MALAM TERAKHIR

Malam ini …

Malam teraakhir bagi kita …

Untuk mencurahkan … rasa rindu di dada ….

Syair dan lagu Malam Terakhir karya Rhoma Irama merupakan salah satu syair dan lagu favorit saya. Saat ulang tahun Fakultas Teknik (FT) yang lalu, saya nyanyikan lagu itu di hadapan sivitas akademika FT—dan Dekan FT, Pak Waras, ikut berjoget. Saat yudisium semester pendek yang lalu, saya dendangkan lagu itu di hadapan peserta yudisium FS UM. Saat acara bazar dan jalan sehat dalam rangka Lustrum XII UM di lapangan Jln. Surabaya, saya sumbangkan lagu itu untuk sivitas akademika UM. Saat perpisahan dengan teman-teman tenaga kependidikan FS UM dengan Dekan dan Wakil Dekan FS UM malam Sabtu pekan lalu, saya persembahkan lagu itu untuk mereka.

Dalam semua peristiwa itu, saya sampaikan bahwa panggung ini adalah panggung terakhir saya sebagai Dekan. Di hadapan teman-teman sivitas akademika FS UM, saya sampaikan kebahagiaan saya mengakhiri jabatan Dekan dengan meletakkan sistem yang sudah bisa berjalan sendiri. Bahkan, sudah 2 tahun ini, saya relatif sudah “diberhentikan” oleh teman-teman sebagai Dekan FS. Saya hanya menyampaikan kebijakan di awal tahun, di tengah tahun saya memonitornya, dan di akhir tahun, saya menyampaikan laporan. Semuanya sudah berjalan sendiri (maaf, bukan berjalan sendiri-sendiri). Bagi saya, tiga orang wakil dekan saya adalah orang-orang luar biasa. Kajur, sekjur, dan kaprodi FS adalah orang-orang hebat. Kabag dan Kasubbag yang membantu saya adalah orang-orang brilian. Dosen dan tenaga kependidikan FS UM adalah insan-insan yang mulia.

Hari minggu yang lalu saya masuk kantor ditemani Pak Dirman. Saya minta dia bantu saya mengemasi barang-barang pribadi saya di kantor dekan. Alhamdulillah, bisa selesai dan sudah saya angkut ke rumah. Senin pagi, saya minta Mas Faul untuk mengerahkan anak buahnya membersihkan kantor dekan dari “sawang” dan debu. Alhamdulillah, bersih dan bau wangi. Siap ditempati dekan baru natinya. Kamis, 13 November 2014 sudah saya pasangi tulisan di pintu rang dekan: LAYANAN ADMINISTRASI DILAKSANAKAN DI RUANG TATAUSAHA. Itu hanya penegasan karena sejak bulan puasa yang lalu saya (dan para wakil dekan) lebih sering ngantor di ruang Tatausaha bersama Kabag dan Kasubbag dan seluruh tenaga kependidikan FS UM. Saya kerja di tengah-tengah mereka. Saya makan siang bersama mereka. Makan siang ini adalah iuran bagi yang mau—sekali makan 5 ribu rupiah, jadi sebulan saya bayar 100 ribu rupiah.

Saya sebut bahwa 2 tahun terakhir ini saya sudah “diberhentikan” sebagai Dekan FS oleh teman-teman karena saya diberi “kesempatan penuh” untuk menjadi “dekan” baru di Pusat TIK sejak 15 April 2012 lalu. Saya bersyukur, di Pusat TIK, saya bertemu dengan anak-anak muda dari tenaga kependidikan yang luar biasa: Mas Rijal, Mas Pur, Mas Denky, Mas Umar, Mas Fahmi, Mas Iwan, Mas Rizky, Pak Tris, Mbak Rini, Mbak Fitri, Mbak Ifa, Mbak Fatikha dan dosen muda brilian: Mas JF (Jauharul Fuady). Di tangan merekalah TIK UM yang semula “zero”  menjadi “hero”. Sistem informasi terpadu UM saat ini memudahkan kerja dan meningkatkan kinerja UM. Sistem informasi terpadu UM saat ini menjadi rujukan banyak perguruan tinggi di seantero Indonesia. Selamat dan sukses anak-anakku. Terima kasih anak-anakku.

Saya pikir dan saya berharap sejak kemarin, Kamis 13 November 2014 saya sudah bisa tidur siang di kasur di rumah karena selama 14 tahun ini (selama 6 tahun sebagai wakil dekan II dan 8 tahun sebagai dekan) saya tidur siang saat jam istirahat sekitar 20 menit di kursi di ruang sidang, di kantor kabag TU, di depan kasubbag mawa, atau di kursi mana saja di kantor. Saya sudah merancang kembali ke kegiatan dan hobi saya menulis buku, khususnya menulis buku pelajaran sekolah. Sudah ditagih terus-menerus oleh penerbit besar di Jakarta dan Bandung. Selama ini, saya jawab menunggu kepastian kurikulum yang digunakan. Ternyata benar juga, kurikulum 2013 akan ditinjau kembali. Untung saya belum menulis buku pelajaran berdasarkan kurikulum itu. Sekalipun terma pejabat adalah DITINJAU kembali, biasanya dan keanyataannya diubah atau diganti. Dari sisi pribadi saya, entahlah, instuisi menulis saya apakah masih seperti dulu ketika menulis buku yang telah diterbitkan oleh Penerbit Erlangga Jakarta.

Sampai dengan hari ini, harapan saya untuk bisa tidur siang di rumah belum terwujud. Walau SK saya sebagai Dekan berakhir 12 November 2014, saya belum dapat kepastian pemberhentiannya. Meski begitu, saat ini, saya dan  seluruh pejabat di FS UM saya minta tetap melayani pemangku kepentingan seperti biasa dan sepenuh hati. Juga, pagi ini, pukul 10.00 saya dapat undangan dari Dekan FMIPA untuk menghadiri Peresmian Pusat Kewirausahaan FMIPA UM. Kemarin dulu saya bertanya via telepon ke Pak Kusmain, Kabag TU FMIPA, “Apakah saya diundang sebagai mantan dekan?” Beliau tertawa saja. Saya pun ikut tertawa. Nggak tahulah, status saya hari ini, sebagai dekan atau mantan dekan (?)

Penggalan larik syair dan lagu Malam Terakhir berikut, mungkin tepat untuk menjawab pertanyaan itu ….

Esok aku …

Akan pergi lama kembali …

Kuharapkan … agar engkau sabar menanti ….

 

Malang, 14 November 2014

Dawud

FS UM

KHUTBAH JUMAT: PUASA DAN IDEOLOGI

Pertama, Senin lalu, pengelola program Critical Language Scholarship (CLS)< FS UM,  menyampaikan bahwa 6 di antara 27 mahasiswa Amerika yang belajar bahasa dan budaya Indonesia ikut berpuasa tanpa henti. Padahal, mereka tidak beragama Islam. Untuk menjawab rasa penasarannya, seorang tutor bertanya kepada salah seorang di antara meraka “Mengapa dan untuk apa Anda berpuasa?”. Dia menjawab, “pain myself ‘menyakiti diriku sendiri’”.
Berbeda dengan kita yang sejak kecil diajari bahwa puasa itu untuk mejalankan perintah Allah, untuk menjadi insan yang bertakwa, peserta CLS tersebut menjawab secara lugas bahwa tujuan puasanya adalah untuk menyakiti diri atau menyiksa diri. Mungkin kita akan berkomentar bahwa puasa seperti itu tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Akan tetapi, jika kita mencoba memahami sudut pandang atau paradigma yang dia gunakan, dia telah mencoba  melakukan upaya untuk berempati kepada orang-orang yang tersakiti dan tersiksa karena kemelaratan, karena ketidakmampuan.
Berdasarkan kisah pertama tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa alasan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan dilandasi oleh paradigma atas perbuatan yang akan dia lakukan. Paradigma bisa mengarahkan kekuatan untuk melakukan tindakan: seberat, sesulit, sesakit apa pun tindakan itu. Paradigma bisa mengarahkan niat dalam melakukan tindakan: bisa niat benar, bisa niat salah; bisa niat mulia, bisa niat hina; bisa niat terpuji, bisa niat tercela.
Kedua, pada tahun 1970 saat saya kelas 3 SD, menjelang sore hari usai mengandangkan sapi yang saya gembala sejak pagi, saya ditanya oleh bibi saya yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indoensia kurang lebih
 “Nak, kamu masih puasa?”
“Masih, Bu Lik,” jawab saya.
“Lho, bibirmu koq basah?” selidik berikutnya
“Habis wudlu di pancuran terus salat di batu sungai,” jawab saya.
“Allah selalu siaga, tidak pernah tidur lho, Nak,” nasihatnya.
Saat itu, saya bisa menipu Bu Lik saya. Saat itu, saya bisa membuat alibi di hadapan Bulik saya. Akan tetapi, yang sebenarnya, saat itu bahkan sampai dengan sekarang ini, sudah 44 tahun lamanya, saya tidak pernah bisa menipu diri saya sendiri: bahwa ketika berwudlu di pancuran itu, saya telah minum beberapa teguk karena haus yang luar biasa, karena berjam-jam di tengah sawah saat terik matahari menyengat. Mungkin juga di antara hadirin ada yang memiliki kisah sejenis.
Berdasarkan kisah masa kecil tersebut, kita bisa menarik pelajaran bahwa kebenaran formal dan material tidak selamanya sejajar dengan kebenaran moral-substansial. Kebenaran formal-material dapat ditutupi, dapat direkayasa, bisa diatur. Kebenaran moral-substansial tidak pernah dapat kita tutupi, tidak pernah dapat kita rekayasa, tidak pernah dapat kita atur. Kita tidak pernah mampu menipu diri kita sendiri. Kita yang melakukan, kitalah yang mengetahui dan mengawasi. Juga, tentu saja, Allah mengetahui dan mengawasi kita.
Ketidaksejajaran kebenaran formal-material dengan kebenaran moral-substansial ini akan menjadi-jadi jika dilandasi oleh kepentingan dan kekuasaan.
  • Dalam konteks kisah asmara, kita mengenal julukan kepada lelaki (sebagai penguasa) oleh perempuan (yang dikuasai) dengan sebutan “serigala berbulu domba” karena Setelah kaudapatkan semua dariku, dengan begitu mudahnya aku kaucampakkan. Kaututupi sifatmu dengan warna madu. Rupanya engkau serigala yang berbulu domba. Tertawa engkau puas tertawa, dan bangga setelah kau lakukan. Tetapi ada yang kaulupakan, Hukuman dan keadilan Tuhan. Tiada dosa bebas tanpa balasan
  • Di Korea Selatan dan di Jepang, yang nota bene ada negara yang mayoritasnya non muslim, tetapi begitu kuat kontrol moralnya, seorang pejabat yang menjadi tersangka korupsi, misalnya, dengan cepat menyatakan mengundurkan diri, bahkan ada yang bunuh diri. Tidak jarang terjadi, bukan dia yang korupsi, tetapi kerabatnya atau anak buahnya yang korupsi, sang pejabat mengundurkan diri, walaupun bukti formal dan material belum dibuktikan di pengabilan. Coba bandingkan di negara kita: ada yang sesumbar gantung di tugu yang tinggi, ada yang sesumbar potong telinga, bahkan ada yang tidak risih promosi kenaikan jabatannya.
  • Penggalan kisah Mahabharata berikut dapat kita jadikan pelajaran.
(1) Dalam penggalan Bale Sigala-gala, Maharaja Destrarata yang ambisius itu, melarang Duryudana untuk membunuh Pandawa dan Ibu Kunti dengan mengatakan “Bagaimana aku mempertanggung jawabkan di hadapan Pandu di alam sana nanti kalau engkau Duryudana membunuh wanita yang lemah dengan membakarnya melalui cara licik, yakni seolah-olah istana tempat tinggalnya itu terbakar.
(2) Basukarna yang pembela setia Duryudana masih tergerak hatinya untuk membocorkan rencana jahat Kurawa yang akan membakar Pandawa dan ibunya.
(3) Basukarna pun masih mengorbankan ajian kesaktian pemberian dewa Surya kepada Basudewa Kresna agar dia bisa terbunuh oleh Arjuna dalam perang Baratayudha yang sebelumnya telah memberi isyarat kepada Kunti, ibu yang membuangnya, dengan mengatakan “Ibu, aku tahu Duryudana di pihak yang salah. Ibu, aku tahu Kurawa akan kalah. Akan tetapi, hanya dengan membelanya, Ibu, aku bisa melunasi hutang budiku terhadapnya. Biarkanlah aku tetap berperang melawan Pandawa, Ibu. Andai Arjuna yang mati, putera Ibu tetap lima karena aku masih hidup. Andai aku yang mati, puteri ibu tetap lima.”
(4) Adapun Sakuni—di Jawa disebut Sengkuni—merupakan simbol paripurna manusia yang rakus, tamak, pengadu domba, dan culas. Di tangan Sakuni, kebenaran bisa diubah menjadi kesalahan, dan juga sebaliknya. Dicurhati untuk merahasiakan sesuatu malah dipublikasikan. Nasihat untuk seorang kawan direkayasa menjadi fitnahan dan ancaman pencemaran nama baik.
Manusia model Sakuni tersebut mirip dengan gambaran dalam ayat 7 Surat Al-Baqarah
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةُُوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Ketiga, Rabu malam usai coblosan Pilpres kemarin, salah satu televisi mnyiarkan wawancara langsung dengan pimpinan tim sukses kedua calon presiden. Presenter perempuan menanyai salah satu tim sukses tentang hasil quick count bahwa jagonya kalah. Sang tim sukes menjawab, “Ini kan hasil dari lembaga ini dan disiarkan oleh tv Anda, yang seberanya tv Anda objektif tidak memihak. Tetapi, di tv satunya, jago saya kan yang menang.
Sang presenter menjawab “Lho kalau teve Abang kan sejak kemarin, sebelum coblosan pun sudah memenangkan jago Abang. Dari sini, saya bisa katakan, dulu berlaku adagium, jangan menasihati orang yang sedang jatuh cinta, percuma. Sekarang, adagium itu perlu ditambah, jangan menasihati tim sukses, percuma. Apa pun yang dilakukan rivalnya, pasti salah dan pasti jelek.”
Dari kisah ketiga ini, kita bisa menarik pelajaran bahwa buta hati, buta pikiran, berkaca mata kuda membutakan kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Jika paradigma ini diterapkan dalam kehidupan sosial, bisa terjadi eksklusivitas dan taklid berlebihan: sebaik-baik anggota kelompokmu adalah lebih buruk dibandingkan anggota kelompokku yang terburuk; seburuk-buruk anggota kelompokku, masih lebih baik daripada anggota kelompokmu, sekalipun itu yang terbaik.”
Jika adagium itu terjadi suatu komunitas secara massif, kita sudah dapat memprediksi apa yang akan terjadi sebagaimana hadits Nabi
Idza wujidal amru ilaa ghairi ahlihi, fantadzirissa’ah
Apabila suatu urusan diserahkan kepada pihak yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.
Keempat, Selasa lalu, saya bertemu dengan seorang hafidz di UM ini dengan mengabarkan “Ustaddz sudah sehat? Kabarnya, pekan lalu Ustadz sakit.” Beliau menjawab “Alahamdulillah, sehat. Saya hanya menjalani jadwal yang telah Allah berikan, baik jadwal sakit maupun jadwal sehat.” Mari kita perhatikan firman Allah dalam Surat Al-Hadiid ayat 22–23 berikut.
مَآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَفِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {22
لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَافَاتَكُمْ وَلاَتَفْرَحُوا بِمَآ ءَاتَاكُمْ وَاللهُ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ {23
Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Luhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. 57:22)
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. 57:23).
Berdasarkan kisah tersebut kita dapat menarik simpulan bahwa kita harus menerima apa pun takdir Allah. Takdir Allah adalah pilihan terbaik untuk hamba-Nya. Walaupun sering kita jumpai, yang kita inginkan belum tentu dikabulkan, yang tidak kita inginkan juga sering kita terima.
Ada kisah seorang yang kali ketiga dipromosikan dengan nilai terbaik. Akan tetapi, yang diharapkan tidak terjadi, padahal andai dia diangkat, pelantikannya bertepatan dengan ulang tahun isterinya. Tentu saja dia dan isterinya kecewa. Setelah 2 tahun berikutnya, kekecewaan itu berubah menjadi rasa syukur atas karunia Allah, yakni tidak menjabat dalam jabatan itu. Kebetulan pejabat tersebut menjadi tersangka yang diproses dalam pengadilan tindak pidana korupsi oleh KPK. Dirasakan betul bahwa takdir Allah untuknya adalah pilihan terbaik untuknya.
DOA DALAM KHUTBAH KEDUA
Ya Allah, Ya Rabbi
Engkaulah Tuhan kami. Tiada Tuhan yang patut disembah selain Engkau.
Kau ciptakan kami dan kami adalah hamba-Mu, dan kami tetap pada sumpah dan janji kami kepada-Mu sekuat tenaga kami.
Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kami perbuat.
Kami datang kepada-Mu menyatakan pengakuan akan segala nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepada kami.
Kami datang kepada-Mu dengan segala dosa kami, maka ampunilah kami. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.
Ya Allahu, Ya Muhaimin, Yang Maha Memelihara
jadikanlah permulaan hari ini kebaikan,
pertengahannya keberuntungan,
dan akhrinya kesuksesan.
Kami mohon kepada-Mu kebaikan dunia dan akhirat kami, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih lebih dari mereka yang berhati kasih.
Ya Allah, Ya Wahhaab, Yang Maha Pemberi Karunia
kami mohon kepada-Mu keridlaan terhadap keputusan-Mu kepada kami,
kami mohon kelapangan hidup setelah kematian kami,
kami mohon kenikmatan memandang wajah-Mu yang mulia di akhirat nanti,
kami mohon kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu tidak dalam kesusahan yang menyedihkan dan tidak dalam cobaan yang meyesatkan.
Ya Allah, Ya Hafidz, Yang Maha Penjaga
kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat,
kami berlindung kepada-Mu dari hati yang tak khusuk,
kami berlindung kepada-Mu dari jiwa yang tak puas,
dan kami berlindung kepada-Mu dari do’a yag tak terkabulkan.
Ya Allah, Ya Waliy, Yang Maha Melindungi
kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah kami perbuat dan yang belum kami perbuat.
Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah kami ketahui dan yang belum kami ketahui.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat yang Engkau karuniakan,
kami berlindung kepada-Mu dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan,
kami berlindung kepada-Mu dari kejutan bencana dari-Mu,
dan kami berlindung kepada-Mu segala jenis amarah-Mu.
Ya Allah, Ya Baari’, Yang Maha Menata
perbaikilah untuk kami agama kami yang merupakan pelindung segala urusan kami,
perbaikilah keadaan dunia kami yang merupakan tempat kehidupan kami,
dan perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami.
Jadikanlah hidup kami sebagai tambahan bagi kami untuk berbuat segala kebajikan,
dan jadikanlah kematian kami sebagai peristirahatan akhir bagi kami dari segala kejahatan.
Ya Allah,Ya Mutakabbir, Yang Memiliki Kebesaran
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang banyak mengingat-Mu,
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang banyak mensyukuri nikmat-Mu,
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang sangat patuh terhadap perintah-Mu,
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang selalu merendahkan diri di haribaan-Mu,
dan tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang selalu berserah diri kepada-Mu.
Ya Allah, Ya Rahiim, Yang Maha Penyayang
kami mohon kepada-Mu agar kami dapat mencintai-Mu,
kami mohon kepada-Mu agar kami mencintai hamba-Mu yang mencintai-Mu,
kami mohon kepada-Mu agar kami mencintai segala perbuatan yang mendekatkan kami menuju cinta-Mu.
Ya Allah, Ya Qaabidh, yang Maha Pengendali
jangan Engkau biarkan pada diri kami ada suatu dosa tanpa Engkau ampuni.
Jangan Engkau biarkan pada diri kami suatau cela tanpa Engkau tutupi.
Janganlah Engkau biarkan pada diri kami suatu kesusahan tanpa Engkau berikan jalan keluar.
Jangan Engkau biarkan pad diri kami suatu utang tanpa Engkau lunaskan.
Jangan Engkau biarkan suatu hajat duniawi dan ukhrawi yang Engkau ridloi dan baik bagi kami tanpa Engkau penuhi,
wahai Yang Maha Pengasih lebih dari mereka yang berhati kasih.
Ya Allah, Ya Matiin, yang Maha Kokoh
kami mohon kepada-Mu ketetapan hati dalam segala urusan,
kami mohon kepada-Mu keteguhan kehendak menuju kebenaran.
Ya Allah, Ya Mujiib, yang Maha Mengabulkan
terimalah taubat kami, bersihkanlah dosa kami, kabulkanlah doa kami, kuatkanlah iman kami, luruskanlah perkataan kami, tunjukilah hati kami, dan lenyapkanlah keburukan hati kami.
Ya Allah, Ya Ghafur, yang Maha Pengampun
Ampunilah dosa kami
Ampuniah dosa guru-guru kami
Ampunilah dosa ayah ibu kami
Kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka mengasihi kami sepanjang hayat—kehidupannya

Masjid Al-Hikmah UM, 11 Juli 2014

 

JADWAL KRS ONLINE MAHASISWA SEMESTER GASAL 2014/2015

Berikut jadwal KRS online sebagai tindak lanjut Pengumuman Karo AKPIK UM, Nomor:11029/UN32.16/KM/2014, tanggal 3 Juli 2014.

HARI, TANGGAL TAHAP KEGIATAN
Senin, 7 Juli s.d. Jumat, 25 Juli 2014 PEMBAYARAN BIAYA PENDIDIKAN/SPP/UKT 1 Mahasiswa membayar Biaya Pendidikan/SPP/UKT di BNI, BRI, BTN, Bank Mandiri secara online.
2 Jika tidak bisa login, gunakan fasilitas lupa kata sandi di laman http://akun.um.ac.id/email/ atau hubungi pusat bantuan melalui:Email: aplikasi.helpdesk@um.ac.idLaman: https://support.um.ac.id/eticket/
3 Cek status bayar dan registrasi Anda di siakad.um.ac.id
4 Khusus mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi, Beasiswa PPGT dan KKT langsung cek status registrasi di siakad.um.ac.id dan jika status belum registrasi, hubungi Sub Bagian PNBP UM di Ged A2 Lt. 1 No Telp 0341-551312 pswt 119
Jumat, 8 Agustus 2014 (18.00 WIB) s.d. Senin, 11 Agustus 2014 (13.00 WIB) ANTREAN PENDAFTARAN MATAKULIAH DENGAN MENGISI KARTU RENCANA STUDI (KRS) ONLINE 1 Mahasiswa melakukan pendaftaran matakuliah (KRS) secara online.
2 Pada tahap ini, semua mahasiswa dalam tahap antre. Pada tahap ini, ada kemungkinan matakuliah yang diantrekan belum tentu berhasil diperoleh.
3 KRS yang dicetak sebelum Senin, 11 Agustus 2014 pukul 17.00 WIB bersifat sementarabukan KRS definitif.
Senin, 11 Agustus 2014 (13.00 s.d. 17.00 WIB) PEMROSESAN ANTREAN PENDAFTARAN MATAKULIAH (KRS) Tim IT UM memproses antrean pendaftaran matakuliah
Senin, 11 Agustus 2014 (18.00 WIB) s.d. Kamis, 14 Agustus 2014 (15.00 WIB) PENCETAKAN KRS & MODIFIKASI KRS 1 Mahasiswa mencetak KRS hasil antrean.
2 Jika matakuliah yang diantrekan pada tahap antrean TIDAK MUNCUL, mahasiswa WAJIB MEMODIFIKASI KRS.
3 Mahasiswa melakukan modifikasi secara kompetitif (sesuai dengan jatah sks dan ketersediaan offering matakuliah).
Catatan:
Mahasiswa baru angkatan 2014 hanya bisa memodifikasi mata kuliah MKU Pendidikan Agama.
4 Mahasiswa tidak bermasalah menandatangankan KRS ke dosen Penasihat Akademik (PA) pada minggu pertama atau minggu kedua perkuliahan.
5 KRS yang ditandatangani dosen PA diarsipkan oleh mahasiswa.
6 Mahasiswa bermasalah (IP < 2,00 atau semester sebelumnya tidak aktif) harus menemui dosen PA untuk mengaktifkan cetak KRS secara online.
Jumat, 15 Agustus s.d. Sabtu, 16 Agustus 2014 CETAK DAFTAR HADIR KULIAH (DHK) Subbagian Akademik Fakultas mencetak DHK
Senin, 18 Agustus 2014 (07.00 WIB) AWAL PERKULIAHAN 1 Subbagian Akademik Fakultas mendistribusikan DHK di Gedung Perkuliahan.
2 Mahasiswa memulai kuliah.

SUKSESI REKTOR UM PERIODE 2014—2018 DIMULAI

PERBAIKAN VERSI 2 MEI 2014 PUKUL 18:30 *)

Berdasarkan Pasal 5 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor/Ketua/Direktur pada Perguruan Tinggi yang Diselenggarakan oleh Pemerintah dan berdasarkan Pasal 31 ayat (2) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 33 Tahun 2012 tentang Statuta Universitas Negeri Malang, Pengangkatan Rektor dilakukan melalui tahap:

a.          

penjaringan bakal calon;

b.         

penyaringan bakal calon;

c.          

pemilihan calon; dan

d

pengangkatan.

I.      

TAHAP PENJARINGAN BAKAL CALON REKTOR

Penjaringan bakal calon Rektor dilakukan oleh Panitia Penjaringan yang dibentuk oleh Senat. Berdasarkan Keputusan Senat UM Nomor 1 Tahun 2014, tanggal 20 Maret 2014, Panitia Penjaringan terdiri atas

Ketua:

Dr. Triyono, M.Pd

Wakil Ketua:

Dr. Sulton, M.Pd

Sekretaris:

Prof. Dr. Moh. Amin, M.Si

Wakil Sekretaris:

Dewa Agung Gede Agung, M. Hum

Bendahara:

Djoko Dwi Kusumojanto, M.Si

Wakil Bendahara:

Sodiq, M.Ap

Anggota:

para WD 2, para Kepala Biro, Kabag Kepegawaian, para Kabag TU Fakultas, perwakilan dosen, dan kesekretariatan.

Berdasarkan Peraturan Senat UM Nomor 3 Tahun 2014 tentang Tata Cara Penjaringan Bakal Calon Rektor UM Periode 2014—2018, yang memiliki hak pilih pada penjaringan BC Rektor UM adalah (1) semua CPNS dan PNS dosen UM, (2) semua CPNS dan PNS tenaga kependidikan UM, dan (3) pengurus ORMAWA dengan rincian tingkat universitas diwakili 1 Ketua DPM, 1 Ketua BEM UM; tingkat fakultas diwakili oleh 1 Ketua dan 1 sekretaris BEMFA dan 1 Ketua dan 1 sekretaris DMF; dan tingkat jurusan diwakili oleh 1 Ketua HMJ.

 

Adapun jadwal penjaringan diatur sebagai berikut.

(1) Pembentukan Panitia Penjaringan paling lambat 24 Maret 2014

(2) Penetapan Pemilih paling lambat 31 Maret 2014

(3) Pengiriman borang kesediaan sebagai BC Rektor tanggal 7 April 2014

(4) Penyerahan borang kesediaan sebagai BC Rektor paling lambat 14 April 2014

(5) Jika yang menyerahkan borang kesediaan kurang dari 4 orang, Panitia mengirimkan ulang borang kesediaan pada tanggal 16 April 2014

(6) Penyerahan borang kesediaan sebagai BC Rektor hasil pengiriman ulang paling lambat 21 April 2014

(7) Panitia Penjaringan memvalidasi syarat BC Rektor sesuai dengan persyaratan yang tertuang dalam Peraturan Senat UM Nomor 3 Tahun 2014 Pasal 2 dan Pasal 3.

(8) Pengumuman nama BC Rektor paling lambat 28 April 2014

(9) Pemungutan suara 22 Mei 2014 (pukul 08.00—13.00)

(10) Penghitungan suara 22 Mei 2014 (13.30—selesai)

(11) Pengiriman hasil penghitungan suara kepada Ketua Senat 23 Mei 2014.

Tempat pemungutan dan penghitungan suara di Graha Cakrawala UM.

II.     TAHAP PENYARINGAN BAKAL CALON REKTOR

Tahap penyaringan bakal calon Rektor dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

(1)      

Senat UM melakukan rapat Senat khusus untuk (a) penyampaian program kerja oleh calon Rektor; (b) pemungutan suara oleh anggota Senat untuk mendapatkan 3 (tiga) nama calon Rektor;

(2)      

Senat mengirimkan 3 (tiga) orang calon Rektor beserta daftar riwayat hidup dan program kerja kepada Menteri paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya masa jabatan Rektor yang sedang menjabat.

(Catatan: Masa jabatan Rektor UM berakhir pada tanggal 13 November 2014. Tiga bulan sebelumnya berarti paling lambat pada tanggal 13 Agustus 2014)

III.             

TAHAP PEMILIHAN CALON REKTOR

Tahap pemilihan calon Rektor dilakukan dengan

(1)    

Menteri dan Senat melakukan pemilihan calon Rektor  dalam rapat Senat.

(2)    

Pemilihan Rektor dilakukan melalui pemungutan suara dengan ketentuan

 

(a)    Menteri memiliki 35% hak suara  dari total pemilih.

 

(b)   Senat memiliki 65% hak suara dari total pemilih dan tiap-tiap anggota Senat memiliki hak suara yang sama.

 

(Catatan: Pemilihan Calon Rektor dilaksanakan paling lambat 2 bulan sebelum berakhirnya masa jabatan Rektor yang sedang menjabat, berarti paling lambat pada tanggal 13 September 2014).

IV.             

TAHAP PENGANGKATAN

Menteri menetapkan pengangkatan Rektor atas dasar suara terbanyak hasil tahap pemilihan calon Rektor.

*) Catatan tentang Perbaikan ini

(1) Berdasarkan masukan dari berbagai pihak, versi pertama tulisan ini ada kekurangan, yakni tahap  validasi syarat BC Rektor. Untuk itu, dalam versi perbaikan ini dicantumkan dalam angka (7) romawi I.

(2) Tulisan ini adalah tulisan dari kontributor penulis berita dengan bahan dari kutipan Peraturan Perundang-undangan. Siapa pun pembaca web ini dapat berperan sebagai penulis kontributor. Sebagai tulisan kontributor berita dalam rubrik Berkarya ini, tulisan ini berfungsi sebagai informasi umum (Periksa Aturan Rubrik). Dengan demikian, tulisan ini TIDAK BISA DIGUNAKAN SEBAGAI LANDASAN HUKUM.

(3) Untuk itu, jika menginginkan landasan hukum, silakan membaca dan merujuk Peraturan Perundang-undangan terkait secara utuh, lengkap, dan komprehensif.

Terima kasih.

Penulis

KHUTBAH JUM’AT: PEWARTA

Dawud

Jamaah Jumah rahimakumullah,
Marilah kita mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT karuniakan kepada kita, di antaranya adalah nikmat Islam, nikmat Iman, dan nikmat kesehatan. Marilah kita meningkatkan kualitas ketakwaan kita dengan menjalan perintah-perintah-Nya semampu jiwa-raga kita dan menjauhi larangan-larangan-Nya tanpa terkecuali.
Dalam pendahuluan khutbah tadi, khatib membacakan ayat 224—226 Quran Surah Asy-Syu’ara
Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.

وَالشُّعَرَآءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ {224}

Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah

 أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ {225}

dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?,

 وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَالاَيَفْعَلُونَ {226}

kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mereka bangkit membela, sesudah mereka dizalimi. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali

إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَاظُلِمُوا وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ {227}

Melalui syair-syairnya, para penyair zaman Jahiliyah seringkali mengungkap kemolekan wanita, menampilkan kelezatan minuman keras sehingga mengalihkan manusia dari mengingat Allah. Para penyair zaman itu sering kali memuji dan menyanjung tindakan kaum yang seharusnya dikecam. Sebaliknya, mereka sering mengecam tindakan kaum yang seharusnya dipuji. Semua itu dilakukan dengan mempemainkan kata-kata, mengharapkan tepuk tangan, mengundang decak kagum pendengar, dan akhirnya mengantar mereka pada kesesatan (Shihab, 2004:159).
M. Quraish Shihab (2004:4) mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut mengecam para penyair, yang oleh masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran saat itu, para penyair itu mendapat tempat yang sangat terhormat. M. Quraish Shihab  juga mengatakan bahwa para penyair ketika itu dapat diserupakan dengan media massa dewasa ini, yakni dapat menyebarluaskan informasi, mengangkat derajat seseorang atau masyarakat tertentu, atau sebaliknya mendeskreditkannya.
Menurut hemat khatib, saat ini, melalui media sosial, siapa pun kita bisa menjadi sumber berita dan sekaligus pewarta yang luar biasa hebatnya dan yang dapat menyebarkan warta tanpa batas: lembah-ngarai, bukit-gunung, laut-samudra, dan daratan-benua. Kita bisa menjadi sumber berita dan pewarta melalui berbagai media sosial satu arah-dua arah, lisan-tulis, dan/atau audio-video. Kita bisa menjadi sumber berita dan pewarta melalui mikroblog, misalnya SMS, e-mail, chatting, chat-on, wechat, mesenger, facebook, twitter, instagram, kakaotalk, whatsapp, hangout, tango, dan sejenisnya; dan bisa pula melalui blog dan website.
Kalau kita tidak hati-hati, pemanfaatn media sosial dan media informasi tersebut bisa mengarah menjadi pewarta sesat yang diikuti oleh orang-orang yang sesat antara lain dengan ciri-ciri sebagai berikut.
  • Pewarta yang menyesatkan informasi dengan memutarbalikan fakta dan opini, menjungkirbalikkan argmen dan bukti, mencampuradukkan realita dan fantasi. Pewarta jenis ini bisa mengubah yang benar tampak menjadi salah, yang hati-hati distigma menjadi lambat, dan yang tegas dicap sebagai pemarah; demikian juga sebaliknya.
  • Pewarta yang mengararahkan persepsi orang sesuai dengan kepentingannya, yakni yang sesuai dengan kepentingannya diarahkan untuk dipersepsi positif, sebaliknya, yang tidak sesuai dengan kepentingannya diarahkan untuk dipersepsi negatif. Yang terakhir ini sering dilakukan dengan kampanye hitam. Cara termurah dan termudah untuk kampanye hitam adalah fitnah.
  • Pewarta yang menyombongkan diri dan tidak tahu berterima kasih ala Iblis. Lazimnya, pewartaan ini untuk memenuhi syahwat kekuasaan. Kepada kawan seperjuangan menuntut komitmen tanpa batas, saat telah berkuasa lupa jasa hingga tanpa bekas. Bahkan jika memungkinkan, mendepaknya hingga lenyap.
  • Pewarta yang menista, mem-buly, menghakimi, dan memvonis pihak yang berseberangan denganya: kafirlah, masuk nerakalah, terkutuklah, tak terampuni dosanya sampai tujuh turunanlah dan sejenisnya.
  • Pewarta yang membuka aib diri sendiri dan orang lain dengan narsis berlebihan, selfie nggak ketulungan, ananiyah melampaui batas kewajaran, misalnya, seorang wanita berkeluarga meng-update informasi dingin-dingin sepi jablay atau pasangan kekasih meng-upload video mesum dirinya di Youtube.
Jamaah Jumah rahimakumullah,
Ayat tentang penyair tersebut merupakan penutup dari tujuh kisah tentang nabi besar, yakni Nabi Musa, Ibrahim, Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu’aib alaihim salam. Kisah nabi-nabi tersebut berisi sari pati dakwah kerasulanya, misalnya, Musa mengajak Firaun dan kaumnya menyembah Allah; Ibrahim mengajak meninggalkan sesembahan berhala beralih menyembah Allah yang Maha Tunggal; Luth mengajak kaumnya meninggalkan lesbian dan gay untuk berumah tangga sesuai dengan sunatullah. Semua kaumnya yang kafir selalu menggunakan cara yang praktis untuk menolak dakwah para Nabi tersebut. Semua Nabi tersebut mendapatkan tantangan berat dari kaum yang diserunya.
Kita bisa memetik hikmah dari kisahnya, kalau Nabi pilihan Allah saja mendapatkan tantangan seberat itu, kita yang manusia biasa saat memperjuangkan kebenaran, memperjuangkan kejujuran, dan memperjuangkan keadilan hampir pasti selalu mendapatkan rintangan, tantangan, ganjalan, dan jegalan; di antaranya adalah rintangan, tantangan, ganjalan, dan jegalan dari pewarta dan tentang pewartaan.
Untuk itulah, dalam hampir di semua kisah para Nabi itu, Allah menutupnya dengan ayat penguat dan penghibur yang sama dan diulang-ulang
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu ayat dan tetapi kebanyakan mereka tidak beriman

إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَةً وَمَاكَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

Dan sesungguhnya Thuanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang

وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

 

Kaum muslimin rahimakumullah,
Dalam menghadapi pewarta yang sesat tersebut, kita bisa mencontoh insan bijak, baik dari orang awam, profesional, maupun para Nabi Allah.
 Orang awam yang bijak saat menghadapi pewarta sesat tentang dirinya akan mengatakan, antara lain,
  • Sing waras ngalah, wani ngalah luhur weksasane.
  • Kalau ada orang gila mewartakan kita gila, kita jangan menjadi gila dengan ikut membuat warta yang gila pula.
Tokoh profesional yang populer di media massa berucap, bertindak, dan bersikap bijak sebagai berikut.
  • Apa pun beritamu tentang aku, emangnya gue pikirin, kalau aku pikirin wartamu, akan habiskan energiku dan kamu bangga karena aku tanggapi wartamu.
  • Sejelek apa pun kau beritakan aku, yang penting aku kerja, kerja, dan kerja.
  • Sebanyak apa pun berita buruk tentangku kau wartakan, kemarin aku berprestasi, sekarang harus berprestasi, dan esok harus lebih berprestasi.
  • Atas semua warta jahat yang kau sampaikan, aku syukuri dan aku nikmati, al-hamdulillah engkau telah mengurangi dosa-dosaku dan mengirimkan pahalamu kepadaku.
  • Atas semua warta yang mencaciku, bagiku, tidak apa-apa kau wartakan aku dengan warta apa pun yang kau mau, aku maafkan wartamu bahkan sebelum kau mewartakannya.
Dalam surat Asy-Syu’ara ayat 83—85, Nabiyullah Ibrahim menanggapi jegalan kaumnya dengan do’a
Ibrahim berkata, Tuhan, karunialiah aku hukum dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ {83}

dan jadikanlah buat aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian

وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي اْلأَخِرِينَ {84}

dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan

وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةَ النَّعِيمِ {85}

Adapun Nabi Nuh menghadapinya dengan doa
Nuh berkata:”Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku;

قَالَ رَبِّ إِنَّ قَوْمِي كَذَّبُونِ {117}

maka bukakanlah (pintu penyelesaian) antara aku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan siapa yang bersamaku dari orang-orang yang mu’min.

فَافْتَحْ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِي مِنَ الْمُؤْمِنِينَ {118}

 
Semoga kita terhindar dari menjadi pewarta yang sesat dan menyesatkan. Semoga kita menjadi pewarta sekaligus penegak kebenaran, kejujuran, dan keadilan sebagaimana firman Allah dalam surat Asy-Syu’ara ayag terakhir
kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mereka bangkit membela, sesudah mereka dizalimi. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali

إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَاظُلِمُوا وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ {227}

 
Masjid Al-Hikmah Universitas Negeri Malang,
21 Maret 2014
 
Dawud
 
Buku Tafsir Sumber
Shihab, M. Quraish. 2004. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasihan Al-Qur’an Volume 10. Jakarta: Lentera Hati.
 

DOA KHUTBAH KEDUA

Ya Allah, Ya Rabbi
Engkaulah Tuhan kami. Tiada Tuhan yang patut disembah selain Engkau.
Kau ciptakan kami dan kami adalah hamba-Mu. Kami tetap pada sumpah dan janji kami kepada-Mu sekuat tenaga kami.
Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kami perbuat.
Kami datang kepada-Mu menyatakan pengakuan akan segala nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepada kami.
Kami datang kepada-Mu dengan segala dosa kami, maka ampunilah kami. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.
Ya Allah, Ya Wahhaab, Yang Maha Pemberi Karunia
Karunialah kami hukum dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh.
Jadikanlah buat kami buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang di kemudian hari
Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan abadi
Ya Allahu, Ya Muhaimin, Yang Maha Memelihara
Anugerahilah kami kemampuan untuk melihat yang benar adalah benar dan berilah kekuatan untuk mengikutinya.
Anugerahilah kami kemampuan untuk melihat yang salah adalah salah dan berilah kekuatan untuk menjauhinya
Ya Allah, Ya Hafidz, Yang Maha Penjaga
kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat,
kami berlindung kepada-Mu dari hati yang tak khusuk,
kami berlindung kepada-Mu dari jiwa yang tak puas,
kami berlindung kepada-Mu dari do’a yag tak terkabulkan.
Ya Allah, Ya Baari’, Yang Maha Menata
perbaikilah untuk kami agama kami yang merupakan pelindung segala urusan kami,
perbaikilah keadaan dunia kami yang merupakan tempat kehidupan kami,
perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami.
Jadikanlah hidup kami sebagai tambahan bagi kami untuk berbuat segala kebajikan,
dan jadikanlah kematian kami sebagai peristirahatan akhir bagi kami dari segala kejahatan.
Ya Allah,Ya Mutakabbir, Yang Memiliki Kebesaran
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang banyak mengingat-Mu,
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang banyak mensyukuri nikmat-Mu,
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang sangat patuh terhadap perintah-Mu,
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang selalu merendahkan diri di haribaan-Mu,
dan tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang selalu berserah diri kepada-Mu.
Ya Allah, Ya Rahiim, Yang Maha Penyayang
kami mohon kepada-Mu agar kami dapat mencintai-Mu,
kami mohon kepada-Mu agar kami mencintai hamba-Mu yang mencintai-Mu,
kami mohon kepada-Mu agar kami mencintai segala perbuatan yang mendekatkan kami menuju cinta-Mu.
Ya Allah, Ya Qaabidh, yang Maha Pengendali
Jangan Engkau biarkan pada diri kami ada suatu dosa, tanpa Engkau ampuni.
Jangan Engkau biarkan pada diri kami suatau cela, tanpa Engkau tutupi.
Janganlah Engkau biarkan pada diri kami suatu kesusahan, tanpa Engkau berikan jalan keluar.
Jangan Engkau biarkan pada diri kami suatu utang tanpa Engkau lunaskan.
Jangan Engkau biarkan suatu hajat duniawi dan ukhrawi yang Engkau ridlai dan baik bagi kami, tanpa Engkau penuhi.
 
Ya Allah, Ya Matiin, yang Maha Kokoh
kami mohon kepada-Mu ketetapan hati dalam segala urusan,
kami mohon kepada-Mu keteguhan kehendak menuju kebenaran.
Ya Allah, Ya Ghafur, yang Maha Pengampun
Ampunilah dosa kami
Ampuniah dosa guru-guru kami
Ampunilah dosa ayah ibu kami
Kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka mengasihi kami sepanjang hayat—kehidupannya

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.