Aktif Gerakan, Juga Aktif Menulis

Malang. Walaupun di bulan Ramadan, namun suasana berliterasi di Universitas Negeri Malang seperti tidak ada habisnya. Seperti yang terlihat pada Kamis malam (16/5) lalu di Kafe Pustaka UM, puluhan anak muda berkumpul untuk berdiskusi dalam bedah buku. Pada kegiatan yang dimulai setelah salat tarawih kali ini buku Dalam Bayang-Bayang Egosentrisme karya Nur Alim yang baru terbit ini dibedah dengan seru oleh Eki Robby mahasiswa Pascasarjana Jurusan Sejarah UM.

Sebelum Eki membedah buku tersebut, Nur Alim yang merupakan Sekjen DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jatim tahun 2019 ini pun menjelaskan beberapa poin isi bukunya yang merupakan kumpulan dari esai. Beberapa materi dia hadirkan dalam buku yang tebalnya 200 halaman ini. Salah satu materi yang menjadi poin penting adalah keadaan dehumanisasi yang terjadi saat ini. “Ini mungkin menjadi keresahan kita bersama, bahwa hubungan manusia dengan manusia atau tingkat rasa kemanusian kini terus merosot dan terjadilah dehumanisasi,” ujar Nur Alim.

Lebih lanjut dia menjelaskan, karena sang penulis memang dibesarkan dari keorganisasian Muhammadiyah. Tulisan-tulisan dalam bukunya itu pun juga tidak bisa lepas dari organisasi yang didirikan Ahmad Dahlan tersebut. Alim dalam tulisan-tulisannya pun tidak sedikit mengkritik apa yang kini dilakukan oleh organisasinya. Mulai dari program kepemudaannya, sosialnya, hingga keagamaannya. “Dengan buku ini kita ingin ada refleksi pada Muhammadiyah, agar organisasi kita ini bisa maju dan menjadi solusi masyarakat seperti yang cita-citakan Kiai Ahmad Dahlan,” ujarnya.

Eki sang pembedah pun juga mengungkapkan bahwa tulisan-tulisan refleksi yang ada di buku tersebut cukup berani. Selain mengkritik organisasinya sendiri, Nur Alim juga cukup detail dalam mendeskripsikannya. Menurutnya jarang ada penulis yang anggota organisasi itu menulis apa yang menjadi keresahannya di dalam organisasi itu. “Saya yakin Mas Nur Alim ini tidak ingin apa-apa, tapi malah mengajak untuk berefleksi untuk membangun organisasi yang kuat,” terang mantan ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UM ini.

Tidak hanya itu, Eki juga cukup apresiatif pada Alim yang merupakan aktivis kampus dan bisa menuliskan buku. Terlebih menurutnya cukup jarang aktivis kampus bisa ada waktu dan kesadaran  untuk menulis. Karena menurutnya kebanyakan aktivis kampus menang pada retorika dan gerakan saja. Namun dalam hal menulis, aktivis kampus cukup awam dan mungkin bisa dihitung jari yang bisa mengungkapkan gagasannya dalam sebuah buku. “Saya cukup apresiatif kepada Mas Alimin,” tegas mantan Ketua Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) Malang 2012 ini.

Nama                   : Moh. Fikri Zulfikar

Mahasiswa : Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)

Post Author: Admin Berkarya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *