MEMAKNAI KETIDAKPASTIAN

Kalau seseorang berkata ”pasti” berarti ia sudah merasa yakin kalau masa ke-depannya akan seperti apa yang dikehendaki, begitu juga dalam bersosialisasi dengan masyarakat ,promosinyapun sama ia akan berbuat yang terbaik terhadap sesamanya bahkan di tempat kerjapun ia pasti sanggup untuk mematuhi kebijakan yang dicanangkan oleh pimpinannya, tiada sesuatu yang bisa dianggap menyulitkan melainkan pasti dibuatnya beres “no problem” dan bila ditanya tentang bagaimana interaksinya dengan Tuhan? iapun mengatakan dengan pasti akan mampu melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab terhadap amanahNya…asyiik. Kalau kita bukan orang ateis tentu akan mengatakan bahwa yang berhak mengatakan ”pasti” hanyalah penguasa alam ini, misalnya “semua mahluk hidup pasti akan mati” sedangkan kematian itupun ada pada kerahasiaan Nya dan tak seorangpun bisa mengetahuinya, tapi bila seseorang berbicara ke-tidakpastian barulah ramai bila dipakai sebagai bahasan sebab banyak orang masih dibuat bingung oleh ke-tidakpastian, ibarat remangnya bayang bayang di gelapnya malam dan sebenarnyalah manusia itu tidak bisa mengetahui atau meramal masa depannya karena manusia tidak dapat memahami bagian bagian temporal dalam hidup secara keseluruhan, memastikan dan memudahkan permasalahan pada saat ini sangat marak ditengah masyarakat seakan bisa menjawab hari esok yang belum dijalani, zaman sekarang apapun bisa dijual diantaranya adalah menjual janji bahkan mahluk astralpun mahal tapi laris juga dipasaran…nah yang enak diperhatikan adalah dalam hal utang piutang, mungkin karena terdesak oleh kebutuhan seringkali yang diucapkan tak sesuai dengan aqadnya, jadi ketidak pastian merupakan ujian dan pilihan maka disinilah letak perjuangan manusia. dan bagi orang yang memahami ketidak pastiannya tentu akan menyikapi serara kritis fenomena yang dialami dalam kehidupannya sehingga ia bisa menata pola fikir lalu dipadu dengan waktu dan dikemas dalam bentuk program kemudian ia ceburkan diri berkubang bersama cita citanya, sedang keyakinan yang kuat telah menuntunnya untuk selalu optimis sampai datangnya cahaya pencerahan atas usaha dan pertolonganNya . Nabi saw sendiri sangat menyukai orang orang yang mau bekerja keras,oleh karena itu beliau pernah mengajarkan kepada sahabatnya Abu Dzar,
Kata Nabi saw begini, “Jaddis safiinata fa innal bahro ‘amiiq”…..pugarlah kapalmu karena lautnya dalam…ini menunjukkan bahwa manusia perlu memperbaiki diri, manusia dituntut memperbaiki fikrah dan niatnya dan manusia dituntut untuk membentengi lahir dan batinnya dengan ilmu pengetahuan yang telah dicapainya baik melalui pendidikan formal maupun laduni agar ketika berada ditengah bahtera hidup takkan mudah oleng oleh goncangannya kalau kata Joseph Gaal,bahwa pusat pikiran dan perasaan itu berada di otak bukan di hati bukan pula di jantung, jadi benturan benturan karang dan badai bila datang melanda maka tidak membuatnya lari tunggang langgang ke dukun tapi justru logikanya akan bergerak reflek bangkit memunculkan ide ide kreatif yang tak terduga dan bisa membantu memberikan solusi padanya
Lalu beliau melanjutkan, ”wakhudzizzaada kaamilan fa innassafaro ba’iid”…bawalah bekal sempurna karena perjalanan jauh….ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan perjalanan jauh adalah perjalanan menuju akhirat dan sudah kita maklumi bahwa negeri akhiratlah batas akhir dari perjalanan hidup dan disana pula setiap individu akan mendapat jawaban pasti dari semua peristiwa hidup yang dulu dijalani penuh ketidak pastian dan disana pula tempatnya suara riuh rendah, dari ungkapan sesal tiada tara,bahagia dan nestapa (keterangan buku agama) dan yang dimaksud bekal sempurna adalah menjalankan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarangNya
Kata beliau berikutnya,”wakhoffifil khimla fa innal’aqobata ka’uud”…peringanlah beban karena rintangan rintangannya berat sekali…nah ini menunjukkan bahwa orang orang yang didunia dahulu mampu keluar dari belenggu ketidak pastian dan menjadikannya sebagai orang yang sukses atas izinNya, tapi anugerah yang melimpah itu masih berlanjut dengan puncak rintangannya yaitu konsekuensi dari pemberianNya……dengan ilmunya, dengan harta atau kedudukannya sudahkah dimanfaatkan untuk keselamatannya di akhirat? semoga

BENAHI DIRI DULU

“Hai orang orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”[QS Surah Ash-Shaff:2–3].

Tiada salahnya jika kita sempatkan sejenak untuk merenungkan pengajaran ayat Al-Quran di atas yang sebenarnya sangat dibutuhkan bagi orang-orang yang merasa sudah menyatakan diri berikrar kepada Tuhan penciptanya untuk menaati-Nya, sebagai koreksi dan pengendali dalam perjalanan hidup manusia yang masih banyak lalainya meskipun ia sudah menyatakan beriman.

Tundukkan wajah yang biasa tengadah, redupkan mata yang biasa memandang tajam terhadap apa-apa yang mengasyikkannya, tenangkan hati yang selalu bergolak bagai air mendidih, dan gantikan senyum bagi mulut yang biasa terbahak dan bicara yang sia sia. Dari celah heningnya hati nurani yang paling dalam akan tebarkan fitrah ke seluruh jiwa meskipun sesaat, dan yang sesaat itu akan meninggalkan bisikan “betapa besar kecintaan Allah kepada hamba hambaNya”.

Bila kita resapi intonasi ayat di atas walau berupa teguran keras, tapi mengandung pengkhabaran bahwa pintu pengampunan itu masih disisakan bagi mereka yang terjerumus dalam pola hidup melampaui batas. Memang bila kita cermati ayat di atas kayaknya ditujukan khusus bagi ulil albab, yakni orang orang yang tidak bodoh, orang beriman, dan berpengetahuan: mereka yang pandai berargumentasi dan beretorika.

Ayat di atas bisa diartikan berkaitan dengan masalah kepemimpinan, baik memimpin diri maupun masyarakat. Sebelum bicara kepada masyarakat, sudah semestinya kalau menengok jati dirinya dulu: “Sudah berhasilkah ia dalam memimpin dirinya sendiri?” Sebab, semua aktivitas yang dilakukan oleh tubuh kita akan mempertanggungjawabkannya di hari hisab.

Melalui renungan sejenak ini, mudah-mudahan bisa memotivasi kita untuk selalu mengidentifikasi kesalahan-kesalahan diri dulu sebelum menunjukkan kesalahan orang lain. Kita akui untuk menata diri saja itu agak sulit karena berkaitan dengan kualitas diri dalam menata hati dan dari hati inilah pusat baik buruknya pribadi seseorang. Saya ingat kata Nabi SAW ibda’ binafsika fagh zu kha, yaitu harus memulai dari diri sendiri dulu lalu beristiqomahlah.

Sebagai tambahan referensi saya pernah baca, dulu ada seorang seniman Perancis umur 30 tahun yang bercita-cita ingin merubah dunia, tapi sampai pada umur 40 tahun cita-citanya tak berhasil. Lalu, ganti berkeinginan untuk merubah negaranya saja, Perancis, sampai umur 50 tahun keinginannya juga gagal. Kemudian, ia ingin mengubah kotanya saja, tapi gagal juga. Akhirnya, ia ingin mengubah keluarganya saja, tapi ia sudah terlanjur tidak dipercaya oleh keluarganya. Setelah di umur 70 tahun menjelang kematiannya, barulah ia sadar bahwa kalau ingin mengubah dunia ini harus mengubah dirinya dulu; baru cita-cita yang lain tentu akan bisa dicapainya. Perjalanan cita-cita di atas itu ditulis oleh saudaranya di sebelah batu nisan atas permintaan si seniman tadi

Pokok pertama dalam pembenahan diri adalah  iimaanun’amiiqun, yaitu membenahi dulu hubungan antara diri dengan Tuhannya agar dicapainya keimanan yang dalam, misalnya,  di setiap aktivitasnya ia selalu merasa kalau diawasi oleh Tuhannya. Kedua, membenahi diri melalui cara aktif dalam mendalami ilmu agamanya sehingga bisa mengikis sifat-sifat jahiliyahnya. Ketiga, khuluqun watsiiqun, yaitu membenahi akhlaq diri agar semakin kuat sehingga apapun yang menimpa, apapun yang ia terima selalu khusnuzhon kepada-Nya.

Pembenahan diri kepada sesama manusia tak kalah pentingnya sebab bisa mempengaruhi terhadap diterima tidaknya amalan-amalan yang lain. Jika berinteraksi dengan sesama itu secara baik, maka pergaulan yang baik itu akan bisa mengikat diri kita untuk ikut menanamkan nilai-nilai kebajikan. Bila kita dalam pergaulan yang salah maka kita akan menuai banyak masalah dan tentu akan terseret juga melakukan perbuatan yang salah. Kata Imam Ghazali ”nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya, karena terasa pahit oleh hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang.”

Jadi, tidaklah mudah menyeru orang lain agar menjadi lebih baik, yang memang hukumnya wajib, yang berarti ikut membantu agama Allah. Akan tetapi, adakalanya manusia sulit untuk diubah karena selalu melihat orang lain bukan melihat dirinya. Oleh karena itu, bagi tokoh-tokoh masyarakat, khususnya para pengemban dakwah hendaklah membenahi diri sehingga orang lain pun ikut berbenah. Pada dasarnya resolusi diri itu tercermin dari kemauan individu untuk mengubah dirinya.

TITIP DOA UNTUK CADAVER

Siapapun orang itu, apakah dia orang yang sempurna fisik dan mentalnya, apakah dia orang yang cacat tubuh sejak lahirnya atau kah orang itu seorang pengemis atau gelandangan, yang jelas dia terlahir dari rahim ibunya dan tentu disertakan pemberian nama yang baik, mengandung energi sakral dengan harapan ”anakku adalah belahan jiwaku, anakku dambaan hidupku, anakku adalah penyambung hidupku, wujudkanlah impianku nak, melalui langkahmu yang masih panjang,” tapi faktanya sungguh mengherankan dan sangat ironis sekali ketika pada suatu masa yang lain, sebagian manusia melalaikan bagaimana perlakuan orang tuanya dulu ketika ia masih ditimang- timang di gadang gadang, selalu dijaga penuh kasih sayang dan betapa ia dulu bercanda ria bersama saudara dan sanak kadangnya, kini kenangan indah itu bagai lintasan mimpi yang singgah di tidur malam, hilang,..entah sengaja dihilangkan sebab dinamika hidup telah mengkoyak dan porak porandakan jiwa maupun dunianya sehingga impian orang tua dipendamnya tanpa ada tetes airmata. contoh mudah dari sebagian kecil kejadian yang ada dihadapan kita,yaitu ketika seseorang ada yang mengalami musibah tabrak lari atau korban kekerasan yang mengakibatkan kematian seseorang, ternyata setelah diproses masih ada saja mayat yang dikhabarkan tanpa identitas yang jelas, diantara buktinya adalah tiada keluarga yang mengakui walau beberapa hari sebelumnya sudah diberitakan di media masa dengan ciri ciri yang jelas, sayapun tiba tiba berfikir apakah pengemis yang bertubuh lusuh maupun gelandangan liar dijalanan itu juga tak mempunyai identitas dan ikatan keluarga jang jelas? wah mungkin bisa iya bisa tidak, tentu orang akan mengatakan apa urusannya? ya nggak ada tapi entahlah perasaan hati ini seakan mengajak untuk membayangkan, menerawang jauh , dan akhirnya tercetuslah sekedar pertanyaan siapakah mereka sesungguhnya? dan sebagai manusia (bukan tarzan) kan mustahil bila mereka tak punya keluarga dan bagaimana nanti seandainya ia meninggal dunia? beruntunglah ia andai ada masyarakat yang peduli lalu bertindak cepat untuk menguburkannya tapi bagi mereka yang mayatnya terlantar dengan identitas yang tak jelas, bisa bisa mayat mereka menjadi penghuni instalasi forensik di Rumah Sakit dan yang akhirnya menurut kabar burung akan didaftarkan menjadi calon calon pahlawan bagi kemajuan ilmu kedokteran (kadaver) itupun setelah melalui proses yang legal. Tuhan Yang Maha Lembut mempunyai program yang bersifat ghaib, termasuk yang ada kaitannya dengan kebutuhan manusia, misal saja saya dan mungkin juga anda, pernahkah berkeinginan atau bercita cita bila sudah meninggal nanti tubuh atau salah satu organ dari tubuh kita berniat untuk disumbangkan kepada orang lain atau untuk kemajuan ilmu pengetahuan ? Saya kira jawabannya sama dengan saya, ”tidak mau” padahal kebutuhan mayat untuk pembelajaran di perguruan tinggi ilmu kedokteran itu sifatnya urgen dan kabarnya memang di Indonesia sangat jarang bahkan tidak ada yang mau menghibahkan tubuh nya setelah mati
Kalau toh berita mengenai mayat tanpa identitas diatas yang akhirnya jadi cadaver itu benar, saya dengar ada perbedaan pendapat dari kalangan orang orang tertentu, ada yang berpendapat bahwa orang yang sudah mati bila jasadnya dibuang dilaut akan menjadi air, bila dibakar akan menjadi debu dan bila dikubur akan menjadi tanah sedangkan rohnya akan tetap hidup terus di dimensi lain ,dalam ajaran islam disebut alam barzah dimana roh – roh hidup dengan pengertian, kesadaran, melihat, merasakan derita atau kesenangan yang tidak sama dengan yang dirasakannya didunia, dialam barzah segalanya lebih sempurna, karena dulu waktu roh hidup didunia masih ibarat mendekam dalam sangkar atau terbungkus jasad yang membuat sekat sekat keterbatasan sehingga hidup selalu cenderung pada tuntutan isi perut semata sehingga lupa bahwa dibalik dunia ini ada alam barzah yang lebih luas, hidup bisa sampai ribuan tahun dengan mengalami balasan tingkat awal, bila merasa senang senangnya sangat sempurna,bila merasa sengsara maka kesengsaraannyapun sempurna dan itu dirasakan sampai hari kiamat lalu diproses menuju kehidupan yang abadi yaitu akhirat (dari kitab hidup sesudah mati karya bey arifin) jadi orang yang mati itu jasadnya akan kembali lagi keasalnya, makanya ada yang mengatakan kalau praktek ilmu kedokteran dengan menggunakan jasad manusia itu dibolehkan asalkan mematuhi etika dan aturan yang sudah disepakati para ilmuwan (bukan dalil)
Pendapat kedua dari kalangan ulama pernnah menyoal dan menyatakan bahwa bedah mayat (autopsy) hukumnya haram, mereka berargumen dengan mengetengahkan dalil hadits dari Aisyah ra bahwa Rosulullah saw bersabda”Sesungguhnya mematahkan tulang seorang mukmin yang sudah meninggal seperti mematahkan tulang seorang saat dia masih hidup” (HR.Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hiban, Baihaqi, Ahmad dengan sanad shohih) dan menurut Ibnu Hajar dalam”Fathul Bari”mengatakan kalau hadits diatas menunjukkan bahwa kehormatan seorang mukmin setelah dia meninggal sama, sebagaimana tatkala dia masih hidup. Demikian dan seterusnya dan bagi saya, mudah mudahan perbedaan pendapat para ilmuwan dengan ulama mengenai hukumnya cadaver bisa menemui titik terang……………..dan rasa iba ini hanya bisa titip doa, mudah mudahan roh pemilik jasad (cadaver) bisa merelakan andai organ besar sampai organ kecilnya dihibahkan untuk ilmu pengetahuan dan mudah mudahan bisa menghantarkan “roh”nya diterima bersama ampunanNya……….

LEMBUTKAN HATI DI USIA KRITIS

Berbagai kejadian sering kali menghampiri orang orang yang usianya menginjak masa tua,tidak peduli siapapun orangnya tak memandang status sosial entah miskin atau kaya, berilmu atau awam dan menurut penglihatan saya umur yang menginjak masa tua seringkali dihadapkan pada fenomena aneh terkait dengan jalan hidup setiap individu yang ditempuhnya dan kita akan mengatakan kalau itu semua merupakan “ ujian akhir hidup yang jarang terulang lagi “karena pada usia kritis inilah manusia dituntut untuk sensitif dan cepat dalam mengambil kesimpulan diatas kesempatan.
Fenomena kejadian yang bersifat peringatan itu sering direspon lambat tapi ada juga yang menyikapi dengan cepat sehingga cahaya hati membisikkan pada orang tersebut agar secepatnya memanfaatkan sisa hidupnya untuk mendekatkan diri dan bersimpuh memohon ampun padaNya. Ada juga orang di usia tuanya malah bertingkah aneh tanpa menyadari bahwa dengan perilakunya itu akan memicu hati makin mengeras dan berangsur membawanya kepada padamnya cahaya hati. ada kalanya juga seseorang pada usia tuanya masih tersiksa oleh harapan harapan yang belum terpenuhi contohnya terbebani oleh pikiran tentang bagaimana nasib anaknya yang masih kecil, khawatir anak anaknya tidak beruntung sepeninggalnya dan ada juga orang di usia tuanya masih sangat disibukkan oleh urusan dunia, status dan sebagainya padahal mereka mengejar sesuatu yang tidak jelas sedangkan tujuan akhir yang sifatnya urgen selalu ditunda bahkan malah dilalaikannya. Saya ambil contoh ada seorang dari kalangan orang miskin harta juga miskin pengetahuan yang mana semasa hidup keadaan menuntutnya untuk bekerja keras sebab bila tak mengkais sehari berarti ia tak makan pada hari ini dan Tuhanpun Maha Tahu sehingga semasa hidup mereka diberi kesehatan melebihi orang lain,tapi batas itu pasti datang juga kadang dengan diawali sakit yang tiba tiba tanpa sebab yang membuatnya terbaring agak lama ditempat tidur tanpa perawatan yang memadai dan suatu ketika Tuhanpun memberi dia kesempatan sembuh total dan bekerja keras lagi tapi tak merubah cara hidup lamanya yaitu bekerja keras tanpa memberi peluang waktu untuk beribadah dan mensyukuriNya dan tak berapa lama iapun sakit lagi secara mendadak dan langsung meninggal dunia dan kasus seperti ini sering terjadi pada khusus manusia cuma beda sakitnya
Ada juga orang yang punya pendidikan tinggi dalam hal materi juga tercukupi bahkan wawasan spiritualnyapun tergolong ahli tapi ketika usia sudah merambah kemasa kritis ternyata dia belum menyadari bahwa sesuatu telah mulai mengganggunya dan anehnya ilmu yang telah dikuasai selama ini tak mampu mengendalikannya contohnya adalah seseorang yang pada dasarnya punya karakter keras dan ditambah lagi keadaan yang menuntutnya demikian sehingga seakan biasa bila menghakimi seseorang tak peduli kesalahannya kecil besar bagaimana mungkin harus tega membohongi diri sendiri? padahal dia tahu tak mungkin Tuhan memberikan pahala bagi manusia yang masih arogan? di usia kritis mustinya sifat berlebihan itu sudah dihindari dan kalau tetap dibiarkan akan membuat diri makin terpisah dari sifat ilahi dan jiwanya kian menjauh dari kelembutan coba kita renungkan filosofinya Sidharta gautama kenapa ia tak pernah mau diajak bicara tentang Tuhan tapi ia selalu merasakan kehadiran Tuhan, jadi bisa dimaklumi deh kalau batinnya tak terjangkiti oleh penyakit.
Di usia yang kritis ini sudah saatnya jiwa harus dipaksa untuk menundukkan diri tengadahkan wajah dengan air mata dan tebarkan salam penuh kasih sayang terhadap sesama dengan sebenarnya ibarat orang tua mempunyai anak kandung yang kondisinya cacat dan dia selalu mengatakan pada dirinya”mengapa ini terjadi pada ku”? dan jawabanpun langsung datang ”supaya anda mengetahui makna kasih sayang yang sesungguhnya”
Untuk mengetahui sebutan apakah manusia itu tidak baik, yang baik dan yang paling baik atas mahluk lain menurut kacamata islam boleh dibilang manusia masih perlu mengkaji lebih dalam lagi meskipun secara kontekstual sudah mengerti , saya ingat sedikit keterangan ustadz Quraish shihab dalam tafsir surat At Tin ayat 4 bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik baiknya,kata taqwim(sebaik baiknya)bukan berarti manusia saja mahluk yang paling sempurna tapi lebih ditekankan pada arti bahwa setiap kesempurnaan bentuk fisik juga memiliki kesempurnaan bentuk psikis (fungsi) kita perhatikan pada kita bagaimana fungsi mata,telinga dan seterusnya? Begitu juga penciptaan pada mahluk lain diciptakan sempurna dengan fungsi tertentu bahkan setan pun di ciptakan sempurna dengan fungsinya sebagai penggoda manusia,diberi kemampuan tidak bisa dilihat oleh mata mampu menyusup lewat jalan darah, dan pada ayat berikutnya”Kemudian Kami kembalikan ketingkat serendah rendahnya kecuali orang orang yang beriman…maksud rendah disini ada pendapat dikembalikannya manusia dalam kondisi lemah fisik dan psikis dan keadaan seperti inilah saat rawan bagi manusia sebab musuh Allah(setan) menyerang secara gencar dengan berbagai cara dari dalam maupun luar, sebab iblis dan tentaranya sangat tidak rela bila manusia disaat akhir hayatnya menjelang menghadap Tuhannya tetap membawa akidah yang benar..

PERINGATAN DARI BUMI

Tak berlebihan kiranya jika di bulan ramadhan ini kita mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya agar mendapat ampunan-Nya. Manusia adalah makhluk yang diberi kecerdasan, diberi kebebasan bergerak, diberi kekuasaan di atas bumi sebab berkaitan dengan kesanggupannya dalam memikul amanah dari Tuhan untuk menjadikan bumi sebagai materi yang bisa dimanfaatkan bagi kesejahteraan seluruh makhluk yang hidup di atasnya. Keterlibatan bumi atas silih bergantinya generasi dan zaman pada sistem hidup manusia dan tidak hanya sampai pada batas umur bumi atau hancurnya alam semesta bahkan sampai pada perubahan dalam dimensi lain pun bumi masih terlibat didalamnya yang konon dijadikan sebagai saksi semua perbuatan yang dilakukan oleh manusia sejak awal sampai akhir dan bumi akan menceritakan semuanya atas kehendak-Nya, disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya. Dan manusia bertanya, mengapa bumi jadi begini? Pada hari itu bumi menceritakan beritanya” (QS. Zalzalah: 1-4)
Dan dalam kitab Nashaihul’ibad halaman 226 bahwa sahabat Anas bin Malik r.a mengatakan, sesungguhnya bumi setiap harinya selalu menyeru kepada manusia dengan sepuluh kalimat, diantaranya adalah: “Wahai anak cucu Adam, engkau berbuat segala sesuatu di atas punggungku, tapi pada saatnya kau akan kembali ke dalam perutku, engkau maksiat di atas punggungku, tapi pada saatnya kau akan disiksa di dalam perutku, engkau tertawa di atas punggungku, tapi engkau akan menangis dalam perutku, engkau bersukaria di atas punggungku, tapi susah payah dalam perutku, engkau menghimpun harta di atas punggungku, tapi menyesali di dalam perutku, engkau makan barang haram di atas punggungku, tapi engkau dimakan cacing di dalam perutku, engkau hidup bergembira di atas punggungku, tapi akan merana dalam perutku dan seterusnya, yang intinya adalah andai bumi bisa bicara tentu akan menasehati manusia agar dalam mengarungi kehidupan ini hendaklah melaksanakan amanah agama dan amanah sebagai pemimpin sebaik-baiknya atas dasar iman dan ketaqwaan kepada-Nya dan hendaklah selalu mengingat datangnya kematian, sebab dalam kubur merupakan awal datangnya pembalasan semua amal perbuatan, merasakan siksa atau nikmat sampai datangnya hari berbangkit atau kiamat.
Sabda Nabi saw: “Sesungguhnya kuburan adalah awal persinggahan akhirat, jika selamat darinya maka setelahnya akan lebih mudah, dan jika tidak selamat maka yang setelahnya lebih berat darinya, sabdanya lagi, tidak pernah aku melihat pemandangan yang amat mengerikan kecuali siksa kubur lebih mengerikan darinya” (HR Ibnu Majah)

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.