Gadisku dalam Kelambu

Syok!!

Jantung serasa berhenti berdetak. Mata terpaku menatap foto-foto di layar monitor. Kecewa, sedih, merasa gagal. Foto-foto itu begitu berbicara menyuarakan hubungan asmara. Asmara yang tak selayaknya. Seketika saja sudut mataku mengembun. Tak sampai sedetik telah membanjiri pipiku.

Sembari berusaha tenang, kuraih telepon genggam, mengetik pesan pada dia yang kusayang.

SENT ITEM 1

Gadis, Bunda lihat Gadis dekat dengan Cempaka ya? Sahabat atau bagaimana? Bunda merasa ada yang tidak biasa.

INBOX 1

Bunda, gadis minta maaf! Dulu Gadis pernah pacaran sama Cempaka setelah dia putus dengan Bunga. Tapi jangan bilang-bilang ya, Bunda? Sekarang Gadis sudah tidak ada hubungan sama Cempaka. Sumpah Bunda, Gadis nggak punya hubungan sama Cempaka lagi. Gadis minta maaf Bunda….!!

 

Semakin menjadi kecewa dan sedihku. Gadis mengaku tanpa perlu aku memperjelas pertanyaanku. Kami memang dekat hati ke hati. Tidak kaget sebenarnya jika Gadis mau mengaku. Tapi… hati ini berharap akan mendapatkan sangkalan dari Gadis. Berharap Gadis tidak benar-benar memiliki hubungan tak lazim itu. Huuft.. setidaknya Gadis mau terbuka padaku. Kusyukuri itu. Memudahkan jalanku untuk membimbing dan mengingatkannya. Gadisku yang masih 14 tahun.

 

SENT ITEM 2

Bunda menemukan foto-foto gadis sama Cempaka. Siapapun yang melihat foto itu pasti langsung berprasangka buruk. Bunda kecewa. You have a bright future. Jangan merusaknya…..

INBOX 2

Gadis minta maaf, Bunda. Gadis akan hapus foto-foto itu! Gadis minta maaf! Gadis rela jujur demi kebenaran. Jadi Gadis mohon, Bunda jangan berpikir yang negative. Gadis mohon, Gadis masih Butuh Bunda!

 

Gadisku… Apa yang dia pikirkan hingga menjalani hubungan itu? Semua tahu jika Cempaka memang tomboy. Tapi aku tak sampai berpikir ke sana, kukira mereka hanya berteman, bersahabat. Aku tidak menaruh curiga karena sebelumnya Gadis berpacaran dengan Bayu.

 

SENT ITEM 3

Bunda pengen nangis rasanya… Temui Bunda sekarang. Bunda tunggu.

INBOX 3

Nggak, Bunda. Gadis nggak mau temui Bunda. Gadis malu… Gadis sekarang sama teman-teman. Gadis menumpahkan penyesalan sama teman-teman. Gadis minta maaf, Gadis nggak bias temui Bunda…

SENT ITEM 4

Sampai kapan mau menghindari Bunda? Kalau sudah mengaku nggak perelu malu. Bunda harap Gadis benar-benar menyesal dan menyadari bahwa itu keliru, bukan jalan yang harus kamu tempuh. Hanya Bunda yang tahu ini. Bunda menjaga rahasia demi Gadis, asal Gadis janji hal ini nggak akan terulang lagi seumur hidup Gadis.

INBOX 4

Ya, Bunda. Gadis bakal janji!! Gadis mohon jangan disebarkan ya. Gadis sudag nggak ada hubungan lagi sama Cempaka, Bunda! Gadis malu sama Bunda…

 

Tuhan… Kaulah pemilik segala kehendak…

Lindungi Gadisku, jagakan Gadisku…

Hanya padaMu semua bermuara…

 

Aku segera beranjak dari kantor, jika Gadisku tak ingin menemuiku, maka aku yang akan mencarinya, menyelamatkannya, memeluknya dan mengajaknya beranjak dari persimpangan.

Mahasiswa PPL yang Tidak Patut Ditiru

Jujur saja, saat menulis ini saya dalam keadaan emosi dan kecewa. Betapa tidak, karena seorang adik mahasiswa dari sebuah universitas swasta di Banyuwangi yang tengah PPL (Praktek Pengalaman Lapangan/praktek mengajar) di tempat kerja saya melakukan tindakan di luar etika yang sungguh tidak pantas dilakukan oleh seorang calon guru!

Di sekolah (SMP) tempat saya mengajar tengah diadakan lomba Mading. Seluruh Kelas pun sibuk mempersiapkan Mading untuk lomba tersebut. Sepulang sekolah, bahkan sampai sore mereka bertahan di sekolah untuk mengerjakan Mading.

Kemarin pun begitu, pukul 3 sore sekolah masih ramai. Tampak seorang mahasiswa PPL (kebetulan dia Ketua tim PPL) datang ke sekolah. Saya pikir akan membantu anak-anak. Eh, ternyata adik mahasiswa tersebut malah mojok dengan seorang siswi di dalam masjid sekolah, di samping mimbar khotbah.

Ya, saya tahulah, saya pun pernah menjadi mahasiswa. Saya dulu PPL di sebuah SMA yang usia murid-muridnya hanya terpaut 4 tahun di bawah saya. Pastilah ada kemungkinan ketertarikan, dari siswa ke guru PPL atau sebaliknya. Tetapi setidaknya pikiran jernih dan etika tetap dikedepankan, mengingat mahasiswa tersebut membutuhkan kerjasama dan bantuan dari pihak sekolah. tidak hanya itu, PPL adalah ajang berlatih, baik berlatih dalam kegiatan mengajar maupun berlatih pengendalian emosi berinteraksi dengan murid.

Kembali ke kejadian di sekolah. Yang dilakukan oleh adik mahasiswa tersebut dengan siswi saya adalah berpelukan dan berciuman. DI DALAM MASJID SEKOLAH.

Kontan saja teman-teman guru yang memergoki adegan tersebut marah dan menegur mereka berdua. Sungguh kami kecewa terhadap adik mahasiswa tersebut. Padahal saat itu di sekolah sedang ramai, banyak murid. Kalau memang tidak bisa membendung gairah, apakah tidak ada tempat lain selain di sekolah? Di dalam Masjid pula!! Duh, geleng-geleng kepala saya atas kejadian ini.

Kalau (calon) guru saja seperti itu, mau diarahkan ke mana murid-muridnya?

Tolong jangan ditiru!
Salam Hangat…
Hidup Dunia Pendidikan!

Bahasa Indonesia Ber-grammar Madura

Saya warga Malang, yang mengais rejeki di Bondowoso. Begitu menginjakkan kaki di Bondowoso setahun yang lalu, saya bingung ketika mengobrol dengan orang Bondowoso. Kami sama-sama berbahasa Indonesia, tapi saya tidak segera dapat menangkap maksud kata-kata mereka.

Bondowoso memiliki penduduk mayoritas keturunan suku Madura, sehingga bahasa ibu di kota ini adalah bahasa Madura. Namun begitu, di daerah sekitar pusat kota, bahasa pergaulannya adalah bahasa Indonesia karena banyak pendatang dari luar kota di daerah ini.

Yang menarik adalah bahasa Indonesia yang digunakan di Bondowoso ini bergrammar/berstruktur bahasa Madura. Jadi Bahasa Madura diterjemahkan secara langsung ke bahasa Indonesia, namun memakai pola tatanan bahasa Madura.

Bingung? BAik, saya beri contoh.

1. Cek bagusnya kata saya (arti: menurut saya sangat bagus)

Ini adalah bentuk terjemahan dari bahasa Madura yakni cek begussah cang engkok.

Kalimat ini adalah kalimat pertama yang menggelitik saya untuk meneliti (ciee kayak skripsi aja) lebih lanjut.

2. Katanya ibunya saya nggak boleh beli-beli (arti: kata ibu saya nggak boleh jajan/beli)

Kalimat ini adalah terjemahan dari kalimat dalam bahasa Madura, yakni cang en ibu’en engkok, tak begih leh-meleh).

Saya sering menggoda seorang teman d kantor, ketika dia selesai berbicara, saya mengeditnya hehe… Tapi saya tidak mengatakan bahwa ini salah loh, saya menganggap ini sebagai kekayaan ragam bahasa. Menurut saya unik, tapi saya masih sering senyum-senyum mendengar percakapan warga Bondowoso.

Di tempat kerja (saya mengajar di sebuah SMP), saya sering mendapati tugas-tugas menulis yang dikerjakan murid-murid saya masih terkontaminasi bahasa lisan mereka. Jadilah saya editor paruh waktu.  Banyak pemborosan kata pada tulisan murid-murid saya. Berikut ini contohnya.

>> Tugas menuliskan kritikan terhadap karya sastra

Seorang murid saya menulis:

“Katanya saya, puisi ini cek bagusnya. Kata-katanya pengarangnya membuat saya bisa berimajinasi mengikuti irama katanya dan rimanya puisinya.”

Ada yang berkenan membantu mengedit? 🙂

Salam…

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.