#KolomPakDasna: Asrama Mahasiswa Zaman “Now”

Oleh: Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D*

Perjalanan saya mengunjungi kota Rennes – France kali ini adalah yang kedua setelah 17 tahun yang lalu saya lulus dari Universite de Rennes 1. Pada tahun 2016, setelah mengikuti Joint Working Group (JWG) French – Indonesia di Universite de La Rochelle, saya mengunjungi kampus ini hanya sekitar satu jam sebelum pulang kembali ke Indonesia, kunjungan yang sangat singkat tersebut hanya dapat melihat sepintas bagaimana perkembangan laboratorium kimia anorganik di tempat saya riset saat itu. Keadaan yang lebih rinci seperti bagaimana mahasiswa tinggal di asrama (citē) mahasiswa belum saya ketahui. Pada akhir bulan Juni ini, saya berkesempatan mengunjungi Universite de Rennes-1 lagi dalam rangka analisis data penelitian dan workshop penulisan artikel yang di-support oleh project IDB di UM. Saya tinggal di asrama mahasiswa, tidak di hotel agar lebih murah. Ada pengalaman berharga yang saya dapatkan.

Saya memesan satu kamar (studio) di Citē international Paul Ricoeur yang beralamat di 11 Bis Bd de la Liberte 35000 Rennes melalui internet (Gambar 1). Cite ini dikelola oleh CROUS Rennes yaitu suatu lembaga yang mengola asrama-asrama mahasiswa di universitas-universitas di Prancis (termasuk di Rennes).  Saya mendapatkan e-mail yang berisi informasi bahwa saya bisa datang pada tanggal yang ditetapkan, diberi kode akses masuk residence di depan pintu dan kode tempat mengambil kunci.

Gambar 1. Citē international Paul Ricoeur

Bayangan saya ketika belum berangkat dari Malang sama dengan 17 tahun yang lalu ketika sampai di sana maka saya akan masuk ke Asrama (citē) mahasiswa seperti dulu. Ketika itu, 17 tahun lalu, saya datang ke conciere (kantor Asrama) melakukan registrasi, membayar sewa, dan kemudian diberikan kunci masuk asrama. Pada saat ini, sungguh sangat berbeda. Ketika datang ke Citē itu, sama sekali tidak ada orang. Hanya ada pintu terkunci dengan keybord akses nempel di salah satu sisi temboknya. Saya masih berusaha mencari-cari bel untuk memanggil petugas yang mungkin di dalam. Saya tidak ketemu, lalu saya berusaha mencari pintu lain, mungkin kantornya di tempat lain ternyata tidak ada. Setelah beberapa saat saya berkeliling tidak ada pintu lain, saya dipanggil oleh seseorang yang mungkin mengamati saya dari CCTV. Orang itu bertanya, S’il vous plait,  Vous allez rentrer a la citēe? Oui Madam, jawab saya. Rentrez par la port ici et utilisez votre code (Apakah Anda akan masuk ke Asrama? Silahkan masuk lewat pintu ini, gunakan kode Anda). Beliau tidak membukakan pintu. Saya tekan kode yang diberikan lewat e-mail kemudian pintu terbuka. Orang itu pergi ke kantornya tidak memberitahu lagi di mana mengambil kunci dan memberi informasi lain. Ada lemari hitam kecil menempel di tembok untuk mengambil kunci (Gambar 2). Lalu saya lihat e-mail yang saya terima, ada petunjuk kode mengambil kunci. Saya coba satu kali gagal, baru kedua kalinya kunci bisa diambil. Setelah dapat kunci masuk ke kamar, hanya ada informasi kecil. Tentang cara akses internet dan info agar saya besok pagi membayar sewa kamar ke kantornya dan info tempat sarapan, mencuci, membersihkan kamar dan lain-lain. Sama sekali tidak ada orang!

Besok paginya saya datang ke kantor itu, hanya ada dua orang ibu-ibu sudah cukup umur. Bayarnyapun hanya menerima kartu kredit (tidak boleh cash). Ibu itu hanya tanya, apakah anda nyaman menempaati kamar Anda? Lalu diberikan bukti pembayaran dan tidak ada lagi diskusi yang lain.

Gambar 2. Tempat kunci

Dengan metode ini, tidak ada orang yang bisa masuk ke asrama tersebut bila tidak punya akses. Akses hanya diberikan bagi yang telah melengkapi persyaratan seperti identitas, surat dari profesor, dan yang penting jaminan keuangan. Arama 9 lantai dengan kamar sekitar 100 kamar itu hanya dijaga oleh 2 orang ibu-ibu. Semuanya dengan mesin, tidak ada satpam sedangkan orang yang bersih-bersing hanya ada 1 orang untuk membersihkan lorong-lorong. Bila kamar yang kita tinggalkan kotor maka akan di-charge biaya kebersihannya dari kartu kredit kita.

Rennes merupakan kota kecil dengan wilayah sekitar 50,39 km2 dengan jumlah penduduk 213.454 orang, kepadatan penduduknya 4236 orang/km2. Apakah kota ini kekurangan tenaga kerja? Tidak juga karena di beberapa bagian masih ada yang sulit mendapatkan pekerjaan. Ada juga yang masih tinggal di lorong-lorong kota terutama orang-orang yang pendidikannya tidak cukup atau pendatang. Namun pekerjaan yang ada bukan padat karya. Teknologi telah menggantikan sebagian pekerjaan manusia yang relevan.

Refleksi dari hal ini, Saya teringat ada terminal bandara yang hanya dijaga oleh mesin di Singapura. Tenaga manusia makin mahal dan hanya mengerjakan hal-hal yang penting secara effisien dan efektif, bukan lagi suatu padat karya seperti apa yang kita miliki di kantor-kantor kita termasuk di UM. Ini adalah contoh dampak revolusi industri 4.0 di mana semua informasi dapat diperoleh di internet, kita perlu membaca dan membaca. Kontrol terhadap keamanan, ketertiban, dam kebersihan penggunaan asrama dapat dilakukan dengan peraturan, bila melanggar akan terkena charge tambahan, tidak perlu ada debat lagi.

Penjagaan dengan mesin seperti ini ternyata dapat berjalan efektif, tidak akan ada orang yang tidak tercatat yang bisa masuk ke asrama. Bila tidak punya kode akses dan kode kunci maka tidak akan bisa masuk. Asrama yang kita miliki saat ini di UM masih memerlukan penjaga keamanan, pengelola asrama, selain koordinasi dari subbagian rumah tangga dan kemahasiswaan. Penjagaan dengan orang ini mengingatkan saya beberapa tahun lalu ditelpon tengah malam oleh koordinator BIPA di mana mahasiswa asing yang selesai latihan performance acara perpisahan lebih dari pukul 22:00 tidak diijinkan masuk asrama karena sudah lewat waktu. Pintu baru dibuka oleh penjaganya pukul 04:00 pagi, ketaatan terhadap peraturan tetapi mengabaikan kemanusiaan. Bila dengan mesin, cukup atur kode dan beri peringatan pintu tidak dapat buka setelah pukul 22:00 (misalnya), tidak perlu membangunkan penjaga, terus datang tapi tetap tidak mau membuka pintu.

Pelajaran lain yang didapat adalah pekerjaan administratif harus dapat dikerjakan secara efisien, kalau bisa dikerjakan hari ini jangan ditunda sampai besok. Tidak harus dikerjakan ramai-ramai. Karena banyak orang, sering seorang beranggapan bahwa ada teman yang akan mengerjakan lain kali sehingga pelayanan tidak optimal. Mulai hari ini, 2 Juli 2018 di UM, bidang administrasi menggunakan e-Office untuk urusan surat menyurat. Semoga dapat bekerja efektif seperti dua orang penjaga di asrama ini melayani 100 orang. Dengan penuh harapan, semoga tidak ada surat yang tidak dibuka berhari-hari seperti yang pernah terjadi di mana surat beberapa minggu tertumpuk oleh yang lain. Memajukan universitas memang tidak hanya memajukan tridarma PT, tetapi juga pelayanan kepada civitas academica dan masyarakat. Setiap orang harus punya niat bekerja dengan baik, dengan sepenuh hati. Semoga UM dapat terus berkarya untuk memajukan bangsa. Bojour a vous et bon travaille. (WD)

*Penulis adalah Wakil Rektor IV Universitas Negeri Malang (UM)

Post Author: Admin Berkarya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *