dan dosen saya sangat kondusif mendampingi kami yang sedang ingin unjuk karya. sehingga saya misalnya, bisa tumbuh menjadi kurator ‘kecil’ yang bersuara cukup lantang bahkan di media.

    Kota ini toh tidak sebesar Jakarta, saya kok miris melihat kampus kita belum ‘terdengar menghebohkan kota’ dengan karya-karyanya. padahal, bagus bagus juga.
    Saya misalnya, malah terfasilitasi untuk mengurusi komunita di luar kampus. karena mereka lebih tahu tentang apa yang sudah pernah saya buat di identitas saya sebelumnya. dan merelakan diri untuk memfasilitasi saya melakukan proses ini bersama mereka.

    respon dari kampus saya, mana ya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *