MENGKAJI KEMBALI KONSEP MUTU PENDIDIKAN

Kamis, 25 Maret 2010

Konsep mutu pendidikan direduksi sebatas besaran skor ujian nasional yang mengukur daya serap. Reduksi konsep mutu pendidikan itu telah memperlebar kesenjangan antara idealiasi pendidikan bangsa ini dengan kenyataan praktik pendidikan yang sedang berlangsung. Fenomena yang tampak sekarang adalah praktek pendidikan yang makin mengokohkan pendekatan transfer isi buku teks dan tagihan belajar berupa ukuran daya serap. Konsep mutu pendidikan yang sebatas besaran skor UN dipegangi oleh mayoritas pendidik dan pengambil keputusan pendidikan di negeri ini. Benarkah hasil UN merupakan tolok ukur mutu pendidikan?


Pokok-pokok pikiran Dr. Waras Kamdi, M.Pd

Mutu Pendidikan Terdistorsi, Kecerdasan Hidup Tergadai

Sudah saatnya sekolah melakukan revolusi konsep mutu pendidikan, bergeser dari transfer pengetahuan ke pengembangan kecakapan hidup. Tak mungkin sekolah akan mampu berkejar-kejaran dengan pertumbuhan pengetahuan, jika sekolah menjalankan tugasnya sebagai pentransfer informasi. Pendekatan pembelajaran yang seperti ini tidak lagi memadai untuk misi mendidik anak bangsa yang kita idealisasikan cerdas, kritis, kreatif, berkarakter, bertakwa, profesional, dan berbudaya sebagaimana telah menjadi tujuan pendidikan nasional. Dalam membangun pendidikan yang bermutu, kini sekolah harus mengutamakan paradigma belajar; bukan paradigma tray-out untuk memenuhi hajat rezim ujian nasional.

Di semua jenis dan jenjang, pendidikan yang membelajarkan musti mengedepankan pendekatan rasional dalam proses pengalaman belajar kecakapan berpikir kritis dan kreatif; dan pengalaman belajar itu mengembangkan kemampuan menggunakan pengetahuan secara bermakna untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan menemukan cara atau metode baru. Dalam proses pendidikan itu disenyawakan pendekatan religius dalam pembelajaran untuk mengembangkan kecakapan spiritual, dan kepribadian (sosial, emosional, dan estitika).

Persoalan instrumental input (sarana-prasarana) dapat diselesaikan dengan belanja material. Akan tetapi, persoalan mutu pendidikan amat bergantung pada mutu proses pendidikan. Pemenuhan instrumental input tidak akan serta merta mendongkrak mutu pendidikan tanpa dibangun mutu proses dengan konsepsi, paradigma, dan strategi yang cermat. Dengan demikian, “proyek mutu pendidikan” membutuhkan perangkat konseptual yang mendasar, paradigma baru sebagai landasan berpikir yang kokoh, dan strategi eksekusi yang cermat, serta dilakukan dengan semangat kerja keras dan komitmen yang tinggi (rigorous).

Kecenderungan dan tantangan baru di abad ini pada gilirannya menuntut pembaharuan sistem pendidikan di masa depan. Di antara perubahan penting itu adalah (1) makin pentingnya paradigma baru pendidikan yang berorientasi pada keunggulan mutu, karakter, dan martabat bangsa; (2) makin pentingnya orientasi kecerdasan hidup bangsa, dan (3) makin pentingnya memperkokoh ketahanan budaya.

Jika kita amati perkembangan masyarakat kita sekarang, kesan yang segera tampak adalah kemerosotan kecakapan hidup, dan terkoyaknya budaya unggul dan martabat bangsa. Krisis bangsa ini telah menembus sendi-sendi kecerdasan hidup. Krisis kecakapan sosial kian meluas ditandai oleh kemerosotan kesantunan, empati, dan sikap kooperatif. Bangsa ini juga mengalami krisis dasar-dasar kecakapan emosional, yang ditandai oleh kecenderungan perilaku impulsif, tidak mampu mengendalikan diri, dan semau gue. Kekacauan supporter sepakbola salah satu contoh yang paling nyata. Bangsa ini juga mengalami erosi kecerdasan personalnya, yang ditandai oleh kurangnya keteguhan hati, ketekunan, sikap ingin tahu, disiplin pribadi, kontrol diri, integritas, motivasi, dan sikap positif. Maraknya plagiarism dan jual-beli gelar juga contoh yang paling nyata. Bangsa ini juga mengalami kemerosotan kecerdasan sosio-civic, yang ditandai oleh merebaknya sikap cuek, mau menang sendiri, korupsi, dan menyerobot hak orang lain, dan sejenisnya. Semua ini karena konsep mutu pendidikan kita tidak pernah melampaui wilayah garapan pengembangan kecakapan hidup.

Telaah Soal Persiapan Ujian Nasional

oleh I Wayan Dasna, Ph.D. (Kepala PKPPE LP3)

Menjelang ujian nasional (UN) Maret ini, sekolah-sekolah telah melakukan uji coba (tryout) ujian nasional bersama hingga berulang kali. Hasilnya telah banyak dikomentari kurang memuaskan pada beberapa mata pelajaran. Kenyataannya, muncul ketidakyakinan dari kalangan pendidikan sendiri bahwa hasil tryout (terlepas dari hasilnya bagus atau belum bagus) kurang mencerminkan kompetensi sesungguhnya pada hasil UN nantinya. Bukan tidak mungkin, ada siswa yang kurang mampu dalam pembelajaran sehari-hari memperoleh hasil UN baik, sebaliknya yang aktif dan berkemampuan baik hasilnya rendah.

Jika pesimisme ini dipertahankan, bisa jadi hasil tryout berdampak kontra produktif pada saat UN benar-benar dilakukan. Menurut Kepala Pusat Kurikulum, Pengembangan Pembelajaran, dan Evaluasi (KPPE) Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang, Drs I Wayan Dasna Msi MEd PhD, hasil tryout yang dilakukan seyogyanya dapat menjadi masukan kepada siswa, guru, dan sekolah untuk mempersiapkan diri lebih baik. Penilaian (assessment,) yang dilakukan di sekolah sejatinya dapat dijadikan ukuran tentang tingkat penguasaan konsep dari materi-materi yang dipelajari siswa, dapat memperbaiki kebiasaan belajarnya, juga menjadi refleksi terhadap kegiatan belajar yang dilakukannya.

Menafikan faktor dan praktik keberuntungan, ketidaksesuaian yang signifikan hasil tryout dan UN yang demikian bisa terjadi manakala alat ukur yang digunakan tidak standar. Idealnya, hasil penilaian yang dilakukan merupakan kristalisasi dari proses pembelajaran yang telah berlangsung. Karena itu pula, hasil UN dapat digunakan sebagai bahan refleksi sekolah (pimpinan sekolah dan guru), siswa, dan orang tua siswa tentang bagaimana anak belajar, bagaimana sekolah membelajarkan siswa, dan bagaimana kontrol orang tua terhadap pembelajaran anak selepas belajar di sekolah.

Penggunaan tryout sebagai salah satu upaya mengukur kemampuan siswa sudah ada pada jalur yang tepat karena: (1) kegiatan itu dapat memberikan gambaran tentang kompetensi yang telah dicapai/dikuasai oleh siswa, dan (2) memberikan pengalaman kepada siswa mengerjakan tes sebagaimana yang akan dilakukan pada UN. Bila tryout yang dilakukan menggunakan soal-soal model UN (soal-soal yang mempunyai sebaran, tingkat kesukaran, dan jenjang kognitif yang sama dengan UN) maka hasil yang diperoleh akan menjadi bahan perenungan bagi siswa dan sekolah untuk optimalisasi upaya, usaha, dan doa agar mencapai hasil yang optimal pada saatnya.

Alasan lain adalah uji coba tersebut memberikan pengalaman kepada siswa bagaimana mengatur waktu mengerjakan soal-soal dengan materi cukup banyak dalam waktu yang singkat, bagaimana mengatur waktu belajar, atau menjaga lembar jawaban ujian (LJU) tetap terbaca scanner. Hal ini juga penting karena penyiapan psikologis siswa mengerjakan soal dengan membuat jawaban pada kertas komputer sangat diperlukan latihan agar tidak keder, grogi, atau stress pada saat ujian yang sebenarnya.

Karena itu, perlu diperhatikan faktor penting berkaitan dengan soal ujicoba. Pertama, model soal try out seyogyanya merupakan soal-soal yang mempunyai kualitas mendekati soal-soal UN agar dapat menggambarkan penguasaan materi yang dibelajarkan di sekolah dan gambaran penguasaan kompetensi yang benar kepada siswa. Soal-soal ujicoba yang berkualitas rendah akan dapat menjebak siswa, bukan sebaliknya meningkatkan motivasi siswa. Siswa dapat merasa sudah berhasil mengerjakan soal-soal yang tidak standar tersebut tetapi dapat jatuh bila diberikan soal yang sesungguhnya. Sebaliknya bila soal-soal yang digunakan terlalu sulit, dapat memunculkan sikap pesimis yang berlebihan sehingga secara psikologis siswa akan selalu merasa tidak siap menghadapi ujian, Keadaan ini akan memunculkan ciri-ciri sering sakit, stress, kurang motivasi, dan sebagainya.

Pengamatan dari soal-soal tryout yang digunakan, agaknya masih memerlukan perbaikan-perbaikan. Misalnya, masih ada soal-soal yang kurang tepat dengan kisi-kisi dan sebaran ranah kognitif yang kurang proporsional serta tingkat kesulitan yang terialu rendah atau tinggi. Oleh sebab itu, soal tryout seyogyanya dilakukan dengan tahapan pengembangan tes yang standar. Salah satu tahapan penting yang dilakukan adalah tahap validasi ahli pada butir-butir soal-soal ujicoba tersebut untuk mengetahui apakah soal-soal tersebut sudah mengukur apa yang ingin diukur, apakah sudah sesuai dengan indikator-indikator yang ada pada kisi-kisi materi yang dibelajarkan, apakah soal mempunyai ke-terbacaan yang baik, dan apakah jawaban yang benar hanya ada satu.

Tahap ini juga penting untuk menghindari soal-soal yang digunakan untuk ujicoba adalah soal-soal daur ulang dari pengujian pada tahun-tahun sebelumnya. Bila ada soal daur ulang, walaupun bobotnya tinggi, akan menjadi soal ingatan karena siswa telah pernah mengerjakannya sebelumnya pada bimbingan belajar atau latihan di buku sehingga yang diingat adalah jawabannya bukan lagi mengukur kemampuan berpikir siswa. Validasi isi perlu dibuat dan direview oleh orang yang ahli dan bahkan harus lebih dari satu ahli.

Faktor penting kedua adalah hasil yang diperoleh ketika tryout hendaknya dipahamkan kepada siswa bahwa skor itu memberikan gambaran sementara tentang understanding grade saat itu sebagai bahan refleksi berikutnya. Hal ini penting untuk menghindari terlalu percaya diri berlebihan sehingga soal-soal UN yang sebenarnya mudah tidak bisa dikerjakan karena persiapan diri yang tidak optimal. Keadaan ini menunjukkan terjadinya kontraproduktif dari hasil tryout terhadap motivasi belajar siswa. Demikian juga bagi siswa-siswa yang belum berhasil cenderung terlalu takut akan tidak berhasil sehingga hasilnya bebar-benar menjadi rendah.

Dalam hal ini pengelola sekolah perlu memahamkan kepada siswa agar skor ujicoba digunakan sebagai refleksi tentang bagaimana kebiasaan belajar siswa dan bagaimana metode (pem)belajar(an) yang digunakan. Kalau hasil tryout hanya dijadikan polemik atau bahan untuk menekan siswa agar belajar dengan keras maka akan tidak banyak berdampak pada perbaikannya. Bila hasil siswa kurang bagus, sekolah harus melakukan analisis terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dan melakukan remidi pada kompetensi dasar yang belum optimal.

Suatu hal yang juga sangat penting dihindari adalah menggunakan jasa lembaga di luar sekolah untuk melakukan drill kepada siswa menjelang UN. Keadaan ini sangat memprihatinkan karena jerih payah guru selama tiga tahun seakan terkalahkan dengan metode drill yang dilakukan dengan teknik latihan secara cepat. Hal ini juga sangat bertentangan dengan paradigma pembelajaran karena seolah guru selama ini belum mampu memberikan pengalaman dan pemahaman yang memadai bagi siswa. Meski begitu, pengayaan selain guru penting juga untuk memperluas wawasan tentang kedalaman dan keluasan materi, pembaharuan materi, dan sejenisnya.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.