Aku, Jiwa yang Retak Itu

Ferril Irham Muzaki

Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), Sabtu (5/2) lalu bertemu di Kota Malang untuk berbagi pengalaman hidup dengan skizofrenia. Hadir dalam pertemuan adalah psikiater, perawat medis gangguan jiwa, orang dengan skizofrenia (ODS) dan masyarakat awam yang peduli dengan kesehatan jiwa.

Skizofrenia adalah salah satu gangguan kestablian jiwa atau bisa diartikan jiwa yang retak. Para ODS umumnya mengalami gangguan halusinasi, mulai dari tahap ringan seperti mendengar bisikan sampai cukup berat mendapat halusinasi visual dan auditori. Secara umum, belum ditemukan penyebabnya. Para ahli masih berspekulasi. Salah satu teori mengatakan, skizofrenia tercipta dari lingkungan. Ahli lain mengatakan, skizofrenia disebabkan oleh genetis. Karena itu skizofrenia mendapat julukan kankernya dunia psikologi.

Saya, sebagai ODS, merasakan betul manfaat pertemuan tersebut. Para ODS berbagi tips dan strategi menghadapi gangguan halusinasi. Salah satu caranya, menyibukkan diri dengan kegiatan positif. Contohnya, melukis, membaca, menulis, olahraga, atau kegiatan bersifat mengalihkan pikiran dari gangguan halusinasi.

Dibahas juga cara bersosialisasi dengan masyarakat. Salah satu masalah yang dihadapi ODS adalah label orang yang tak bisa berkontribusi pada masyarakat. Untuk itulah, salah seorang ODS kepada rekan-rekannya untuk berkarya sekecil apapun yang bisa memberi kontribusi di masyarakat. Contoh sederhananya, mengambil tisu yang dibuang sembarangan di jalan lantas meletakkannya di tempat sampah.

Skizofrenia memang belum ditemukan obatnya, bukan berarti harapan untuk bisa hidup normal sirna. Dengan minum obat secara teratur dan konsultasi medis ke psikiater atau psikolog, skizofrenia bisa dikendalikan. Dengan demikian, kesempatan untuk berkarya di masyarakat terbuka lebar. Selain itu, pendampingan dari keluarga dan rekan-rekan ODS sangat dibutuhkan.

Ketika ODS sedang menghadapi mendung dan kepedihan mendalam akibat halusinasi, jangan biarkan ia menanggungnya sendirian. Kuatkan ia dengan semangat dan ajak dia untuk berbicara. Berikanlah kesempatan untuk berbagi beban hidup, agar ODS tidak putus asa dan punya harapan hidup bersama skizofrenia. Demikianlah yang saya dapat dari pertemuan KPSI di Malang.

http://www.surya.co.id/pendapat/wartawan-warga-negara/aku-jiwa-yang-retak-itu.html

Post Author: ferril

2 thoughts on “Aku, Jiwa yang Retak Itu

    ajiyadi

    (12 Januari 2018 - 09:58)

    luka hati terlalu dalam,…gelas pecah sulit disambung,.namun mampu untuk diganti,..tanyakan pada otak kanan,… apa maunya yang sebenarnya……..

    azka

    (5 Maret 2011 - 10:18)

    hmm..tmn qw penderita shcizo…andai dy tw acra ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *