UM Berjaya di Ajang Pemilihan Duta Bahasa Jawa Timur 2011

Pemilihan Duta Bahasa Jawa Timur tahun 2011 telah digelar pada Rabu, 14 September 2011. Bertempat di kantor Balai Bahasa Jawa Timur, Buduran Sidoarjo, acara yang rutin digelar tiap tahun itu diikuti oleh 42 peserta dari seluruh wilayah Jawa Timur. Dalam kesempatan tersebut, UM mengirimkan 12 peserta (6 putra, 6 putri) yang kesemuanya berasal dari Fakultas Sastra.
Rangkaian seleksi terdiri tiga sesi, di antaranya tes UKBI, wawancara (wawasan kebahasaindonesiaan, wawasan budaya daerah, dan kemampuan bahasa asing), dan sesi terakhir presentasi ilmiah.
Seluruh peserta mengikuti sesi pertama dan sesi ke dua, selanjutnya untuk masuk sesi tiga, panitia hanya memilih masing-masing 10 finalis putra dan 10 finalis putri. Alhamdulillah, 9 Wakil UM berhasil lolos final yaitu 5 putra dan 4 putri. Prestasi ini sempat membuat Tim UM terkejut sekaligus bangga karena tidak menyangka akan ada sebanyak itu yang masuk final. Setelah masuk final (menjawab pertanyaan juri di hadapan semua hadirin), jajaran juri mengumumkan 3 pemenang utama, baik putra maupun putri. Bersyukur, 3 finalis dari UM berhasil meraih juara yaitu Dyah Rahmawati (Sastra Indonesia) berhasil meraih Juara I dan berhak mengikuti seleksi Duta Bahasa Tingkat Nasional di Jakarta. Sementara Abu Amar Fauzi (Sastra Inggris) berhasil meraih Juara II dan Sigit Purnomo Juara III. Juara II putri diraih oleh mahasiswa UIN Maliki Malang, Juara III mahasiswi UB. Sementara Juara I putra diraih oleh kontestan asal Jember.

Prestasi ini tentu diraih bukan tanpa usaha. Di Fakultas Sastra, sebelumnya sudah diadakan seleksi yang diikuti 24 peserta yang berasal dari berbagai jurusan.  Setelah terpilih kandidat yang sekiranya layak, semua kandidat tersebut diberi pelatihan singkat sebagai bekal mengikuti kompetisi. Terima kasih atas dukungan dari berbagai pihak, utamanya dari jajaran pimpinan Fakultas Sastra yang telah memfasilitasi keperluan peserta dari UM. Semoga presatsi ini kian mengharumkan nama almamater kita tercinta.

Selamat untuk TIM UM.

Negeri Celaka

Negeri Celaka*
Cerpen Karkono Supadi Putra

Aku tidak tahu, mengapa mendadak aku ingin meratapi diriku ini. Aku tiba-tiba merasa seperti seonggok sampah yang tiada berguna. Tubuhku lelah, napasku terengah, aku jengah.

“Dia gila, kasihan dia.”

“Dia tidak gila, dia hanya sakit.”

“Biarkan saja dia terpuruk di situ! Peduli apa kita sama dia, kita tidak mengenalnya. ”

Banyak orang berlalu lalang melintasiku, tapi tak seorang pun yang memperdulikanku, pun sekadar menyapa. Mereka semua seolah membenciku, menghinaku, melecehakanku, jijik melihatku. Bahkan yang lebih kejam lagi, kelewat sering aku dengar mereka mengataiku gila.

Tidak! Aku tidak gila!!

Aku memelas pada semua mereka. Mereka anak-anakku, tapi mengapa mereka tak mau mendengar keluhku? Apakah telinga mereka sudah tuli? Apakah mata mereka sudah buta? Ataukah rasa dalam hati mereka telah membeku?

Mengapa aku harus mengalami nasib seperti ini? Aku kian terpuruk, tersaruk, remuk.

Aku: Pertiwi…

Langit dan bumi adalah kedua orang tuaku. Keadaanku kini sungguh jauh berbeda dengan keadaanku berpuluh tahun lalu. Aku kini hanyalah sesosok renta yang begitu ringkih. Dahulu, aku hijau menyegarkan, menyebarkan pesona yang memikat banyak orang. Tidaklah heran, jika dulu tidak sedikit yang berebut ingin melamarku. Ingin memiliki diriku.

Membayangkan keadaanku dulu, aku hanya bisa menangis. Aku begitu rindu dengan masa-masa itu. Aku dulu hidup dalam kedamaian, dalam buaian kasih dan sayang kedua orang tuaku. Dalam payung kesejukan gemah ripah loh jinawi. Aku masih begitu ingat bagaimana leluhurku mengajariku akan pentingnya sebuah kerukunan, kedamaian. Masa itu terlewat dengan bahagia, meski sesekali ada goncangan, tetapi itu tiada seberapa.

Namun, sungguh tiada terduga.

Ketika sawah ladang leluhurku mulai berbuah, berjuta ikan, rempah-rempah, hamparan nyiur melambai, dan Dewi Sri siap untuk dipanen, tiba-tiba banyak orang serakah datang merampasnya. Kekayaan anugrah Tuhan yang tiada ternilai itu pun mereka renggut dengan paksa, tanpa belas kasih, penuh kekejian, bahkan kami hanya makan sisanya yang tiada seberapa, dan itu senantiasa terjadi selama berabad-abad lamanya.

Lalu keluarga pun menjadi kaum tertindas di negerinya sendiri.

Kejam! Biadab!

“Dia gila, kasihan dia.”

“Dia tidak gila, dia hanya sakit.”

“Biarkan saja dia terpuruk di situ! Peduli apa kita sama dia, kita tidak mengenalnya. ”

Mereka semua anak-anak dan cucu-cucuku. Mengapa mereka tak lagi peduli denganku, bahkan tak lagi mengenalku? Mungkinkah karena jiwa bapak mereka telah pergi dari mereka? Bapak mereka: suamiku, Budaya.

Budaya…

Namanya selalu mengisi ruang-ruang kosong khayalku. Yang kini telah pergi dan selalu kunanti kehadirannya kembali. Aku tidak akan pernah lupa saat-saat itu, saat dia pergi meninggalkanku, dan entah apakah dia akan kembali lagi, suatu saat nanti?

Budaya….

Aku tidak mungkin lupa semua tentangnya.

Aku masih begitu ingat, kala itu, tiap senja, Budaya tidak pernah lupa untuk mengajakku ke sebuah pantai berpasir putih. Ombak kecil menari menjilati kaki-kaki kami. Nyiur melambai dan burung-burung seolah menari mengiringi kebahagiaan kami. Aku begitu hanyut dalam kedamaian bersamanya. Tak cukup banyak kata yang bisa kuurai tuk melukiskan rasa yang saat itu kurasa. Kolaborasi serasi yang mencipta harmoni.

Namun, entah dari mana datangnya, tiba-tiba aku merasa ada banyak tangan kekar yang menarikku kuat, mendorong suamiku hingga tersungkur. Kami terpisah. Terdengar suara-suara tawa menggelegar manusuk-nusuk telingaku, aku linglung.

“Kang Massss…!!!” teriakku sekuat tenaga kala itu.

Orang-orang berjas rapi dan berdasi menghajar suamiku, tanpa ampun. Aku hanya menjerit dalam tangis, tak ada yang lain, karena kedua tanganku terbelenggu tali-tali keserakahan, keangkuhan. Lantang salah satu dari mereka bersuara memekakkan telinga, mengumandangkan kata bahwa mereka adalah penguasa yang lebih berhak atas kami.

Suamiku dihajar, dipukuli, ditendang bertubi-tubi.

“Dinda…. Dindaaa…”

“Diammm……!!!”

“Tidak, lepaskan istriku…lepaskan!” suamiku mencoba berontak, tetapi semua sia-sia. Tangan-tangan kami serasa tak berdaya untuk melawan semua itu. Tenaga seperti terkuras habis. Orang-orang itu kian beringas menyiksa kami. Dan… tanpa aku duga, orang-orang itu menyerat suamiku pergi.

Semakin menjauh……

“Kang Mas…Kang Maass…!!!”

@@@

Kang Mas….Kang Mas….!!

Oh…aku terhanyut dalam lamunan.

Kejadian itu tak pernah hilang dari ingatanku, karena saat itulah kami berdua dipisahkan, hingga kini. Entah, kini dia masih hidup atau sudah tiada? Semenjak kami dipisahkan dulu, aku teramat merindukannya. Sejak saat itu, tak ada lagi yang mengasihiku seperti kasihnya. Pun seandainya kini Ia kembali, mungkin sudah tidak mengenaliku lagi. Kini, aku sudah tidak seperti dulu lagi, aku sudah dijamah ribuan tangan tak berhati.

Kang Mas… dimanakah kini kau berada?

Kemana aku harus mencarimu?

Aku merindukan kehadiranmu, aku membutuhkanmu.

Aku kini kesepian. Terkurung dalam penderitaan. Anak-anakku tak pernah mau menggantikan apa yang telah dilakukan suamiku kepadaku. Sekarang, setelah mereka tumbuh besar dan pandai-pandai, justru mereka hanya bisa menderitakanku. Mereka saling berebut peninggalanku: lautanku, hutanku, gunung-gunungku, kekayaanku, dan semua isi rahimku. Sedangkan mereka yang mengolah sawah ladangku malah memberiku racun. Ada juga yang tanpa malu menggunduli hutan-hutanku demi kepuasan perut mereka sendiri. Sebagian mereka ada juga yang senang berteriak-teriak demi kepentingannya sendiri, meski nyawa saudaranya dipertaruhkan. Mereka tega saling membunuh bila tengah berselisih. Mereka telah kehilangan rasa belas kasih dan rasa syukur pada Yang Menjadikan mereka ada. Mereka tampak seperti bukan manusia lagi.

“Dia gila, kasihan dia.”

“Dia tidak gila, dia hanya sakit.”

“Biarkan saja dia terpuruk di situ! Peduli apa kita sama dia, kita tidak mengenalnya. ”

Aku kini mulai merasakan, betapa cucu-cucu dan buyutku malu mengakuiku dan suamiku sebagai leluhurnya. Mereka lebih senang dan bangga dengan para tetanggaku yang hanya menawarkan kesenangan sesaat. Rasa malu pun seperti telah tercerabut dari diri mereka. Aku hampir tidak percaya kalau mereka adalah anak dan cucuku yang dulu santun.

Diri ini semakin rapuh dibuatnya. Rambut ini pun tidak hanya memutih, tapi mulai rontok satu satu. Luka-luka di tubuhku ini tidak kian mengering, tapi justru kian menganga lebar di sana-sana. Illahi….ampuni anak-anak dan cucu-cucu kami! Ampuni!!

Anak-anakku… jika air mata ini tumpah, bukan sebab aku meratapi diriku yang renta ini. Namun, sebab aku mencintai kalian semua. Aku tidak rela jika harus melihat kalian berkubang dalam celaka. Sadarilah bahwa aku termat mencintai kalian.

Illahi… apakah ini pertanda hidup sudah di ambang batas kematiannya? Apakah Engkau sudah lelah menegur mereka dengan beragam bencana yang sebenarnya berasal dari ulah mereka sendiri?

Kulihat ibu pertiwi…

Sedang bersusah hati…

Air matanya berlinang….

Lamat kudengar syair mengalun lembut.

Itukah suara anak cucuku? Masih adakah di antara mereka yang menyayangiku? Ataukah mereka justru menertawakan penderitaanku?

Dan… air mata ini kian deras…..

 

*Juara II Lomba Menulis Cerpen yang Diselenggarakan oleh LPM Techno Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Kembang Kemukus

Kembang Kemukus
Cerkak Karkono Supadi Putra
(Dimuat di Solopos, Kamis 07 Januari 2010)

Mripat bening kuwi mandeng aku tenanan. Aku ora kuwasa mbales delengane suwe-suwe. Dakslimurke delengaku marang wit-witan nagasari sing gumigil anteng. Sumilire angin krasa adhem nyapu kulit. Dakremes driji-drijiku dhewe, ing antarane ngrasakke rasa adhem lan uga gumreget ana njero dhadhaku.

“Apa temen Sampeyan arep lunga, Mas?” pitakonku rada mamang. Aku ngerti satemene slirane uga abot karo pepisahan iki. Teletik grimis turahane udan isih pisan pindho nelesi lemah Kemukus.

“Laras, awit mula aku lan sliramu padha ngerti kelawan sing bakal awake dhewe  adhepi. Klawan tetalian batin sing satemene luput yen terus dirumat iki.“

“Tega!”

“Banjur kudu kepriye? Aku dhewe wis nduwe calon bojo. Lan sliramu uga wis ngerti iku awit mula ketemu aku, ora ngono?”

“Aku saderma kepingin Sampeyan ora lunga saka Kemukus iki, Mas.”

“Nanging, awake dhewe mestine ngerti, apa tegese umpama awake dhewe tetep nglakoni tetalian iki?”

Saklebat aku mandeng slirane. Mripat bening kuwi malih dadi mendhung.

“Apa tegese iku, Mas?”

“Apa aku kudu njlentrehke sawiji-wiji sing satemene Sliramu wis ngerti?”

Mendhung iku malih dadi grimis: ana luh bening tumetes saka mripat lorone. Aku ngrasa ora tega mandeng mripate. Rikat, dakslimurake delengaku, adoh marang ngisor Gunung Kemukus, ing sumebyare banyu Waduk Kedungombo kang ayem.

“Yen ngono, awake dhewe kudu enggal kawin. Lamun pancen Mas Topan tresna marang aku, wujudna!”

“Banjur, kepriye nasib calon bojoku iku? Apa kudu daktinggal, banjur ngawini Sliramu?”

Yen pancen iku dalan sing luwih becik kanggo tetalianku lan sliramu, kena apa ora mboklaloni? Apa pancen sliramu ora wani? Lamun sliramu pancen ora saguh nglakoni, ateges tresnamu seprana-seprene amung ing lati. Muspra olihe niba tangi aku ngramut geni tresna iki. Geni tresna sing saben dina njajal disidem karo akal waras sing wis tumancep ing pikiranku. Iya, awit mula aku teka ing Kemukus iki wis ngrasa ora butuh tresna, amrih ora kepingin ketaton ing pungkasan. Nanging, bareng aku kepethuk Mas Topan, aku ora bisa ngapusi atiku. Aku tresna slirane.

“Kena apa ora?” pitakonku.

“Yen iku sing dadi kekarepanmu, aku ora bisa nuruti. Aku njaluk ngapura!”

“Tega Sampeyan, Mas. Sanpeyan ora tenanan tresna aku,” pangucapku karo swara gemeter. Aku tangi, banjur mlayu ninggalake slirane tanpa pamit. Luhku mbrebes mili. Aku kaya nemoni catu. Kaya kejegur ing puseran sing saya suwe saya santer lan wis ancang-ancang arep nglelepake aku.

“Laras!!” suwarane banter nyeluk aku, nanging aku ora nggubris.

***

Sore wis sampurna kasaput rupa ireng. Petenge wengi mrambat, nyigeg awakku ing jerone sepi. Aku mung meneng, gumandul ing kupinge cendela, ngiderake sawangan marang njabane cendela. Marang sorot lampu sing semorot saka warung-warung sing jumejer ana ing kiwa tengene dalan.

Malem Jemuah Pon. Kemukus nontonake rejane maneh. Ewunan manungsa beda-beda kekarep saka sakabehing panggonan tumplek bleg. Saka sing mung saderma nguber sumringah nganti sing nguber dhapukan bandha dunya, ngalap berkah.

“Wis wengi, kena apa Sliramu ora enggal dandan maesi awak, Laras?” swara Bu Suri, germa sing ramangsaku ora kayadene anggepanku sadurunge aku kenal luwih raket. Aku ngrasa slirane wis ngajeni aku luwih tinimbang wanita liyane. Apa amarga aku sing mesthi menehi slirane duwit sing akehe ora kethung, amarga aku wanita sing paling aji sing mesthi dadi royokan para tamu? Embuh. Ing omahe, saiki aku manggon. Ing sagundhuk gumuk jenenge Gunung Kemukus, puluhan kilometer ngalor saka kutha Solo. Pas ana pucuke, Pangeran Samudra lan ibu tirine, Dewi Ontowulan, dipendhem. Lan saiki kerep disambangi wong, luwih-luwih ing wengi iki: malem Jemuah Pon.

“Wengi iki aku prei, Mi…” wangsulanku. Aku nyeluk wong wadon iku Mami, kaya uga wadon-wadon liya sing megawe ing umah iki: ngladeni tamu lanang. Bu Suri nyedhaki aku, alus ngelus rambutku.

“Mami niteni, dina-dina iki Sliramu katon ora ayem. Ana apa? Apa amarga lananganmu kae arang-arang sambang mrene?”

Aku njingkat saka panggonan kang mula, marani amben ing njero kamarku. Bu Suri ngetutake.

“Laras, Sliramu iki ayu, isih enom sisan. Sliramu gampang antuk tamu sing kosenengi, malah sing sugih mbliwih sisan bisa. Apa ajine lananganmu iku, Laras?”

“Emboh Mi. Aku dhewe ora ngerti, kena apa aku ngrasa kelangan Mas Topan. Kanggoku Mas Topan beda, aku ngrasa wis kesengsem marang slirane,” luh mara-mara nyigar pipiku. Aku malih kelingan marang wayah kawitane srawung karo Mas Topan. Nalika iku slirane sambang marang Kemukus iki kanggo nggarap Tesis, nggolek data jarene. Slirane mampir ing warung iki lan akeh takon marang aku. Slirane bisa ngrubuhake pager pangreksaku saka rasa tresna. Nanging, aku ngerti sapa awakku iki. Apa pantes wadon kaya aku nresnani slirane? Lan mangsa krasa sansaya lumaku. Mas Topan malih kerep teka marang kene. Winih-winih tresna tukul antarane aku lan slirane.

Bu Suri katon kaget karo apa sing dakucapake.

“Simpen tresnamu iku Laras! Wadon kaya awake dhewe iki ora pantes nduweni tresna. Sliramu kudu bisa nglawan rasa iku. Wis, wengi sansaya nglangut. Cepet Sliramu dandan. Daktinggal dhisik, akeh tamu ing ngarep,” pangucape Bu Suri sinambi alon-alon tangi saka lungguhane.

“Mi, sepisan maneh aku njaluk, wengi iki wae, aku prei!”

Aku mlaku ijen nuruti undhak-undhakan sing tumerap. Aku ngrasa sepi ing tengah rejan. Ambune kembang setaman, menyan, rokok, uga alkohol campur dadi siji. Ah, saprene iki ambu iku kabeh sing nggembuli aku? Ambu sing satemene ora bisa daksrawungi. Kabeh mau dakpeksa mlebu ing uripku, ora krasa, aku wis nggembuli kabeh mau salawase mangsa luwih saka limang taun.

***

Aku milih lungguh ing ngisore wit Nagasari sing ora adoh saka Sendang Ontrowulan. Ing kene luwih sepi tinimbang ing dhuwur gumuk, ing pucuk Kemukus. Aku njajal ngumbar angen, supaya nelangsane ati sirna. Pangilingku mbalik tumancep marang pawakan lanang bagus sing pirang-pirang dina iki ndadekna sesek dadaku. Ngiseni pepanggononan sing kosong ana ing angen-angen sing ora bakal kegayuh: Mas Topan. Ing panggonan iki, pungkasane aku ketemu Mas Topan. Umpama aku oleh milih, temen-temen aku kepingin mbaleni mangsa, munyerake wayah. Aku kepingin ora ninggalake desaku lan minggat ing Kemukus iki. Aku kepingin srawung Mas Topan pirang-pirang sigegan wayah kepungkur. Banjur aku bisa ngrasaake endahe dadi manten bareng slirane. Nanging, apa wayah bisa gelem bali?

“Mbak, kok dhewekan wae. Gelem ngancani Aku?” pawakan lanang mara-mara wis ngadek ing ngarepku. Aku ora sreg kanggo mangsuli pengajake.

“Iki wis wengi, nanging aku durung oleh gandhengan. Eman to, adoh-adoh saka Semarang kapeksa ora nggawa asil merga mung gara-gara ora pepak olihe ngelakoni tirakat. Mbak durung ana tamu to?”

Wong lanang iku nyedhaki Aku. Aku lekas endang tangi. Aku dadi sumpek nyawang slirane. Tirakat sing durung cetha bener orane lan ora bisa dipikir akal waras. Kanggo mujudke impen kudu kelon karo wong sing dudu bojone dhewe.

“Ngaca dhisik yen arep ngajak-ngajak wong!” pangucapku nyeplos karo kesusu nyingkrih.

“Woo…. dhasar ciblek!” samar dakrungu celathune wong lanang iku. Aku ora nggubris. Aku enggal mlayu.

Nalika lagi wae aku mlebu warung Bu Suri, dumadakan aku nemoni sapasang mripat sing cemorong ana ing tengahe remeng-remenge cahya. Getihku mangsek, kemrenyeng. Aku wanuh marang mripat iku. Sapasang mripat sing ndadekake wewayah iju lustru ana ing ngarepane. Banjur, ana ing pisan pindho sigege wayah, ilatku ora nduweni daya kanggo nyuwara.

“Larasati, aku pingin ngomong!” pangucape karo gedandapan. Aku isih matung, kaget karo kadadeyan iki.

“Laras, aku nyerah. Aku ngakoni yen aku ora bisa ninggalake Sliramu.”

“Temenan, Mas?”

“Aku wis njajal nglalekake Sliramu, nanging ora bisa. Saiki Sliramu melu aku. Awake dhewe rabi, dadi bojo sing sah. Sliramu kapiken lamun mung dadi kembang ing Kemukus iki Laras.”

Sepisan iki dadaku kebak sesak kisenan kembang. Kembang maneka rupa saka nagari sing mung rasa seneng wae sing manggon ing kana.

***

Mahasiswa dan Media Massa

Mahasiswa dan Media Massa
Karkono Supadi Putra
Dosen di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang
(Pernah dimuat di kolom Opini koran Surya)

 

Menulis itu mencerdaskan. Seseorang yang menulis, apa pun jenis tulisan itu, berarti dia sudah melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran. Melakukan proses pembacaan untuk mendapat materi tulisan yang akan ditulis. Proses pembacaan itu bisa berarti membaca dalam arti sebenarnya, yaitu membaca buku-buku referensi, koran, majalah, atau data-data dari sumber lain. Bisa juga membaca fenomena di masayarakat. Realita di sekitar dapat menjadi inspirasi tulisan. Menulis adalah mengasah kecerdasan intelegensia sekaligus kepekaan.

Selain memberi efek mencerdaskan, menulis jadi sarana pelepasan emosi. Apa yang ada di benak, jika tidak dikeluarkan akan membuat penat. Mekanisme pengeluaran itu bisa dengan lisan atau tulisan. Rasanya sayang, kalau ide yang bertebaran di pikiran hanya dipendam, padahal jika ditulis dan dipublikasikan kepada khalayak akan memberi informasi dan inspirasi positif.

Pelepasan emosi dengan menulis tentu memberi manfaat ganda : kepada penulis sendiri dan pembaca. Agar ide-ide cemerlang seorang penulis bisa dinikmati kalangan luas, membutuhkan sarana memublikasikan tulisan itu. Salah satu yang efektif adalah media massa. Media massa, apapun jenisnya, senantiasa berinteraksi langsung dengan masyarakat. Beragam informasi dari masyarakat akan diinformasikan kembali kepada masyarakat yang lebih luas.

Sudah selayaknya keberadaan media massa tidak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat di era global sekarang ini. Informasi menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat di zaman penuh kompetisi dan sangat dinamis. Tidak saja berupa rekaman peristiwa yang hangat terjadi, media massa berisikan pengayaan pemikiran, sumbang pendapat, ajang mempromosikan usaha, dan tidak lupa juga berisi anekahiburan. Tulisan di media massa tidak hanya berasal dari redaksi pengasuh media, tapi bisa berasal dari kiriman pembacanya.

Salah satu bagian masyarakat yang potensial untuk produktif menghasilkan tulisan adalah pemuda, khususnya mahasiswa. Mahasiswa setiap harinya akrab dengan dunia ilmu pengetahuan. Mahasiswa senantiasa berkutat dengan proses pembelajaran : membaca dan menulis. Cukup beralasan, tingkat kecerdasan intelegensia dan kepekaan terhadap fenomena sosial budaya di sekeliling mahasiwa lebih tinggi jika dibandingkan masyarakat awam.

Gagasan hasil dari interaksi dengan dunia akademik yang intens sangat sayang bila tidak dibagi untuk kalangan luas. Sebagai bagian dari masyarakat, mahasiswa punya tingkat kepekaan lebih karena bekal ilmu yang didapat dari kampus sudah seharusnya diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Ilmu bukan lagi eklusivitas dalam kehidupan kampus. Sangat logis jika kecerdasan suatu bangsa tergantung dengan tingkat kecerdasan (baca pendidikan) dari warga negaranya.

Mahasiswa dan media massa adalah dua bagian yang saling membutuhkan. Mahasiswa perlu beragam informasi yang tersaji di media massa, butuh ruang bagi publikasi ide-ide yang dimilikinya, atau ruang untuk mengungkapkan reaksi terhadap informasi yang ada di media massa.

Sebaliknya, informasi yang disajikan media massa akan lebih kaya jika diramaikan oleh pemikiran-pemikian kaum intelektual calon pemimpin bangsa ini. Fakta sejarah menunjukkan, mahasiswa selalu tidak bisa dipisahkan terhadap setiap perubahan di dalam suatu bangsa, termasuk Indonesia. Dengan kekritisannya, mahasiswa siap bergerak jika melihat penindasan dan ketidakadilan. Mahasiswa termasuk agent of change. Kekritisan mahasiswa itu, salah satunya tertuang lewat tulisan di media massa.

Masalahnya, sekarang ini bisa dikatakan tidak cukup berimbang ruang yang diberikan media massa, khususnya media cetak, dengan kebutuhan para mahasiswa untuk mengekspresikan ide-idenya lewat tulisan. Bisa kita lihat, berapa banyak media massa yang lebih menitikberatkan pada faktor hiburan yang lebih banyak berisi berita para selebriti jika dibandingkan dengan jumlah media massa yang berisi informasi yang bersifat akademis.

Memang, tetap ada media massa yang cukup berimbang dalam menyuguhkan sajian informasi : tetap memberi ruang hiburan, tapi tetap memberi porsi sumbang pendapat dari pembacanya. Namun, sekali lagi dalam jumlah kuantitas bisa dikatakan masih kurang. Salah satu media massa yang memberi ruang bagi aspirasi para mahasiswa adalah Harian Surya dengan rubrik Warteg. Meski tidak mengkhususkan bagi mahasiswa tetapi  yang berpartisipasi aktif dalam rubrik ini didominasi para mahasiswa.

Banyak mahasiswa yang merasa kesulitan untuk menembus media massa. Wajar, media massa menyeleksi setiap naskah yang masuk, tidak asal memuat. Selalu gagal mengirim tulisan ke media, tidak sedikit para mahasiswa yang akhirnya putus asa dan mengikuti arus lain : menjauhkan diri dari aktivitas menulis. Mahasiswa memilih budaya lihat dan dengar daripada budaya baca tulis.

Ada dua hal yang menjadi perhatian. Pertama, sudahkah media massa memberi ruang bagi para mahasiswa untuk berinteraksi timbal balik. Cukup beralasan jika mahasiswa mendapat tempat di media massa. Kedua, bagi mahasiswa, agar lebih menyadari kedudukan sebagai kaum pemikir Jangan sampai gelar mahasiswa berhenti pada status. Mahasiswa dituntut proaktif dengan fenomena yang banyak terekam di media massa.

Tulisan mahasiswa yang berisi ide cemerlang sudah selayaknya menghiasi media massa. Jangan sampai, media massa banyak memberitakan tentang mahasiswa tetapi dalam wajah lain : mahasiswa pesta narkoba, mahasiswa tawuran, dan hal-hal negatif lain yang kontradiktif dengan predikat yang melekat pada diri mahasiswa.

Beli Buku karena Endorsement?

Beli Buku karena Endorsement?
Karkono, S.S., M.A

Apa motivasi terbesar Anda saat ingin membeli buku? Karena memang butuh? Sekadar membelanjakan uang? Karena terpengaruh cerita teman tentang isi buku? Atau karena tertarik langsung saat melihat-lihat buku tersebut? Tentu antarkita berbeda alasan untuk membeli buku. Terkadang kita memang benar-benar membutuhkan buku tersebut, tetapi terkadang bisa saja tanpa terencana lebih dulu untuk membelinya.

Saat berada di toko buku, kita pasti melihat dan memilah buku mana yang hendak kita beli. Sekarang kita ingat-ingat, seberapa sering kita membeli buku tanpa kita rencanakan seleumnya. Dari rumah, kita sekadar ingin main ke toko buku, kalau ada buku yang kira-kira bagus ya kita beli, kalau tidak ya tidak beli. Apakah sering seperti itu?

Lalu, apa kira-kira yang membuat Anda tertarik untuk memilih sebuah buku untuk Anda beli? Apakah kita pernah memerhatikan, sekarang ini hampir di seluruh sampul buku selalu ada endorsement yang bertujuan untuk menarik para pembeli? Endorsement adalah komentar atau semacam testimony seseorang terhadap isi sebuah buku. Bisa jadi, kita tertarik membeli buku karena ‘tergoda’ oleh endorsement yang ditampilkan di sampul buku tersebut.

Endorsement memang diakui banyak penerbit sebagai alat jitu untuk mendongkrak pemasaran. Biasanya, para endorser atau orang yang memberi komentar terhadap sebuah buku memang bukan ‘orang sembarangan’. Bisa saja seorang pakar di bidang yang sesuai dengan tema buku tersebut, bisa dari kalangan public figure yang sedang menjadi sorotan, pejabat, atau penulis. Hal ini memang wajar dan sah-sah saja, hanya saja yang menjadi perhatian kita adalah jangan sampai setelah kita membeli buku merasa tertipu karena apa yang diutarakan dalam endorsement ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan isi buku. Dan hal ini bukan sesuatu yang tidak mungkin.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ada dua penyebab yang mungkin saja terjadi. Pertama, sang endorser tidak membaca dengan jeli seluruh isi buku, tapi ketika diminta penerbit untuk memberi komentar tentu saja adalah komentar yang menarik (baca memuji buku), padahal sebenarnya kualitas buku tersebut kurang baik. Sehingga antara kualitas buku dan isi komentar tidak sinkron. Kemungkinan kedua adalah endorser tidak membuat komentar sendiri, akan tetapi hanya ‘dipinjam” namanya, dan komentar itu dibuat oleh penerbit, dan tentu demi pemasaran-meski tidak sesuai dengan isi buku-komentar pun dibuat yang menarik.

Tulisan ini semoga menjadi perhatian bagi kita ketika hendak membeli buku. Kita bisa saja menjadikan endorsement sebagai bahan pertimbangan dalam membeli buku, akan tetapi tidak ada salah jika kritis terhadap endorsement. Jika sekadar informasi yang berisi ringkasan isi buku masih wajar kita jadikan rujukan seperti apa isi buku tersebut, akan tetapi jika endorsement sudah sampai pada tingkat berlebihan dalam memuji sebuah buku, layak untuk kita waspadai.

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Surya

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.